Chapter: THE ENDTiga bulan pertama pernikahan mereka seharusnya menjadi masa transisi yang tenang, di mana Rafael fokus memperkuat fondasi GRB-Enterprises dan Gabby kembali mengelola jaringan restorannya.Namun, alam semesta tampaknya memiliki rencana percepatan untuk keluarga kecil ini.Pagi itu, suasana di kediaman Deveroux yang biasanya teratur berubah menjadi sedikit kacau.Gabby sudah menghabiskan waktu dua puluh menit di dalam kamar mandi utama, suara mualnya terdengar samar hingga ke telinga Rafael yang sedang merapikan dasi di depan cermin.Rafael terdiam, tangannya membeku. Ingatannya melayang pada cerita Gabby tentang masa-masa sulitnya saat mengandung Bianca sendirian di London.“Gabby? Kau baik-baik saja?” Rafael mengetuk pintu dengan cemas.Pintu terbuka pelan. Gabby muncul dengan wajah pucat, namun matanya berbinar dengan cara yang sulit dijelaskan.Di tangannya, dia menggenggam sebuah benda plastik kecil. Tanpa berkata-kata, ia menyerahkannya pada Rafael.Dua garis merah. Tegas dan jel
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 232. Kebahagiaan yang HakikiPulau pribadi keluarga Deveroux di perairan Kepulauan Seribu menjadi saksi bisu berakhirnya badai delapan tahun yang lalu.Air laut yang biru jernih berkilau di bawah sinar matahari pagi, berpadu dengan dekorasi serba putih yang melilit pilar-pilar kayu ulin di tepi pantai.Tidak ada media, tidak ada kolega bisnis yang datang demi kepentingan politik, hanya keluarga inti dan segelintir sahabat yang menjadi saksi penyatuan kembali dua jiwa yang sempat hancur.Momen yang paling dinantikan tiba saat musik organ mulai mengalun lembut, memainkan melodi yang syahdu. Pintu besar paviliun terbuka, memperlihatkan Bianca yang berjalan lebih dulu.Gadis kecil itu tampak seperti malaikat dalam balutan gaun tutu putih dengan aksen mutiara dan mahkota bunga melati di kepalanya.Dia membawa kotak cincin beludru dengan langkah yang sangat bangga, sesekali melambai ke arah Rafael yang sudah berdiri di altar dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna.Lalu, suasana menjadi sunyi saat sosok Gabriella mu
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 231. Bianca the Big BossDua bulan telah berlalu sejak operasi besar yang hampir merenggut nyawa Rafael.Langit sore itu tampak bersih, memantulkan cahaya matahari pada dinding kaca gedung perkantoran baru di kawasan bisnis bergengsi.Di depan lobi gedung tersebut, sebuah papan nama minimalis namun elegan terpahat: GRB-Enterprises.Nama itu bukan sekadar singkatan; itu adalah simbol dari tiga nyawa yang kini menjadi pusat semesta Rafael: Gabriella, Rafael, dan Bianca.Setelah secara resmi melepaskan nama besar Dirgantara, Rafael benar-benar memulai hidupnya dari titik nadir.Dia meninggalkan kemewahan penthouse-nya, mengembalikan mobil-mobil sport miliknya, dan menutup semua akses rekening yang terhubung dengan R-Corp.Dia keluar dari rumah sakit bukan sebagai putra mahkota sebuah dinasti, melainkan sebagai seorang pria yang hanya memiliki harga diri dan cinta di pundaknya.Namun, membangun bisnis dari nol tidak semudah membalik telapak tangan, terutama di bawah pengawasan ketat Leonardo Deveroux.Di ruang ke
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 230. Melepaskan SemuanyaBau antiseptik yang tajam kini bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan di koridor lantai khusus ICU. Dokter spesialis bedah saraf terbaik yang didatangkan Leonardo baru saja keluar dengan gurat wajah yang sangat serius.Penjelasannya singkat namun menghancurkan: pendarahan di bekas luka lama telah menekan saraf pusat. Operasi ulang adalah satu-satunya jalan, namun risikonya sangat fatal.“Peluang keberhasilannya adalah 50:50,” ujar dokter itu dengan nada datar. “Jika gagal, Tuan Rafael mungkin tidak akan pernah bangun lagi, atau mengalami kelumpuhan permanen.”Gabby merasa kakinya lemas, ia nyaris ambruk jika Alessia tidak mendekapnya. Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang perawat keluar dan mengatakan bahwa Rafael ingin bertemu dengan Leonardo Deveroux. Sendirian.Di dalam ruang isolasi yang dingin, Rafael terbaring dengan berbagai alat penunjang hidup.Napasnya pendek, namun matanya terbuka, menatap langit-langit dengan kesadaran yang dipaksakan. Saat pintu terbuka dan Leo
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 229. Kondisi yang Membuat Leonardo sedikit LuluhHari-hari berikutnya setelah amukan Leonardo di aula besar menjadi periode yang paling sunyi sekaligus paling tegang dalam sejarah kediaman Deveroux.Rafael, yang menyadari bahwa kekuatan finansial dan kemarahan tidak akan mampu meruntuhkan benteng pertahanan Leonardo, mengubah taktiknya menjadi “serangan lembut”.Dia tidak lagi datang dengan pengawal atau tuntutan hukum, melainkan dengan kerendahan hati yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun dari seorang Dirgantara.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah kiriman tiba di gerbang utama.Bunga peony putih langka yang sangat segar untuk Alessia, bunga kesukaannya yang hanya tumbuh di dataran tinggi tertentu dan satu kotak cerutu Cohiba Behike yang sudah tidak diproduksi lagi untuk Leonardo.Setiap kiriman disertai kartu kecil dengan tulisan tangan Rafael yang rapi namun tegas: “Aku tidak meminta harta Anda, aku hanya meminta kesempatan untuk menjadi ayah yang baik.”Alessia mulai luluh. Dia sering menatap bunga-bung
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 228. Kemarahan LeonardoPagi itu, sinar matahari yang hangat menyapu halaman depan kediaman Deveroux, menciptakan pemandangan yang seharusnya menjadi potret kedamaian.Rafael sedang berdiri di dekat air mancur, menggendong Bianca yang tertawa riang sambil menceritakan tentang proyek sains sekolahnya.Rafael menatap putrinya dengan binar mata yang penuh pemujaan, sementara Bianca melingkarkan lengan mungilnya di leher sang ayah, merasa benar-benar aman untuk pertama kalinya.Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping saat suara deru mesin mobil Mercedes-Maybach hitam berhenti mendadak di depan gerbang. Pintu terbuka bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.Leonardo Deveroux melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. Tongkatnya yang berujung perak menghantam aspal dengan bunyi dentuman yang mengancam.Leonardo seharusnya masih berada di Singapura untuk pertemuan dewan direksi selama tiga hari lagi.Namun, laporan dari intelijen pribadinya tentang apa yang terjadi di paviliun sema
Last Updated: 2026-02-08
Pelayan Cantik Milik Tuan Muda
Diana tak pernah menyangka hidupnya bisa terjun secepat itu. Dia dikeluarkan dari restoran karena kontraknya tidak diperpanjang. Terdesak kebutuhan, dia menerima pekerjaan di sebuah rumah megah milik Daniel Arsenio—tuan muda kaya raya yang baru saja ditinggal tunangan dan kehilangan seluruh selera hidup.
Daniel dingin, temperamental, dan sulit dipuaskan. Diana hampir dipecat di hari pertamanya bekerja, hingga Daniel mengusulkan sesuatu yang akan mengubah hidupnya-jadi pemuas nafsunya.
Di antara perintah, desahan, dan batas yang kabur, Diana terjebak dalam permainan berbahaya. Daniel hanya ingin pelampiasan, tapi kenapa tatapannya seolah mulai menginginkan lebih?
Ketika hasrat berubah menjadi candu, dan candu berubah menjadi sesuatu yang tak seharusnya tumbuh, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Read
Chapter: 171. Sebuah Peringatan KecilAroma kue bolu yang baru matang masih tertinggal di udara dapur, memberikan sensasi hangat yang kontras dengan dinginnya lantai marmer di luar.Daniel baru saja naik ke lantai atas untuk membersihkan sisa-sisa tepung di tubuh dan wajahnya, meninggalkan Diana yang kini sibuk merapikan loyang-loyang kosong.Angela masuk dengan langkah tenang, tangannya cekatan membantu Diana memindahkan kue yang sudah dingin ke atas piring saji. Pelayan senior itu melirik Diana dengan senyum yang sulit diartikan, campuran antara kekaguman dan rasa haru.“Baru kali ini aku melihat dapur ini berantakan karena tawa, bukan karena bentakan,” suara Angela memecah keheningan.Diana tersipu sambil menyeka noda tepung terakhir di meja. “Tadi itu hanya ... kecelakaan kecil, Mbak. Tuan Daniel sepertinya terlalu bersemangat mengocok adonan.”“Kecelakaan yang indah, Diana,” sahut Angela sembari meletakkan serbet.“Selama dua puluh tahun aku bekerja di rumah ini, Tuan Muda Daniel selalu menganggap dapur sebagai area
Last Updated: 2026-03-05
Chapter: 170. Tragedi di DapurMobil sedan perak Daniel berhenti di depan lobi tepat pukul tujuh malam. Ia melangkah keluar dengan bahu yang tampak lebih merosot dari biasanya.Beban dari sabotase sistem perusahaan oleh Kenny dan ancaman tersembunyi dari ibunya terasa seperti batu besar yang mengikat lehernya.Ia melepas dasinya di lorong dan membiarkannya tergantung lepas, lalu berjalan melewati pintu ruang kerja pribadinya tanpa menoleh.Langkah kakinya justru membawanya ke arah sayap kiri rumah, tempat aroma manis mentega dan vanila mulai tercium.Daniel berhenti di ambang pintu dapur. Di sana, di bawah cahaya lampu gantung yang kuning hangat, Diana sedang sibuk dengan celemek putihnya. Rambutnya diikat asal, dan ada noda tepung di pipi kirinya.“Kamu pulang lebih awal lagi,” ucap Diana sambil menoleh ke arah Daniel dan tersenyum tipis padanya.Daniel menyandarkan bahunya di bingkai pintu, lalu memerhatikan gerakan tangan Diana yang sedang mengayak tepung. “Aku lelah dengan angka dan layar monitor. Aku butuh ses
Last Updated: 2026-03-05
Chapter: 169. Rahasia di Balik AmarahLantai dasar gedung Ars Group terasa seperti ruang bawah tanah yang pengap bagi Kenny.Seharian ia dipaksa duduk di sebuah kubikel sempit yang berbau kertas lama, dikelilingi oleh staf administrasi junior yang bisik-bisiknya terdengar seperti dengungan lebah yang mengejek.Harga dirinya hancur berkeping-keping saat ia harus mengantre di mesin fotokopi, sementara manajer tingkat menengah yang biasanya membungkuk hormat padanya kini sengaja memalingkan muka.Malam itu, dengan amarah yang mendidih di bawah kulitnya, Kenny mendobrak pintu kediaman pribadi Manda. Ia tidak peduli pada asisten rumah tangga yang mencoba menghalanginya. Ia butuh jawaban.“Mama! Kita harus bicara!” teriak Kenny saat melihat Manda sedang duduk tenang menyesap anggur merah di ruang tengah.Manda meletakkan gelas kristalnya, matanya menatap Kenny dengan ketidaksukaan yang nyata.“Lihat dirimu, Kenny. Berantakan dan tidak berwibawa. Apa ini caramu menunjukkan pada Daniel bahwa kamu layak kembali ke kursi direktur?”
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: 168. Kejatuhan sang Pewaris PalsuPintu ganda ruang kerja CEO terbuka dengan hantaman keras saat dua petugas keamanan menyeret Kenny masuk.Kenny menyentakkan bahunya, melepaskan diri dari pegangan petugas dengan wajah yang memerah karena marah sekaligus angkuh.Ia merapikan kemejanya, lalu berjalan santai menuju kursi di depan meja Daniel seolah-olah ia masih memiliki kuasa di gedung ini.Daniel berdiri di balik mejanya, memunggungi ruangan sambil menatap pemandangan kota dari balik kaca besar. Suasana di dalam ruangan itu begitu sunyi hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman.“Duduk, Kenny,” ucap Daniel tanpa menoleh, dengan nada yang rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.Kenny justru tertawa kecil, lalu menjatuhkan dirinya ke kursi empuk itu dan menyilangkan kaki.“Wah, sambutan yang sangat dramatis, Kak. Ada apa? Apa sistem keamananmu yang payah itu sedang bermasalah lagi? Jangan salahkan aku kalau teknisimu tidak becus kerja.”Daniel berbalik perlahan kemudian meletakkan sebuah map hitam d
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: 167. Perang Digital dan SabotasePagi itu, atmosfer di kantor pusat Ars Group tidak lagi sekadar tegang, melainkan mencekam.Daniel baru saja tiba dengan kemeja yang sedikit berantakan setelah semalaman menjaga Diana yang masih terguncang akibat sabotase rem mobil.Namun, sebelum dia sempat menyesap kopi pertamanya, Hardy menerjang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Wajah asisten kepercayaannya itu pucat pasi.“Tuan, kita punya masalah besar. Sistem pusat keuangan kita sedang diserang dari dalam,” lapor Hardy dengan suara yang bergetar.Daniel segera berdiri, rasa kantuknya hilang seketika. “Apa maksudmu dari dalam? Siapa yang punya akses sedalam itu selain aku dan dewan direksi?”“Seseorang menggunakan protokol akses lama yang seharusnya sudah dideaktivasi kemarin sore. Mereka menghapus tiga draf kontrak kerja sama dengan konsorsium Eropa yang akan ditandatangani siang ini, Tuan. Bukan hanya itu, arus kas keluar untuk vendor utama dialihkan ke rekening bodong,” jelas Hardy sembari menunjukkan tabletnya.Danie
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 166. Teror di Balik KemudiBan mobil SUV itu melindas kerikil di halaman depan rumah utama Arsenio dengan suara berderit pelan.Daniel melepaskan genggaman tangannya dari jemari Diana, tatapannya yang semula hangat seketika berubah menjadi waspada saat melihat mobil ibunya terparkir di ujung jalan.“Masuklah lewat pintu samping, Diana. Jangan bicara dengan siapa pun kecuali Angela,” perintah Daniel datar.“Aku akan baik-baik saja, Daniel. Aku hanya akan kembali ke rutinitas dapur,” jawab Diana mencoba menenangkan.Namun, ketenangan itu hanya bertahan dua jam. Saat Daniel sedang terkunci di ruang kerjanya untuk memeriksa laporan keuangan yang berantakan, asisten pribadi Manda, seorang wanita paruh baya bernama Ratna, mendatangi Diana di area dapur.“Diana, Nyonya Manda meminta barang-barang dari butik di pusat kota diambil sekarang. Supir sedang sakit, dan ini mendadak,” ucap Ratna tanpa ekspresi.Diana mengernyit. “Kenapa saya? Ada banyak staf lain di sini,” ucapnya kemudian.“Nyonya hanya percaya kamu untuk ur
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 54. Terjebak di Hutan TerlarangSuara gesekan ranting yang menghantam tubuh menjadi satu-satunya peringatan sebelum Obsidian tergelincir di tepian lereng yang tertutup es.Kuda itu meringkik panik, kakinya kehilangan tumpuan pada tanah yang rapuh.Valerius bereaksi secepat kilat, ia merangkul pinggang Elara dan menariknya melompat dari pelana tepat sebelum kuda itu terjerembap jatuh ke dalam jurang dangkal di sisi jalan.Bruk!Tubuh mereka berguling di atas salju yang keras, menghantam akar pohon yang menonjol sebelum akhirnya berhenti di dasar cekungan. Keheningan mendadak menyergap, hanya menyisakan suara deru angin yang semakin kencang.Valerius bangkit dengan segera, meskipun bahunya menghantam batu cukup keras. Lalu menghampiri Elara yang terbaring sambil memegangi lengannya.“Bisa berdiri?” tanya Valerius dengan napas memburu. Tanpa menunggu jawaban lagi, Valerius langsung menarik tangan Elara untuk membantunya bangkit.Elara meringis sambil membersihkan salju dari mantelnya. “Peganganku lepas ... Obsidian, di
Last Updated: 2026-03-05
Chapter: 53. Undangan Memburu yang MendadakSalju tipis menyelimuti pelataran Kastil Drakenhoff saat Valerius berdiri di samping seekor kuda hitam besar bernama Obsidian.Dia mengenakan jubah berburu berlapis kulit serigala, sementara Elara berdiri beberapa langkah darinya, membungkus tubuhnya dengan mantel wol tebal yang diberikan pelayan pagi tadi.“Kenapa kita harus melakukan ini sekarang?” tanya Elara dengan suara yang masih sedikit parau akibat sisa demamnya. “Aku baru saja bisa berjalan tanpa merasa pening, dan kau ingin aku pergi ke hutan utara?”Valerius memeriksa tali pelana kuda dengan gerakan efisien. “Kael bilang kau butuh udara segar agar paru-parumu tidak membeku di dalam kamar. Jika kau tidak segera pulih, semua laporan militer itu akan menumpuk hingga musim semi. Aku butuh asistenku kembali bekerja.”Elara menyipitkan mata seraya menatap suaminya dengan penuh selidik. “Hanya karena itu? Atau karena kau tidak suka melihat Roderick membawakanku bunga liar setiap pagi ke kamar?”Tangan Valerius berhenti sejenak di
Last Updated: 2026-03-05
Chapter: 52. Perhatian yang CanggungPagi berikutnya, sinar matahari yang dingin menyentuh lantai marmer kamar utama, namun kehangatan masih enggan menyapa atmosfer di dalam ruangan.Elara sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya masih pucat, namun matanya sudah cukup tajam untuk mengamati kegelisahan pria di hadapannya.Valerius berdiri di samping tempat tidur, sembari memegang mangkuk porselen berisi sup herbal dan sesendok cairan obat yang kental. Ia tampak sangat tidak serasi dengan benda-benda itu.Duke Utara yang lebih terbiasa memegang gagang pedang atau pena bulu itu kini terlihat seperti pria yang sedang menjinakkan bom.“Buka mulutmu,” perintah Valerius. Suaranya begitu kaku, tengah mencoba mempertahankan otoritas yang biasanya ia miliki.Elara menatap sendok itu, lalu menatap Valerius dengan datar. “Aku punya tangan, Duke. Aku bisa melakukannya sendiri.”“Tanganmu masih bergetar seperti daun kering,” balas Valerius sambil mendekatkan sendok ke bibir Elara. “Jangan membantah. Kael bilang kau harus m
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: 51. Gengsi sang DukePagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela tinggi, namun kegelapan di dalam kamar utama seolah enggan beranjak. Elara perlahan membuka matanya.Langit-langit kamar yang dihiasi ukiran naga Drakenhoff adalah hal pertama yang ia lihat. Kepalanya terasa seperti dihantam palu besar, dan tenggorokannya sekering padang pasir.Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun ia merasakan beban berat. Valerius duduk di samping tempat tidurnya, kepalanya bersandar pada satu tangan, matanya yang abu-abu tampak merah karena kurang tidur.Begitu merasakan pergerakan Elara, pria itu langsung tegak. Wajahnya kembali menjadi topeng es dalam hitungan detik.“Kau akhirnya bangun,” suara Valerius terdengar parau.Elara mencoba bersuara, namun hanya rintihan kecil yang keluar. Ia melihat ke arah meja kecil di samping tempat tidur.Di sana, tumpukan dokumen yang biasanya memenuhi ruang kerja tidak terlihat. Hanya ada beberapa botol obat dan baskom berisi air dingin.“Minum ini,” perintah Valerius sambil menyo
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: 50. Kabar yang Sangat Valerius TungguMaster Kael baru saja selesai melakukan pemeriksaan kedua yang lebih mendalam setelah ketegangan di ruang kerja mereda.Valerius berdiri mematung di kaki ranjang, matanya yang abu-abu tidak sedetik pun lepas dari wajah istrinya yang tampak sangat rapuh di balik selimut bulu tebal.“Katakan padaku, Kael,” suara Valerius terdengar parau, akibat dari sisa-sisa amarahnya masih terasa di udara. “Apa yang terjadi dengan darahnya? Kau bilang ada perubahan tadi.”Master Kael menghela napas panjang, lalu merapikan alat-alat medisnya ke dalam tas kulit.Dia menatap sang Duke dengan pandangan yang sarat akan teguran. “Saya melakukan kesalahan pada pemeriksaan awal karena terburu-buru oleh tekanan Anda, Duke. Perubahan pada darahnya bukan karena kehidupan baru. Itu adalah tanda kegagalan fungsi tubuh akibat kelelahan ekstrem dan demam yang sangat tinggi.”Valerius menyipitkan mata. “Jadi ... dia tidak hamil?” tanyanya mencoba memastikan pendengarannya apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: 49. Kondisi sang Duchess“Bagaimana keadaannya, Kael?” suara Valerius memecah kesunyian, dengan rendah dan penuh ancaman yang tertahan.Master Kael tidak langsung menjawab. Dia meletakkan tangan Elara kembali ke atas selimut, lalu beralih mengambil sampel darah kecil yang tadi ia ambil dari ujung jari Elara.Dia meneteskan cairan perak ke dalamnya. Cairan itu tidak berubah menjadi hitam seperti biasanya jika terkena kutukan, melainkan berpendar redup dengan warna keemasan yang aneh.Kael berbalik lalu menatap Valerius dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Ada perubahan besar pada komposisi darahnya, Duke. Ini bukan serangan kutukan yang menular, dan ini bukan karena kelelahan administratif semata.”Valerius melangkah maju, dan memangkas jarak di antara mereka. “Bicaralah dengan bahasa yang kumengerti, Tua Bangka. Apa maksudmu dengan perubahan darah?”“Darahnya ... bereaksi terhadap sesuatu yang baru di dalam tubuhnya,” Kael berbisik, sementara matanya melirik ke arah Elara yang masih memejamkan mata.“Ada en
Last Updated: 2026-03-03