로그인Malam panas bersama Daren Rajendra, Devya tak bisa lari dari pria yang kini terus mengejarnya meski Devya sudah memberitahu bahwa dia hanyalah seorang janda. Namun, siapa sangka Daren tak peduli dengan status Devya hingga akhirnya meyakinkan Devya terus menerus bahwa dia serius dengannya. Lantas, apa yang akan Devya lakukan
더 보기"Ugh!"
Kesadaran mereka terkunci oleh alkohol yang mereka minum. Malam itu, di bawah temaram kamar yang asing, Rejandra Christian Daren menyatukan porosnya dengan seorang wanita yang bahkan tidak ia kenali namanya, Arawinda Devya Jovanka.
Didorong kepungan hasrat yang membakar, Daren bergerak dominan, menuntut setiap jengkal penyatuan dengan intensitas yang kian memuncak.
"You look so amazing, Baby..." geram pria berusia dua puluh sembilan tahun itu di dekat ceruk leher sang wanita, tenggelam dalam kepuasan yang mengubur akal sehatnya.
"Hentikan... Argh..." Devya melenguh samar. Tubuhnya bergetar hebat, terperangkap di antara sensasi asing dan dominasi sepihak yang dipaksakan malam itu.
"Sebutkan namamu, Baby. Kamu sangat luar biasa..." bisik Daren serak, mengabaikan penolakan lirih sang wanita dan terus menuntaskan insting liarnya hingga puncaknya tercapai.
Satu jam badai itu berlalu. Di bawah sisa pengaruh alkohol, keduanya ambruk karena kelelahan, tertidur lelap tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.
Jarum jam sudah menunjuk angka sembilan pagi ketika Devya pertama kali membuka mata. Kepalanya berdenyut menyengat, dan seluruh persendiannya terasa remuk.
"Aduh..." keluhnya lirih sembari memegangi pundaknya yang kaku.
Saat mencoba bergerak, sebuah lengan kekar yang melintang di pinggangnya mendadak mengetat. Devya tersentak hebat.
Kesadarannya langsung pulih sepenuhnya saat menoleh ke samping.
"Aaaaaa!!"
Pekikan Devya menggema. Ia mendapati seorang pria asing tengah tertidur pulas di sebelahnya.
Menyadari dirinya sendiri dalam kondisi tanpa busana, dengan panik ia menarik selimut tebal untuk membungkus tubuhnya hingga sebatas dada.
Daren melenguh terganggu. Ia lalu membuka matanya, menguceknya perlahan, lalu menatap langit-langit kamar dengan kening berkerut.
"Di mana ini...?" ucapnya serak khas bangun tidur.
Begitu kesadarannya terkumpul, Daren menoleh ke samping dan mendapati Devya yang menatapnya penuh permusuhan.
Daren mendengus pelan. "Oh. Kamu perempuan yang disewa Anton buat nemenin aku semalam? Maaf, aku terlalu mabuk sampai lupa kasih tip,” ucapnya santai.
Wajah Devya memerah menahan amarah. "Jaga bicara kamu! Saya bukan perempuan sewaan!"
Daren terkekeh sinis, menganggap reaksi itu hanya bagian dari sandiwara. "Kenapa setelah menyerahkan semuanya semalam, sekarang kamu mendadak berlagak suci?"
"Dengar ya," ucapnya menatap tajam Daren, "kamu salah orang. Saya tidak pernah, dan tidak akan pernah menjual diri saya kepada siapa pun!"
Daren menumpu tubuhnya dengan satu sikut, menatap Devya dingin.
"Kalau begitu, kenapa kamu bisa ada di ranjangku, huh? Sudahlah, jangan buang waktu dengan mengelak. Tunggu di sini, aku mau mandi dulu."
Tanpa beban, Daren beranjak dari tempat tidur. Langkahnya masih agak gontai akibat sisa alkohol semalam, namun postur tubuhnya yang tegap memperlihatkan otoritas yang kuat saat ia melangkah masuk ke kamar mandi.
Devya mencengkeram selimutnya erat-erat, meremasnya hingga buku-buku jarinya memutih. Nggak. Ini nggak mungkin. Ia menatap bercak di atas seprai dan tubuhnya yang dipenuhi tanda kemerahan.
Rasa pening di kepalanya membuat ingatan semalam terasa buram. Dia tahu dia kesepian, tapi terjebak di kamar ini dengan pria asing? Ini di luar nalarnya.
"Sial, aku terlalu mabuk semalam sampai tidak ingat apa-apa," rutuknya pada diri sendiri.
Sepuluh menit kemudian, Daren keluar hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Ia langsung berjalan menuju nakas dan meraih dompet kulitnya.
"Sebutkan saja nominalnya. Berapa yang kamu butuhkan?" tanya Daren kasual.
Devya menatap sengit wajah Daren. "Berapa kali saya harus bilang? Saya bukan pelayan laki-laki! Ini semua kesalahpahaman. Kamu yang lancang masuk atau menyeret saya ke sini!"
Daren kemudian menghentikan gerakannya, lalu menatap Devya dengan senyum meremehkan.
"Jelas-jelas semalam aku memesan wanita untuk kamar ini. Dan wanita itu kamu. Untuk apa menyangkal, hm?"
"Karena saya punya pekerjaan terhormat yang jauh lebih dari cukup untuk menghidupi saya! Jadi berhenti menganggap saya rendah!" potong Devya tajam.
Melihat kilat kemarahan yang tulus di mata Devya, Daren mulai merasa ada yang janggal. Ia pun menghela napas panjang, lalu meraih ponselnya untuk menghubungi asisten pribadinya.
"Selamat pagi, Pak Daren. Anda masih di kamar klub?" sapa Anton di ujung telepon.
"Anton, wanita di kamarku terus menyangkal kalau dia orang yang kamu sewa. Bagaimana ceritanya?" tanya Daren dengan nada mengintimidasi.
"Hah? Bagaimana bisa, Pak? Bukankah Anda masuk ke kamar nomor dua puluh?"
Daren mengernyit. Ia lalu melangkah mendekati pintu dan mengambil kartu akses yang tergeletak di meja, dan membaca nomornya.
"Nomor sembilan belas, Anton. Kamu tidak becus!" sentak Daren sambil melirik Devya yang masih menatapnya sengit dari balik selimut. "Lalu... siapa wanita yang ada di kamar ini?"
"Waduh! Maaf, Pak, kalau begitu Anda salah masuk kamar! Kamar Anda seharusnya di sebelah. Kemarin saya mau antar, Anda malah menolak—"
"Diam kamu."
Pip.
Daren mematikan sambungan telepon dengan gusar.
Suasana kamar mendadak hening. Daren membahasi bibirnya yang kering, mendadak merasa kikuk.
Kesombongannya runtuh seketika saat menyadari bahwa dialah pihak yang bersalah di sini.
"Maaf," ucap Daren pelan karena kehilangan nada meremehkan yang tadi sempat ia gunakan. "Aku salah masuk kamar. Aku... akan bertanggung jawab penuh atas apa yang terjadi semalam."
Devya tidak sudi mendengar kalimat itu.
Tanpa sepatah kata pun, ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dengan cepat, lalu melesat masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Daren yang terpaku.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Devya keluar dengan pakaian yang sudah rapi, meski rambutnya masih agak basah. Ia langsung menyambar tasnya di sofa.
"Daren. Namaku Rejandra Christian Daren,” katanya memperkenalkan diri.
Devya menghentikan langkahnya sejenak, dan menoleh dengan tatapan dingin. "So?"
"Aku cuma memperkenalkan diri. Nama kamu siapa?" tanya Daren, menuntut jawaban dengan tatapan intensnya.
"Kita tidak akan pernah bertemu lagi, jadi Anda tidak perlu tahu nama saya. Hari ini saya harus menghadiri grand opening toko sahabat saya," jawab Devya tegas dan lugas.
Tanpa memberi kesempatan bagi Daren untuk membalas, Devya memutar knop pintu dan melangkah pergi begitu saja.
Baginya, kesalahan satu malam ini harus dikubur dalam-dalam di ruangan ini.
Setibanya di rumah, Devya tiba melangkah dengan buru-buru kemudian mengembuskan napas lega begitu berhasil masuk ke dalam rumahnya yang sepi—tempat ia tinggal sendiri selama ini. Ia merasa aman sekarang.
Namun, ketenangannya pecah seketika saat sebuah suara berat menyambutnya dari arah kegelapan ruang tamu.
"Jam segini baru pulang?!"
Satu minggu telah berlalu sejak malam di mana Devya meminta waktu untuk berpikir. Namun, sepanjang tujuh hari itu pula, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari Rejandra Christian Daren.Pria itu tidak pernah lagi memunculkan batang hidungnya di butik, bahkan sekadar mengirim pesan singkat pun tidak. Nomor ponselnya yang disimpan Devya dengan nama 'Pelanggan Daren' tetap bersih tanpa notifikasi baru.Devya mendesah pelan, menumpu dagunya di atas meja kerja yang dipenuhi potongan kain brokat. Matanya menatap kosong ke arah layar ponsel yang gelap.Sial, untuk apa aku mengharapkannya? batin Devya.Kesadaran itu tiba-tiba menghantamnya seperti tamparan keras. Devya mendadak menegakkan punggung, memukul keningnya sendiri dengan kesal."Bodoh. Kamu benar-benar bodoh, Devya," rutuknya pada diri sendiri."Pria seperti dia mana mungkin serius. Dia pasti sudah bosan dan mencari wanita lain yang lebih tidak rumit. Kenapa kamu malah memikirkannya?"Devya menarik napas dalam-dalam, mencoba m
Devya tertegun sejenak. Keheningan malam di dalam butik itu mendadak terasa begitu pekat, menyisakan deru napas mereka yang saling berkejaran.Namun, sedetik kemudian, sebuah kekehan hambar lolos dari bibir tipisnya.Ia menggelengkan kepala seraya menatap Daren dengan pandangan yang sarat akan skeptisisme."Jatuh cinta?" Devya terkekeh pelan."Daren, kita baru bertemu beberapa hari yang lalu. Itu pun dalam situasi yang... kamu tahu sendiri, sangat kacau.“Kamu terlalu cepat menyimpulkan perasaanmu. Apa semua pria mapan dan impulsif seperti kamu selalu mengira ketertarikan fisik sesaat sebagai cinta?"Daren tidak goyah.Tatapannya justru semakin mengunci manik mata Devya, menunjukkan bahwa setiap untaian kalimat yang keluar dari bibirnya bukanlah bualan penenang ranjang."Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, Devya."Devya mengembuskan napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa.Senyum getir terukir di wajah cantiknya saat bayangan masa lalu kembali berputar di kepalan
Jarum jam baru menunjuk angka delapan pagi, namun ketenangan di rumah Devya sudah hancur.Ia tertegun di ambang pintu, menatap mantan suaminya yang berdiri dengan wajah berang."Zion? Mau apa kamu kemari?" tanya Devya, nadanya dingin dan tidak bersahabat."Kenapa kamu lancang memberi tahu Mami kalau kita sudah berpisah?!" pekik Zion.Pria itu melangkah maju, mengintimidasi dengan tatapan menghakimi seolah Devya adalah buronan yang melakukan kesalahan besar.Devya tidak mundur selangkah pun. "Aku sudah muak, Zion. Mami kamu selalu datang hanya untuk bertanya kapan kami punya anak, dan ujung-ujungnya selalu menyalahkan aku. Aku tidak sudi lagi menjadi tameng untuk menutupi kemandulan komunikasi di keluargamu!""Tapi tidak seharusnya kamu bicara sekarang, Devya! Kamu harus tanggung jawab dan ikut aku untuk meluruskan masalah ini di depan Mami—""Tidak mau!" potong Devya tegas, matanya berkilat menantang."Masalahmu dengan ibumu, urus saja sendiri. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa la
Devya menggeleng tenang. "Aku tidak akan hamil. Tubuhku masih dalam perlindungan pil kontrasepsi yang rutin aku minum saat masih menjadi istri Zion."Sheril mengusap dadanya, bernapas lega. "Syukurlah. Setidaknya perintah konyol dari Zion dulu ada gunanya sekarang."Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Karena toko kue baru akan tutup pada jam sepuluh, Devya memilih untuk tetap tinggal, menemani Sheril melayani para pelanggan yang datang silih berganti."Belum mau pulang?"Devya menoleh ke arah sumber suara. Daren melangkah menghampirinya yang sedang duduk di sofa sudut ruangan."Kamu sendiri, kenapa belum pulang juga?" tanya Devya balik.Daren mengulas senyum tipis, lalu mengambil posisi duduk di hadapan Devya."Kalau boleh tahu... alasanmu berpisah dengan suamimu karena apa?"Devya tertegun sejenak, lalu membuang pandangan ke sembarang arah."Jenuh, bosan. Aku selalu menjadi pihak yang disalahkan. Seolah semua kesalahan dalam rumah tangga itu adalah dosaku."Daren manggut-mangg






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.