LOGIN(Mature 21+) "Hanya saya yang boleh menyentuh kamu seperti ini, Kiara. Kamu mengerti?" -ADAM ADITAMA- ---- Kiara dibuat stres karena bertemu seorang bos yang seperti Adam. Sikapnya selalu saja membuat Kiara menjadi kesal, dan serba salah. Kesalahan sekecil apapun yang Kiara lakukan, Adam akan membuatnya kesulitan. Apa motivasi Adam sebenarnya?
View MoreKiara, 23 tahun. Dia baru saja lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Hal yang paling dia nantikan setelah mendapatkan gelar sarjana tentu saja sebuah pekerjaan. Dia melamar di sebuah perusahaan ternama. Keberuntungan berpihak padanya, begitu awal mula Kiara menyangka. Dia bisa dengan mudah masuk dalam kriteria karyawan yang dicari.
Tapi sayang, rasa beruntung itu tidak bertahan lama. Karena dia harus dihadapkan dengan seorang atasan yang hampir setiap hari membuatnya naik darah. Semua hanya normal dalam satu bulan pertama semenjak dia diterima kerja di perusahaan itu. Kiara menganggap kalau atasannya ini memiliki kepribadian ganda. Bagaimana tidak, sikapnya berubah drastis setelah mereka bekerja sama dalam empat minggu. Secara fisik, bos Kiara bisa dikatakan nyaris sempurna. Dia berwajah tampan, dan memiliki postur tubuh yang ideal layaknya lelaki yang menjadi pujaan banyak kaum hawa. Kiara juga awalnya berpikir begitu. Dia bahkan sempat mengidolakan bosnya dalam beberapa minggu. Semuanya luntur saat bos yang dia kagumi berubah menjadi sosok yang tidak pernah merongrongnya. Seakan tiap detik mereka harus bertatap muka. Bahkan untuk kesalalahan sekecil apapun. Semenjak itu, Kiara menyebut bosnya dengan istilah devil. Semua berasal dari sikapnya yang memang selalu seenaknya. Kiara sering diceramahi untuk satu kesalahan yang bahkan sangat sepele. Dia menganggap itu sebagai hal yang tidak wajar. Kelakuan bosnya yang sering di luar nalar itulah yang menyebabkan dia menganggap sang bos sebagai iblis. *** “Kiara, tolong segera kirimkan daftar masa berlaku visa expatriate semua karyawan, termasuk yang ada di kantor cabang Bandung. Saya mau kamu kirim laporannya hari ini juga, ya! Jangan buat saya menunggu,” perintah seseorang via telepon. Tidak ada nada ramah di sana. Bahkan Kiara menerima panggilan itu dengan wajah yang sangat tegang. Itu Adam Aditama, manager tempat di mana Kiara bekerja. Dia memang selalu bersikap seperti itu terhadap Kiara setelah satu bulan dia bergabung. Dia selalu ingin semua serba cepat, dan tidak suka dibantah. Jauh berbeda dari awal mereka bertemu beberapa minggu lalu. Posisi Kiara Sendiri merupakan seorang supervisor. Hal semacam ini sudah setiap hari Kiara hadapi. Terkadang dia merasa sangat tertekan, karena Adam seakan tidak memberinya waktu untuk beristirahat. Ada saja kesibukan yang lelaki itu berikan. Terkadang, pekerjaan yang harus Kiara garap bukan termasuk ke dalam job-nya. Setiap memberikan bantahan, Adam selalu mengancam akan memotong gajinya. Ancaman yang sangat klasik, tetapi anehnya membuat Kiara patuh terhadap lelaki itu. “Baik, Pak.” Gadis itu menjawab sopan. Dia pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Adam. Setelah tugasnya selesai, Kiara segera menemui Adam di ruangannya. Di dalam sana, lelaki itu sudah menunggunya dengan ekspresi wajah yang sangat serius. “Saya sudah mengirimkannya ke e-mail Bapak. Silakan dicek, Pak.” Kiara berucap dengan penuh kehati-hatian. Adam segera membuka kotak masuk email-nya. Membaca dengan teliti laporan Kiara dalam sekilas. Ya, Adam memang sejenius itu. Dia tidak butuh waktu lama untuk meneliti setiap file yang dikirimkan oleh bawahannya. Bahkan dia bisa tahu Ketika ada satu saja kesalahan ketik di dalamnya. “Ini beberapa karyawan kantor cabang Bandung bulan depan visanya expired. Kenapa kamu belum proses perpanjangan? Kamu tahu kan, apa resikonya?” tanya Adam tegas tanpa melihat ke arah Kiara. Dia masih berusaha mencari lagi kesalahan yang ada di dokumen yang baru saja diterimanya itu. Kiara sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi. Dia sendiri juga heran, kenapa bosnya itu bisa dengan mudah menemukan setiap kesalahan yang diperbuatnya. Walaupun itu hanya sekedar typo satu huruf saja. Dan seperti yang diketahui, Adam akan mengomel beberapa waktu hanya karena hal itu. “Saya sudah minta approval Bapak sejak bulan lalu, Pak. Tapi Bapak tidak memberi tanggapan. Jadi saya kira tidak ada perpanjangan untuk visa tersebut.” Kiara mencoba membela diri. Bukan sekedar pembelaan, dia memang sudah membahas soal ini dengan Adam, tetapi lelaki itu tidak memberikan jawaban apapun hingga detik ini. Apakah itu merupakan kesalahannya? “Terus menurut kamu, kalau kamu sudah membicarakan hal itu ke saya, lalu saya belum kasih kamu jawaban, kamu bisa diam saja?” “Kamu tidak coba mengingatkan saya?” “Tidak berusaha untuk follow up bagaimana keputusan saya?” Skakmat. Adam sudah pasti tidak mau kalah, dan salah. Apapun jawaban Kiara, dia memiliki alasan lain yang tentunya akan membuat Kiara terpojok. Gadis itu hanya menghela napas pelan. Berusaha untuk tetap tenang, walaupun perasaannya sudah tidak karuan. Karena dia tahu, apapun jawaban yang dia berikan, tetap saja letak kesalahan ada di pundaknya. Adam bukan tipe orang yang mau mengalah, begitulah yang dia pelajari dari bosnya belakangan ini. “Maafkan atas keteledoran saya, Pak. Saya akan proses mulai hari ini.” Dia harap kalimatnya itu menjadi solusi. Kiara tidak ingin ocehan Adam semakin panjang, dan memekakkan telinganya. “Memangnya akan keburu, kalau dikerjakan sekarang?” tanya Adam dengan tatapan tajam. “Agak mepet, tetapi semoga saja keburu, Pak.” Kiara memastikan. Walau sebenarnya dia sendiri cukup tidak yakin kalau pengerjaannya bisa tepat waktu. Apalagi masa expirednya sudah sangat dekat. “Kalau sampai tidak keburu, lalu harus overstay, kamu mau tanggung jawab?” “Kamu selalu saja seperti ini, tidak ada inisiatif untuk mem-folow-up saya.” “Setelah kasih dokumen, atau apa saja tidak ada konfirmasi ulang. Padahal saya sudah sering sekali mengingatkan soal ini.” Seperti itulah. Adam akan selalu merembet ke mana-mana kalau sudah menemukan satu saja kesalahan di pekerjaan yang Kiara kerjakan. “Maaf, Pak. Saya akan lebih aktif lagi nanti.” Mengalah terkadang menjadi solusi yang paling tepat. Kiara sudah terlalu lelah untuk terus menanggapi perdebatan dengan Adam. Lebih tepatnya ini satu-satunya jalan bagi Kiara untuk melarikan diri. Ruang kerja Adam yang luas, dan berpendingin pun mendadak tampak sangat sesak. “Proses hari ini! Saya tidak mau tahu, semuanya harus selesai tepat waktu. Jangan sampai ada overstay!" final Adam. "Baik, Pak. Akan saya usahakan.” “Jangan hanya diusahakan. Harus bisa!” Lelaki itu menegaskan. Kalimatnya pun diberikan nada tinggi. “Baik, Pak.” Kiara keluar dari ruangan Adam dengan wajah lesu. Ini bukan pertama kalinya dia berhadapan dengan Adam, lalu disalahkan atas apa yang sebenarnya bukan salahnya. Tapi dia tetap saja merasa kesal dengan ini. "Selalu aja gini. Dia yang lupa, gue yang disalahin. Sampai kapan seperti ini terus? Capek banget, ya Tuhan!" umpat Kiara dalam hati. Gadis itu kemudian masuk ke dalam ruangannya. Beberapa teman kerjanya yang memang sudah saling kenal, dan akrab langsung menatapnya dengan tatapan khawatir. Ya, mereka juga sudah tahu kalau Kiara akan selalu menjadi pihak yang salah kalau sudah berhadapan dengan Adam. "Sialan!" umpat Kiara sambil menghempaskan bokongnya ke atas kursi yang selalu setia menjadi tempatnya menyangga tubuh selama ini. Wajah gadis itu benar-benar gusar. Tentu saja itu karena Adam. Bosnya yang selalu killer, dan menyusahkannya setiap saat. "Kenapa, Lo?" tanya Arga penasaran. "Marah-marah mulu Lo, Ki. Cepet keriput ntar," Goda Raul. "Sumpah! Gue capek banget sama bos kalian. Selalu aja gue yang salah. Kenapa juga dia harus jadi atasan langsung gue! Sebel! Apa susahnya sih, ngaku kalo dia salah? Semuanya serba gue yang disalahin. Kesel banget gue. Rasanya pengen gue lempar semua berkas ke wajahnya yang sok ganteng itu!" Kiara mengomel panjang lebar. Beberapa temannya tergelak. Bukan karena masalah yang dihadapi Kiara itu lucu, tetapi mereka merasa kalau wajah Kiara saat marah-marah sangat menghibur. Walau begitu, mereka tetaplah teman yang solid, dan sangat bersimpati atas apa yang Kiara alami. "Sabar, Ki. Gue tau apa yang Lo rasain. Nggak ada lagi yang bisa kita lakukan selain sabar. Lo ngomel juga dia nggak denger, kan?" Nina berusaha menghibur. Dia sebenarnya sadar, kalau kalimatnya tidak membantu apapun untuk Kiara. "Mumet gue kak Nin. Gue butuh kopi, deh. Siapa yang mau ke kantin gue nitip, please." Walau sambil mengeluh, Kiara masih tetap membuka file di laptopnya. Dia tidak ingin membuat Adam semakin menjadi-jadi. "Gue pesenin ya, Ki. Kayak biasanya, kan? Dolche Latte? Mau pesen makanan juga nggak?" Raul menawarkan diri untuk memesankan kopi. "Iya, Kak. Kopi aja cukup, Kak. Sebelumnya makasih, ya." "Santai." Raul mengacungkan jempol ke arah Kiara sambil tersenyum. "Gue juga nitip cappucino ya, Ul!" Nina sedikit berteriak. "Siap!" "Gue americano, Ul!" Arga ikut usul. "Gue samain sama Nina, dah. Cappucino. Sama kalau ada roti dua, ya. Gue belum sarapan soalnya." Susan ikut menitipkan pesanan. "Oke, sip. Gue ke kantin dulu semuanya." Raul bergegas menuju ke luar ruangan. Meninggalkan rekan-rekannya yang mengatakan iya, dan selanjutnya tenggelam ke dalam pekerjaan mereka masing-masing. Kiara segera menghubungi Dian, agen visa via telepon. Sebenarnya dia tidak terlalu yakin kalau ini akan berhasil, tetapi Kiara akan berusaha semaksimal mungkin supaya semua selesai sesuai dengan permintaan bosnya. "Kak Dian, bantuin gue, please," rengek Kiara saat teleponnya diterima. Dia memang sudah cukup akrab dengan Dian. Jadi dia tidak melakukan percakapan formal dengan wanita itu. "Gimana-gimana? Apa yang bisa gue bantu, Ki?" Dian bertanya dengan antusias. "Perpanjangan visa untuk beberapa karyawan kantor cabang Bandung, Kak." Kiara memelas. "Hah? Lo nggak salah? Waktunya udah mepet banget, Ki. Nggak yakin gue bakalan kelar. Gila Lo! Gimana bisa semepet ini waktunya?" Dian jelas saja terkejut. Karena seharusnya Kiara mengajukan permohonan dalam waktu yang lebih jauh dari ini. Tapi mau bagimana lagi, dia sudah berusaha konfirmasi, tetapi bosnya tidak meng-approve permintaannya. Dia pikir mereka sudah tidak akan memperpanjang kontrak lagi. "Tolonglah, Kak. Kerahkan semua kemampuan kakak. Kalau perlu minta bantuan sama semua anak buah kakak supaya cepet selesai. Gue bisa diomelin sama bos kalau sampe nggak kelar. Tolong ya kak, please." Kiara kembali merengek. Terdengar Dian menghela napas dari ujung sana. "Hadeh! Agak susah kalo begini. Tapi gue usahain deh. Kirim dokumennya ke email gue sekarang, ya. Sekalian surat sponsor jangan sampe lupa. Gue tunggu." "Hufh! Akhirnya. Makasih banyak kak Dian."Mesin mobil sedan mewah milik Adam menderu halus membelah kemacetan Jakarta yang mulai mereda di malam hari. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa sedikit mencekam. Adam menggenggam kemudi dengan erat, buku-buku jarinya memutih. Sesekali matanya melirik ke arah kaca spion tengah, lalu beralih pada Kiara yang duduk tenang di sampingnya sambil menatap lampu-lampu kota di balik jendela.Pikiran Adam masih tertahan pada kejadian di kantor tadi. Bayangan Zaki yang berdiri begitu dekat dengan Kiara, serta cara lelaki baru itu menatap kekasihnya, terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya."Saya tidak suka cara lelaki itu menatapmu, Kiara," ujar Adam tiba-tiba. Suaranya berat, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka.Kiara menoleh, sedikit terkejut namun kemudian menghela napas panjang. Dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini sejak Adam menjemputnya dengan wajah ditekuk. "Siapa? Zaki? Dia cuma staf baru, Mas. Dia hanya berusaha bersikap sopan pada su
"Ini DP dari saya, lima puluh juta rupiah. Saya sudah memasukkan kamu ke perusahaan tempat anak saya bekerja. Namanya Adam. Dia manager di sana. Tugas kamu adalah mendekati Kiara, seorang supervisor di sana. Buat wanita itu jatuh cinta sama kamu. Saya mau anak saya kembali fokus ke perusahaan keluarga kami, dan menggantikan papanya sebagai pewaris. Kalau kamu berhasil memisahkan anak saya dari wanita miskin itu, saya akan menambahkan lima puluh juta lagi." Jihan menyodorkan sebuah amplop coklat pada lelaki muda dengan penampilan perlente di hadapannya. Dia sengaja melakukan itu supaya Adam dan Kiara berpisah. Jihan tidak mau Adam fokus mengejar Kiara sampai memilih bekerja di perusahaan orang lain. Terutama karena status sosial Kiara yang menurut Jihan tidak layak menjadi kandidat menantunya. "Ibu tenang saja, saya akan melakukan tugas ini dengan baik. Dengan wajah saya yang rupawan, saya yakin saya akan bisa dengan mudah menaklukan hati Kiara. Saya sudah bertahun-tahun berprofesi s
Kiara melangkah santai ke arah ruang kerja Adam. Dia tidak ingin ada yang curiga kalau sekarang hubungannya dengan Adam bukan lagi hanya karyawan dan bos. Setibanya di depan ruangan sang bos, Kiara membuka pintunya pelan, dan masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tiba-tiba Adam menariknya, dan merapatkan tubuh keduanya. Membuat Kiara terkejut setengah mati. "Lama sekali, saya sudah rindu kamu, Kiara," bisik Adam dengan gairah tertahan. "Kita baru pisah beberapa menit, Mas. Bisa-bisanya kamu bilang rindu? Dasar tukang gombal!" Kiara mencubit kecil perut Adam, dan tidak ada penolakan dari lelaki itu. Dia hanya meringis kecil. "Satu detik saja saya sudah rindu, bagaimana dengan beberapa menit? Saya mau melepas rindu dulu sama kamu sebelum memulai pekerjaan," bisik Adam lagi, satu tangannya mengunci pintu, dan langsung membungkam bibir Kiara dengan ciuman. Adam membimbing Kiara mengikuti langkahnya tanpa melepaskan ciuman mereka. Wanita itu tidak menolak. Dia mengikuti kemauan Adam t
"Ul, Kiara udah dateng?"tanya Nina ke Raul. Dia baru saja datang, bertanya seperti itu karena di atas meja kerja Kiara sudah ada sekotak donat dan juga kopi. "Belum, Nin. Gue pas sampe belum ada siapa-siapa.""Terus itu... donat sama kopi dari siapa? Lo tau?"cecar Nina lagi. "Ga tau gue. Dari pak Adam kali. Itu kan donat mahal, karyawan biasa kayak kita mah mikir dua kali buat beli, mana di tanggal tua gini, kan?""Eh, iya juga ya. Lo curiga gak sih sama tingkahnya Kiara? Semenjak dia ditugasin keluar sama pak Adam, sekarang dia jarang muring-muring. Dua hari ini dia malah anteng banget. Diminta ke ruangan pak Adam juga nggak sebete biasanya. Apa jangan-jangan mereka udah jadian?" "Gue juga kepikiran gitu, Nin. Tapi... masa iya? Kiara kan anti banget sama pak Adam. Aneh banget nggak sih kalo mereka tiba-tiba jadian? Kayak nggak masuk akal gitu." "Ya siapa tau, kan? Namanya perasaan mah bisa berubah kapan aja, Ul. Lo lupa, di awal masuk kan si Kiara naksir sama pak Adam. Dia ilfeel
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.