Share

Cemburu

Author: itnaynurain
last update publish date: 2026-08-25 21:16:51

Kayra menarik keranjang belanja plastiknya dengan malas. Kepalanya masih pusing, perutnya sakit, tapi persediaan obat dan persediaan makannya habis.

Penampilannya sangat jauh dari menarik. Kaos longgar, celana pendek belel, dan rambut yang diikat asal-asalan.

Ia meraih dua bungkus mie goreng, lalu berbalik untuk mencari rak bumbu.

Di pertigaan lorong, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Kayra hampir jatuh, tetapi sebuah tangan sigap menahan sikunya.

"Maaf—" Kalimatnya tertahan di tenggorokan.

Leon Arkan berdiri di depannya. Kaos hitam polos membalut dadanya yang bidang, rambutnya sedikit berantakan. Penampilannya membuat Kayra sulit bernapas. Dua hari tidak bertemu, Leon tetap terlihat menawan dan berbahaya.

"P—Pak Leon?!" Kayra refleks mundur selangkah. "Maaf, saya tidak lihat."

"Kayra." Suaranya datar. "Belanja?"

Kayra mengangguk kaku.

"Sendiri?"

"Iya."

Leon menatap keranjang Kayra yang berisi mie instan dan keripik. Alisnya naik. "Makanan sampah."

"Saya suka," jawab Kayra ketus, mencoba mengumpulkan keberanian. "Saya duluan, Pak."

Kayra ingin kabur, tapi Leon mengambil keranjangnya dengan mudah. "Ayo, bareng."

"Tidak usah, Pak, saya bisa—" Kayra mencoba meraih keranjangnya, tetapi Leon sudah berbalik menuju kasir.

Punggungnya lebar dan tegap. Kayra hanya bisa mengikuti dengan langkah kaku, menyadari bahwa pria di depannya tidak pernah memberi pilihan. Leon selalu langsung bertindak.

"Ayo, aku antar!" Leon berjalan menuju mobilnya dengan dua tas belanja di tangannya.

"Tidak usah, Pak, kos saya dekat." Kayra menolak sambil menggigit bibirnya.

"Bagus, kalau dekat tidak menghabiskan waktu."

Jawabannya membungkam semua kalimat yang ada di kepala Kayra.

***

Sepuluh menit kemudian, Kayra sudah duduk di kursi penumpang mobil hitam yang sama. Aroma cedar, musk, dan sesuatu yang hangat kembali menusuk indranya.

Kayra mencengkram ujung kaosnya erat. Jantungnya berdegup kencang mengingat saat Leon menyalip motor Donny.

Leon menyetir santai dengan satu tangan. Dia tidak bicara. Tapi Kayra tahu pria itu sedang menyusun strategi.

Dan ia benar.

Saat mobil berhenti di lampu merah, Leon menoleh. Matanya menatap wajahnya dengan intensitas yang membuat Kayra mengkerut dan menempel di kursi.

Leon lalu meraih dagunya, mengangkat wajah Kayra hingga menatapnya. Sentuhannya lembut tapi tegas. Lalu jari itu turun ke lehernya, menyusur tulang selangka yang terlihat dari kerah kaos.

"Teman yang kemarin," ucap Leon pelan. "Yang bonceng kamu. Siapa?"

Kayra tersentak. "D—Donny. Teman SMA."

"Dekat?"

"Pak, itu urusan saya—"

"Aku bertanya," potong Leon, suaranya turun satu oktaf lebih rendah, "dekat?"

Kayra menelan ludah. "Lumayan. Dia hanya teman."

Leon tersenyum tipis. "Bagus."

Leon mematikan mesin saat mobil berhenti di tepi jalan. Bukan di depan kosnya. Tapi di jalanan sepi dan gelap, yang hanya diterangi lampu jalan yang samar. Kayra langsung tegang.

"P—Pak, ini di mana?"

Leon tidak menjawab. Ia berbalik menghadapnya, satu lengannya bersandar di setir, satu lagi di sandaran kursi Kayra, menjebaknya di sudut. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

"Kamu ingat apa yang aku katakan di ruanganku?" bisik Leon. "Tentang tekanan eksternal? Tentang sistem yang bisa meledak jika energi internal tidak disalurkan?"

Kayra mengangguk kaku, dadanya naik turun tak beraturan.

"Kamu seperti itu, Kayra." Jari Leon menyentuh pelipisnya, lalu menyusur perlahan ke pipi. "Kamu menyimpan terlalu banyak tekanan. Dan aku..." ia berhenti, matanya menelusuri bibir Kayra, "...adalah ledakan yang kamu takutkan dan kamu inginkan."

"Saya tidak—"

"Kamu menghina aku di depan anakku." Leon mengulang kata-kata itu dengan nada rendah. "Like father like son, katamu. Aku brengsek."

Kayra memejamkan mata. "Saya minta maaf, Pak. Saya emosi—"

"Kamu benar." Leon menyeringai dingin. "Aku memang brengsek. Tapi setidaknya aku jujur." Jarinya turun ke leher Kayra, menyusur tulang selangkanya.

"Ethan," bisik Leon dengan suara serak, "pernah menyentuhmu di sini?"

Kayra menggigil hebat. Kulitnya terbakar di bawah sentuhan Leon.

"Jawab."

"Tidak…" bisik Kayra, suaranya nyaris hilang.

Leon tersenyum tipis. Jarinya bergerak ke bahunya, lalu ke lengannya. "Di sini?"

Kayra menggeleng. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi bukan karena takut. Ini karena sensasi yang merambat deras ke seluruh tubuhnya. Kenangan malam hotel yang samar-samar mulai mencuat. Tubuh pria ini, beratnya, dan panasnya.

"Di sini?" Jari Leon menyentuh pinggangnya, hanya melalui kain tipis. Kayra menahan napas, hampir meledak.

"Tidak," desahnya putus asa. "Tolong, Pak, jangan—"

Lalu bibir Leon menempel. Hanya menempel. Tekanan lembut yang membuat Kayra diam membeku. Tidak bergerak. Tidak menghisap. Hanya menyentuh, yang membuat pertahanan Kayra hampir hancur.

Kayra memejamkan mata.

Tapi Leon menarik diri sebelum Kayra sempat membalas. Senyum tipis menghiasi wajahnya, puas dengan eksperimennya.

"Kamu gemetar," ucapnya, ibu jarinya mengusap bibir Kayra yang masih basah. "Kamu tidak gemetar saat Ethan menyentuhmu?"

Kayra tidak bisa menjawab. Dadanya sesak dan pipinya panas seperti sedang terbakar.

"Aku ingin mendengarnya," desak Leon. "Jawab!"

"Tidak," bisik Kayra, suaranya serak. "Ethan tidak pernah seperti ini."

"Bagus. Karena mulai sekarang, hanya aku yang boleh membuatmu gemetar seperti ini."

Leon lalu menyalakan mesin lagi, melanjutkan perjalanan. Kayra tidak berani menoleh, tidak berani bernapas. Tapi tubuhnya masih bergetar. Kata-kata Leon terngiang di kepalanya. Hanya aku yang boleh membuatmu gemetar.

***

Begitu mobil berhenti, Kayra langsung mengambil tas belanjanya, dan buru-buru turun tanpa berkata apa-apa. Ia berlari ke kamarnya, menghempaskan tas belanja, dan langsung masuk ke kamar mandi.

Air shower mengguyur tubuhnya, tapi tidak berhasil mendinginkan panas tubuhnya.

"Brengsek," bisiknya. "Brengsek... Brengsek!”

Tapi bayangan Leon tidak pergi. Saat air mengalir di punggungnya, ingatan tentang malam itu mulai muncul satu per satu. Tubuh Leon di atasnya. Tangannya yang besar memegang pinggangnya. Bisikannya yang seperti geraman di telinga. "Kau begitu manis..."

Kayra terduduk di lantai kamar mandi, menggigit bibirnya sampai hampir berdarah, berusaha mengusir bayangan itu.

Tapi semakin ia melawan, semakin jelas gambarnya. Leon menggenggam tangannya. Leon mengecup lehernya. Leon menyebut namanya dengan suara serak yang membuatnya meleleh.

"Berhenti! Berhenti mengingat itu!"

Tapi tubuhnya sudah terlanjur panas. Ia menyandarkan dahi di dinding keramik dingin, membiarkan air mengalir hingga kulitnya keriput.

***

Malam itu, Kayra tertidur dengan kepala berat dan bermimpi tentang tubuh besar menindihnya. Tentang aroma cedar dan bisikan serak. Tentang jari-jari yang menyusur tubuhnya, dan bibir yang menempel, lalu bergerak, lalu menghisap—

"Kamu hanya mahasiswaku," bisik Leon dalam mimpinya, tapi tangannya justru menarik tali kaos Kayra. "Tapi di sini, kamu hanya milikku."

Kayra terbangun dengan napas tersengal dan keringat yang membasahi seluruh tubuh. Ia meraba kepalanya yang pusing. Jam di ponsel menunjukkan pukul setengah tiga dini hari.

Dan di layar ponselnya, ada notifikasi baru.

Pesan dari L.

"Kamu meninggalkan ini di mobil. Isinya spesial, jadi aku simpan dulu. Ambil jam enam pagi besok di rumahku. Lokasi sudah kukirim. Jangan terlambat, Kayra. Atau aku antar sendiri kosmu. — L"

Kayra menatap layar dengan mata membelalak. Di bawah pesan itu, ada foto sekotak tampon yang ia beli tadi di supermarket. Itu yang ia tinggalkan? Atau jebakan?

Kayra menggigit kuku, jarinya gemetar. Leon tahu persis apa yang ia beli. Dia menyimpannya, dan mengundang ke rumahnya pukul enam pagi.

Dan gilanya, bayangan di shower tadi muncul lagi. Kayra membayangkan dirinya di rumah Leon. Ruang tamunya. Dapurnya. Kamar tidurnya.

Leon mengundangnya, dan itu jauh lebih berbahaya.

Kayra menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak kecil.

"Astaga... aku jadi gila."

Tapi jari-jarinya tetap membuka peta lokasi yang dikirim Leon. Matanya membaca alamat itu berulang kali. Rumah besar di kawasan elit. Sarang singa.

Kayra tidak bisa tidur lagi. Sepanjang sisa malam, ia hanya menggigil di bawah selimut, memaki dirinya sendiri karena berani membayangkan pria itu, namun tidak pernah benar-benar berusaha berhenti membayangkan.

Leon Arkan bukan hanya dosennya, atau hanya Daddy-nya Ethan.

Leon adalah laki-laki yang sejak pertemuan pertama, telah menghancurkan seluruh pertahanannya. Dan besok pagi, Kayra harus menghadapinya lagi, kali ini di sarangnya sendiri.

Ia menatap layar ponsel sekali lagi. Jari-jarinya gemetar mengetik balasan singkat sebelum otaknya sempat menghentikan.

"Baik, Pak. Saya datang."

Kayra melempar ponsel ke ujung kasur dan menutup wajahnya.

“Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?,” batin Kayra.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Sorry, Daddy

    Leon berdiri di ambang pintu dengan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu yang membuat bahu bidangnya semakin menawan. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi, membuat Kayra menelan ludah."Tepat waktu," ucap Leon datar. "Masuk!"Kayra melangkah masuk. Rumah itu luas, cahaya pagi menembus melalui jendela besar, menciptakan kilauan lembut di seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan abstrak gelap, penuh teka-teki, seperti pemiliknya.Kayra tidak sempat mengagumi interiornya. Hidungnya langsung menangkap aroma hangat bubur ayam, menurut penciumannya."Makan dulu," perintah Leon sambil berjalan menuju meja makan.Kayra mengikuti dengan ragu. Di atas meja, tersaji semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng, cakwe, dan sambal di sampingnya. Di sebelahnya, segelas jus jeruk segar."Pak, saya sudah sarapan—" Kayra berbohong."Mie instan bukan sarapan. Duduk!"Kayra duduk dengan hati berdebar. Ia mengambil sendok dan menyuap bubur itu. Hangatnya menyebar di

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Cemburu

    Kayra menarik keranjang belanja plastiknya dengan malas. Kepalanya masih pusing, perutnya sakit, tapi persediaan obat dan persediaan makannya habis. Penampilannya sangat jauh dari menarik. Kaos longgar, celana pendek belel, dan rambut yang diikat asal-asalan. Ia meraih dua bungkus mie goreng, lalu berbalik untuk mencari rak bumbu. Di pertigaan lorong, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Kayra hampir jatuh, tetapi sebuah tangan sigap menahan sikunya. "Maaf—" Kalimatnya tertahan di tenggorokan. Leon Arkan berdiri di depannya. Kaos hitam polos membalut dadanya yang bidang, rambutnya sedikit berantakan. Penampilannya membuat Kayra sulit bernapas. Dua hari tidak bertemu, Leon tetap terlihat menawan dan berbahaya. "P—Pak Leon?!" Kayra refleks mundur selangkah. "Maaf, saya tidak lihat." "Kayra." Suaranya datar. "Belanja?" Kayra mengangguk kaku. "Sendiri?" "Iya." Leon menatap keranjang Kayra yang berisi mie instan dan keripik. Alisnya naik. "Makanan sampah."

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Menolak Ajakan Pulang

    Hari pengumpulan tugas Termodinamika tiba.Kayra mengantri di luar ruangan Leon bersama mahasiswa lain. Tangannya menggenggam erat lembar jawaban yang sudah ia kerjakan ulang tiga kali. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut nilai, tapi karena ia harus kembali berhadapan dengan Leon.Laura berada tepat di depannya. Gadis itu tiba-tiba menoleh, menyeringai sinis. “Kayra, kamu yakin tugasmu layak dikumpulkan? Atau kamu minta bantuan dosen secara khusus?”Kayra mendelik, tetapi memilih tak menjawab. Ia tahu Laura sedang mencoba memancing emosinya.“Masuk!” panggil suara Leon dari dalam.Satu per satu mahasiswa masuk dan keluar. Hingga akhirnya giliran Kayra dan Laura. Kayra hendak melangkah saat Laura mendahuluinya dengan sengaja, menyenggol bahu Kayra hingga hampir terjatuh.“Dasar perempuan murahan,” bisik Laura.Kayra menahan napas, lalu mengikuti masuk.

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Like Father Like Son

    Kayra menelan ludah susah payah. Leon Arkan, pria dari bar yang menghabiskan malam bersamanya, adalah ayah dari mantan kekasihnya."Tuhan... aku tidur dengan Ayah dari pria yang mencampakkan dan menghinaku,” batin Kayra.Sialnya, Leon tidak memberinya waktu untuk bernapas. Pria itu berjalan ke papan tulis dengan gerakan tenang dan berwibawa, mengambil kapur putih, dan mulai menulis rumus Termodinamika."Hukum Pertama Termodinamika," ujar Leon sembari memutar spidol di jemarinya. "Prinsip paling mendasar di mata kuliah ini. Energi tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan. Energi hanya berpindah atau berubah bentuk."Kayra berusaha fokus pada penjelasannya, tetapi mustahil. Setiap kali Leon berjalan melewati barisannya, aroma cedar dan musk yang sama menusuk indranya.Tiba-tiba, langkah sepatu Leon berhenti, membuat Kayra langsung menegang. Tanpa menoleh, ia tahu pria itu berdiri tepat di samping meja

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Pria Bernama L

    “Kalian?!” Kayra bertanya tajam sambil menatap Ethan dan Laura dengan mata membelalak lebar.“Apa?” Ethan menjawab santai sambil merapikan celana jeansnya.Laura sibuk menurunkan rok mininya tanpa rasa bersalah. Mulut Kayra terbuka lebar, tetapi tidak ada suara yang berhasil keluar.“Ethan...” Kayra berbisik gemetar.Ethan berdecak keras, lalu merangkul pinggang Laura dan menariknya semakin dekat.“Kalian jahat...” Kayra berbisik lirih.“Baru sadar?” Ethan tertawa sinis.Laura ikut terkikik geli. Keduanya menikmati penderitaan Kayra secara terang-terangan.“Kamu pikir aku beneran suka sama kamu?” Ethan bertanya sambil tersenyum meremehkan.Kayra membeku di tempatnya. Selama dua tahun terakhir, ia mengira hubungan mereka nyata. Kayra percaya perhatian Ethan, pesan kecil, dan genggaman tangan di depan teman-teman adalah bentuk kasih sayang tulus.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status