LOGINSakti memergoki Bella−istrinya−berselingkuh dengan Donny, orang kepercayaannya sendiri. Namun bukannya merasa bersalah, keduanya justru berniat membunuh Sakti dan merampas semua kekayaannya. Tubuh Sakti yang dianggap sudah mati, dibuang begitu saja oleh mereka hingga terdampar di desa terpencil. Dia diselamatkan oleh Rania, gadis desa yang lugu dan cantik, tulus. Saat Sakti siuman, bayang-bayang kejahatan dan pengkhianatan Bella terlintas dalam benak Sakti. Dia pun bertekad untuk membalas dendam. Di saat yang sama, dia menemukan sebuah topeng tua yang memberinya kekuatan sekaligus inspirasi untuk menjalankan aksi balas dendam.
View More“Usir dia! Aku sama sekali tak mengenal gembel itu.”
Suara Bella terdengar nyaring, dingin, tanpa sedikit pun keraguan. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir yang dulu pernah mengucap janji setia di hadapan Sakti.
Sakti terdiam mematung untuk beberapa saat. Dadanya terasa seperti dihantam sesuatu yang tak kasat mata. Tatapannya terpaku pada sosok wanita yang berdiri anggun di teras rumah mewah itu, rumah yang ia bangun dari keringat dan kerja kerasnya selama bertahun-tahun di luar negeri.
Namun kini, di depan matanya sendiri, ia diperlakukan seperti orang asing. Lebih buruk dari itu, dia perlakukan seperti sampah yang mengganggu pemandangan.
Dua sekuriti di sampingnya mulai bergerak, tangan mereka terulur hendak menariknya pergi. Namun Sakti menepis keduanya dengan kasar, langkahnya tetap maju meski rasa tidak percaya masih mencengkeram pikirannya.
Pandangan itu kemudian menangkap satu hal lain yang jauh lebih menyakitkan. Bella berdiri begitu dekat dengan Donny. Tangan Donny melingkar santai di pinggang Bella, sementara wanita itu tidak menolak dan justru membalasnya. Senyum tipis yang terukir di wajahnya terasa seperti tamparan bagi Sakti.
“Apa-apaan ini Bella? Semua ini−”
BUG!!!
Kalimat Sakti terputus begitu saja ketika sebuah pukulan keras menghantam perutnya. Napasnya langsung terenggut. Tubuhnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya jatuh berlutut di lantai halaman yang dingin. Rasa sakit menjalar cepat, membuatnya kesulitan bernapas.
“Kau masih belum sadar juga, hah?”
Suara itu terdengar tepat di atas kepalanya. Sakti mengangkat pandangannya dengan susah payah. Donny berdiri sambil menyeringai tipis. Pria itu mengibaskan tangannya yang tadi digunakan untuk memukul, seolah benar-benar hanya sedang menyingkirkan debu yang menempel.
“Bella tak pernah mencintaimu, Sakti. Dia itu milikku.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, tajam dan menghancurkan. Tangan Sakti mencengkeram lantai. Jemarinya menekan keras permukaan yang dulu begitu ia banggakan sebagai miliknya. Namun sekarang, bahkan tempat ia berdiri pun tidak lagi mengakuinya.
Semua terasa berputar.
Rumah itu. Semua aset yang ia bangun dari nol, semuanya kini berdiri di bawah nama Bella. Wanita yang ia percaya sepenuh hati. Wanita yang selama ini ia kirimi uang tanpa pernah ia hitung kembali.
Ia teringat bagaimana Bella dulu mengeluh kesepian. Bagaimana wanita itu meminta izin untuk membuka restoran agar ada kesibukan. Dan tanpa ragu, Sakti mengiyakan. Ia bahkan mempercayakan Donny, sahabatnya sendiri untuk membantu mengelola semuanya.
Kepercayaan yang kini berubah menjadi pisau yang menikam dari belakang.
Selama ia bekerja di luar negeri, mengorbankan waktu dan tenaganya, ternyata dua orang yang paling ia percaya justru sedang membangun sesuatu di belakangnya. Sesuatu yang sekarang sudah berdiri kokoh di atas kehancuran dirinya.
“Jadi selama ini kalian hanya memanfaatkanku?” gumam Sakti dengan suara bergetar.
Kalimat itu keluar hampir tanpa tenaga, tapi cukup untuk membuat Bella dan Donny saling berpandangan. Dan kemudian mereka tertawa. Tawa yang keras, lepas, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Dasar bodoh!” cibir Bella. “Dari dulu aku memang tak pernah mencintaimu, Sakti. Aku hanya memanfaatkanmu untuk mendapatkan semua ini. Namun setelah aku memiliki semuanya, kau sudah tak berguna lagi bagiku.”
“Dasar jalang!”
Seketika emosi Sakti meledak. Ia mencoba bangkit, tubuhnya gemetar antara amarah dan rasa sakit. Namun belum sempat ia berdiri tegak, Donny sudah lebih dulu bergerak. Tangannya meraih botol anggur dari atas meja di teras. Tanpa ragu ...
BRAK!
Botol itu menghantam kepala Sakti dengan keras. Serpihan kaca berhamburan, dan dalam sekejap dunia di sekitarnya seperti retak. Tubuhnya terhuyung dan pandangannya mengabur. Darah mulai merembes dari kepalanya, mengalir pelan melewati pelipis hingga ke pipi.
Namun rasa sakit itu kalah oleh kehancuran yang ia rasakan di dalam hatinya.
“Seret dia keluar dan lempar ke jalan.” Suara Donny terdengar. Dingin, tanpa sedikit pun perasaan.
Sakti masih bisa mendengarnya. Dia masih bisa merasakan saat dua pasang tangan kasar kembali mencengkeram tubuhnya. Kali ini ia tidak mampu melawan. Tubuhnya terlalu lemah, terlalu hancur untuk sekadar bergerak.
Ia diseret melewati halaman rumah. Tubuhnya dilempar ke dalam mobil seperti barang tak berharga. Pintu tertutup dengan keras, lalu mesin menyala. Mobil itu melaju, meninggalkan tempat yang dulu ia sebut sebagai rumah.
Waktu terasa kabur. Sakti hanya bisa merasakan guncangan mobil, suara mesin, dan rasa sakit yang terus menghantam kepalanya. Hingga akhirnya, pintu terbuka. Tubuhnya ditarik, lalu dilempar keluar.
Ia terguling di permukaan yang kasar. Entah jalan, entah tanah, ia sudah tidak tahu. Yang ia tahu, tubuhnya tidak lagi mampu menahan apa pun. Pandangan Sakti semakin gelap. Dan perlahan … semuanya benar-benar hilang.
*****
“Di mana aku?”
Suara itu terdengar pelan, hampir seperti bisikan. Sakti membuka matanya perlahan. Cahaya redup menyambut penglihatannya yang masih kabur. Rasa nyeri langsung menyergap kepalanya, membuatnya meringis dan secara refleks mengangkat tangan untuk meraba.
Ada kain yang melilit di sana. Untuk beberapa saat, ia hanya berbaring diam, mencoba menyusun kembali ingatannya yang tercerai-berai. Namun potongan-potongan kejadian itu datang begitu saja, menghantam tanpa ampun.
Bella, Donny dan pengkhianatan mereka. Semuanya kembali tergambar dengan jelas. Darah Sakti seolah mendidih lagi. Tangannya mengepal tanpa sadar, rahangnya mengeras.
“Kalian harus membayar semua pengkhianatan ini,” gumamnya.
Tiba-tiba langkah kaki terdengar mendekat. Ringan, namun jelas.
“Kamu sudah sadar?”
Sakti langsung menoleh ke arah suara itu. Di ambang pintu, berdiri seorang gadis dengan baskom berisi air panas di tangannya. Wajahnya polos, tanpa riasan sedikit pun. Pakaiannya sederhana, namun bersih.
Ada sesuatu dalam tatapannya. Sesuatu yang tulus, sesuatu yang tak dibuat-buat.
“Kamu siapa?” Sakti buru-buru bangkit.
Namun gerakannya terlalu tiba-tiba. Rasa sakit kembali menyerang, membuat tubuhnya goyah. Gadis itu dengan cepat meletakkan baskom di samping, lalu bergerak menghampiri dan menahan tubuh Sakti sebelum jatuh.
“Jangan bergerak dulu. Kau belum pulih.” Suaranya terdengar lembut, tapi tegas.
Tangannya menopang bahu Sakti dengan hati-hati, lalu perlahan membaringkannya kembali ke tempat tidur. Gerakannya tidak terburu-buru, tidak juga canggung seolah ia sudah terbiasa merawat orang lain.
Sakti terdiam. Ia merasakan sentuhan yang berbeda. Sentuhan yang hangat dan tulus yang belum pernah dia rasakan selama sebelumnya.
“Kau siapa?” gumam Sakti dengan pelan.
Tatapannya melekat pada wajah gadis itu yang kini berada begitu dekat. Kulitnya tampak putih alami tanpa polesan. Aroma tubuhnya sederhana, tidak menyengat, namun justru menenangkan.
“Sebelum polisi membawamu, apakah kau ingin menuntaskan urusanmu dengan dua orang ini?”Jason tidak langsung menjawab. Dia menatap Sakti beberapa saat sebelum beralih kepada Reno. Reno yang menangkap tatapan itu justru membuang muka dan melangkah beberapa langkah menjauh seolah tidak ingin ikut campur.Pesan itu cukup jelas. Apa yang terjadi beberapa menit ke depan bukan urusan polisi. Jason menyeringai tipis. Dia berjalan perlahan menghampiri Bella. Setiap langkahnya membuat wajah wanita itu semakin pucat.Tanpa peringatan, tangan Jason melayang.PLAK!Tamparan keras membuat Bella terjatuh kembali ke lantai.“Ampun, Tuan. Jangan bunuh aku.”Bella merangkak mendekati kaki Jason sambil menahan rasa sakit pada tangannya yang masih cedera. Rambutnya terurai menutupi sebagian wajah. Martabat yang selama ini dia pertahankan seolah lenyap begitu saja.“Kau sudah berani mengambil barang di wilayahku dan tadi kau mencoba merayuku. Apakah pantas aku melepaskanmu?”Nada suara Jason terdengar da
PLAKKKJason diam beberapa saat. Lalu tanpa peringatan, tangannya bergerak. Dia menangkap pergelangan tangan Bella lalu memutarnya keras.“Arrrgh!”Jeritan Bella melengking memenuhi ruangan. Tubuhnya membungkuk. Wajahnya langsung pucat.“Apa yang kau lakukan dengan tanganku?” isaknya. Air mata mengalir tanpa mampu dia tahan. Sendi di lengannya terasa seperti dihancurkan hidup-hidup.“Bangsat! Kenapa kau berbuat kasar pada istriku?”Donny langsung kehilangan kendali. Dia menerjang ke arah Jason. Namun baru dua langkah bergerak, seorang anak buah Jason mengayunkan linggis ke perutnya.BUG!Tubuh Donny langsung terlipat. Udara di paru-parunya seakan menghilang. Dia jatuh berlutut sambil memegangi tulang rusuk yang terasa retak.“Belum ada seorang pun yang berani membentak di wilayahku.”Jason menatap Donny seperti melihat seekor kecoak. Lalu ujung sepatunya menghantam kepala lelaki itu. Membuat Donny terjungkal ke belakang. Namun itu belum selesai.Jason menginjak kaki Donny dengan selur
“Tanya saja pada mereka.”Sakti mengucapkannya sambil menatap Robet dan pria di sampingnya. Moncong pistol yang masih menempel di pelipisnya sama sekali tidak membuat raut wajahnya berubah. Dengan santai, dia mengangkat tangan dan menurunkan laras senjata itu menggunakan jari telunjuknya, seolah yang disentuhnya bukan benda mematikan, melainkan sekadar gangguan kecil yang menghalangi pandangan.Robet tidak langsung bereaksi. Tangannya masih menggenggam pistol, tetapi sorot matanya mulai goyah. Bella yang sejak tadi menyaksikan semuanya tiba-tiba melangkah maju. Emosi yang bercampur antara takut, marah, dan frustrasi membuat wanita itu kehilangan kendali.“Dasar lelaki menjijikkan, kau melakukan semua ini demi merebut vila ini kan? Jangan mimpi.”Dia menghampiri Sakti dan menarik-narik jaketnya dengan kasar. Kuku-kukunya mencengkeram kain itu seolah ingin melampiaskan seluruh kebenciannya.Sakti perlahan berdiri. Tatapannya jatuh ke wajah Bella yang memerah karena amarah. Lalu sebuah t
Lampu pos keamanan menerangi wajah lelaki itu yang tampak curiga. Tanpa banyak bicara, tangan Sakti menjulur ke luar melewati kaca mobilnya yang terbuka dan menarik tubuh penjaga itu hingga setengah badannya masuk ke dalam mobil.“Kau tidak mengenal aku? Cepat buka pintunya?”Mata penjaga itu langsung membelalak. Tangannya berusaha melepaskan cekikan yang menekan lehernya. Namun cengkeraman Sakti seperti besi. Lelaki itu hanya mampu mengeluarkan suara serak sementara kaki dan tangannya menggelepar tak beraturan.Beberapa detik kemudian Sakti melemparkannya keluar. Tubuh penjaga itu jatuh berguling di atas aspal. Petugas keamanan lain yang berada segera menghampiri sambil menghunus tongkat pemukulnya.Namun Sakti sudah keluar dari dalam mobil. Gerakannya cepat. Tendangan lurusnya melesat lebih dahulu sebelum lawannya sempat mengayunkan tongkat.Petugas keamanan itu membentur pagar. Sakti tak memberi kesempatan, dia menekan lehernya dengan siku.“Cepat buka pagarnya!” perintah Sakti.Wa
“Aku cuma ingin memastikan, apakah kalian anggota polisi yang sedang menyamar atau bukan.”Sakti sama sekali tak mengubah posisi duduknya. Dia bahkan terlihat tak acuh saat menghabiskan minumannya tanpa tergesa.“Bangsat! Jadi lu seorang intel?”Lelaki bertubuh kekar itu langsung mencengkeram baju
“Kau paling bisa memuaskan aku, Mega.”Sakti menyentuh bibir Mega yang sudah terbuka siap melahap sosis miliknya. Mulut Mega menyambar. Dia menggigit jari Sakti dan memainkannya dengan lidah.Sakti tertawa kecil. “Tapi jangan lakukan sekarang. Kalau Bagas datang lagi, urusannya bisa bahaya.”Sakti
“Bangun, Sakti! Ada bagas di luar.”Mega buru-buru menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang. Namun di atas tempat tidur, Sakti sudah tidak berada di sana. Mega langsung mengenyit.“Ke mana perginya anak itu?” gumamnya.Bersamaan dengan itu, pintu kamar dibuka paksa dari luar.
“Apakah menurutmu aku ini sudah sangat tua?”Mega langsung membuka semua pakaiannya dan memamerkan dua gundukan menonjol di dadanya yang mengeras. Tatapan Sakti jatuh ke sana lalu turun ke lembah bermuda yang tertutup kabut pekat.“Buah persik itu semakin tua semakin matang,” ujar Sakti seraya mera
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore