Dituduh Mandul? Aku Menikah Lagi dengan Pewaris Terkaya

Dituduh Mandul? Aku Menikah Lagi dengan Pewaris Terkaya

By:  Marlina AyuUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Ketika Shayla periksa kehamilan pada usia kandungan tujuh bulan, dia membutuhkan tanda tangan suaminya. Hal ini berbuntut pada mengetahui bahwa suaminya memiliki keluarga lain di luar. Wanita yang menjadi selingkuhan itu adalah Yolanda, kakaknya sendiri. Keponakannya adalah anak haram suaminya, Brian. Bahkan anak dalam kandungannya pun adalah hasil hubungan dengan pria lain melalui rencana yang diatur Brian, demi membuktikan kesetiaannya kepada Yolanda. Suami yang tidak setia, orang tua yang pilih kasih, dan mertua yang menyiksa .... Pada saat itu, Shayla benar-benar kehilangan segala harapan. Pasangan hina itu menjebak agar dia mengandung anak haram. Kalau begitu, dia akan melahirkan anak itu. Biar mempermalukan Brian karena membuat diri sendiri diselingkuhi. Ingin dia bercerai tanpa harta? Jangan harap. Setelah tiga tahun yang menyiksa, dia tidak akan kehilangan sepeser pun yang menjadi haknya! Menjauh dari kerabat dan pria yang menyiksanya, dia mencurahkan seluruh energinya untuk karier. Jika tidak ada yang mencintainya, dia akan mencintai dirinya sendiri. Setelah bercerai, dia bersinar terang. Sementara mantan suami yang brengsek itu menyesal. "Shasha, asalkan kamu mau rujuk denganku, nggak masalah anak itu bukan anakku." Jonathan berkata, "Maaf saja, dia dan anak itu, semuanya milikku."

View More

Chapter 1

Bab 1

Shayla Nelson dengan wajah merona merah, bangkit untuk mengenakan pakaian dalamnya.

"Dok, anak saya bisa lahir?"

Dengan hati yang gelisah, dia menatap sosok pria tinggi dan ramping yang berdiri agak membungkuk di samping wastafel untuk mencuci tangan. Tangan dengan tulang-tulang yang menonjol itu terendam di bawah aliran air. Lengan bawahnya yang terbuka karena mencuci tangan sedikit menunjukkan urat-urat menonjol, memicu berbagai imajinasi.

Pandangan dokter berama Jonathan Sagara itu tertuju padanya, sepasang mata sepekat tinta itu tampak dalam tak berdasar, memancarkan acuh tak acuh yang sama sekali tidak berusaha disembunyikan.

"Hubungan di kamar kurang harmonis?"

Wajah Shayla merah padam seketika.

Dia menggigit bibirnya dan mengangguk malu-malu. "Y-ya ... baru sekali."

"Sekali?"

"Y-ya, apa ada masalah?"

Shayla mencengkeram bajunya, berkali-kali meyakinkan diri dalam hati bahwa apa pun gender pasien itu sama saja di mata dokter.

Namun, saat pandangannya tertuju pada jari-jari tegas pria itu, bayangan saat pemeriksaan tadi tanpa sadar melintas di benaknya. Napasnya seketika menjadi kacau balau.

Untuk mengalihkan perhatian, dia sengaja memalingkan muka dan memandang catatan medis di tangan Dokter Jonathan.

Tulisan pria itu rapi dan elegan, tidak seperti tulisan dokter pada umumnya yang berantakan. Tulisannya teratur dan jelas.

"Kondisi kesehatan Ibu terlalu lemah, ada tanda-tanda akan keguguran. Kalau ingin anaknya lahir, sebaiknya harus dirawat inap. Saya sarankan segera menghubungi keluarga."

Wajah Shayla memucat.

Dia sangat berhati-hati selama kehamilan dan sering melakukan suntikan untuk mencegah keguguran. Baru-baru ini, dia merasa tidak enak badan, jadi dia secara khusus meminta bantuan kenalan untuk mendapatkan janji temu dengan dokter spesialis.

Dia tidak menyangka kehamilannya menunjukkan tanda-tanda keguguran.

Dia mencengkeram bajunya dengan erat. "Dokter, saya rela melakukan apa saja, asal anak saya lahir dengan selamat!"

Setelah menikah selama tiga tahun, Brian tidak pernah menyentuhnya lagi sejak mengatakan dia tidak suka anak-anak.

Kehamilannya ini adalah kecelakaan pada saat mabuk.

Shayla sangat takut Brian tidak mau menerima bayi ini, sehingga untuk pertama kalinya, dia menentang kehendak Brian.

Saat Brian pergi untuk urusan bisnis ke Negara Amerisa selama setengah tahun, dia diam-diam mulai menjalani suntikan untuk menjaga kehamilan. Bahkan minum ramuan herbal hingga mengalami pendarahan lambung. Dengan usaha-usaha itu, dia bisa mempertahankan kehamilannya hingga bulan ketujuh.

Selama ada anak di antara mereka, pernikahan mereka yang semakin dingin pasti masih bisa diselamatkan ....

"Entah itu mau dipertahankan atau nggak, tetap perlu tanda tangan keluarga."

Suara dingin terdengar di telinganya, seolah-olah membaca pikirannya.

Shayla terdiam, pikirannya yang semakin kalut menjadi jernih kembali berkat kata-kata Jonathan.

Dia menggigit bibirnya dan akhirnya mengambil keputusan.

"Oke, saya telepon sekarang."

Saat dia keluar, wanita hamil berikutnya memasuki ruang pemeriksaan.

Ini adalah rumah sakit swasta kelas atas, jadi pasiennya tidak terlalu banyak. Dia mencari tempat sepi di koridor dan menelepon Brian.

Panggilan pertama, tidak diangkat.

Panggilan kedua juga tidak diangkat.

Baru setelah menelepon untuk ketiga kalinya, panggilan akhirnya terhubung.

Namun, yang mengangkat telepon bukanlah suaminya, Brian Fernando, melainkan suara kecil seorang anak perempuan.

"Ayah sedang ciuman dengan Ibu. Kamu menyebalkan banget. "

Shayla seketika membeku.

Belum sempat dia bertanya, suara pria yang sangat dikenalnya terdengar dari telepon, dengan nada lembut yang belum pernah dia dengar sebelumnya, seolah sedang membujuk.

"Noella, Nak, teleponnya kasihkan ke Ayah."

"Ayah, Ayah kan sedang ciuman dengan Ibu di balkon? Kenapa sudah keluar?"

"Noella, jangan nakal."

Suara lembut seorang wanita kemudian terdengar, dengan nada sedikit kesal. "Brian, kamu sejak dulu terlalu memanjakan. Noella bisa-bisa jadi anak manja karena kamu."

Brian tertawa pelan. "Noella sudah umur empat tahun, kapan kamu mau menikah denganku?"

"Jangan bicara sembarangan, kamu sudah punya keluarga."

"Kamu tahu sendiri aku menikahi dia cuma demi balas dendam karena kamu pernah menolakku dulu."

Suara Brian menjadi dingin, dipenuhi rasa jijik yang kentara. "Shayla cuma hiasan nggak berguna di rumah. Tiga tahun ini, aku bahkan nggak pernah sentuh dia, karena cuma bayanginnya saja aku udah mual. Mungkin dia masih mengira aku yang tidur dengannya waktu itu."

Kata-kata pria itu bagaikan guntur yang menggelegar, menghantam hati Shayla dengan keras.

Wajahnya tiba-tiba pucat pasi.

Jika bukan Brian yang tidur dengannya, lalu siapa ....

Kabar buruk yang datang tiba-tiba itu membuat perut Shayla bergejolak, dan rasa sakit pun menjalar di perutnya.

Namun, dia tidak sempat memikirkannya. Pikirannya terus-menerus dipenuhi oleh kejadian tujuh bulan lalu.

Tujuh bulan yang lalu.

Brian tiba-tiba mengajaknya keluar untuk menghadiri jamuan sosial.

Mereka telah menikah selama tiga tahun, tetapi Brian hampir tidak pernah mengajaknya keluar bersama. Mereka bahkan tidak mengadakan pesta pernikahan. Hanya orang tua kedua belah pihak saling mengetahui bahwa mereka telah menikah.

Jadi, Shayla sangat bahagia hari itu.

Sejak pertama kali melihat Brian pada usia 18 tahun, dia jatuh cinta padanya, dan diam-diam menemaninya selama enam tahun.

Kemudian, Brian akhirnya menyadari dirinya ada di sampingnya, dan mereka menikah kilat.

Saat jamuan itu, Shayla entah kenapa minum sangat banyak. Ketika terbangun, dia sendirian dengan tubuh telanjang bulat di kamar hotel. Sementara Brian sudah berangkat dinas ke Negara Amerisa.

Dia selalu mengira, malam itu dia bersama Brian.

Saat terjebak dalam lamunan, dia menerima pesan bertubi-tubi dari sahabatnya, Olive Damona, yang juga seorang reporter. Di antaranya juga beberapa foto yang jelas.

[Shasha, ada apa ini! Kenapa suamimu dengan kakakmu?]

Dalam foto tersebut, Brian mengenakan mantel panjang hitam, menggendong seorang gadis kecil berbaju putri berwarna merah muda dengan satu tangan dan menggandeng seorang wanita berkacamata hitam dengan tangan lainnya.

Meskipun foto itu hanya memperlihatkan profil wajah wanita tersebut, Shayla dapat mengenalinya seketika. Itu kakaknya, Yolanda Nelson!

Cara Brian menundukkan kepala dan membetulkan syal wanita itu sangatlah hati-hati, kelembutan dan kasih sayang yang belum pernah dirasakan oleh Shayla sama sekali.

Cairan hangat mengalir dari bawah tubuhnya, dan keram perutnya mendadak semakin parah.

Mereka tiga tahun menikah, tetapi anak kakaknya dengan suaminya sudah berusia empat tahun.

Foto di hadapannya seolah-olah mengatakan kepada Shayla bahwa enam tahun cinta diam-diam dan tiga tahun pernikahannya hanyalah lelucon belaka!

Dia tertawa.

Jika Brian memang ingin diselingkuhi, dia akan mengabulkan keinginannya!

Shayla kembali ke ruang periksa, suaranya tenang tanpa sedikit pun gejolak.

"Suami saya selingkuh. Biar saya sendiri yang tanda tangan persetujuan operasi untuk mencegah keguguran."

Jonathan terhenti sejenak saat sedang menunduk menulis catatan medis. Begitu dia mengangkat kepala, tatapannya bertemu dengan mata merah wanita itu, serta ekspresi teguh di wajahnya.

Sesaat kemudian, pupil matanya menyempit.

Dia segera bangkit dan berlari ke samping Shayla.

Saat tubuh Shayla melemas, dia langsung menggendongnya di depan dada.

Darah dari bawah tubuhnya menodai jas putih Jonathan, tetapi pria itu tidak ada pikiran untuk memedulikannya. Dengan langkah panjang, dia berlari menuju ruang gawat darurat.

"Ada ibu hamil pendarahan hebat, operasi sekarang juga!"

...

Di Amerisa.

Brian mengambil ponselnya kembali dari tangan Noella. Saat melihat nama Shayla di riwayat panggilan, dia terkejut, lalu rasa gelisah yang sulit dijelaskan muncul di hatinya.

Apakah Shayla mendengar semua yang baru saja mereka katakan?

Dia membenci Shayla, karena Shayla dulu menggunakan kuota beasiswa luar negeri untuk memaksa Yolanda pergi dalam keadaan hamil hingga terlunta-lunta di negeri orang. Itulah sebabnya dia selama tiga tahun ini sangat dingin padanya.

Namun tidak dapat dipungkiri, Shayla memang istri yang baik. Begitu membayangkan akan terjadi keributan karena hal ini, hatinya justru merasa sedikit berat ....

Sepasang tangan putih memeluknya dari belakang.

Suara lembut Yolanda terdengar dari belakang, disertai desahan pasrah.

"Brian, lebih baik kamu kembali ke sisi Shayla. Kalau dia tahu anak di perutnya itu bukan anakmu, dan dia sendiri kan anak adopsi dari panti asuhan, setidaknya kamu masih ada di sisinya untuk menemaninya. Kalau tidak, betapa sedihnya dia nanti."

"Dia pantas menerimanya!"

Brian mencibir, "Dia nggak cuma harus menyerahkan posisinya sebagai nyonya Keluarga Fernando, tapi juga harus pergi tanpa harta. Aku akan membuatnya merasakan penderitaan yang dulu kamu rasakan."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status