Chapter: 173. Pengakuan yang MenjengkelkanBegitu pintu besar vila berbahan kayu jati itu tertutup rapat, suasana liburan yang tenang seketika berubah menjadi ruang sidang yang amat pengap bagi Leonardo.Gabriella langsung memutar tubuhnya dan menatap ayahnya dengan mata yang membola sempurna dan ekspresi yang seolah baru saja menemukan bukti konspirasi tingkat tinggi.“Papa ... jadi wanita tadi itu bukan sekadar kenalan bisnis?” tanya Gabby dengan nada penuh selidik.“Kencan buta? Di Paris? Lima tahun yang lalu? Kenapa aku baru tahu sekarang kalau Papa pernah melakukan hal semacam itu?”Leonardo meletakkan tas-tas yang dia bawa ke lantai dengan napas yang mulai terasa berat.Dia tahu badai besar sedang menuju ke arahnya. “Gabby, itu bukan kencan buta dalam arti yang sebenarnya. Aku menutupi hal itu karena memang tidak ada yang perlu diceritakan. Itu murni urusan diplomasi bisnis.”“Diplomasi bisnis sampai dia mengingat wajahmu dengan begitu detail dan memujimu lebih gagah?” Alessia menyela, suaranya terdengar manis namun meng
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: 172. Seseorang di Masa LaluDeru mesin jet pribadi baru saja menghilang, digantikan oleh suara deburan ombak yang tenang dan kicauan burung laut yang menyambut kedatangan keluarga Deveroux di pulau pribadi milik keluarga.Sejauh mata memandang, hamparan pasir putih yang halus tampak berkilau di bawah sengatan matahari tropis yang hangat.Begitu kaki mereka memijak dermaga kayu, Gabriella dan Alessia seolah langsung melupakan beban pikiran mereka di kota.Keduanya berlari kecil menuju tepian pantai, saling menggoda dan tertawa lepas.Mereka benar-benar sibuk dengan dunia mereka sendiri, sibuk mengagumi kejernihan air laut yang berwarna gradasi biru toska, hingga mengabaikan Leonardo yang berjalan di belakang mereka.Pria itu tampak sibuk membawa tas perlengkapan Alessia di bahu kanan dan menenteng topi pantai di tangan kiri, dia benar-benar beralih fungsi dari seorang CEO menjadi asisten pribadi bagi dua wanita kesayangannya.Leonardo menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mereka.Namun, saat melihat Al
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: 171. Usul untuk Pergi LiburanSinar lampu gantung di ruang tengah membiaskan cahaya keemasan yang hangat, menciptakan suasana domestik yang harmonis namun sedikit menggelitik bagi siapa pun yang melihatnya.Leonardo, pria yang biasanya duduk di kursi direktur dengan setelan jas puluhan juta rupiah, kini justru duduk bersimpuh di atas karpet bulu, dengan telaten memijat telapak kaki Alessia yang disandarkan di atas pangkuannya.Gabriella, yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah dengan menjinjing tas kerjanya, menghentikan langkah tepat di ambang ruang tengah.Dia menaikkan sebelah alisnya, bibirnya membentuk senyum jahil saat menyaksikan pemandangan langka tersebut.“Wah, wah. Lihatlah pemandangan ini,” celetuk Gabby sambil berjalan mendekat. Dia lalu meletakkan tasnya di atas meja kecil dan melipat tangan di dada.“Sebuah usaha keras untuk membuat Alessia luluh lagi dan membatalkan hukuman 'puasa' itu, huh, Pa?”Leonardo tidak segera menjawab. Ia menekan titik pijat di tumit istrinya dengan jempolnya yang ku
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: 170. Satu Taktik lagiMatahari siang menyengat aspal jalanan, namun di dalam kabin Bentley yang kedap suara, suhu terasa begitu sejuk sekaligus tegang.Leonardo melirik Alessia yang duduk di sampingnya. Istrinya itu sejak tadi hanya menatap lurus ke kaca depan, pura-pura asyik memperhatikan deretan ruko yang lewat, seolah-olah trotoar lebih menarik daripada suaminya yang sudah berdandan maksimal.“Kau tahu, Alessia,” Leonardo memulai dengan nada suara yang sengaja dibuat berat.“Sofa di ruang santai itu ternyata memiliki sudut kemiringan yang sangat tidak ergonomis. Aku bangun pagi ini dengan perasaan seolah-olah baru saja kalah dalam pertandingan gulat dengan beruang.”Alessia tidak menoleh, tapi sudut bibirnya sedikit berkedut. “Oh, benarkah? Mungkin itu adalah cara sofa tersebut bersimpati padaku. Dia ingin kau merasakan sedikit penderitaan yang aku rasakan saat kau membentakku malam itu. Anggap saja itu terapi tulang belakang yang gratis.”Leonardo mendehem, sedikit terusik dengan ketajaman lidah istri
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: 169. Serangan Gerliya LeonardoPagi menyingsing di kantor pusat Deveroux Group dengan suasana yang sedikit berbeda.Leonardo, yang biasanya tampil dengan aura yang begitu tajam dan intimidatif, pagi ini terlihat lebih sering menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dengan gurat kelelahan yang nyata di bawah matanya.Anthony, yang masuk membawakan tablet berisi agenda harian, langsung menyadari perubahan energi pada bosnya itu.“Selamat pagi, Tuan Leonardo,” sapa Anthony dengan nada formal namun terselip sedikit rasa ingin tahu.“Jika saya boleh bertanya, apakah Nyonya Alessia dan Nona Gabby sudah memberikan tanda-tanda gencatan senjata? Maksud saya, apakah mereka sudah tidak marah lagi pada Anda?”Leonardo menguap sebentar, mencoba mengusir rasa kantuk yang menggelayut. Ia menggelengkan kepalanya dengan lesu.“Tidak sepenuhnya, Anthony. Aku memang sudah bicara dengan Alessia, tapi aku mendapatkan hukuman yang benar-benar membuat tidurku tidak nyenyak.”Anthony menaikkan alisnya, rasa penasaran mulai menguasai diriny
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: 168. Hukuman tetap Berlaku“Kita harus melakukan sesuatu.”Leonardo langsung menghentikan kegiatannya meninjau laporan di tablet pribadinya dan menoleh ke arah Alessia yang baru saja menyuarakan pemikirannya.Mereka sedang berada di ruang santai lantai dua, tempat favorit Alessia sejak kandungannya mulai membesar karena sofa di sana jauh lebih nyaman.“Sesuatu apa, Sayang?” tanya Leonardo dengan nada lembut, berusaha tetap tenang meskipun ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.Alessia membetulkan posisi duduknya, wajahnya menunjukkan keseriusan yang nyata.“Aku ingin Gabby tidak memikirkan Rafael lagi. Benar-benar berhenti mengharapkan pria itu. Setelah aku pikirkan kembali, Rafael itu terlalu lemah untuknya.“Dia tidak pantas bersanding dengan Gabby yang sangat ceria, selalu berpikir positif, dan terkadang sangat cerewet. Aku merindukan Gabby yang dulu, Leo. Aku tidak tahan melihatnya hanya terdiam di restoran atau melamun di meja makan.”Alessia menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca. “Aku tidak mau ke
Last Updated: 2026-01-17
Pelayan Cantik Milik Tuan Muda
Diana tak pernah menyangka hidupnya bisa terjun secepat itu. Dia dikeluarkan dari restoran karena kontraknya tidak diperpanjang. Terdesak kebutuhan, dia menerima pekerjaan di sebuah rumah megah milik Daniel Arsenio—tuan muda kaya raya yang baru saja ditinggal tunangan dan kehilangan seluruh selera hidup.
Daniel dingin, temperamental, dan sulit dipuaskan. Diana hampir dipecat di hari pertamanya bekerja, hingga Daniel mengusulkan sesuatu yang akan mengubah hidupnya-jadi pemuas nafsunya.
Di antara perintah, desahan, dan batas yang kabur, Diana terjebak dalam permainan berbahaya. Daniel hanya ingin pelampiasan, tapi kenapa tatapannya seolah mulai menginginkan lebih?
Ketika hasrat berubah menjadi candu, dan candu berubah menjadi sesuatu yang tak seharusnya tumbuh, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Read
Chapter: 61. Jangan Mengulangi Ucapan itu LagiMalam kian larut, waktu sudah menunjuk angka dua belas tepat.Dan atmosfer di dalam kamar utama kediaman Daniel telah berubah total.Sisa-sisa ketegangan akibat konfrontasi dengan Andra di restoran tadi seolah menguap, digantikan oleh ketegangan jenis lain, ketegangan yang sarat akan hasrat yang tak lagi bisa dibendung.Cahaya remang dari lampu tidur berwarna kekuningan menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding kamar yang luas itu.Diana duduk di tepi tempat tidur yang empuk, jemarinya meremas kain seprai sutra. Dia baru saja mengganti pakaiannya dengan sebuah lingerie sutra tipis berwarna merah marun, pemberian Daniel yang sudah tersaji di atas bantal saat mereka pulang tadi.Daniel berdiri tak jauh darinya, perlahan melepaskan jam tangan mahalnya dan melemparkan jasnya ke kursi tanpa melepaskan pandangan dari Diana.Daniel menghampirinya dengan langkah pelan namun pasti. Tanpa sepatah kata pun, dia meraih dagu Diana dan mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu. Daniel k
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: 60. Membelanya Secara Terang-teranganSuasana di lorong depan restoran itu mendadak beku. Daniel sudah mencengkeram pergelangan tangan Diana, niatnya jelas: ia ingin menarik wanita itu pergi dari jangkauan pandangan Andra yang memuakkan.Namun, langkah Daniel tertahan. Diana berhenti bergerak, membuat beban pada genggaman tangan Daniel terasa berat.Daniel menoleh. Ia tidak mengeluarkan satu patah kata pun, namun sorot matanya yang tajam seolah bertanya, “Apa yang kamu lakukan? Kenapa berhenti?”Ada kilat amarah yang bercampur dengan rasa tidak percaya di dalam manik mata Daniel. Ia takut jika Diana akan goyah saat Andra menawarkan “jalan keluar”.Diana tidak menatap Daniel. Ia justru memutar tubuhnya, menghadap langsung ke arah Andra yang masih berdiri dengan senyum meremehkan.“Mas Andra,” suara Diana terdengar stabil meskipun jantungnya berdegup kencang di balik gaun biru dongkernya.“Saya rasa perlu meluruskan sesuatu. Saya tidak pernah dipaksa oleh siapa pun, termasuk oleh Tuan Daniel, untuk menandatangani kontrak se
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: 59. Kedatangan Sang PengacauLampu kristal yang menggantung di langit-langit restoran membiaskan cahaya keemasan pada wajah Diana yang tampak berbinar.Suasana hatinya sedang sangat baik, segelas wine dan perhatian tak terduga dari Daniel membuatnya merasa lebih berani.Dia mulai bercerita tentang masa kecilnya, sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan untuk ia bagikan kepada pria sedingin Daniel.“Dulu, saat ulang tahunku yang kesepuluh, Ayah memberiku kejutan sebuah sepeda jengki berwarna pink terang. Padahal saat itu keuangan keluarga kami sedang sulit,” kenang Diana dengan senyum tulus yang menghiasi bibirnya.“Aku sangat senang sampai-sampai aku tidur di samping sepeda itu di ruang tengah.”Daniel menanggapi dengan gumaman singkat dan wajah datar seperti biasanya, namun matanya tak lepas dari bibir Diana yang terus bercerita.Sebenarnya, di balik topeng kedinginannya, Daniel merasa hangat. Dia menyukai dinamika ini, di mana Diana mulai bicara santai tanpa embel-embel “Tuan” di setiap kalimatnya, seolah
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: 58. Seolah Alam pun MerestuiRestoran itu terletak di lantai paling atas sebuah hotel bintang lima, dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota yang tampak seperti hamparan permata.Alunan musik jazz yang lembut mengalun pelan, menciptakan suasana romantis yang seharusnya membuat siapa pun merasa nyaman. Namun, bagi Diana, suasana ini justru terasa sangat asing dan mendebarkan.Di hadapannya, Daniel duduk dengan setelan jas hitam yang sempurna. Ia tampak sangat tampan di bawah cahaya temaram lampu gantung, namun ekspresinya tetap sulit dibaca. Daniel hanya diam terpaku, menatap gelas wine yang belum disentuhnya.Diana merasa tenggorokannya kering. Dia mengenakan gaun simpel yang diberikan Daniel tadi sore melalui sopirnya untuk menjemput Diana di rumah, gaun sutra berwarna biru dongker yang membalut tubuhnya dengan anggun.Dia menelan salivanya pelan sebelum memberanikan diri membuka suara.“Tuan ... maksud saya, Daniel,” panggil Diana ragu. “Ada acara apa sebenarnya kamu membawaku ma
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: 57. Masih Besar KepalaSuasana di lantai teratas gedung pencakar langit itu biasanya sangat tenang, hanya diisi oleh suara halus pendingin ruangan dan denting halus jarum jam mewah di dinding.Namun bagi Daniel, ruangan itu terasa riuh oleh suara-suara di dalam kepalanya sendiri.Dia tengah duduk di kursi kebesarannya, namun postur tubuhnya jauh dari kata berwibawa.Kedua tangannya menyangga dagu, matanya menatap kosong ke arah layar laptop yang sudah masuk ke mode screensaver.Ucapan Diana semalam terus terngiang, berputar-putar seperti kaset rusak yang menyayat egonya. “Saya hanya pemuas Tuan ... nikmati saja apa yang sudah Tuan beli.”Kalimat itu terdengar begitu dingin dan transaksional. Bukankah seharusnya Daniel senang? Bukankah itu yang ia inginkan sejak awal? Sebuah hubungan tanpa ikatan, tanpa drama, hanya kepuasan fisik mutlak.Namun, kenyataannya, kata-kata itu justru membuatnya merasa seperti pecundang yang hanya bisa memiliki tubuh seseorang karena selembar cek.Ia mencoba meraih pulpen untuk m
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: 56. Atau mungkin SelamanyaPukul sepuluh malam. Jam dinding antik di sudut kamar utama berdentang pelan, namun suaranya tenggelam oleh deru napas yang memenuhi ruangan.Sesuai kontrak yang tak tertulis namun mutlak, Diana telah berada di sana, dan tak butuh waktu lama bagi Daniel untuk menunjukkan otoritasnya.Tubuh Diana terhempas di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra hitam yang dingin.Namun, rasa dingin itu segera menguap saat tubuh besar Daniel menindihnya, mengunci pergerakan Diana di bawah dominasinya.Daniel tidak membuang waktu. Tangannya yang kuat mulai menjelajahi setiap lekuk tubuh Diana dengan liar, seolah-olah ia sedang mencoba menghapus sisa-sisa hari yang melelahkan melalui sentuhan fisik yang intens.“Tuan ... ah, Daniel ....” Diana mengerang pelan saat bibir Daniel menemukan titik sensitif di belakang telinganya.Napas Daniel yang memburu terasa panas di kulit Diana, memicu hasrat yang sebenarnya ingin ia tekan, namun selalu gagal.“Jangan menahannya, Diana. Aku tahu kamu mengingi
Last Updated: 2026-01-17