Share

Sorry, Daddy

Author: itnaynurain
last update publish date: 2026-08-25 21:17:12

Leon berdiri di ambang pintu dengan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu yang membuat bahu bidangnya semakin menawan. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi, membuat Kayra menelan ludah.

"Tepat waktu," ucap Leon datar. "Masuk!"

Kayra melangkah masuk. Rumah itu luas, cahaya pagi menembus melalui jendela besar, menciptakan kilauan lembut di seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan abstrak gelap, penuh teka-teki, seperti pemiliknya.

Kayra tidak sempat mengagumi interiornya. Hidungnya langsung menangkap aroma hangat bubur ayam, menurut penciumannya.

"Makan dulu," perintah Leon sambil berjalan menuju meja makan.

Kayra mengikuti dengan ragu. Di atas meja, tersaji semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng, cakwe, dan sambal di sampingnya. Di sebelahnya, segelas jus jeruk segar.

"Pak, saya sudah sarapan—" Kayra berbohong.

"Mie instan bukan sarapan. Duduk!"

Kayra duduk dengan hati berdebar. Ia mengambil sendok dan menyuap bubur itu. Hangatnya menyebar di tenggorokan, mengusir sedikit rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya sejak tadi pagi.

Leon duduk di hadapannya, bersandar di kursi dengan tangan bersilang di dada. Matanya mengamati setiap gerakan Kayra.

"Enak, Pak," gumam Kayra pelan, tanpa berani menatap.

"Bagus."

Tidak ada yang bicara, hanya terdengar suara sendok menyentuh mangkuk. Tapi Kayra tahu, Leon sedang menunggu.

Leon berdiri, berjalan ke meja dapur, lalu kembali dengan sekotak tampon di tangannya. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di samping mangkuk bubur Kayra.

"Barangmu," ucapnya santai.

Kayra menegang. "Terima kasih, Pak."

Tapi Leon tidak bergerak. Ia malah menarik kursi di samping Kayra dan duduk dengan sangat dekat. Sisi tubuhnya menyentuh lengan Kayra, membuat Kayra bisa merasakan panas yang terpancar dari tubuhnya.

"Aku penasaran," bisik Leon. "Kamu menggunakan ini, kan? Saat waktunya datang."

Kayra tersedak, hampir menumpahkan buburnya. "P—Pak, itu…"

"Cuma pertanyaan teknis," potong Leon tersenyum. "Aku tidak suka ketidaktahuan." Ia mengambil kotak tampon itu, memutar-mutarnya di jari-jari panjangnya. "Bayangkan jika aku menjadi benda ini. Bagaimana caranya masuk ke dalam... intimu, Kayra?"

Kayra mematung. Perutnya mual karena kata-kata Leon yang merayap ke dalam kepalanya seperti ular berbisa.

Leon menyeringai melihat reaksinya. "Aku tidak akan melakukannya sekarang. Tapi ide itu menarik, bukan?"

"Pak, saya—" Kayra terbata-bata.

"Atau kamu lebih suka aku menjelaskan detailnya?" Jari Leon menyentuh kotak tampon itu, lalu menunjuk ke arah Kayra. "Benda ini dirancang untuk menyerap. Tapi aku berbeda. Aku tidak hanya menyerap. Aku mengambil, dan tidak pernah mengembalikan."

Kayra menggigit bibirnya sampai hampir berdarah.

Suara mesin mobil terdengar dari luar. Kayra langsung tegang. Leon mengerutkan dahi, lalu berjalan ke jendela. Ekspresinya berubah.

"Ethan," gumamnya.

Kayra melonjak berdiri. "A—Apa?!"

"Tenang," Leon berbalik, matanya menatap Kayra dengan cepat. "Ke dapur. Ada pintu belakang di samping lemari. Sembunyi di balik pintu pantry. Jangan bersuara. Apapun yang terjadi, kamu tidak ada di sini."

Kayra tidak perlu diberitahu dua kali. Ia berlari ke dapur, nyaris menabrak meja, dan bersembunyi di balik pintu pantry. Dadanya berdebar kencang. Dari celah kecil, ia bisa melihat apa yang terjadi.

"Daddy!" suara Ethan terdengar ceria.

Kayra menahan napas. Ia mendengar langkah Ethan masuk ke ruang makan.

"Wah, Daddy lagi sarapan bubur?" Ethan bersiul kecil. "Baru tahu Daddy suka bubur."

“Hmm.” Leon hanya bergumam. 

Langkah Ethan berhenti. Kayra menyaksikan dari celah pintu bagaimana Ethan menunduk, lalu matanya tertuju pada meja makan. Pada kotak tampon yang masih tergeletak di sana.

Kayra hampir pingsan.

"Ini apa?" Ethan meraih kotak itu, membolak-baliknya dengan alis terangkat. "Tampon? Daddy, ini punya siapa?"

Leon tidak berkedip. "Istri temanku. Ketinggalan saat mampir kemarin."

"Ketinggalan?" Ethan tertawa geli. "Masa sih, Dad. Perempuan mana yang ketinggalan tampon di rumah orang?"

"Aneh memang," jawab Leon santai, "tapi terjadi."

Ethan mengamati kotak itu sekali lagi, lalu meletakkannya kembali. Kayra bernapas lega.

"Daddy nggak tinggal sama perempuan lain kan?" tanya Ethan tiba-tiba. Suaranya berubah menjadi serius.

"Kalau Daddy dekat sama cewek, bilang. Aku nggak akan marah. Kan, Dad juga butuh pendamping."

Kayra menggigit bibirnya, mendengar pembicaraan  Ayah dan anak itu. 

Leon terkekeh pelan, suaranya tetap dingin. "Dad belum ada rencana menikah."

"Serius?" Ethan mengangkat alis.

"Serius."

Kayra mendengar Ethan menghela napas lega. "Baiklah. Aku cuma mau bilang, aku mau ke Bali tiga hari ke depan. Liburan, Dad."

"Baiklah. Jangan boros! Aku akan transfer dana ekstra hari ini."

Ethan tersenyum lebar. "Makasih, Dad. Dad memang paling oke." Ia berbalik menuju pintu. Kayra kembali bernapas lega. Tapi langkah Ethan berhenti lagi.

"Eh, Dad."

"Apa?"

"Yakin gak ada cewek?"

Leon tidak menjawab. Ethan tertawa kecil, lalu langkahnya kembali menuju pintu depan. Kayra mendengar suara pintu terbuka, lalu langkah Ethan kembali ke ruang makan.

"Dad, aku mau ambil cokelat di dapur—"

Leon langsung bergerak cepat, menghadang Ethan di ambang pintu dapur. "Belum belanja, habis."

Ethan menatap ayahnya dengan tatapan aneh. "Dad kenapa sih? Cuma mau ambil cokelat."

"Sudah habis," kata Leon tegas.

Ethan mengerutkan dahi, menatap wajah ayahnya dengan curiga. Namun sebelum ia bisa bertanya lebih lanjut, ponsel Kayra, yang ada di sakunya, berdering nyaring.

Kayra hampir mati ketakutan. Dengan panik, ia segera menekan tombol volume hingga senyap.

Ethan menoleh. "Itu suara apa, Dad?"

Leon tidak berkedip. "TV lantai atas."

"TV, jam segini?"

"Ya, lupa dimatikan."

Ethan menatap ayahnya cukup lama. Kayra menahan napas di balik pintu, tubuhnya gemetaran, keringat dingin membasahi seluruh punggungnya. Ia mendengar detak jantungnya sendiri, begitu keras dan cepat.

"Aneh banget, Dad," gumam Ethan akhirnya. "Aku pergi dulu."

Pintu depan tertutup. Suara mobil menyala, lalu menjauh.

Kayra masih bersembunyi di balik pintu pantry selama hampir satu menit, tidak berani bergerak. Hingga pintu pantry terbuka, dan Leon berdiri di hadapannya dengan wajah dingin.

"Dia sudah pergi," ucapnya.

Kayra menyender di dinding pantry, dadanya naik turun. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, sekalipun udara di rumah Leon sangat dingin karena AC.

Leon menatapnya dengan alis terangkat. "Kamu gemetar."

"Saya hampir ketahuan, Pak!" bisik Kayra panik, suaranya bergetar. "Dia—dia hampir masuk ke dapur!"

Kayra menatap Leon, dadanya masih naik turun cepat, keringat membasahi pelipisnya. Ia terlihat seperti kelinci yang baru lolos dari cengkeraman serigala.

"Kenapa kamu gemetar?" tanya Leon, suaranya rendah. "Takut? Takut Ethan tahu kamu ada di sini?"

Kayra mengangguk, masih terengah-engah.

Leon melangkah mendekat. Satu tangannya menempel di dinding di samping kepala Kayra, memerangkapnya. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Kayra. Mata hitamnya menembus kepanikan Kayra.

"Aku sudah bilang," bisik Leon, "jangan pernah gemetar karena orang lain. Termasuk Ethan."

Kayra membeku. Napasnya terengah-engah. Suara Leon masuk ke telinganya seperti suara dari dunia lain.

"M… maaf, Pak," bisik Kayra, suaranya gemetar. "Saya tidak sengaja—"

"Kamu harus minta maaf dengan benar," potong Leon, bibirnya hampir menyentuh telinga Kayra.

Kayra bingung. Ia menatap Leon dengan mata berkaca-kaca, panik, dan keringatnya semakin deras. "M… maaf yang benar bagaimana, Pak?"

Leon mencondongkan tubuh ke belakang, menatap Kayra dengan tatapan yang licik dan dingin. Tangannya turun ke pinggang Kayra, menariknya sedikit lebih dekat.

"Katakan, 'Sorry, Daddy'," bisik Leon, suaranya menggoda. "Ayo, Kayra. Tunjukkan kamu benar-benar menyesal."

Kayra hampir pingsan. Jantungnya berdebar kencang, pikirannya kacau, dan detak nadinya terasa di seluruh tubuh.

Daddy. Kata itu terasa asing di lidahnya. Kata yang selama ini hanya ia dengar dari Ethan untuk menyebut Leon. Dan sekarang Leon menuntutnya, untuk mengucapkannya.

Ia menahan napas, dadanya sesak. Rasa malu dan takut bercampur aduk di dadanya, yang memberi getaran aneh dan membuat lututnya lemas.

Tanpa sadar, hanya untuk menghentikan tekanan di dadanya, ia berbisik,

"Sorry... Daddy."

Kata itu keluar dari bibirnya seperti bisikan terakhir sebelum tenggelam.

Leon tersenyum. Senyum penuh kemenangan, senyum predator yang puas dengan mangsanya.

"Bagus," bisiknya, lalu mundur selangkah. "Sekarang pulang. Ganti bajumu. Kamu basah."

Kayra tidak perlu diberitahu dua kali. Ia berlari keluar dengan tubuh masih gemetar.

Begitu ia melangkah keluar pagar, ia sadar, bajunya penuh keringat, tapi tubuhnya bergetar hebat. Bukan karena kedinginan.

Tapi karena kalimat "Sorry, Daddy" itu telah mengubah segalanya.

Kayra menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis kecil di tengah trotoar, sementara bayangan Leon, dengan senyum tipis puasnya, masih terpatri di kepalanya.

"Aku sudah gila," bisiknya. "Aku benar-benar gila.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Sorry, Daddy

    Leon berdiri di ambang pintu dengan kemeja lengan pendek berwarna abu-abu yang membuat bahu bidangnya semakin menawan. Rambutnya masih sedikit basah, seperti baru selesai mandi, membuat Kayra menelan ludah."Tepat waktu," ucap Leon datar. "Masuk!"Kayra melangkah masuk. Rumah itu luas, cahaya pagi menembus melalui jendela besar, menciptakan kilauan lembut di seluruh ruangan. Dindingnya dipenuhi lukisan abstrak gelap, penuh teka-teki, seperti pemiliknya.Kayra tidak sempat mengagumi interiornya. Hidungnya langsung menangkap aroma hangat bubur ayam, menurut penciumannya."Makan dulu," perintah Leon sambil berjalan menuju meja makan.Kayra mengikuti dengan ragu. Di atas meja, tersaji semangkuk bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng, cakwe, dan sambal di sampingnya. Di sebelahnya, segelas jus jeruk segar."Pak, saya sudah sarapan—" Kayra berbohong."Mie instan bukan sarapan. Duduk!"Kayra duduk dengan hati berdebar. Ia mengambil sendok dan menyuap bubur itu. Hangatnya menyebar di

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Cemburu

    Kayra menarik keranjang belanja plastiknya dengan malas. Kepalanya masih pusing, perutnya sakit, tapi persediaan obat dan persediaan makannya habis. Penampilannya sangat jauh dari menarik. Kaos longgar, celana pendek belel, dan rambut yang diikat asal-asalan. Ia meraih dua bungkus mie goreng, lalu berbalik untuk mencari rak bumbu. Di pertigaan lorong, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Kayra hampir jatuh, tetapi sebuah tangan sigap menahan sikunya. "Maaf—" Kalimatnya tertahan di tenggorokan. Leon Arkan berdiri di depannya. Kaos hitam polos membalut dadanya yang bidang, rambutnya sedikit berantakan. Penampilannya membuat Kayra sulit bernapas. Dua hari tidak bertemu, Leon tetap terlihat menawan dan berbahaya. "P—Pak Leon?!" Kayra refleks mundur selangkah. "Maaf, saya tidak lihat." "Kayra." Suaranya datar. "Belanja?" Kayra mengangguk kaku. "Sendiri?" "Iya." Leon menatap keranjang Kayra yang berisi mie instan dan keripik. Alisnya naik. "Makanan sampah."

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Menolak Ajakan Pulang

    Hari pengumpulan tugas Termodinamika tiba.Kayra mengantri di luar ruangan Leon bersama mahasiswa lain. Tangannya menggenggam erat lembar jawaban yang sudah ia kerjakan ulang tiga kali. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut nilai, tapi karena ia harus kembali berhadapan dengan Leon.Laura berada tepat di depannya. Gadis itu tiba-tiba menoleh, menyeringai sinis. “Kayra, kamu yakin tugasmu layak dikumpulkan? Atau kamu minta bantuan dosen secara khusus?”Kayra mendelik, tetapi memilih tak menjawab. Ia tahu Laura sedang mencoba memancing emosinya.“Masuk!” panggil suara Leon dari dalam.Satu per satu mahasiswa masuk dan keluar. Hingga akhirnya giliran Kayra dan Laura. Kayra hendak melangkah saat Laura mendahuluinya dengan sengaja, menyenggol bahu Kayra hingga hampir terjatuh.“Dasar perempuan murahan,” bisik Laura.Kayra menahan napas, lalu mengikuti masuk.

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Like Father Like Son

    Kayra menelan ludah susah payah. Leon Arkan, pria dari bar yang menghabiskan malam bersamanya, adalah ayah dari mantan kekasihnya."Tuhan... aku tidur dengan Ayah dari pria yang mencampakkan dan menghinaku,” batin Kayra.Sialnya, Leon tidak memberinya waktu untuk bernapas. Pria itu berjalan ke papan tulis dengan gerakan tenang dan berwibawa, mengambil kapur putih, dan mulai menulis rumus Termodinamika."Hukum Pertama Termodinamika," ujar Leon sembari memutar spidol di jemarinya. "Prinsip paling mendasar di mata kuliah ini. Energi tidak bisa diciptakan, tidak bisa dimusnahkan. Energi hanya berpindah atau berubah bentuk."Kayra berusaha fokus pada penjelasannya, tetapi mustahil. Setiap kali Leon berjalan melewati barisannya, aroma cedar dan musk yang sama menusuk indranya.Tiba-tiba, langkah sepatu Leon berhenti, membuat Kayra langsung menegang. Tanpa menoleh, ia tahu pria itu berdiri tepat di samping meja

  • Terjerat Dekapan Ayah Mantan   Pria Bernama L

    “Kalian?!” Kayra bertanya tajam sambil menatap Ethan dan Laura dengan mata membelalak lebar.“Apa?” Ethan menjawab santai sambil merapikan celana jeansnya.Laura sibuk menurunkan rok mininya tanpa rasa bersalah. Mulut Kayra terbuka lebar, tetapi tidak ada suara yang berhasil keluar.“Ethan...” Kayra berbisik gemetar.Ethan berdecak keras, lalu merangkul pinggang Laura dan menariknya semakin dekat.“Kalian jahat...” Kayra berbisik lirih.“Baru sadar?” Ethan tertawa sinis.Laura ikut terkikik geli. Keduanya menikmati penderitaan Kayra secara terang-terangan.“Kamu pikir aku beneran suka sama kamu?” Ethan bertanya sambil tersenyum meremehkan.Kayra membeku di tempatnya. Selama dua tahun terakhir, ia mengira hubungan mereka nyata. Kayra percaya perhatian Ethan, pesan kecil, dan genggaman tangan di depan teman-teman adalah bentuk kasih sayang tulus.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status