Chapter: 380. Akhir Bahagia Kita - The EndAula menara dalam yang biasanya terasa dingin dan angker oleh draf sejarah kelam, kini mendadak dipenuhi oleh draf kehangatan spiritual yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Air mata Kael yang membasahi lantai batu seolah menjadi draf pembasuh bagi seluruh penderitaan generasi masa lalu klan Serigala Perak.Mendengar draf diagnosis Kael yang membebaskan masa depan keturunannya, Valerius langsung mengembalikan sang bayi ke dalam dekapan hangat Elara dengan draf gerakan yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian."Kau mendengarnya, Elara?" bisik Valerius, suara baritonnya bergetar hebat di sela isak tangis kebahagiaan yang tak lagi ia sembunyikan. "Kutukan itu... kutukan sialan yang membunuh ayah dan kakekku, telah mati hari ini di dalam darah anak kita.""Aku mendengarnya, Valerius... aku mendengarnya dengan sangat jelas," sahut Elara, air matanya meluncur bebas membasahi dahi mungil putranya.Sang Duke langsung berlutut di sisi tempat tidur beludru, menangkup wajah pucat istrinya, l
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: 379. Patahnya Kutukan Tiga Puluh TahunSementara Elara berbaring lemas dengan senyum kelegaan yang amat sangat di atas bantal beludru, atmosfer di sekitar ranjang berangsur-angsur berubah menjadi sunyi. Kehangatan fajar musim semi yang baru saja merayap seolah tertahan di udara.Tabib Kael melangkah mendekat dengan instrumen perak kuno, sebuah mangkuk kecil berlapis draf kuningan dan sebilah jarum tipis yang telah disucikan. Tugas utamanya belum selesai.Sebagai penjaga draf medis klan, ada satu ritual taktis yang jauh lebih krusial daripada sekadar memotong tali pusat: melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tetesan darah pertama sang bayi."Lord Duke, izinkan hamba mengambil setetes darah dari tumit sang pangeran kecil," ucap Kael, suaranya mendadak merendah, sarat akan draf kecemasan yang mendalam.Valerius tidak menjawab, namun rahang tegapnya mengetat kaku. Ia merenggangkan draf jubah bulunya sedikit, membiarkan Kael meraih kaki mungil Louis. Elara yang tadinya tersenyum lelah, kini ikut menahan napasnya, draf trauma ma
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: 378. Sentuhan Pertama Sang PewarisSeluruh pelayan di dalam ruangan bersujud syukur, merapatkan dahi mereka ke lantai batu yang dingin sebagai manifes kepatuhan dan kebahagiaan yang teramat besar.Sementara itu, Lyra yang sudah tidak sanggup lagi menahan luapan emosi batinnya, langsung menangis bahagia di bahu Juan yang berjaga di ambang pintu dalam setelah pintu ganda itu sedikit digeser terbuka."Dia selamat, Juan... keponakan kita selamat," isak Lyra, membasahi zirah besi di bahu sang panglima."Aku tahu, Lyra. Aku tahu," sahut Juan, suaranya parau seraya menepuk punggung Lyra dengan tangan kekarnya yang ikut bergetar. "Darah Drakenhoff tidak akan pernah padam."Di sisi ranjang beludru, Tabib Kael menyerahkan bungkusan kain wol kelabu itu dengan sangat perlahan.Tangan kekar Valerius yang biasanya tak pernah gemetar saat menebas leher musuh di medan perang, bahkan saat menghadapi draf sihir hitam Isolde di Puncak Hitam sekalipun kini tampak bergetar hebat laksana daun kering yang
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: 377. Tangis Pengubah Takdir"Dorong sekali lagi, Elara! Sekarang atau tidak sama sekali!" bentak Tabib Kael, suaranya yang melengking tinggi memutus kepasrahan yang sempat menggantung di udara.Ketegangan di dalam kamar tidur utama mencapai puncaknya ketika Tabib Kael memberikan instruksi terakhir dengan suara lantang di bawah pengawasan Lyra yang terus menyeka keringat di pelipis Elara dengan kain rami yang sudah basah kuyup.Seluruh pelayan senior di dalam ruangan itu menahan napas secara kolektif, tangan mereka terkunci erat pada sisi-sisi ranjang beludru."Aku... aku tidak bisa, Valerius... rahimku terasa terbakar!" jerit Elara, suaranya parau, nyaris habis akibat perjuangan berjam-jam yang menguras draf energinya."Kau bisa, Elara! Demi leluhur Utara, kau adalah wanita terkuat yang pernah menginjakkan kaki di benteng ini!" seru Valerius, suaranya bergetar hebat oleh luapan emosi yang pekat.Ia mempererat genggaman tangannya, membiarkan jemari Elara mencengkeram kulitnya
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: 376. Pertempuran di Kamar Bersalin"Kael! Di mana kau, Tabib gila?!" teriak Lyra, suaranya melengking tinggi menembus koridor luar menara dalam.Atmosfer menara dalam seketika berubah menjadi medan pertempuran medis yang sangat menegangkan. Suara derap langkah kaki panik dari para pelayan senior terdengar menggema di sepanjang koridor saat mereka membawa baskom air hangat dan kain rami bersih.Pintu-pintu kayu ek dihantam terbuka, mengusir keheningan domestik yang sempat merajai benteng selama tiga bulan terakhir."Siapkan ranjang utama! Ambil draf minyak zaitun dan rebusan daun es sekarang juga!" perintah Tabib Kael, melangkah lebar memasuki kamar dengan kotak medis menara yang terbuka di pelukannya. Wajahnya mengeras penuh kalkulasi taktis medis."Rasa sakitnya... Lyra, ini terlalu cepat!" erang Elara, tubuhnya melengkung kaku di atas kasur beludru.Proses kelahiran sang buah hati berjalan dengan penuh perjuangan fisik yang luar biasa hebat bagi Elara. Kontraksi yang datang bertub
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: 375. Tiga Bulan di Ujung Musim DinginWaktu bergulir dengan sangat cepat menembus sisa-sisa musim dingin yang ekstrem di tanah Utara. Tiga bulan penuh telah berlalu sejak kepulangan ajaib Valerius dari Desa Lembah Sunyi yang membungkam faksi sayap kanan.Pemerintahan Drakenhoff kini telah sepenuhnya pulih dan menjadi jauh lebih makmur berkat draf kebijakan ekonomi baru yang dirancang bersama oleh Elara dan Tuan Vane. Saluran perdagangan perbatasan kembali berdenyut, dan gudang gandum di permukiman bawah kota selalu penuh terisi.Fokus seluruh penghuni benteng raksasa itu kini telah beralih sepenuhnya pada menara dalam. Di salah satu sudut ruang santai yang hangat, Elara duduk bersandar di kursi beludru besar, sementara usia kandungan Elara sudah menginjak sembilan bulan penuh. Perut buncitnya kini terasa sangat berat, dan Elara mulai membatasi aktivitas fisiknya di atas kursi takhta dewan adat."Kau harus meminum ramuan akar es ini sampai habis, Elara. Kael bilang ini bagus untuk melemaskan otot pan
Last Updated: 2026-06-20
Pelayan Cantik Milik Tuan Muda
Diana tak pernah menyangka hidupnya bisa terjun secepat itu. Dia dikeluarkan dari restoran karena kontraknya tidak diperpanjang. Terdesak kebutuhan, dia menerima pekerjaan di sebuah rumah megah milik Daniel Arsenio—tuan muda kaya raya yang baru saja ditinggal tunangan dan kehilangan seluruh selera hidup.
Daniel dingin, temperamental, dan sulit dipuaskan. Diana hampir dipecat di hari pertamanya bekerja, hingga Daniel mengusulkan sesuatu yang akan mengubah hidupnya-jadi pemuas nafsunya.
Di antara perintah, desahan, dan batas yang kabur, Diana terjebak dalam permainan berbahaya. Daniel hanya ingin pelampiasan, tapi kenapa tatapannya seolah mulai menginginkan lebih?
Ketika hasrat berubah menjadi candu, dan candu berubah menjadi sesuatu yang tak seharusnya tumbuh, siapa yang akhirnya akan menyerah?
Read
Chapter: 201. Our Happy Ending - TamatDua minggu kemudian.Taman belakang kediaman Arsenio telah disulap menjadi ruang yang sangat privat dan hangat. Tidak ada panggung tinggi, tidak ada deretan kursi emas yang berlebihan.Hanya ada sebuah altar kayu sederhana yang dihiasi bunga lili putih segar dan beberapa kursi kayu yang diatur melingkar untuk para tamu yang tidak lebih dari dua puluh orang.Langit senja Jakarta yang berwarna jingga keunguan memberikan pencahayaan alami yang jauh lebih indah daripada lampu studio mana pun.Daniel berdiri di depan pendeta, mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna.Tangannya terlipat di depan tubuh, namun jemarinya terus bergerak gelisah, sebuah tanda gugup yang jarang ia tunjukkan. Saat musik dawai mulai mengalun lembut, pintu kaca besar menuju taman terbuka.Diana muncul dengan gaun sutra berwarna putih gading yang mengalir indah, cukup longgar untuk menyembunyikan sedikit tonjolan di perutnya namun tetap memperlihatkan keanggunannya.Ia tidak didampingi siapa pun, berjal
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: 200. Debat Kecil Sebelum PernikahanLampu gantung di ruang kerja Daniel masih menyala terang meski jarum jam sudah melewati pukul sebelas malam.Di atas meja jati yang luas, tumpukan katalog vendor pernikahan mewah, mulai dari dekorasi bunga impor hingga daftar gedung hotel bintang lima berserakan.Daniel berdiri di depan jendela, menatap refleksi dirinya sendiri, sementara Diana duduk di sofa dengan wajah yang tampak lelah namun keras kepala.“Ini bukan sekadar perayaan, Diana. Ini adalah pernyataan,” ucap Daniel tanpa berbalik.“Dunia harus tahu siapa kamu. Aku ingin mereka melihat bahwa Nyonya Arsenio yang baru adalah wanita yang terhormat, bukan sekadar bayangan di rumah ini.”Diana mengembuskan napas panjang, lalu meletakkan katalog katering yang baru saja dibacanya. “Dan untuk menunjukkan itu, kita harus mengundang seribu orang yang bahkan tidak mengenal kita secara pribadi? Untuk apa, Daniel? Untuk sorotan kamera paparazzi?”Daniel berbalik, langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu saat ia mendekati D
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: 199. Pengakuan Diana“Daniel, aku ….” Diana tercekat. “Aku takut.”“Takut apa?” Daniel mengernyit, tangannya turun menggenggam jemari Diana yang bebas. “Apa Manda menghubungi lagi? Atau orang-orang Kenny?”“Bukan. Ini tentang kita,” suara Diana pecah.“Tentang masa depan rumah ini. Daniel, kamu baru saja mendapatkan ketenanganmu. Kamu baru saja membuang orang-orang yang mengkhianatimu. Aku takut ... aku takut kehadiranku hanya akan mengingatkanmu pada kekacauan itu.”Daniel terdiam seraya menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kenapa kamu bicara begitu? Kamu adalah alasan aku tetap waras, Diana.”“Tapi aku hanya seorang pelayan, Daniel! Di mata dunia, aku tidak pantas berada di sini. Dan jika ... jika ada sesuatu yang berubah di antara kita, aku takut kamu akan menyesal telah memilihku.”“Apa yang berubah, Diana? Bicara yang jelas!” Daniel mulai tidak sabar, namun ia tetap berusaha menahan suaranya agar tidak membentak.Diana menarik napas dalam-dalam, keberaniannya terkumpul di titik nadir.
Last Updated: 2026-03-15
Chapter: 198. Garis Merah di Pagi HariTiga bulan telah berlalu sejak badai di kediaman Arsenio mereda. Rumah besar itu kini terasa lebih hangat, meskipun bayang-bayang masa lalu terkadang masih melintas di sudut-sudut koridor yang sepi.Pagi itu, cahaya matahari menembus gorden kamar utama, namun Diana tidak menyambutnya dengan senyuman seperti biasa.Ia berlari kecil menuju kamar mandi, menekan dadanya yang terasa sesak. Suara muntah yang payah bergema di dalam ruangan yang didominasi marmer putih itu.Diana berpegangan erat pada pinggiran wastafel, napasnya tersengal, sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.“Lagi,” gumamnya lirih sembari membasuh mulutnya dengan air dingin.Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya. Selama dua minggu terakhir, tubuhnya terasa sangat tidak bersahabat.Awalnya ia mengira ini hanyalah dampak dari kelelahan karena membantu Daniel merapikan administrasi rumah tangga dan yayasan yang sempat terbengkalai. Namun, frekuensi mual ini terlalu teratur un
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: 197. Bukan Seorang MonsterJam dinding di kamar utama menunjukkan pukul sepuluh malam. Keheningan yang menyelimuti kediaman Arsenio malam ini terasa berbeda, bukan lagi keheningan yang mencekam karena rahasia, melainkan kesunyian yang lapang namun sedikit asing.Daniel berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang, memegang segelas air putih, bukan lagi wiski.Diana masuk setelah menutup pintu dengan pelan. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur sutra yang sederhana. Ia mendekat, lalu melingkarkan lengannya di pinggang Daniel dari belakang, menyandarkan pipinya pada punggung pria itu.“Semuanya sudah berangkat, Daniel,” bisik Diana. “Hardy baru saja mengirim pesan. Pesawat mereka sudah lepas landas satu jam yang lalu.”Daniel mengembuskan napas panjang, bahunya yang sejak tadi tegang perlahan merosot. “Akhirnya. Rumah ini terasa benar-benar milikku sekarang. Tapi rasanya masih sangat aneh.”Diana melepaskan pelukannya dan berpindah ke samping Daniel, menatap wajah pria itu dari sampin
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: 196. Keadilan dalam PengasinganKantor notaris itu terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit di pusat Sudirman. Ruangannya didominasi oleh panel kayu gelap dan kaca besar yang memperlihatkan hiruk-pikuk Jakarta di bawah sana.Daniel duduk di kursi kulit yang kaku, menatap tumpukan berkas di atas meja mahoni. Di seberangnya, Notaris senior keluarga Arsenio, Pak Hendra, membersihkan kacamatanya dengan gerakan lambat yang menambah ketegangan di ruangan itu.“Anda yakin dengan nominal ini, Tuan Daniel?” tanya Pak Hendra sembari menyodorkan draf akhir. “Secara hukum, setelah pengakuan pembunuhan dan bukti DNA itu, Anda bisa saja membuat mereka tidak mendapatkan sepeser pun.”Daniel mengambil pulpen logamnya, memainkannya di antara jemari. “Aku tahu, Pak Hendra. Tapi aku tidak ingin mereka mati kelaparan di negeri orang lalu mencoba kembali ke sini untuk mengemis atau memeras. Berikan mereka aset di Kanada dan apartemen kecil di pinggiran Toronto. Itu cukup untuk hidup layak, tapi tidak cukup untuk memb
Last Updated: 2026-03-14
Chapter: THE ENDTiga bulan pertama pernikahan mereka seharusnya menjadi masa transisi yang tenang, di mana Rafael fokus memperkuat fondasi GRB-Enterprises dan Gabby kembali mengelola jaringan restorannya.Namun, alam semesta tampaknya memiliki rencana percepatan untuk keluarga kecil ini.Pagi itu, suasana di kediaman Deveroux yang biasanya teratur berubah menjadi sedikit kacau.Gabby sudah menghabiskan waktu dua puluh menit di dalam kamar mandi utama, suara mualnya terdengar samar hingga ke telinga Rafael yang sedang merapikan dasi di depan cermin.Rafael terdiam, tangannya membeku. Ingatannya melayang pada cerita Gabby tentang masa-masa sulitnya saat mengandung Bianca sendirian di London.“Gabby? Kau baik-baik saja?” Rafael mengetuk pintu dengan cemas.Pintu terbuka pelan. Gabby muncul dengan wajah pucat, namun matanya berbinar dengan cara yang sulit dijelaskan.Di tangannya, dia menggenggam sebuah benda plastik kecil. Tanpa berkata-kata, ia menyerahkannya pada Rafael.Dua garis merah. Tegas dan jel
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 232. Kebahagiaan yang HakikiPulau pribadi keluarga Deveroux di perairan Kepulauan Seribu menjadi saksi bisu berakhirnya badai delapan tahun yang lalu.Air laut yang biru jernih berkilau di bawah sinar matahari pagi, berpadu dengan dekorasi serba putih yang melilit pilar-pilar kayu ulin di tepi pantai.Tidak ada media, tidak ada kolega bisnis yang datang demi kepentingan politik, hanya keluarga inti dan segelintir sahabat yang menjadi saksi penyatuan kembali dua jiwa yang sempat hancur.Momen yang paling dinantikan tiba saat musik organ mulai mengalun lembut, memainkan melodi yang syahdu. Pintu besar paviliun terbuka, memperlihatkan Bianca yang berjalan lebih dulu.Gadis kecil itu tampak seperti malaikat dalam balutan gaun tutu putih dengan aksen mutiara dan mahkota bunga melati di kepalanya.Dia membawa kotak cincin beludru dengan langkah yang sangat bangga, sesekali melambai ke arah Rafael yang sudah berdiri di altar dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna.Lalu, suasana menjadi sunyi saat sosok Gabriella mu
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 231. Bianca the Big BossDua bulan telah berlalu sejak operasi besar yang hampir merenggut nyawa Rafael.Langit sore itu tampak bersih, memantulkan cahaya matahari pada dinding kaca gedung perkantoran baru di kawasan bisnis bergengsi.Di depan lobi gedung tersebut, sebuah papan nama minimalis namun elegan terpahat: GRB-Enterprises.Nama itu bukan sekadar singkatan; itu adalah simbol dari tiga nyawa yang kini menjadi pusat semesta Rafael: Gabriella, Rafael, dan Bianca.Setelah secara resmi melepaskan nama besar Dirgantara, Rafael benar-benar memulai hidupnya dari titik nadir.Dia meninggalkan kemewahan penthouse-nya, mengembalikan mobil-mobil sport miliknya, dan menutup semua akses rekening yang terhubung dengan R-Corp.Dia keluar dari rumah sakit bukan sebagai putra mahkota sebuah dinasti, melainkan sebagai seorang pria yang hanya memiliki harga diri dan cinta di pundaknya.Namun, membangun bisnis dari nol tidak semudah membalik telapak tangan, terutama di bawah pengawasan ketat Leonardo Deveroux.Di ruang ke
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 230. Melepaskan SemuanyaBau antiseptik yang tajam kini bercampur dengan ketegangan yang menyesakkan di koridor lantai khusus ICU. Dokter spesialis bedah saraf terbaik yang didatangkan Leonardo baru saja keluar dengan gurat wajah yang sangat serius.Penjelasannya singkat namun menghancurkan: pendarahan di bekas luka lama telah menekan saraf pusat. Operasi ulang adalah satu-satunya jalan, namun risikonya sangat fatal.“Peluang keberhasilannya adalah 50:50,” ujar dokter itu dengan nada datar. “Jika gagal, Tuan Rafael mungkin tidak akan pernah bangun lagi, atau mengalami kelumpuhan permanen.”Gabby merasa kakinya lemas, ia nyaris ambruk jika Alessia tidak mendekapnya. Namun, di tengah keputusasaan itu, seorang perawat keluar dan mengatakan bahwa Rafael ingin bertemu dengan Leonardo Deveroux. Sendirian.Di dalam ruang isolasi yang dingin, Rafael terbaring dengan berbagai alat penunjang hidup.Napasnya pendek, namun matanya terbuka, menatap langit-langit dengan kesadaran yang dipaksakan. Saat pintu terbuka dan Leo
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 229. Kondisi yang Membuat Leonardo sedikit LuluhHari-hari berikutnya setelah amukan Leonardo di aula besar menjadi periode yang paling sunyi sekaligus paling tegang dalam sejarah kediaman Deveroux.Rafael, yang menyadari bahwa kekuatan finansial dan kemarahan tidak akan mampu meruntuhkan benteng pertahanan Leonardo, mengubah taktiknya menjadi “serangan lembut”.Dia tidak lagi datang dengan pengawal atau tuntutan hukum, melainkan dengan kerendahan hati yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun dari seorang Dirgantara.Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, sebuah kiriman tiba di gerbang utama.Bunga peony putih langka yang sangat segar untuk Alessia, bunga kesukaannya yang hanya tumbuh di dataran tinggi tertentu dan satu kotak cerutu Cohiba Behike yang sudah tidak diproduksi lagi untuk Leonardo.Setiap kiriman disertai kartu kecil dengan tulisan tangan Rafael yang rapi namun tegas: “Aku tidak meminta harta Anda, aku hanya meminta kesempatan untuk menjadi ayah yang baik.”Alessia mulai luluh. Dia sering menatap bunga-bung
Last Updated: 2026-02-08
Chapter: 228. Kemarahan LeonardoPagi itu, sinar matahari yang hangat menyapu halaman depan kediaman Deveroux, menciptakan pemandangan yang seharusnya menjadi potret kedamaian.Rafael sedang berdiri di dekat air mancur, menggendong Bianca yang tertawa riang sambil menceritakan tentang proyek sains sekolahnya.Rafael menatap putrinya dengan binar mata yang penuh pemujaan, sementara Bianca melingkarkan lengan mungilnya di leher sang ayah, merasa benar-benar aman untuk pertama kalinya.Namun, kedamaian itu pecah berkeping-keping saat suara deru mesin mobil Mercedes-Maybach hitam berhenti mendadak di depan gerbang. Pintu terbuka bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.Leonardo Deveroux melangkah keluar dengan aura yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. Tongkatnya yang berujung perak menghantam aspal dengan bunyi dentuman yang mengancam.Leonardo seharusnya masih berada di Singapura untuk pertemuan dewan direksi selama tiga hari lagi.Namun, laporan dari intelijen pribadinya tentang apa yang terjadi di paviliun sema
Last Updated: 2026-02-08