MasukGiselle ternganga, sementara wajahnya memerah karena malu dan marah. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan melangkah pergi dengan langkah yang dihentak-hentakkan ke atas dek kayu.Leonardo menelan ludah, menatap pintu yang tertutup rapat, lalu menoleh ke arah Alessia. “Sayang, aku bersumpah aku tidak menyuruhnya datang ….”Alessia menatap makanan mewah di atas nampan, lalu menatap Leonardo. “Makanannya masuk ke dalam kamar. Kau? Kau tidur di luar pintu vila malam ini!”Gabby tertawa puas sambil membawa nampan lobster masuk ke kamar. “Kasihan sekali, Papa. Sepertinya 'nostalgia Paris' itu harganya sangat mahal, ya?”Leonardo hanya bisa menghela napas pasrah, menatap pintu kamarnya yang kembali tertutup rapat, menyadari bahwa makanan favorit pun tidak akan cukup untuk menyelamatkannya dari amarah wanita yang sedang cemburu.**Malam semakin larut di pulau pribadi itu, namun ketegangan di dalam vila justru semakin memuncak dalam keheningan.Alessia berdiri di balik tirai tipis jendela
Malam di pulau pribadi itu seharusnya menjadi ajang rekonsiliasi bagi Leonardo, namun yang terjadi justru adalah perang urat syaraf yang dibalut aroma kuliner kelas atas.Di depan pintu kamar utama yang tertutup rapat, Leonardo berdiri bersama dua orang pelayan yang membawa nampan perak berukuran besar.Aroma Truffle Risotto yang gurih, Grilled Wagyu dengan tingkat kematangan medium rare, serta Lobster Thermidor yang masih mengepulkan uap panas meruap di udara, sengaja ia arahkan agar menyelinap masuk melalui celah bawah pintu.Di dalam kamar, Alessia yang sedang merebahkan diri sambil mengusap perut buncitnya mendadak mengendus udara dengan tajam.Pupil matanya melebar. Dia mengenali aroma itu; itu adalah hidangan favoritnya dari koki terbaik yang dimiliki resor ini.“Gabby ... apa kau mencium itu?” bisik Alessia bahkan air liurnya hampir menetes. “Itu aroma mentega dan truffle. Papamu benar-benar tahu bagaimana cara menyerang titik lemahku.”Gabby yang sedang asyik memakai masker wa
Begitu pintu besar vila berbahan kayu jati itu tertutup rapat, suasana liburan yang tenang seketika berubah menjadi ruang sidang yang amat pengap bagi Leonardo.Gabriella langsung memutar tubuhnya dan menatap ayahnya dengan mata yang membola sempurna dan ekspresi yang seolah baru saja menemukan bukti konspirasi tingkat tinggi.“Papa ... jadi wanita tadi itu bukan sekadar kenalan bisnis?” tanya Gabby dengan nada penuh selidik.“Kencan buta? Di Paris? Lima tahun yang lalu? Kenapa aku baru tahu sekarang kalau Papa pernah melakukan hal semacam itu?”Leonardo meletakkan tas-tas yang dia bawa ke lantai dengan napas yang mulai terasa berat.Dia tahu badai besar sedang menuju ke arahnya. “Gabby, itu bukan kencan buta dalam arti yang sebenarnya. Aku menutupi hal itu karena memang tidak ada yang perlu diceritakan. Itu murni urusan diplomasi bisnis.”“Diplomasi bisnis sampai dia mengingat wajahmu dengan begitu detail dan memujimu lebih gagah?” Alessia menyela, suaranya terdengar manis namun meng
Deru mesin jet pribadi baru saja menghilang, digantikan oleh suara deburan ombak yang tenang dan kicauan burung laut yang menyambut kedatangan keluarga Deveroux di pulau pribadi milik keluarga.Sejauh mata memandang, hamparan pasir putih yang halus tampak berkilau di bawah sengatan matahari tropis yang hangat.Begitu kaki mereka memijak dermaga kayu, Gabriella dan Alessia seolah langsung melupakan beban pikiran mereka di kota.Keduanya berlari kecil menuju tepian pantai, saling menggoda dan tertawa lepas.Mereka benar-benar sibuk dengan dunia mereka sendiri, sibuk mengagumi kejernihan air laut yang berwarna gradasi biru toska, hingga mengabaikan Leonardo yang berjalan di belakang mereka.Pria itu tampak sibuk membawa tas perlengkapan Alessia di bahu kanan dan menenteng topi pantai di tangan kiri, dia benar-benar beralih fungsi dari seorang CEO menjadi asisten pribadi bagi dua wanita kesayangannya.Leonardo menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mereka.Namun, saat melihat Al
Sinar lampu gantung di ruang tengah membiaskan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan suasana domestik yang harmonis namun sedikit menggelitik bagi siapa pun yang melihatnya.Leonardo, pria yang biasanya duduk di kursi direktur dengan setelan jas puluhan juta rupiah, kini justru duduk bersimpuh di atas karpet bulu, dengan telaten memijat telapak kaki Alessia yang disandarkan di atas pangkuannya.Gabriella, yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan menjinjing tas kerjanya, menghentikan langkah tepat di ambang ruang tengah.Dia menaikkan sebelah alisnya, bibirnya membentuk senyum jahil saat menyaksikan pemandangan langka tersebut.“Wah, wah. Lihatlah pemandangan ini,” celetuk Gabby sambil berjalan mendekat. Dia lalu meletakkan tasnya di atas meja kecil dan melipat tangan di dada.“Sebuah usaha keras untuk membuat Alessia luluh lagi dan membatalkan hukuman 'puasa' itu, huh, Pa?”Leonardo tidak segera menjawab. Ia menekan titik pijat di tumit istrinya dengan jempolnya yang ku
Matahari siang menyengat aspal jalanan, namun di dalam kabin Bentley yang kedap suara, suhu terasa begitu sejuk sekaligus tegang.Leonardo melirik Alessia yang duduk di sampingnya. Istrinya itu sejak tadi hanya menatap lurus ke kaca depan, pura-pura asyik memperhatikan deretan ruko yang lewat, seolah-olah trotoar lebih menarik daripada suaminya yang sudah berdandan maksimal.“Kau tahu, Alessia,” Leonardo memulai dengan nada suara yang sengaja dibuat berat.“Sofa di ruang santai itu ternyata memiliki sudut kemiringan yang sangat tidak ergonomis. Aku bangun pagi ini dengan perasaan seolah-olah baru saja kalah dalam pertandingan gulat dengan beruang.”Alessia tidak menoleh, tapi sudut bibirnya sedikit berkedut. “Oh, benarkah? Mungkin itu adalah cara sofa tersebut bersimpati padaku. Dia ingin kau merasakan sedikit penderitaan yang aku rasakan saat kau membentakku malam itu. Anggap saja itu terapi tulang belakang yang gratis.”Leonardo mendehem, sedikit terusik dengan ketajaman lidah istri







