Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa

Cincin Keramat: Semakin Berdosa, Semakin Perkasa

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-17
Oleh:  Tompealla Kriweall Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
10Bab
17Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Di tengah malam yang dingin di kebun singkong milik keluarganya, Yoga Prakasa justru memergoki ketua preman desa sedang menggagahi istri pak lurah. Perkelahian berdarah pun terjadi. Dia dihajar sampai tulangnya retak dan nyaris mati, tapi saat tangannya menyentuh sesuatu yang dingin, dan ternyata itu cincin besi hitam yang terkubur di tanah. Saat itu, hal yang tak pernah terjadi. Seperti ada yang terbangun, dalam dirinya. Kekuatan super yang memabukkan, regenerasi iblis, dan hasrat seksual yang tak pernah padam kini mengalir deras dalam tubuhnya. Semakin Yoga membalas dendam dengan brutal, semakin sistem kuno itu memberinya kenikmatan gelap, di medan pertarungan maupun di atas tubuh perempuan. Tapi setiap kali Yoga memuaskan nafsu dan amarahnya, Karma Hitam semakin dalam menggerogoti jiwanya. Di desa yang busuk ini, balas dendam bukan lagi soal keadilan. Ini soal kekuasaan, darah, dan nafsu yang perlahan mengubahnya menjadi monster.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter 1

“Ahh… Mas Suroto… Ahh… pelan-pelan dikit…” desah seorang perempuan, suaranya parau penuh kenikmatan. Kakinya melingkar di pinggang seorang pria yang dipanggil dengan nama “Suroto”.

Pria itu terus bergoyang mengikuti setiap hantaman, memberikan kenikmatan yang dirasakan wanita di bawahnya. Dia, pria itu, terkekeh rendah, tangan besarnya meremas payudara perempuan itu dengan kasar, jarinya mencubit puting hingga membuat wanita itu mendesah lebih keras.

“Pelan-pelan, hmm? Kamu sendiri yang minta cepet tadi, enak kan? Punyaku ini tentu lebih besar dan lebih kuat dari punya suamimu yang lemas itu, hahaha...”

Malam itu, udara kebun singkong terasa pengap dan gelap. Di bawah pohon singkong paling besar, dua tubuh saling menempel kasar. Suroto berdiri tegap dengan celana melorot ke mata kaki, pinggulnya bergerak maju mundur dengan ritme kuat dan rakus. Sementara di depannya, seorang perempuan yang ternyata adalah istri Pak Lurah, bersandar ke batang pohon. Roknya tersingkap sampai pinggang, blusnya terbuka lebar hingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang bebas setiap kali Suroto menghantam.

“Iya, mas… enak… lebih keras, enak…” erang istri Pak Lurah sambil menggigit bibir bawahnya. Matanya setengah hingga terpejam, wajahnya pun memerah. Tubuhnya yang montok basah oleh keringat, kulitnya berkilau samar di bawah cahaya bulan sabit. Suroto mempercepat gerakannya, suara benturan kulit semakin basah dan keras.

“Semua yang ada di desa ini milikku,” gumam Suroto sambil mendesah puas. “Termasuk kamu, Bu Lurah. Tiap kali kamu mau, tinggal bilang. Suamimu juga nggak bakal berani apa-apa, aku yang berkuasa.”

Sementara itu, di jalan, Yoga Prakasa sedang berjalan menyusuri jalan aspal desa yang banyak lubang menuju rumah, tapi harus melewati kebun keluarganya. Tas ransel lusuhnya terasa berat di punggung.

Selama tiga tahun merantau ke kota besar, ternyata cuma memberinya luka lama, utang kecil, dan amarah yang semakin membara. Kini dia pulang dan sampai di desa malam ini karena mendapat kabar ibunya sakit, tapi hatinya sudah was-was sejak melihat kebun dari kejauhan tadi sebab banyak batang singkong yang layu dan tanahnya juga banyak yang retak.

“An_jing… kebun ini dulu subur banget,” gumamnya sendirian sambil mengepalkan tangan. Bau tanah yang kering semakin kuat saat dia mendekat.

Tiba-tiba, dia mendengar suara desahan perempuan yang basah dan erangan pria yang dalam, dan bunyi ritmis yang… asing tak asing. Yoga membeku sejenak lalu membungkuk pelan, bergerak di antara barisan tanaman singkong yang sudah rusak.

Dan kini dia melihat semuanya.

“Hai, brengsek…” desis Yoga, darahnya seakan mendidih.

Mendengar suara lain, Suroto menoleh cepat. Wajahnya yang baru saja puas berubah menjadi kaget, lalu tersenyum sinis. Bahkan pria itu masih belum melepaskan pinggul istri Pak Lurah sepenuhnya.

“Huh, serangga kecil!" Soroto berdecak, merasa kesenangannya terganggu.

“Siapa, mas? A… ada orang!”

Istri Pak Lurah menjerit kecil, buru-buru mendorong Suroto dan merapikan bajunya dengan tangan gemetar.

Sementara Yoga, langsung melangkah keluar dari balik tanaman. Tubuhnya yang tinggi dan kekar terlihat jelas di bawah cahaya bulan.

"Kalian, berani-beraninya mesum di kebunku, Suroto? Ini tanah keluargaku!”

“Wah-wah… Yoga, si brengsek yang baru pulang. Udah berani ngomong keras sama aku sekarang? Dulu, kamu cuma anak ingusan yang suka ngamuk sendirian.” Suroto menarik celananya sambil tertawa kecil, tapi mata penuh ancaman.

“Ini kebun ayahku. Kamu malah nodai tanah ini sama nafsumu yang kotor itu. Pergi sekarang juga, pergi!" Yoga maju selangkah, suaranya penuh amarah.

“Hey, kamu pikir kamu itu siapa, hah? Desa ini sudah ada dalam peganganku bertahun-tahun. Kebun ini juga, jadi kamu cuma pulang bikin onar doang. Mau apa, ha? Atau mau ikut gabung juga, mau nyicip Bu Lurah ini?” Suroto mengusap keringat di dahinya, senyumnya melebar tapi dingin sambil tersenyum sinis.

“Mas, Mas Suroto… aku, aku pulang dulu.” Istri Pak Lurah mundur ketakutan ke belakang Suroto.

“Kamu diem di situ,” potong Suroto tanpa menoleh. Dia pun melangkah mendekati Yoga. “Kamu, pemuda gagal. Aku akan kasih pelajaran, biar kamu tahu tempat.”

Tapi Yoga tidak menunggu lebih lama. Dia langsung melayangkan tinju keras ke wajah Suroto.

Bug!

Pertarungan pun pecah. Suroto menghindar dan membalas dengan pukulan tinju beratnya. Mendarat telak di pipi Yoga.

Bug bug

Yoga pun membalas dengan tendangan ke perut yang membuat Suroto mundur dua langkah. Mereka saling hantam di tengah kebun yang gelap. Tinju demi tinju, tendangan demi tendangan.

Tapi karena Suroto lebih berpengalaman dan bertubuh lebih besar, satu pukulan keras mendarat di rusuk Yoga hingga terdengar bunyi retak.

Krekk

“Uhuk!" Yoga terbatuk darah, tapi Suroto terus menyerang, pukulannya bertubi-tubi ke perut, dada, dan kepala.

“Kamu itu cuma sampah, Yoga!” teriak Suroto sambil menendang kaki Yoga hingga pemuda itu jatuh berlutut. “Desa ini sudah aku kuasai sejak lama, kamu nggak ada apa-apanya!” oceh Suroto.

Yoga mencoba bangkit, tapi Suroto justru menghantam tengkuknya keras. Yoga tergeletak telentang di tanah kering, membuatnya ingin segera kabur. Rasa sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh, bahkan darah mengalir dari hidung dan mulutnya.

Sekarang, Suroto berdiri di atasnya sambil tersenyum puas, nafasnya masih ngos-ngosan karena mesum ditambah berkelahi tadi.

“Seharusnya kamu nggak usah pulang, Yoga. Habis kamu, malam ini.” Suroto tersenyum miring.

Yoga yang tergeletak di tanah, menggerakkan tangannya yang lemah di tanah. Jari-jarinya menggali tanah kering, ingin mencari apa saja yang bisa membuat Suroto diam. Tapi jemarinya justru merasakan sesuatu yang keras dan dingin terkubur di dalamnya, sebuah cincin besi.

Sayangnya, kesadaran Yoga mulai menghilang. Bau tanah kering bercampur bau darahnya sendiri, suara-suara desahan mesum tadi masih terus bergema di kepalanya seperti kutukan.

“Ahh… apa ini?”

Kebunnya yang dulu subur, kini benar-benar dinodai. Dan Yoga, kemungkin tak akan bangun lagi.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status