LOGINDi hari ulang tahun pernikahannya, Naraya justru resmi bercerai setelah suaminya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Lebih menyakitkan lagi, hak asuh putra mereka jatuh ke tangan sang mantan. Saat Naraya datang seorang diri ke restoran untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, seorang pria muda asing yang tampan tiba-tiba berlutut di hadapannya. “Sayang, menikahlah denganku.” Siapa sebenarnya pria muda itu, dan mengapa dia tiba-tiba melamar seorang janda seperti Naraya?!
View More“Sayang, apa kau bersedia menikah denganku?”
Andai Naraya merupakan seorang wanita yang telah lama menunggu lamaran kekasihnya, mungkin dia akan sangat bahagia dengan kalimat itu, terlebih lagi ketika pria yang berlutut di hadapannya memiliki paras menawan dengan sepasang manik hitam yang menghipnotis.
Tapi—
“Sayang, kenapa tidak menjawab? Apa kau … menolakku?” tanya pria itu dengan khawatir bercampur sedih.
“Sepertinya sang nona begitu terkejut sampai tidak bisa bersuara!” ujar MC restoran dengan tawa canggung.
Tak cukup sampai di situ, tamu lain ikut menyoraki, “Terima sajalah, Nona! Kekasihmu begitu tampan, apa lagi yang kau ragukan?!”
Apa masalahnya?
Jika Naraya bisa berseru keras, dia ingin menjawab bahwa masalahnya … dirinya adalah seorang wanita yang pagi tadi baru saja sah bercerai dengan suaminya.
Dia adalah wanita yang sejak tadi pagi menyandang status sebagai seorang janda.
Dan bukan hanya itu, dia adalah wanita … yang sama sekali tidak mengenal pria muda tampan di hadapan, tapi berujung dilamar di depan umum!
Jadi, tolong katakan, bagaimana bisa Naraya menerima lamaran pria tersebut?!
***
Sesaat sebelumnya.
“Wah, kau terlihat cantik sekali memakai gaun itu!” puji Maya saat melihat Naraya berdiri di depan cermin besar di sudut kamarnya, membuat Naraya tersenyum tipis.
“Terima kasih,” balasnya singkat.
Melihat senyum lemah sahabatnya, Maya tersenyum lembut. “Duduk dulu di sini, aku akan meriasmu.”
Duduk di depan meja rias, Naraya hanya diam mengamati pantulan dirinya. Gaun berwarna biru gelap yang elegan itu membalut tubuhnya dengan sempurna, tetapi … hatinya yang hampa membuat kesedihan tergambar jelas di wajahnya.
Pagi tadi, Naraya baru saja bercerai secara sah dengan suaminya. Setelah dua belas tahun membangun rumah tangga hingga mendapatkan seorang putra, Naraya berujung harus mengakhiri pernikahannya di pengadilan karena perselingkuhan sang suami dengan wanita lain.
Tidak cukup dia kehilangan statusnya sebagai seorang istri, tapi dua hari sebelum putusan pengadilan dibacakan, Naraya juga harus terima ditendang keluar dari rumahnya sendiri dan dipisahkan secara paksa dengan putranya oleh sang ibu mertua. Semua karena hak asuh jatuh ke tangan sang mantan suami.
Naraya masih ingat jelas kalimat yang terakhir dilontarkan sang suami sebelum menutup pintu rumah itu di depan mukanya.
“Karena kamu yang memilih untuk bercerai, maka kamu juga yang harus menanggung akibatnya.”
Menutup mata sesaat, Naraya menarik napas dalam.
Jika Maya, sahabat dekatnya sejak sekolah menengah, tidak datang menjemputnya usai kejadian itu, Naraya bahkan tidak tahu harus pergi ke mana. Dia tidak mungkin pulang ke keluarganya, terutama karena bagi mereka, perceraian adalah aib yang merusak reputasi keluarga.
Selesai dirias, Naraya bisa mendengar Maya menghela napas keras selagi menatapnya kagum.
“Sial, bodoh sekali mantan suamimu itu,” ucap Maya. “Sudah punya istri secantik dan sebaik dirimu, tapi malah memilih berselingkuh dengan wanita jahat itu.”
Naraya mencoba menenangkan Maya dengan menepuk pelan lengan wanita itu. “May…”
“Biarkan aku mengumpat!” balas Maya. Jujur saja, dia masih kesal setiap kali mengingat ekspresi mantan suami Naraya serta selingkuhannya yang menjijikan itu. “Selama ini, kalau bukan karena dirimu, mereka kira mereka bisa hidup enak dan mencapai posisi sekarang?! Sungguh pasangan tidak tahu malu!”
Naraya hanya bisa diam menghela napas. Lagi pula, temannya itu benar.
Dulu, ketika mantan suaminya itu belum memiliki apa-apa, Naraya menggunakan uangnya sendiri untuk menopang hidup mereka dan membantunya membangun karier.
Wanita yang menjadi selingkuhannya pun dahulu berkali-kali menerima pertolongan Naraya dan diperlakukan seperti saudara sendiri.
Namun, dua orang yang paling banyak menerima kebaikannya justru membalas semua itu dengan pengkhianatan.
“Kalau karena ucapanmu aku jadi menangis dan merusak riasan, jangan salahkan aku, ya?” goda Naraya, membuat Maya memasang wajah ngeri.
“Jangan! Oke, oke! Aku stop di sini,” dengusnya, membuat Naraya tertawa. “Yang penting, malam ini pastikan dirimu bersenang-senang dan lupakan pria bajingan itu, oke?!” Lalu, Maya menyenggol pundak Naraya dengan sikunya dan tersenyum nakal. “Siapa tahu keberuntungan mendadak datang padamu?”
Naraya memutar bola mata. “Keberuntungan macam apa yang bisa mendatangi seorang wanita janda yang baru bercerai?”
Maya berkacak pinggang. “Mana kutahu, mungkin kau akan menemukan dompet berisi uang satu miliar atau ditaksir pria dengan aset triliunan? Restoran itu ‘kan terkenal didatangi banyak pejabat,” balasnya, membuat Naraya tertawa kecil.
“Sudah, kita jangan buang waktu lagi. Sisa setengah jam sebelum waktu reservasimu, aku siap-siap dulu. Lima menit!” seru Maya dengan semangat seraya langsung pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Menunggu Maya, Naraya sekali lagi melihat dirinya di depan cermin. Walau segelintir lelah masih terlihat, tapi setidaknya dia tidak terlihat seperti wanita yang baru saja bercerai.
Dia pun menarik napas panjang.
Semua akan segera berlalu.
Dan ini … adalah awalannya.
***
"Nara, sudah sampai."
Tepukan lembut di bahunya membuat Naraya tersadar dari lamunan panjangnya. Dia memandang keluar jendela dan melihat bangunan bertingkat yang menjulang di hadapannya.
Restoran yang ditujunya berada di lantai paling atas.
"Terima kasih, May."
Maya tersenyum tipis. “Jaga diri selama aku pergi. Kalau rindu, telepon saja. Tapi lusa aku sudah pulang sih.”
Ucapan itu berhasil membuat sudut bibir Naraya sedikit terangkat. “Ada-ada saja kamu,” balasnya, membuat Maya menjulurkan lidah jahil. "Hati-hati di jalan ya, aku pergi dulu."
“Oke!”
Setelah mobil Maya menghilang dari pandangan, Naraya mendongak menatap bangunan di depannya.
Dadanya kembali terasa sesak.
Seharusnya dia datang ke tempat ini bersama suaminya. Seharusnya mereka duduk berhadapan, mengenang dua belas tahun pernikahan, lalu membicarakan masa depan putra mereka.
Namun, malam ini Naraya datang seorang diri.
Dia menggenggam tasnya erat sebelum melangkah masuk ke dalam gedung hingga mencapai lantai restoran. Di sana, dia disambut dan diantar oleh seorang pelayan menuju meja yang telah dipesan.
Duduk diam di kursinya, tatapan Naraya terpaku pada kursi kosong di hadapannya, pikirannya kembali mengembara pada semua hal yang baru saja menghancurkan hidupnya.
Di saat yang sama, suara percakapan, dentingan gelas, bahkan alunan musik yang memenuhi ruangan bisa terdengar, tapi jauh, seolah hanya menjadi latar yang tidak mampu menariknya kembali ke dunia nyata.
Naraya tidak tahu berapa lama dia tenggelam dalam pikirannya, hingga tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari sisi lain restoran.
Dia melihat sekeliling, lalu menyadari kemunculan seorang MC yang membicarakan tentang kejutan khusus dari seorang pria untuk pasangannya.
Kemudian, lampu sorot mendadak diarahkan kepada seorang pria di tengah ruangan.
Tubuh pria itu tinggi dan tegap, dengan wajah tampan dan sorot mata tajam yang sulit diabaikan. Dibalut setelan hitam dan aura dominan, sosok pria itu patut diakui Naraya sangat menawan.
‘Apa dia akan melamar kekasihnya?’ pikir Naraya sembari tersenyum, sedikit mengenang masa-masa sang mantan suami pernah melakukan hal yang sama untuknya.
Masa ketika cinta mereka masih begitu murni.
Namun, semakin diperhatikan, Naraya sadar akan satu hal.
Kenapa… pria itu berjalan semakin dekat ke arahnya?
Berpikir itu hanya perasaannya, Naraya hanya diam. Sampai akhirnya, pria itu berhenti tepat di hadapannya.
Naraya tersenyum canggung. “Uhm… Tuan, apa yang—”
Sebelum Naraya sempat menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba pria itu berlutut dengan satu kaki dan membuka kotak kecil berisi cincin berlian besar ke arah Naraya.
“Sayang, apa kau bersedia menikah denganku?”
!!!???
Ah?!
Nama itu membuat perubahan pada wajah Kaivan semakin terlihat.Sorot matanya berubah dingin, sedangkan garis rahangnya tampak mengeras. Pria itu tidak mengatakan apa pun, tetapi Naraya dapat merasakan genggaman tangannya perlahan mengencang.Bukan sampai menyakitkan, tetapi cukup untuk memperlihatkan bahwa nama Nikata memberikan pengaruh yang besar kepadanya.Naraya menatap sisi wajah Kaivan dengan hati-hati. Nama itu tidak sepenuhnya asing baginya.Naraya pernah melihatnya tercantum dalam dokumen yang ditandatanganinya setelah lamaran di restoran. Pada saat itu, dia tidak terlalu memikirkan siapa pemilik nama tersebut karena pikirannya sudah dipenuhi terlalu banyak persoalan.Namun, sekarang Naraya mulai menghubungkan semuan
Naraya tidak segera melanjutkan jawabannya.Tentu saja dia tahu bagaimana rasanya memiliki seorang anak. Terlebih lagi, dia juga mengetahui betapa menyakitkannya ketika dipisahkan secara paksa dari anak yang telah dilahirkan dan dirawat dengan penuh kasih sayang.Namun, dalam hubungan yang hanya berupa sandiwara ini, Naraya tidak mungkin mengungkapkan identitasnya kepada Nenek Kaivan.Lagi pula, sekalipun hubungannya dengan Kaivan nyata, mungkinkah keluarga Wiranata menerima seorang janda yang telah memiliki anak sebagai bagian dari keluarga mereka?Latar belakang mereka terlalu berbeda. Jangankan kedudukan keluarganya, kehidupan Naraya bahkan tidak dapat dibandingkan dengan orang-orang yang hadir di ruangan ini.Naraya menun
Begitu memasuki aula, Naraya langsung menyadari bahwa dirinya sedikit meremehkan besarnya acara malam itu.Ruangan tersebut dipenuhi orang-orang dengan pakaian resmi. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya keemasan, berpadu dengan rangkaian bunga putih dan biru yang menghiasi setiap sudut. Di bagian depan terdapat panggung besar dengan lambang Asterion Healthcare Group terpampang di tengahnya.Beberapa layar menampilkan informasi mengenai program bantuan pengobatan bagi anak-anak penderita kanker dari keluarga kurang mampu.Naraya sempat memperlambat langkah.Untuk pertama kalinya sejak datang, dia benar-benar memahami alasan acara tersebut diselenggarakan.“Ini acara penggalangan dana?” tanyanya pelan.Kaivan mengangguk. “Asterion mengadakannya setiap tahun.”“Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membiayai pengobatan anak-anak di beberapa rumah sakit milik Asterion,” tambah sang nenek. “Termasuk Crown Medical Center.”Naraya memperhatikan foto-foto anak
Kalimat itu membuat dada Naraya terasa menghangat.Dia tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu dari Nenek Kaivan. Perhatian wanita tersebut terasa begitu tulus, seolah-olah Naraya benar-benar sudah dianggap sebagai bagian dari keluarganya.“Terima kasih, Nek,” ucap Naraya pelan.Nenek Kaivan tersenyum tipis. “Tidak perlu berterima kasih. Mulai sekarang, kau tidak sendirian.”Ucapan itu seharusnya membuat Naraya merasa bahagia. Namun, di saat bersamaan, rasa bersalah justru menyusup ke dalam hatinya.Bagaimana jika suatu hari nanti Nenek Kaivan mengetahui bahwa hubungannya dengan Kaivan tidak pernah nyata?Naraya tidak sanggup membayangkan kekecewaan yang mungkin muncul di wajah wanita itu. Karena itu, dia memilih mengabaikan pikirannya dan menikmati kebaikan yang diterimanya hari ini.Lagi pula, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya.Diam-diam Naraya merekam setiap pengalaman tersebut di dalam kepalanya. Mulai dari ruang perawatan pribadi, paka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews