LOGINAlessia, 21 tahun, tak pernah membayangkan satu malam di pesta sahabatnya akan mengubah segalanya. Di balik dentuman musik dan cahaya temaram, ia bertemu pria matang yang memikatnya sejak pandangan pertama—Leonardo, ayah sahabatnya sendiri. Setiap tatapan tajam dan senyum tenang dari pria berusia 43 tahun itu membuat Alessia gugup sekaligus terjerat dalam pesona berbahaya. Perlahan, godaan berubah menjadi hasrat, dan kehadiran Leonardo menjadi candu yang sulit ia lepaskan. Namun, tepat saat hubungan terlarang itu mulai bersemi, masa lalu terungkap bak badai—mengguncang segalanya dan memaksa Alessia memilih antara cinta atau kehancuran. Mampukah keduanya melawan takdir atau justru menyerah pada luka yang tak pernah sembuh?
View More“Alessia! Kau harus ikut menari dengan kami. Kapan kau akan punya pacar kalau terus menyendiri di sini?!” teriak Gabby sambil menggenggam tangan pacarnya.
Alessia tertawa sambil melambaikan tangan. “Nanti saja, nikmati malammu dulu. Aku akan jadi penonton setia.”
Bagi sebagian besar yang hadir, pesta ulang tahun ke-21 Gabby Bianchi terasa sempurna.
Hidangan mewah tersaji di setiap meja, bunga-bunga mawar putih memenuhi sudut ruangan, dan semua orang berpakaian glamor seolah tengah menghadiri acara bangsawan.
Namun di sudut ruangan, Alessia Romano, 21 tahun tengah berdiri dengan segelas jus jeruk di tangannya.
Gaun hitam sederhana yang dia kenakan memang tidak terlalu mencolok, tapi itulah dirinya—tidak pernah merasa nyaman berada di pusat perhatian.
Senyumnya muncul setiap kali menatap Gabby, sahabat dekatnya sejak SMA, yang kini tampak bersinar bak putri di panggung malam itu.
Itu sudah cukup baginya. Alessia tidak terbiasa dengan pesta besar semacam ini.
Hidupnya sederhana: kuliah, pekerjaan paruh waktu di toko buku, dan sesekali nongkrong bersama Gabby.
Berada di tengah kemewahan rumah besar keluarga Bianchi membuatnya merasa seperti tamu asing di dunia lain.
“Hey, Alessia!”
Thomas—teman kampusnya berdiri terlalu dekat hingga aroma parfum menyengat ke hidungnya. “Kau sendirian? Sayang sekali di pesta sebesar ini hanya duduk menyendiri.”
Dia lalu tersenyum genit dan matanya menelusuri gaun hitam Alessia. “Jangan bilang kau belum punya pasangan, hm? Mau aku temani?” godanya lagi.
Alessia menahan diri agar tetap ramah. “Terima kasih. Tapi aku tidak mau,” ucapnya menolak ajakan dari teman kampusnya itu.
Tapi Thomas tidak mundur. Dia justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat menatap Alessia dengan sorot mata yang membuat gadis itu kaku di tempat.
“Ayo, menari sebentar. Sekali ini saja, buat kenangan di malam pesta meriah ini,” ajak Thomas sekali lagi dengan nada yang memaksa di ujung kalimatnya.
Tangannya terulur hendak menyentuh pergelangan Alessia. Sentuhan itu membuat tubuh Alessia menegang refleks, dan jantungnya berdetak lebih cepat karena rasa tidak nyaman yang menyelinap seperti arus dingin di balik gaun tipis yang dia kenakan.
“Thomas, tolong jangan—” ucapnya lirih, hampir tenggelam di antara riuh musik pesta.
Namun genggaman pria itu justru menguat, seolah dia berhak menentukan gerak Alessia.
Napas Alessia tersengal. Dia merasakan telapak tangan Thomas yang kasar di kulitnya, dan tiba-tiba seluruh suasana pesta—lampu-lampu gantung yang berkilau, tawa tamu undangan, alunan musik—terasa begitu jauh dan memuakkan.
Dia mundur beberapa langkah, berusaha melepaskan diri. Hatinya berdebar panik, perutnya mengeras oleh rasa muak dan takut yang berbaur jadi satu.
Pandangannya berkeliling, mencari sosok yang bisa menolong, tapi semua orang tampak sibuk dengan kebahagiaan mereka.
Namun perasaan panik berubah menjadi sesuatu yang lain ketika matanya—entah karena dorongan apa, menangkap sosok pria di dekat balkon.
Pria itu berdiri agak jauh dari keramaian, tubuh yang tegap dibalut jas hitam elegan.
Garis rahang yang tegas, rambut gelap sedikit beruban di sisi, dan sorot mata dingin yang mengamati pesta dari balik gelas anggur merah.
Tapi semakin dia berusaha mengalihkan perhatian, semakin matanya kembali ke arah pria dewasa itu. Tatapan pria itu begitu tajam, seolah sedang mengamatinya dan Thomas dari sisi yang lain, hingga membuat Alessia menelan ludah dengan gugup.
“Thomas, lepaskan aku,” katanya mencoba mengalihkan pandangannya dari pria dewasa itu dan kali ini dengan nada lebih tegas, meski suaranya masih bergetar.
Sebelum dia sempat menarik tangannya, suara berat terdengar dari belakang.
“Dia sudah bilang tidak mau, anak muda.”
Nadanya begitu datar tapi cukup untuk membuat Thomas langsung melepaskan genggaman itu. Sontak Alessia menoleh ke arah suara dingin itu.
Pria itu … yang sedari tadi Alessia lihat dan kini sudah di depan matanya?
Leonardo berdiri di samping Alessia seraya menatap Thomas dengan sorot dingin yang membuat udara di sekitarnya berubah tegang.
“Paman … Paman Leo, aku hanya bercanda.”
“Bercandamu sangat buruk,” balas Leonardo dengan pelan. “Kau diundang ke pesta bukan untuk memaksa seseorang yang tidak ingin bersamamu.”
Thomas hanya mengangguk-angguk dengan raut wajah takut lalu cepat-cepat pergi dari sana.
Alessia masih mematung tapi napasnya terasa memburu. Leonardo menatapnya, lalu mendekat setengah langkah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya dengan nada rendah, lebih lembut daripada yang dia kira.
“A-aku … ya, hanya kaget,” jawabnya pelan.
Namun sebelum sempat mundur, sepatu hak tinggi Alessia tersangkut ujung karpet. Sehingga tubuhnya kehilangan keseimbangan dan—
“Ah!”
Dalam sekejap, lengan Leonardo menangkap pinggangnya.
Dunia seakan berhenti berputar.
Tubuhnya nyaris menempel di dada pria itu. Ia bisa merasakan degup jantungnya yang begitu tenang, stabil, kontras dengan miliknya yang sedang kacau.
Aroma wine dan cologne maskulin menguar lembut di udara. Tatapan mereka bertemu lagi dan kali ini lebih dekat.
Waktu seakan membeku di antara jarak yang hanya beberapa senti.
“Berhati-hatilah, Alessia,” ucap Leonardo dengan suara dinginnya.
Alessia mengadahkan kepalanya dengan kening mengkerut. “Ka-kau tahu namaku?” gumamnya pelan.
“Ya. Kau sahabat Gabby, tentu saja aku tahu namamu.”
Alessia menelan ludahnya menatap Leonardo dengan tubuh yang masih tegang sembari menahan degup jantungnya yang tak karuan.
“Terima kasih … Paman,” katanya nyaris tak terdengar.
Senyum tipis muncul di bibir pria itu, nyaris tidak terlihat tapi cukup membuat napasnya tersangkut.
“Panggil saja Leonardo,” ucapnya seraya menatap lebih lekat wajah Alessia.
Saat itulah, suara ceria memecah suasana.
“Papa!”
Gabby berlari dari arah dalam dengan gaun putih yang berkilau. “Papa, kau di sini rupanya! Aku mencarimu, tahu!”
Alessia langsung menegakkan tubuhnya, seperti baru tersadar dari mimpi.
Papa?
Kata itu menggema di kepalanya.
Gabby menyelip di antara mereka dan merangkul lengan Leonardo. “Aku ingin memperkenalkan Papa ke teman-temanku—oh! Kau sudah bersama Alessia rupanya!”
Alessia tersenyum kikuk sambil mencoba menutupi wajah panasnya.
Leonardo hanya menatapnya sekilas lalu berkata dengan nada datar, “Kami hanya berbicara sebentar.”
“Oh! Ayo, aku ingin mengenalkanmu pada yang lain.”
Namun saat Gabby menarik ayahnya kembali ke aula, Alessia masih berdiri kaku di tempat. Tak mampu menenangkan dadanya yang masih berdegup keras.
Tangannya menyentuh bagian gaun yang tadi sempat disentuh oleh Leonardo, dan entah kenapa … rasanya seolah sentuhan itu masih tertinggal di sana.
“Jadi, pria itu ayahnya Gabby?!”
Pagi itu matahari sudah naik cukup tinggi ketika bel pintu rumah Gabby berbunyi.Suara itu membuat Gabby yang sedang duduk berselonjor di sofa langsung berdiri seolah tersengat listrik. Jantungnya berdegup lebih cepat, firasatnya mendadak bercampur antara harap dan cemas.Ia melangkah cepat menuju pintu.Begitu pintu terbuka, sosok Anthony berdiri di sana dengan setelan rapi seperti biasa, wajahnya tenang namun matanya menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.“Paman!” seru Gabby spontan. “Bagaimana? Apakah Alessia sudah bisa dibujuk?”Anthony mengangkat satu alisnya, lalu menggaruk kening pelan, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia sedang berpikir keras atau kebingungan. Ia tidak langsung menjawab, membuat Gabby semakin gelisah.“Sepertinya,” ucap Anthony perlahan, “Tuan Leonardo ada di kostan Nona Alessia.”Gabby membeku.“Apa?” Ia mengerutkan kening. “Paman yakin Papa ada di kostan Alessia? Bukan di hotel?”Anthony mengangguk pelan. “Saya sudah mengecek kamar hotelnya pagi
“Aku merindukanmu, Alessia,” bisiknya dengan suara seraknya. Sementara Alessia hanya menatap Leonardo, tak ingin mengakui bahwa dia pun sangat merindukan lelaki itu.“Sudah malam, sebaiknya masuk ke kamarmu, Alessia.” Leonardo menjulurkan tangannya berharap Alessia mau dia gandeng dan mengantarnya ke kosan wanita itu.Dan tidak disangka rupanya Alessia mau. Dia membalas uluran tangan itu dan Leonardo menggenggamnya.Keduanya berjalan menuju kamar kos Alessia. Ketika tiba di sana, Leonardo berdiri kaku di hadapan Alessia.“Ale—”Belum sempat Leonardo melanjutkan, Alessia sudah menarik tangan Leonardo dan membawanya masuk ke dalam kamar.“Aku juga merindukanmu, Leo.”Leonardo menghela napas panjang, tapi tak mampu lagi menahan diri.Dia lantas meraih pinggang Alessia, menariknya rapat ke tubuhnya, lalu mencium bibirnya keras dan tanpa aba-aba. Alessia mendesah, tubuhnya terhuyung, tapi dia membalas dengan semangat yang sama, bahkan lebih.Ciuman itu liar, terburu-buru, penuh rindu yan
Malam itu angin laut bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa desau yang berat, seperti sedang menggedor dada Alessia.Dia terbangun dari tidurnya dengan napas terputus-putus, kulitnya basah oleh keringat dingin, dan jantung berdebar seakan mencoba merobek tulang rusuknya.Mimpi itu datang lagi, mimpi tentang suara tembakan yang membabibuta menghantam ayahnya.Panik menelannya mentah-mentah. Alessia meraba dadanya, tapi tekanan itu tidak mereda.Dia butuh udara.Dengan langkah gemetar, dia keluar dari kost dan berjalan tanpa arah, hanya mengikuti insting untuk mencari ruang terbuka.Tanpa sadar, dia tiba di pinggir pantai yang gelap, hanya diterangi lampu-lampu jalan dari kejauhan. Ombak pecah berkali-kali, tapi suara itu justru menambah pusingnya.Alessia terduduk di pasir. Bahunya naik turun, napasnya serak, dan matanya berair.“Tidak, tidak lagi, tolong berhenti,” bisiknya pada tubuhnya sendiri.Tapi panic attack tidak pernah mendengarkan permintaan seseorang.Di sisi lain jala
Pagi itu udara masih lembap setelah hujan tipis dini hari. Burung-burung belum berkicau keras, dan matahari baru muncul sebagai garis tipis di balik gedung-gedung rendah di sekitar kostan Alessia.Suasana masih tenang—setidaknya seharusnya begitu.Namun ketenangan Alessia hancur seketika saat ia membuka pintu pagar kecil kostannya.Leonardo ada di sana berdiri kaku, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai semalam.Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya lelah, dan sorot matanya kosong namun penuh tekad. Dia tampak seperti seseorang yang tidak tidur sama sekali.Alessia berhenti di depan pagar. Helaan napas panjang lolos dari bibirnya.“Tentu saja,” gumamnya lirih. “Semalam kau mengikutiku, dan pagi ini kau sudah di sini lagi.”Leonardo mengangkat wajah dan pandangannya langsung tertuju pada Alessia seperti seseorang yang menemukan satu-satunya sumber hidupnya.“Alessia …,”Alessia membuka pintu pagar dan melangkah keluar. Dia berdiri berhadapan dengan Leonardo, menjaga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews