Jangan Gitu Dong, Boss!

Jangan Gitu Dong, Boss!

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-10-26
Oleh:  Shanum BelleOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
5Bab
12Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ayunda Saraswati memergoki Hendri Prayono selingkuh, setelah mendapatkan petunjuk dari komentar melayang. Demi melampiaskan rasa sakit hatinya, dia pun pergi dengan sahabatnya ke klub malam dan berakhir di ranjang Rangga Baskara, musuh bebuyutannya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

1| Musuh Bebuyutan

[Semua harga naik, tapi dia justru buang-buang uang buat menyenangkan tunangannya.]

[Yah, di awal cerita memang Ayunda itu bucin dan bodoh.] 

[Betul. Bisa-bisanya jatuh hati pada pria konyol seperti Hendri, ck.]

Aku tetap memasang senyum sembari melihat-lihat arloji di estalase depan, seakan tidak terganggu dengan komentar-komentar aneh yang memenuhi pandanganku. 

Padahal kenyataannya, tentu saja ini aneh dan membuatku bertanya-tanya!

Ini semua bermula sejak tadi sore. Karena tertidur, aku tidak siap saat bus yang kutumpangi mengerem mendadak. Akibatnya, kepalaku terantuk sandaran kursi di depanku.

Sejak saat itu, aku bisa melihat sederet komentar asing yang mengomentari semua aspek hidupku–terutama kehidupan percintaanku.

Kupikir, ini pasti hanya halusinasi. Tapi berkali-kali aku memejamkan mata  dan mengatur napas, saat aku membuka mata, tulisan yang melayang-layang di hadapanku masih ada.

Mereka bahkan tahu ini hari jadiku dengan Hendri, tunanganku, yang ketiga!

Tapi, tentunya, jika ini halusinasi, itu masuk akal. Semuanya hanya terjadi di otakku. 

Pada akhirnya,  aku tidak bereaksi apa pun karena khawatir orang lain akan menganggapku gila. 

“Saya mau ambil yang ini, Kak,” ucapku sembari menunjuk pada salah satu arloji dengan desain serba hitam dan jarum perak yang sangat ramping. “Tolong dikemas yang rapi ya.”

“Pilihan bagus, Nona,” sahut penjaga toko seraya tersenyum ramah.  Dengan cekatan, ia membuka kuncian etalase, mengeluarkan arloji tersebut menggunakan sarung tangan kain putih. “Untuk pacarnya ya?”

Aku tersenyum. “Untuk tunangan saya. Hari ini kami genap tiga tahun,” jawabku.

Ponselku di tangan berdenting sekali, tanda ada pesan masuk.

“Sayang, maaf, tiba-tiba aku harus lembur hari ini. Kamu lanjut saja makan di restoran sesuai reservasi. Hati-hati pulangnya. Kita akan rayakan lain kali.”

Senyum di wajahku perlahan memudar. Hari ini adalah hari jadi hubungan kami yang ketiga. Sebelumnya, kami sepakat merayakan tahun ini dengan makan malam di restoran hotel bintang empat. Itulah sebabnya sekarang aku mencari kado untuknya.

Namun, rencana itu batal begitu saja karena lembur?

Meski begitu, aku tidak bisa marah. Toh, sebagai kepala cabang, kewajibannya pastilah sangat besar. Dia bekerja keras juga demi masa depan kami.

“Bagaimana dengan makan malammu?” balasku melalui pesan. “Perlukah kuantar?”

“Tidak.” Responsnya cepat juga. “Kamu makan saja, Sayang. Nikmati malam ini.”

Aku menghela napas. Rasanya tidak adil jika aku menikmati masakan bintang empat itu sendirian. 

Oh! Atau … aku bisa memberinya kejutan di apartemen. Begini-begini aku pandai memasak. Dan mungkin setelah ia pulang nanti, kita bisa makan malam romantis di apartemennya saja.

Ide bagus, bukan?

Setelah aku membayar arloji yang kupilih tadi, aku bergegas pergi ke area supermarket untuk membeli daging dan bahan makanan. Teks-teks melayang itu masih membayangi pandanganku, tapi aku berusaha mengabaikannya sebisaku.

Sampai saat aku tiba di depan pintu apartemen Hendri–

[Oh, bagus, ini dia! Akhirnya Ayunda akan memergoki perselingkuhan pacarnya itu, kan?]

Aku mengernyit. Perselingkuhan? Siapa?

Pacarku … Hendri? Mana mungkin!

Hendri mencintaiku. Pria itu selalu ada untukku setiap kali aku membutuhkannya. Ia bahkan beberapa kali mengorbankan waktunya untuk bisa menuruti kemauanku. Yang seperti itu, jelas tidak mungkin selingkuh.

Ah, aku benar-benar sedang halu. Bisa-bisanya aku memikirkan sesuatu yang mustahil terjadi.

Kubuka pintu apartemen Hendri perlahan sembari membawa berbagai barang belanjaan. Akan tetapi, ada yang aneh. Kenapa … lampunya sudah menyala?

“Bisa-bisanya kamu membohongi Ayunda kalau kamu masih lembur,” ucap seseorang dari arah kamar tidur. “Padahal ini peringatan hari jadi kalian, kan?”

Tubuhku mendadak terasa dingin dan kaku. Suara itu….

Kupaksakan untuk melangkah mendekat ke arah kamar dan melihat ke dalam dari celah pintu.

Melalui pantulan cermin yang ada di atas meja, aku bisa melihat seorang wanita sedang berada di atas Hendri. 

Dan … aku mengenalinya.

Ia adalah Nataryuni. Adikku sendiri.

“Stt! Jangan sebut namanya lagi.” Kulihat Hendri membelai Nataryuni dengan ibu jarinya, kemudian membalik posisi mereka. “Dia tidak pantas berada di antara kita.”

Selanjutnya, mereka berdua saling memakan seperti manusia kelaparan. Membuatku ingin muntah.

Kakiku lemas seketika. Badanku merosot, bergesekkan dengan dinding kamar Hendri. 

[Jangan hanya bisa menangis. Kamu karakter utamanya. Lawan!]

[Ah, paling sebal aku adegan begini. Ayo, Ayunda, jangan bodoh.]

Kutatap komentar-komentar yang melayang tepat di depan mataku. 

Mudah buat kalian berkata begitu! Bukan kalian yang sedang dikhianati oleh orang yang kalian cintai!

Meski begitu, aku menguatkan hati. Kucengkeram tas di tangan sebelum kemudian mendorong pintu kamar itu hingga menjeblak terbuka.

Kedua orang tak bermoral di dalamnya langsung terkejut.

“Ayunda! Sejak kapan kamu datang? Kenapa tidak memberi kabar lebih dahulu?” seru Hendri.

Lelaki itu keluar kamar hanya mengenakan celana kolor. Sikapnya sangat santai, seolah dirinya tak melakukan apa pun. Padahal ia baru saja melakukan kesalahan yang sangat fatal dalam hubungan. Selingkuh.

“Oh, kamu terganggu?” kataku dingin. “Aku ke sini cuma mau bilang kalau kita putus. Jadi kamu bisa lanjutkan adegan menjijikkanmu barusan.”

“Ayu–Ayunda! Apa maksudmu!? Tunggu dulu!”

Aku segera pergi dari sana begitu saja tanpa mempedulikan teriakan pria kurang ajar itu. 

Karena jika tidak, mungkin headline besok pagi akan dipenuhi dengan berita pembunuhan. Entah aku yang membunuh mereka, atau mereka yang membunuhku.

Untuk menghibur diriku, aku pergi ke Skybar, sebuah kelab malam yang seringkali direkomendasikan oleh sahabatku, Intan. Biasanya, aku nyaris tidak pernah mendatangi tempat-tempat seperti ini. Tapi kali ini pengecualian.

Tangisku langsung pecah di hadapan satu pitcher minuman yang kupesan.

[Ya, bolehlah menangis sekarang.]

[Kalau jadi dia, aku juga bakal menangis sih. Tunangannya itu kan sudah selingkuh sejak lama.]

[Bagaimana jadinya kalau Ayunda tahu Hendri tidur dengan adiknya itu dua kali seminggu ya?]

Membaca semua komentar itu, tangisku makin kencang saja.

Bodoh, bodoh. Memang benar mereka mengataiku bodoh tadi. Bisa-bisanya aku dibohongi!

Berusaha melenyapkan rasa sesak di dada, aku menegak minuman dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Aku menyesapnya sedikit demi sedikit hingga kesadaranku menurun secara perlahan, dan tiba-tiba ....

“Sendirian saja, sayang. Sini Om temenin, biar enggak kesepian,” sapa seorang pengunjung klub.

Meskipun otakku sedang dalam kondisi yang tidak prima, aku masih sanggup membedakan mana pria tampan dan buaya darat. Aku langsung mengusir lelaki asing tersebut dari hadapanku.

Namun tenaga yang dia miliki terlalu besar. Dorongan tanganku tak mampu membuatnya mundur. Dia bahkan tertawa terbahak-bahak saat tangan mungilku menyentuh kemejanya.

“Kalau mau servis dari Om, bilang saja. Tidak perlu sok jual mahal, padahal ujung-ujungnya mau juga.” Lelaki hidung belang itu mencengkeram tanganku dengan kuat.

Aku memberontak, berusaha melepaskan diri dari pria mesum itu. Namun sekali lagi, usahaku berbuah kegagalan. Hingga seorang pria jangkung menendang asetnya yang imut di dalam celana.

“Argh!”

“Siapa itu!? Kurang ajar!”

Aku mendongak menatap wajah pria yang baru datang itu. Sepasang mataku menyipit saat mengenali identitasnya.

“Rangg–”

[Astaga, ini diaaaa!!!]

[Pemeran utama pria datang juga! Aduh, tampannya!]

[Ini dia jodoh si Ayunda!]

Mataku sontak membola saat membaca komentar itu.

Bagaimana mungkin Rangga adalah jodohku? Justru dia itu musuhku sejak lama!

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
5 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status