LOGINApakah Satria selamat...tungu di bab berikutnya yaahhh
Irman yang mendengar kalimat tegas itu langsung mengangguk mantap. Darah Dewantara di dalam tubuhnya ikut bergejolak.Setelah percakapan serius itu, sisa waktu di kantor tidak lagi dihabiskan untuk bersantai.Sambil tetap menyelesaikan beberapa urusan bisnis perusahaan agar tidak memancing kecurigaan publik, kakak-beradik itu diam-diam sibuk menyusun siasat-siasat taktis.Irman bahkan bersumpah di dalam hati. Dengan waktu cuti akademinya yang hanya tersisa dua minggu di Jakarta, ia bertekad ingin membuat kelompok The Viper kapok dan berpikir seribu kali jika ingin berkeliaran di tanah airnya.Waktu bergerak cepat hingga matahari mulai condong ke barat. Sore itu, atmosfer terasa sedikit gerah ketika Rasman dan Irman baru saja melangkah keluar dari lobi kantor polisi.Keduanya baru saja selesai menjalani pemeriksaan intensif untuk dimintai keterangan resmi terkait insiden baku tembak di jalan raya yang terjadi sebelumnya.Sebagai warga negara yang sadar hukum—sekaligus untuk menutupi ide
"Aku tidak punya banyak waktu lagi di sini, Rasman. Mulai saat ini, kamu dan seluruh jaringanmu harus benar-benar bersiap. Musuh sudah mulai berani menampakkan diri di permukaan," ucap Alice menoleh sedikit, memberikan tatapan sensual sekaligus mematikan untuk terakhir kalinya. "Sampai ketemu lagi di lapangan."Wusss!Belum sempat kata-kata Alice tercerna sepenuhnya di otak Irman, pemuda bengal itu langsung dibuat kaget bukan kepalang.Jantungnya serasa melompat keluar dari dada saat melihat tubuh indah Alice tiba-tiba melompat begitu saja keluar dari jendela lantai atas tersebut!"Hah?! Nona Alice!!" teriak Irman histeris. Wajahnya langsung pucat pasi.Dengan kecepatan penuh yang dipicu oleh kepanikan, Irman langsung melesat maju, menyusul ke arah jendela dan melemparkan pandangannya ke bawah dengan mata yang melotot sempurna.Ia sudah membayangkan adegan mengerikan tubuh wanita itu hancur di lantai dasar.Namun, Irman justru dibuat melongo bodoh di tempat. Napasnya tertahan di tenggo
Namun bagi Irman, logika itu langsung menguap begitu saja. Mendengar kata 'hebat' ditujukan untuknya, hidung si bengal ini langsung kembang kembis menahan bangga.Kepercayaan dirinya sempat melesat ke langit, membuat dadanya membusung sesaat. Tapi sialnya, begitu ia kembali menatap mata biru Alice yang tajam bak elang dan mengingat status wanita itu sebagai pembunuh terlatih dari MI6, nyali Irman langsung ciut lagi seketika.Ia menelan ludah dengan susah payah, memilih untuk tetap bungkam di posisinya.Rasman kemudian memberi isyarat agar mereka berpindah ke area sofa di dalam ruang kerjanya yang luas.Kini, ketiganya telah duduk berhadapan. Suasana yang tadinya penuh candaan seolah lenyap, digantikan oleh atmosfer rapat rahasia yang pekat dan menegangkan."Alice, aku tahu kamu tidak akan datang ke Indonesia hanya untuk menyapa. Pasti kedatanganmu kali ini karena salah satunya dipicu oleh insiden jalan raya tadi, bukan? Apalagi setelah lama kita tak bertemu....?" pancing Rasman, langsu
"Wowww... Bidadari dari khayalan mana yang tersesat dan datang hari ini?" ceplos Irman spontan. Pemuda itu sama sekali tidak membuang waktu.Saat itu juga, matanya melebar sempurna, terkunci pada lekuk tubuh dan wajah menawan wanita asing di hadapannya. Jiwa mudanya bergejolak.Tanpa memedulikan tatapan tajam sang kakak, Irman langsung melangkah maju, memotong jarak demi bisa berada sedekat mungkin dengan sosok yang dipanggil Alice tersebut.Alice tidak langsung menjawab. Ia hanya mengulas senyum kecil yang misterius—sejenis senyuman tipis berkelas yang sanggup membuat lutut pria mana pun mendadak lemas.Sorot matanya yang indah tampak berkilat, menyiratkan kecerdasan sekaligus daya pikat yang berbahaya."Ini ya adik kamu yang katanya sedang menempuh pendidikan di Magelang itu, Rasman?" Alice justru berbalik bertanya kepada Rasman, mengabaikan keliaran tatapan Irman dengan sangat anggun.Rasman kontankaget, Alice sudah tahu dimana kini adiknya menempuh pendidikan... Artinya si cantik i
Tembakannya tadi murni dilepaskan tepat di atas kap mesin hanya untuk memberikan efek kejut psikologis yang fatal, dan hasilnya terbukti seratus persen sukses besar di lapangan.Melalui kaca spion mobil sport mereka yang terus melaju menjauh, Rasman dan Irman menyaksikan pemandangan dramatis di belakang.Mobil Avanza hitam penguntit itu kini ringsek dalam posisi terbalik di bahu jalan tol.Tak lama kemudian, tampak dua orang pria berpostur tinggi besar mulai merangkak keluar dari sela-sela kaca jendela yang hancur. Dengan wajah yang bersimbah darah segar dan kondisi tubuh yang terluka parah hampir tewas, kedua pria asing berkulit putih alias bule tersebut terkapar tak berdaya di atas aspal.Penemuan identitas pelaku yang merupakan bule asing ini mempertegas satu hal bagi Rasman, ancaman pembunuhan dari jaringan The Viper kiriman Madam Angel Russo bukan lagi sekadar isapan jempol.Raj jauh-jauh hari memang sudah memberikan peringatan keras melalui sambungan komunikasi rahasia mereka aga
Rasman sengaja menunda keberangkatannya ke kantor Dewantara Group hanya demi ikut mendengarkan curhat dan keluh kesah Irman selama masa pendidikan 1,5 tahun di Magelang.Kisah petualangan Si Gundul Tampan ini memang teramat seru untuk dilewatkan.Jenderal Salman yang sudah berseragam lengkap dan bersiap ngantor ke Mabes TNI pun sampai ikutan bertahan di ruang tengah. Sang Panglima kadang tertawa terbahak-bahak mendengar cerita si gundul ini.Watak Irman memang tidak berbeda jauh dari Rasman dulu; sangat humble, rendah hati, dan jika sedang bercerita, gaya bahasanya begitu hidup laksana seorang pendongeng ulung yang handal.Seluruh keluarga besar dibuat terbahak-bahak sepanjang pagi mendengarkan kisah kocaknya.Usai sesi kangen-kangenan dan bercerita panjang lebar, Rasman akhirnya mengajak Irman untuk ikut menemaninya ngantor ke gedung pusat Dewantara Group.Hitung-hitung agar adiknya itu bisa melihat atmosfer dunia korporasi yang kini dikendalikannya.Namun, bahaya laten rupanya tidak







