LOGINAmara dibawa kembali ke rumah keluarga angkatnya setelah terpisah selama belasan tahun. Merasa asing, Amara mendapati semuanya sudah berubah, terutama sang adik yang kini telah menjadi sesosok pria matang dan menawan. Namun, bukan itu yang mengejutkannya. Melainkan kenyataan bahwa Chandra adalah pria yang pernah terlibat hubungan cinta satu malam dengannya.
View MoreAmara diam seribu bahasa sepanjang sisa perjalanan. Bukan diam yang pasrah, tapi diam yang menahan diri agar tidak runtuh di tempat yang salah.Chandra beberapa kali mengajaknya bicara—pertanyaan kecil, komentar sepele tentang jalanan, tentang besok—namun Amara hanya menjawab seperlunya. Senyumnya ada, tapi terlalu rapi. Terlalu dikendalikan. Seolah senyum itu bukan reaksi, melainkan tameng.Selebihnya, ia menutup mata. Pura-pura tidur. Bukan karena lelah, melainkan karena ia tidak ingin ditanya lagi bagaimana keadaannya. Tidak ingin menjelaskan perasaan yang bahkan ia sendiri belum bisa merangkainya dengan kata-kata.Mobil akhirnya berhenti di halaman rumah.Amara langsung turun tanpa menunggu, membawa tas-tas belanjaannya. Gerakannya cekatan, seolah tubuhnya sudah hafal apa yang harus dilakukan ketika ia memutuskan untuk tidak bergantung pada siapa pun.Dua pelayan yang sudah menunggu di pintu rumah terlihat terdiam sejenak. Tatapan mereka memindai Amara dari ujung rambut hingga uju
Begitu pintu mobil tertutup, suara klik sabuk pengaman bahkan belum selesai berbunyi—“Sial. Sial. Sial,” Amara langsung menyambar.Chandra baru sempat memutar kunci, mesin belum benar-benar hidup.“Asli, sumpah! Kamu keterlaluan, Ndra!” Amara menoleh tajam. “Apaan sih?” Chandra melirik sekilas, santai. “David?”“Siapa lagi?!” Amara hampir menepuk dashboard. Hampir. Ia menahan diri di detik terakhir. “Kenapa kamu nggak cepat-cepat kasih kode ke aku, apa kek gitu… kalau itu tadi David!”Ia mengusap wajahnya cepat, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Tarikan napasnya pendek, frustrasi.“Padahal kan dia targetku,” lanjutnya, kali ini lebih rendah tapi penuh tekanan. “Alasan kenapa aku mau glow up. Kenapa aku mau nurut sama semua aturan kamu. Duduk tegak. Tatap mata. Jangan gelisah. Jangan kelihatan butuh.”Amara menoleh lagi ke Chandra. “Semua itu karena dia!”Chandra tidak langsung menjawab. Mobil mulai melaju pelan meninggalkan parkiran.“Aku pantang ngeluh,” kata Amara cepat,
Chandra baru menyadarinya setelah kafe kembali ke ritme normalnya.Tidak ada lagi pria itu. Tidak ada lagi interupsi. Tinggal mereka berdua, meja kayu gelap, dua cangkir kopi, dan jarak yang seharusnya terasa biasa.Tapi tidak.Amara duduk tegak di seberangnya. Punggung lurus. Bahu sejajar. Tidak gelisah. Tidak menunduk. Tatapannya menetap padanya setiap kali ia bicara—bukan tatapan menantang, bukan pula tatapan mencari validasi. Tatapan yang tenang. Mantap. Seolah wanita itu tahu persis posisinya di ruangan itu.Chandra mengamati tanpa disadari.Dulu, Amara selalu memalingkan mata lebih dulu. Mengisi jeda dengan gerakan kecil yang tidak perlu, bahkan menggigit kuku. Sekarang, ia tidak melakukan apa-apa selain ada dan melakukan setiap hal dengan pantas. Caranya menyesap kopi, caranya memejam sesaat sambil berkata, “Hmm ini baru kopi.” Berkelas.Dan itu perubahan besar.Chandra menyesap kopinya. Rasanya pahit, seperti biasa. Ia sudah sering duduk di kafe semacam ini, berbicara denga
Ingatan yang langsung menghinggapi kepala Amara adalah bagaimana pria itu pernah mencium pacarnya. Ciuman yang membuatnya keki, patah hati, sekaligus sadar di detik yang sama bahwa ia tak boleh kepincut lagi padanya.‘Ganteng sih, tapi sayangnya udah sold out. Cuma bisa dikagumi, nggak boleh diingini.’ Amara hanya diam sepanjang lelaki itu mengobrol ringan dengan Chandra, tapi ia sadar lelaki itu sedang mencuri-curi pandang ke arahnya. Entahlah, apa dia ingat pernah bertemu dengan Amara, atau cuma sekedar tatapan kepo ia pacarnya Chandra atau bukan.Sampai akhirnya. “Pacarmu? Nggak mau kenalin ke aku?” bisiknya, pelan tapi Amara masih bisa mendengarnya.Chandra hanya terkekeh pelan. Amara melirik adik lelakinya itu, agak jengkel karena Chandra sepertinya enggan memperkenalkan dirinya sebagai kakak pada orang lain.Kenapa? Apa penampilanku masih kurang terlihat meyakinkan sebagai Nona Sanjaya?Amara menyesap kopinya perlahan dengan gerakan elegan, tapi suhu kopi yang masih panas langs


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews