Sekar sedang menatap hasil tes yang dia lakukan pagi ini, tubuhnya lemas menunggu hasil itu muncul. Pagi ini dia sudah ditinggal oleh Wira untuk menemani Adi olahraga pagi, dan dalam kamarnya dia seorang diri.
"Ya Tuhan, terima kasih." Tanganya bergetar mengangkat hasil tes itu, senyumnya mengembang menandakan hasil yang baik. Jantungnya berdegub kencang dengan tangan sedikit bergetar. Rasa takut dan senang menghantuinyaMencoba menenangkan diri sebelum keluar kamar menjadi hal yang sulit untuknya, dia sampai menangis bahagia melihat dua garis di alat tes kehamilan yang ada di tangannya. Ini menjadi kabar baik untuknya ataupun keluarga yang lain."Ada apa, Mbak? Apa Mbak merasa sakit? Mas Wira belum datang dan—""Tidak, Mbok. Aku baik-baik saja, cuma agak lemas saja. Sebaiknya aku bantu Mbok di dapur, Mas Wira hari ini harus ke kantor untuk laporan mulai bekerja," sahut Sekar. Dia tidak mengatakan sesuatu, dia ingin memberikan— Flashback —Seorang anak laki-laki berusia 19 tahun sedang menggendong adiknya keluar rumah agar tangis sang adik berhenti, namun tidak. Sepanjang jalan adiknya terus menangis dalam gendongannya. Terpaut usia 14 tahun, tidak membuat anak laki-laki itu lantas malu memilik adik, apalagi dia harus merawat adiknya ketika kedua orang tuanya sibuk bekerja.Hidupnya sendiri sudah berat dan jarang mendapatkan kasih sayang, sekarang di usianya 18 tahun, dia harus merawat adiknya yang baru 5 tahun. Tubuhnya sangat lelah, namun dia tetap coba membujuk adiknya agar tidak menangis lagi. Sejak pagi sang adik sudah menyusahkan neneknya.Dia, Wira Cahyadi, peserta Taruna Akmil yang sedang menjalani pendidikanya untuk menjadi Perwira. Dia mendapatkan ini karena kemapuannya, selain tampan, dia juga pintar. Itu sebabnya dia berhasil masuk dengan sekali tes, dan beasiswa yang dia dapat."Mas, mau ibu ..." rengek anak kecil yang ada di gendonganya.
10 lembar uang pecahan 100 dolar berserta surat menjadi fokus Wira. Dia diam dalam mobil sebelum melajukannya, dia penasaran siapa sebenarnya yang mengirimkan uang sebanyak itu."Bawa Mas saja, aku tidak mau membawanya," ucap Gala."Jika ini memang dari mereka, untuk apa baru sekarang mereka memberinya." Wira langsung berpikir jika itu dari orang tuanya, siapa lagi pikirnya, apalagi kata-kata dalam suratnya seperti itu."Tidak tau, bagiku Mas jauh berarti dari mereka, karena Mas aku bisa seperti ini. Aku tidak mengenal mereka dan tidak ingin bertemu dengan mereka."Wira diam, dia sendiri bingung. Hati kecilnya mengatakan hal yang sama, namun dia juga ingin tau apa orang tuanya masih hidup atau tidak dan alasan apa yang membuat mereka pergi begitu saja."Jangan ceritakan pada Sekar nanti, aku tidak ingin dia malah kepikiran dengan hal yang tidak jelas kebenaranya. Iya kalau ini dari mereka, jika tidak bagaimana. Se
"Masih terasa mual? Kita pulang saja ya?" Pria yang mengenakan Jas biru dongker, kemeja putih dengan kancing atas dibuka itu sedang berjongkok menatap istrinya yang mengeluh mual. Wanita cantik dengan kebaya warna baby blue itu coba mengatur nafas agar tidak memuntahkan isi perutnya. Sikapnya begitu manja dengan menyandarkan kepala pada bahu sang suami."Tidak mau," rengeknya."Tunggu di sini biar aku minta air hangat." Wira kemudian beranjak untuk mengambilkan air hangat untuk istrinya. Penuh perhatian hingga seseorang yang sejak tadi menatap interaksi mereka berjalan menghampiri Sekar."Suamimu baik sekali, tampan lagi. Beruntung kau mengenalnya, Mbak," sahut salah satu sepupu Sekar."Makanya jadi cegil agar kau bisa mendapatkan apa yang kau mau. Jangan hanya diam sambil menunggu.""Ngomong-ngomong, Mas Panji apa sudah menikah. Dia terlihat sangat tampan, lihatlah," tuturnya sambil menatap Panji y
"Sudah merasa lebih baik?" Wira menopang tubuh istrinya yang lemas karena sejak tadi terus memuntahkan isi perutnya. Tanpa rasa jijik Wira membantu sang istri ke kamar mandi. Tak hanya itu, dia juga menggendong tubuh istrinya. Membawa kembali ke atas tempat tidur. Bertambah hari, perut Sekar sering merasa mual hingga muntah. "Tidurlah lagi, masih terlalu pagi," ucap Wira dengan lembut. "Maafkan aku mengganggu waktu tidur Mas," jawab Sekar. "Sudah jangan pikirkan, mau minum yang hangat dulu?" Wira mengambilkan istrinya minum air hangat agar lebih enakan. Setelahnya mereka kembali berbaring dengan Sekar memeluk tubuh suaminya. Usia kandungannya jalan 12 minggu, dan beberapa hari ini Sekar mulai merasakan mual yang mengganggu harinya. Dia beruntung suaminya, Wira, selelah apa dia masih mau membantu istrinya. Seperti sekarang, dia baru pulang pukul 11 malam dan saat akan tidur malah Sekar
"Apa kamu mengkhawatirkan tentang itu? Aku harap kamu tidak takut ataupun merasa tertekan dengan bebasnya Zaki," tutur Wira pada istrinya.Sampai detik ini Wira belum pernah bertemu langsung dengan Zaki, dia hanya tau foto ataupun video saja, bertatap muka dia belum melakukannya. Ingin sekali dia bertemu dan bicara pada berandalan itu, namun seakan dijauhkan dari Wira, dia tidak bisa bertemu dengan berandalan itu."Ada Mas yang akan melindungiku, aku tidak akan takut. Oh ya, bagaimana, apa kepindahan Mas disetujui?" Sekar mengalihkan obrolan agar suaminya juga tidak khawatir tentang Zaki bebas dari hukuman."Sudah, tinggal menunggu saja. Sebaiknya aku mandi dulu setelahnya kita makan malam bersama. Aku lapar sekali." Wira mencium singkat bibir istrinya kemudian berjalan ke kamar mandi.Meski dia tidak begitu memikirkan tentang Zaki, namun Wira khawatir tentang Sekar yang takut tertekan dengan kabar yang dia dengar.
"Masa kehamilnya jalan 7 minggu, karena memiliki riwayat alergi dan sesak nafas, maka lebih hati-hati lagi, karena sesak napas menghambat aliran darah kaya oksigen ke seluruh tubuh sehingga jika dibiarkan tanpa penanganan, sesak napas membuat tubuh ibu hamil kekurangan oksigen dan meningkatkan risiko kematian. Lebih waspada akan itu." Penjelasan Dokter tentang kondisi kehamilannya baik, hanya saja Dokter mengingatkan agar lebih hati-hati dengan resiko sesak nafas yang sering Sekar alami."Baik, Dok."Setelah pemeriksaan, Wira memutuskan agar Sekar tinggal di rumah orang tuanya saat ditinggal bekerja. Di sana masih ada Mbok Nanik dan beberapa orang yang bisa mengontrol kondisinya. Karena Rini sedang hamil, dia hanya bisa menemani Sekar dari jarak dekat. Sedangkan Panji sedang menemani Adi untuk menggantikan Wira."Mas sudah berapa kali bertanya, aku baik-baik saja, Mas. Jika nanti merasa tidak nyaman, aku berjanji akan langsung bicara pada Ma