MasukPetualangan apalagi yang akan di alami Satria di Sumatera kelak...lanjuttt
Kalimat Cynthia mendadak terputus di tengah jalan. Wanita blasteran itu langsung kaget sendiri dan buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, menyadari bahwa dirinya baru saja keceplosan membongkar rahasianya sendiri di depan forum sidang dadakan keluarga ini.Rasman yang menangkap basah blunder fatal dari sang mantan kekasih tentu tidak menyia-nyiakan umpan lambung tersebut.Ia langsung memasang wajah paling meyakinkan, seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dilanda kasmaran alias CLBK an lagi, akaiii...."Ohh... jadi gitu? Sudahlah Cynthia, jangan bercanda lagi deh di depan Papi dan Mami. Kamu..eee kan kemarin bilang sendiri padaku, kalau ada dokumen penting yang menyatakan bahwa kamu sudah siap untuk kembali menjalin hubungan pertunangan kita yang sempat batal itu. Nahh, sekarang jujur saja di depan Om dan Tante," sahut Rasman dengan nada cuek tanpa dosa.Pria tegap itu menoleh ke arah Om Ucok dan Tante Sophe, lalu melanjutkan kalimat mautnya, "Kalau saya sih, dari dulu
Wibawa besarnya sebagai mantan agen lapangan hancur lebur dalam sekejap, menyisakan sesosok pemuda tegap yang hanya bisa menelan ludah berulang kali di tengah kepungan tatapan tajam dan interogasi.Sementara itu di kejauhan, tepat di dekat pilar pembatas ruang tengah, Cynthia yang menatap kelakuan Rasman bersama Jhony Lubis, Abang-nya, sama-sama menahan tawa setengah mati.Bibir mereka digigit rapat-rapat, membiarkan perut mereka berguncang menahan ledakan tawa yang nyaris lolos.Jhony yang barusan tahu apa yang sebenarnya terjadi juga sampai sakit perut menahan tawa.Pria yang usianya justru lebih muda dua tahun dari Rasman ini, langsung tahu kisah konyol ini secara detail setelah Cynthia menceritakan kejadian yang sebenarnya secara berbisik beberapa menit lalu.Bagi Jhony, melihat seorang Rasman yang biasanya berwajah dingin dan disegani kini berdiri linglung seperti anak ayam kehilangan induk adalah pemandangan paling langka sekaligus menghibur bingit di tahun ini. Uhuiii....Om Uco
Di ambang kepanikan yang memuncak, mau tidak mau Rasman terpaksa mengambil satu-satunya jalur penyelamatan yang tersisa. Dengan gerakan cepat bak bayangan, ia melompat masuk ke dalam lemari pakaian kayu besar yang berdiri di sudut kamar.Cynthia yang ikutan panik langsung mendorong tubuh kekar Rasman sepenuhnya ke dalam, lalu membanting pintu lemari hingga tertutup rapat, tepat di detik yang sama saat daun pintu kamar pribadinya terbuka lebar menampilkan sosok ibunya yang melangkah masuk.Di dalam kegelapan lemari yang sempit, Rasman terpaksa menahan napasnya rapat-rapat.Tubuhnya kini terhimpit di antara deretan pakaian dalam dan gaun-gaun malam milik Cynthia, dikepung oleh aroma wangi tubuh sang perawan blasteran yang ratusan kali lipat jauh lebih pekat dan memabukkan tersebut...akaiii!Namun...bukannya langsung keluar dari kamar ini, Nyonya Sophe Lubis malah menuju ke...lemari pakaian anaknya.Dan....!?!"Papiiiii... ke sini kau! Cepat ke sini! Si Cynthia ini, Papiiiii!" teriak Nyon
"Hmm... ternyata kau jenis pria yang sangat penasaran dan keras kepala ya? So, silakan selesaikan tugas ilegal kau itu. Cek saja semua berkas itu sampai kau puas, sebelum kau aku usir paksa dari kamar pribadi ini!" dengus Cynthia dengan perpaduan logat Batak kental yang berpadu dengan aksen bahasa Inggris-nya yang sangat fasih.Mendengar gerutu ketus yang terdengar sangat seksi itu, Rasman sekuat tenaga menahan senyuman di wajahnya.Setelah melemparkan sindiran tajam tersebut, si denok blasteran aduhai ini bertingkah cuek bebek.Ia melangkah santai menuju meja riasnya yang bernuansa putih, mendudukkan pinggul indahnya di sana, lalu mulai fokus membersihkan sisa riasan di wajah cantiknya menggunakan kapas kecantikan.Rasman sempat tersentak kaget dengan sikap toleran Cynthia. Wanita ini malah sengaja memberinya waktu luang dan membiarkannya menggeledah isi dokumen tanpa berniat memanggil satpam rumah.Tanpa mau membuang-buang waktu emas yang diberikan, Rasman benar-benar langsung mengub
Rasman kini merapatkan tubuh kekarnya di balik rimbunnya tanaman hias yang tertata rapi di taman samping rumah besar bertingkat dua itu.Napasnya diatur sehalus mungkin, menyatu dengan desau angin malam. Sepasang mata tajamnya mendongak, menyisir deretan jendela kaca besar yang menghias arsitektur rumah megah bercat putih bersih tersebut.'Hmm... dengan posisinya sebagai anak bungsu kesayangan, kamarnya pasti terletak di lantai dua, menghadap langsung ke arah taman ini,' tebak Rasman dalam hati penuh keyakinan.Tanpa membuang waktu, Rasman merogoh saku taktisnya dan mengeluarkan sepasang sarung tangan khusus berdaya cengkeram tinggi, lalu memasangnya dengan erat di kedua belah lengannya.Setelah memastikan alat itu terpasang sempurna, ia mengambil ancang-ancang singkat.Dengan satu hentakan kaki yang kuat namun tanpa suara, Rasman melompat tinggi. Kedua tangannya mencengkeram kokoh pilar beton bangunan, lalu dengan kecepatan dan kelenturan luar biasa, ia merayap naik memanjat pilar ter
Dokumen itu seperti menguap begitu saja....Rasman mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi. Kakinya terasa berat hingga ia terpaksa terduduk lemas kembali di atas meja kerja kayu jati milik Cynthia.Seluruh tenaganya seolah terkuras habis akibat rasa kecewa karena gagal menemukan berkas yang dicarinya.Otak taktisnya kembali berputar keras, memikirkan segala kemungkinan lokasi penyimpanan alternatif."Satu-satunya jalan yang tersisa... aku terpaksa harus menyatroni rumah pribadinya malam ini juga...!" gumam Rasman dingin, matanya menatap tajam ke arah dinding kosong.Rasman akhirnya bangkit dan melangkah perlahan untuk keluar dari ruangan tersebut. Namun, tepat di ambang pintu, langkah kakinya mendadak terhenti....Insting intelijennya yang sempat tumpul tiba-tiba mendeteksi sesuatu yang aneh. Pandangan matanya bergerak lambat ke arah sudut atas plafon, tepat ke arah sebuah lensa kamera kecil tersembunyi yang sejak tadi menyorot lurus wajah lelahnya yang tampak cemas







