Mag-log inTubuh mereka begitu dekat. Jasmine duduk di atas pangkuan Mario. Tatapan mata keduanya sama-sama mendambakan kehangatan. Entah siapa yang mulai duluan, tanpa disadari ujung bibir mereka saling menyentuh dan terjadilah ciuman pertama mereka. Beruntung kaca mobil milik Mario tidak bisa dilihat dari luar sehingga orang-orang yang berada di luar mobil tak tahu jika Jasmine dan Mario saling berciuman. Tak sadar atau keduanya sama-sama menikmatinya. Baik Jasmine mau pun Mario saling membalas ciuman bahkan lidah mereka saling membelit satu sama lain. "Oh my God! Apa yang terjadi padaku. Kenapa aku nggak bisa lepas dari ciuman ini! Dia kakakku tapi dia bisa membuatku sangat bergairah!" batin Jasmine yang sukses dibuat melayang-layang oleh ciuman tiba-tiba itu. Tiba-tiba saja bel sekolah berbunyi. Jasmine langsung melepaskan ciuman itu dan gadis itu spontan turun dari pangkuan Mario. Mario sendiri juga panik dan salah tingkah. Apa yang sudah baru saja dilakukannya. Ia mencium adiknya se
Benar dugaan Mario. Jasmine memang masih kepikiran soal tadi pagi. Gadis itu berusaha untuk berpikir positit tapi dirinya masih saja bertanya-tanya. Kenapa kah sang Oma membeda-bedakannya dengan kakak dan adiknya. Padahal ia juga bagian dari cucu-cucunya. Atau mungkin karena ia cuma anak angkat saja sehingga ia mendapatkan perlakuan beda dari dua saudaranya. Meskipun dalam kartu keluarga Jasmine diakui sebagai anak kandung. Namun tetap saja gadis itu tahu jika dirinya tidak terlahir dari rahim Mama Nadine. Ia lahir dari rahim Ana yang meninggal sesaat setelah melahirkannya. Naasnya lagi sang nenek, Nyonya Hanum juga meninggal saat ia berusia lima tahun. Sampai akhirnya ia dirawat oleh Nadine dan Julian sampai usianya menginjak 18 tahun. "Aku memang bukan anak Mama dan Papa. Mungkin ini sebabnya Oma pilih kasih padaku. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Harusnya aku tahu diri dari dulu. Oma tidak akan pernah bisa sayang dan tulus padaku karena aku bukan cucu kandungnya!" batin Ja
Sebuah cincin yang terbuat dari metal. Desainnya juga biasa saja dengan hiasan satu mata mutiara sintetis di tengahnya. Memang itu sebutannya cincin mutiara tapi itu kualitas rendah. Nyonya Ratih langsung menjelaskan saat Jasmine baru saja membuka hadiah darinya. Sedangkan yang lainnya nampak tercengang karena hadiah untuk Jasmine memang sangat biasa tidak seperti yang lainnya. "Eh coba lihat cincin yang aku belikan untuk Jasmine. Ini juga dari mutiara! Bagus, kan! Cocok sekali untuk Jasmine!" kata Nyonya Ratih sambil tertawa sinis. Entah kenapa wanita itu memperlakukan Jasmine berbeda dari dua cucunya. Mungkinkah karena Jasmine bukan cucu kandungnya dan juga anak dari Ana, mantan menantunya yang jahat. Langsung saja Mario menyahuti ucapan sang nenek karena hadiah yang Jasmine dapatkan adalah cincin KW dan sangat murah. Entah kenapa sang nenek membelikan adiknya itu barang yang lebih murah dan biasa saja, berbeda dari hadiah yang ia dan adiknya Emma dapatkan. "Tapi itu cincin KW,
Julian yang menyaksikan itu. Pria itu pun langsung mencairkan suasana dan mengalihkan topik pembicaraan. Ia tahu jika sang ibu memang kurang perhatian terhadap Jasmine. Mungkin gadis itu bukan cucu kandungnya. "Eh, Mama. Kok nggak bilang kalau mau datang?" seru Julian. Lalu Nadine sendiri juga menyambut kedatangan sang ibu mertua dengan memepersilakan wanita itu untuk ikut sarapan bersama. "Mama, kita sarapan dulu, yuk! Pasti Mama belum sarapan, kan? Ayo kita makan!" ajak Nadine saambil menyiapakan kursi untuk ibu mertuanya. "Mama sudah sarapan. Mama ke sini cuma ingin ketemu sama cucu-cucu Mama dan ngasih oleh-oleh buat mereka. Kemarin kan Mama dari Batam. Nih Mama beliin kalian oleh-oleh dari sana!" ucap Nyonya Ratih sembari memberikan bebrapa paperbag untuk anak dan cucunya. Nadine langsung menerimanya dengan senag. Ada lima paperbag dengan warna yang sama kecuali satu paperbag yang ukurannya lebih kecil dari lainnya. "Wah! Mama repot-repot aja beliin kita. Makasih ya, Ma!" j
Di sisi lain, Julian meminta anak laki-lakinya untuk menjaga dan mengawasi adik-adiknya. Di sini lah tanggung jawab Mario sebagai seorang kakak sangat diperlukan. "Mario, selama Mama dan Papa pergi, kamu jaga adik-adikmu. Karena Papa nggak bisa memantau mereka setiap jam. Kamu tahu Papa dan Mama sedang mengurus bisnis keluarga kita. Nanti jika kamu sudah lulus kuliah maka kamu yang akan menggantikan Papa," kata sang Papa kepada Mario. Lanjut ia berbicara pada dua anak perempuannya. "Emma, Jasmine! Ingat, ya. Selama Papa pergi. Kalian harus nurut apa kata Kakak kalian. Jangan bandel dan kalian harus selalu izin kalau mau pergi ke mana pun!" seru Julian sambil menatap dua putrinya secara bergantian. Emma dan Jasmine menganggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba Mario menyahuti. "Ingat kata Papa tadi. Jangan salahkan Kakak kalau Kakak marahin kalian. Karena akhir-akhir ini kalian tuh susah dibilangin!" Perkataan Mario seketika membuat Jasmine dan Emma bereaksi. "Apa sih, Kakak. Kita
Jasmine tumbuh menjadi anak yang cantik dan ceria. Ia tumbuh bersama anak-anak Nadine dan Julian. Mario dan Emma adalah anak kandung mereka. Emma adaah adik kandung Mario, sedangkan Jasmins adalah adik angkatnya. Mario tahu jika Jasmine bukanlah adik kandungnya namun ia sangat manyayangi Jasmine seperti ia menyayangi adiknya, Emma. Sejak usia Jasmine 5 tahun sampai ia kelas 12 SMA. Gadis itu tumbuh di lingkungan keluarga yang begitu menyayanginya. Jasmine dan anak-anak Nadine tumbuh bersama-sama. Sekarang Mario sudah kuliah semester dua, sedangkan Jasmine ia masih duduk di bangku kelas 12 dan Emma di kelas 10 SMA. Mario sangat protektif terhadap adik-adiknya. Pemuda itu selalu memantau ponsel mereka dan ia selalu menjadi garda terdepan untuk adik-adik perempuannya. Pagi ini seperti biasa, Mario akan mengantar kedua adiknya pergi ke sekolah sebelum dirinya ngampus. Namun sebelum itu mereka sarapan pagi bersama sebelum beraktivitas masing-masing. Si dua gadis anak kesayangan Nadine
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada
Nadine memutar bola matanya mendengar ucapan Juki.“Nggak akan pernah! Membayangkannya saja aku udah ilfeel. Jadi jangan berpikir aku bakal ketagihan, dihh!” sahut Nadine dengan ketus.“Ya sudah terserah, Tante. Buruan pegangin! Lagipula saya juga belum tentu bisa tegang dielus-elus sama Tante. Say
Sepertinya Juki harus memberikan pengertian kepada Nadine bahwa itu bukanlah ular. "Ohhh, ini bukan ular, Tante. Tapi ini yang bakal bikin Tante hamil. Kalau nggak ada ini, ya gimana saya bisa transfer benih ke rahim Tante, masa lewat sedotan?!" kata Juki dengan entengnya.Akhirnya Nadine baru men
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan







