登入"KAU BOHONG!" Dia mendorongku. Bukan dengan tangan—tapi dengan suaranya. Suara itu menghantam dadaku seperti palu. Aku jatuh terduduk di tanah kerikil yang kasar. Telapak tanganku lecet. "KAU BOHONG PADA DIRIMU SENDIRI, LYLIA!" Arion melayang di atasku. Sayap hitamnya mengembang penuh. Sekarang aku bisa melihat mata-mata di ujung sayap itu—bukan sekadar hiasan. Mereka berkedip. Mereka melihatku. Dan di setiap pantulan mata merah kecil itu, aku melihat diriku sendiri. Takut. Gemetar. Dan... basah. "Setahun lalu di istanaku, kau bilang 'tolong jangan'." Arion mengepalkan tangannya. Suaranya turun satu oktaf—menjadi bisikan yang justru lebih menakutkan. "Tapi tubuhmu bilang 'lagi'. Setiap kali aku menyentuhmu, kau merinding—bukan karena dingin. Setiap kali aku menjilat lehermu, kau mendesah—bukan karena sakit. Setiap kali—" "STOP!" "Setiap kali aku masuk ke dalammu—" "STOP STOP STOP!" Aku menutup telingaku. Tapi suaranya tetap masuk. Merayap. Menghantui. "—kau menangi
Tanganku menyentuh jemarinya. Dan dunia terbalik. BUKAN Arion yang kuraih—tapi ilusi. Tangan itu hancur menjadi kabut hitam di antara jemariku. Matanya yang merah menyala melebar—bukan karena terkejut, tapi karena gembira. "Kau pikir semudah itu?" Suaranya bergema dari segala arah. Dari langit. Dari tanah. Dari dalam dadaku. "Kau pikir aku akan membiarkanmu memilih?" Langit sore yang sedetik lalu masih kelabu, sekarang berubah hitam pekat. Bukan mendung. Tapi sayap. Ribuan sayap hitam menutupi cakrawala, mengepak perlahan, menciptakan angin yang meraung seperti nyanyian kematian. "Lylia, LEPASKAN!" Lark meluncurkan mantra dari balkon. Lingkaran biru membentang ke arah Arion—tapi malaikat jatuh itu hanya menepuknya. Sekali. Mantranya pecah menjadi jutaan serpihan biru yang berkilauan seperti kembang api. Kembang api yang mematikan. Serpihan-serpihan itu berubah arah. Kembali ke balkon. Kembali ke Lark. "TIDAK—" Arthur melompat. Tubuhnya yang kekar melesat ke depan ped
"Aku tidak akan lari lagi, Lark." Aku menggenggam tangannya yang memegang tongkat. "Aku lelah lari." Lapis kedua pecah. Bayangan abu-abu itu melayang masuk ke halaman kompleks. Sekarang aku bisa melihat lebih jelas—bukan manusia. Wajahnya pucat seperti lilin, matanya kosong hitam tanpa putih. Seperti boneka. Seperti seseorang yang jiwanya sudah dimakan habis. "Lylia." Suaranya serak, seperti dua pita suara berbicara bersamaan. "Tuanku mengirim salam." "Sampaikan salam balik. Aku tidak tertarik." Boneka itu tertawa. Suaranya bikin bulu kuduk merinding. "Dia bilang kau akan bersikap seperti itu. Jadi dia mengirim pesan." Boneka itu melangkah maju. Lapis ketiga—lapis terakhir—mulai bergetar. "Dia ingin kau tahu... bahwa mimpimu tadi malam bukan mimpi." Darahku membeku. "Apa maksudmu?" "Itu kunjungan, Lylia." Boneka itu tersenyum. Bibirnya pecah-pecah, berdarah. "Tuanku bisa memasuki mimpimu kapan pun dia mau. Dan tadi malam... dia bilang kau sangat responsif. Jauh lebih
Aku tersentak bangun. Bukan di meja pemurnian. Bukan di istana kristal hitam. Aku di kamar kos-kosan Lark—sofa lipatnya yang sempit, selimut tipis yang masih mengering dari jemuran kemarin, dan cahaya matahari pagi yang menyusup lewat tirai putih. Mimpi. Hanya mimpi. Tapi jantungku berdebar seperti mau copot. Leherku terasa basah—keringat, atau bayangan jilatan lidah Arion? Aku mengusapnya kasar. Dingin. Hanya keringat. "Lylia?" Lark duduk di kursi rodanya di dekat jendela. Bahunya diperban. Bekas luka tembakan cahaya putih gelap—luka yang dia dapat dua minggu lalu saat menyelamatkanku dari Arion. Luka itu nyata. Pertarungan itu nyata. Tapi aku selamat. Kami selamat. "Mimpi buruk lagi?" suaranya lembut. Aku mengangguk. Tidak bisa bicara. Mulutku terasa sepat seperti habis diminumi sesuatu—atau seseorang. Lark menarik kursi rodanya mendekat, tangannya yang hangat menggenggam tanganku yang dingin. "Dia tidak akan menemukan kita di sini. Batas wilayahnya sudah kujaga dengan tiga
"Halo, mutiaraku." Suaranya merdu tapi mengancam. "Sudah lama tidak bertemu." "JANGAN DEKATI DIA!" Lark mencoba bangkit, tapi kedua kakinya lumpuh entah sejak kapan. "Diam, penyihir. Ini urusan pribadi." "Lark, lari..." bisikku gemetar. "Dia... dia tidak normal..." "Tidak normal?" Arion tertawa. "Kau dulu bilang aku menyihir. Saat kau bergeming di atas meja pemurnian itu, ingat? Saat kau berbisik 'tolong' dengan suara sekecil itu?" Dia melangkah masuk, sayap hitamnya menyeret di lantai kayu, meninggalkan bekas hangus. "Kau... kau sudah kukenal, Lylia." Arion mengangkat tanganku, membalikkannya melihat pergelangan yang dulu pernah diborgolnya. "Kulitmu sama mulusnya. Matamu sama ketakutannya. Wangimu..." Dia menghirup dalam-dalam. "...sama manisnya." "LEPASKAN DIA!" Lark merangkak ke arah kami, tangan kirinya meraih tongkat yang jatuh. Arion tanpa menoleh, mengangkat satu jari. Cahaya putih gelap menembus bahu Lark. Sekali. Dua kali. "LARK!" "Dia masih hidup. Untuk saat ini.
"TIDAK PERNAH?" Lark terbatuk dari lantai. "Bekas di lehernya... memar di pergelangan tangannya... kau bilang itu tidak pernah?" Arthur membisu. "Aku melihat semuanya saat kau membawanya tadi malam," lanjut Lark pelan. "Dia menggigil, Arthur. Bukan karena dingin. Tapi karena ketakutan. PADAMU." "Aku..." Arthur mundur selangkah. Untuk pertama kalinya, raja iblis itu tampak goyah. "Aku tidak... aku hanya ingin melindunginya..." "Dengan memaksanya?" Kael berdiri di balkon, tubuhnya roboh di pintu. "Itu bukan perlindungan. Itu PENJARA." "DIAM KALIAN BERDUA!" Arthur berteriak, tapi suaranya pecah. "KALIAN TIDAK TAHU APA-APA!" "Kami tahu, Arthur." Lark menatapnya lurus. "Kami tahu karena kami juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi setidaknya... setidaknya kami TAHU itu salah." Ruangan hening. Aku terdiam di tengah. "Kalian... kalian semua..." Aku menggigit bibir. "Kalian memperlakukanku seperti barang. Seperti takhta yang bisa direbut." "Bukan begitu, Lylia—" Kael mencob







