LOGINZefanya, gadis culun yang selalu jadi bahan bully, terpaksa menjadi pelayan pribadi Tian, cowok dingin paling ditakuti sekaligus paling populer di sekolah, akibat sebuah video yang disalahpahami. Untuk bertahan dari bully kekasih Tian, Chelsea, Anya bahkan harus berpura-pura pacaran dengan sahabat baik Tian sendiri, tanpa menyangka sandiwara itu justru menyalakan sesuatu yang tak terduga di hati sang badboy. Ketika identitas asli Anya sebagai putri konglomerat terbongkar dan sebuah janji lama dari sepuluh tahun silam memaksa mereka bertunangan, Anya harus memilih antara terus menolak atau membuka hati untuk orang yang paling ia benci. Namun sebelum cinta itu benar-benar tumbuh, bahaya nyata mengintai, memaksa Tian membuktikan bahwa perasaannya bukan sekadar obsesi, melainkan kesediaan mempertaruhkan segalanya demi gadis yang dulu ia rendahkan.
View MorePonsel Tian bergetar tepat ketika ia melangkah keluar dari lapangan basket sekolah. Kaus hitam yang dikenakannya telah basah oleh keringat setelah dua jam latihan bersama tim inti. Napasnya masih sedikit memburu, tetapi ekspresinya tetap datar seperti biasa.
Sebuah pesan masuk muncul di layar ponselnya.
Chelsea: Sayang, nanti sore temenin aku ke Mall, ya? Aku mau cari outfit buat ulang tahun Tres minggu depan.
Sudut bibir Tian sedikit terangkat. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan singkat.
Tian: Oke. Jam berapa?
Tak lama, balasan dari Chelsea kembali masuk.
Chelsea: Jam tiga. Jangan lupa, ya. Love you!
Tian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana olahraga sebelum berjalan menuju kantin sekolah yang mulai ramai oleh siswa saat jam istirahat.
Begitu memasuki kantin, pandangannya langsung tertuju pada sosok gadis cantik yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Chelsea memang selalu berhasil menjadi pusat perhatian. Dengan rambut panjang yang ditata sempurna dan senyum manis yang tak pernah absen dari wajahnya, ia terlihat seperti seorang putri di tengah keramaian sekolah.
Chelsea segera bangkit dari duduknya begitu Tian tiba di hadapannya.
"Lama banget balas chat aku," rajuknya manja sambil bergelayut di lengan Tian.
"Baru selesai latihan," jawab Tian singkat.
Meski terdengar dingin, tangannya secara refleks menarik kursi untuk Chelsea sebelum ia duduk di samping gadis itu. Perlakuan istimewa seperti ini bukan lagi hal yang mengherankan bagi seluruh siswa di sekolah.
Tian dan Chelsea adalah pasangan yang dianggap paling sempurna.
Tian dikenal sebagai ketua tim basket sekaligus ketua geng motor terbesar di sekolah mereka. Wajah tampan, prestasi akademik yang baik, dan latar belakang keluarga kaya membuat namanya begitu populer.
Sementara itu, Chelsea adalah primadona sekolah yang berasal dari keluarga terpandang. Cantik, percaya diri, dan selalu menjadi pusat perhatian ke mana pun ia pergi. Mereka seperti dua orang yang memang ditakdirkan untuk bersama.
"Nanti jangan lupa, ya. Aku mau ajak Tres sama Clara juga," ujar Chelsea sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Tian.
Tian hanya mengangguk pelan. Pikirannya masih dipenuhi jadwal latihan tim basket yang semakin padat menjelang turnamen internasional antarsekolah.
Belum sempat Chelsea kembali membuka pembicaraan, dua orang sahabat Tian datang menghampiri meja mereka.
"Bro, boleh ngobrol bentar?" Dani menarik kursi di hadapan Tian.
Liam ikut duduk di samping Dani dengan ekspresi yang cukup serius. "Ini soal latihan."
Chelsea yang mengerti situasi langsung berdiri. "Aku ke toilet dulu sama Tres dan Clara, ya."
Setelah Chelsea pergi, Dani menatap Tian cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.
"Lo sadar nggak kalau akhir-akhir ini fokus lo mulai berantakan?" tanyanya lugas.
Tian mengernyitkan dahinya. "Maksud lo?"
"Passing lo tadi dua kali salah," jawab Liam cepat. "Padahal biasanya hampir nggak pernah."
Dani mengangguk setuju. "Kita semua kerja keras buat turnamen ini, Tian. Jangan sampai fokus lo kebagi karena hal lain."
Tian terdiam beberapa detik sebelum mengembuskan napas pelan. Ia tahu kedua sahabatnya tidak sedang mencari masalah.
"Oke. Gue bakal lebih fokus mulai sekarang."
"Nah, gitu dong," sahut Dani sambil menepuk bahunya pelan.
Percakapan mereka berakhir dengan tawa kecil sebelum ketiganya kembali menikmati waktu istirahat yang tersisa.
Di sisi lain kota, seorang gadis tengah duduk bersila di atas kasurnya sambil menikmati sepiring nasi goreng dan menonton drama Korea favoritnya di laptop. Berbeda dengan Tian yang selalu menjadi pusat perhatian, Anya justru terbiasa menjadi sosok yang nyaris tak terlihat.
Rambutnya selalu diikat seadanya, kacamata bulat tak pernah lepas dari wajahnya, dan pakaian yang dikenakannya lebih sering berupa kaus oversized yang membuat tubuh mungilnya tenggelam.
Hari ini, ia tidak masuk sekolah karena demam ringan sejak pagi.
"Aku juga mau punya cowok green flag kayak di drakor," gumamnya pelan setelah adegan romantis yang ditontonnya berakhir.
Setelah membereskan piring makannya ke dapur, Anya kembali ke kamar sambil membawa ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar. Namun, langkahnya langsung terhenti.
Tujuh panggilan tidak terjawab terpampang jelas di layar ponselnya. Nama kontak itu membuat wajahnya seketika pucat.
BENCANA ALAM
"Anjir..."
Perutnya mendadak terasa mual. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membuka aplikasi pesan. Satu pesan singkat baru saja dikirim lima menit yang lalu.
Mall. Jam 15.00.
Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang.
"Kenapa sih harus gue lagi?" keluhnya sambil menjatuhkan tubuh ke atas kasur.
Sempat terlintas di pikirannya untuk mengabaikan pesan tersebut. Namun, bayangan sebuah video dan ancaman yang diterimanya tiga minggu lalu membuat tubuhnya merinding.
Tidak.
Ia tidak punya pilihan.
Jam dinding menunjukkan pukul 14.45 ketika ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan pesan. Sebuah panggilan telepon masuk dari orang yang sama. Jantung Anya langsung berdegup lebih cepat.
Dengan bibir yang mulai mengering karena gugup, ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum perlahan mengulurkan tangannya.
Apa yang akan terjadi jika kali ini ia menolak?
Anya menaiki tangga dengan langkah gontai. Telinganya masihberdenging oleh omelan panjang Papanya tadi, tetapi anehnya, kepalanya terlalulelah untuk memikirkan apa pun lagi.Yang ada di benaknya sekarang hanya satu: mandi, lalu tidur.Sesampainya di kamar, ia langsung menuju kamar mandi danmembiarkan air hangat mengalir membasahi tubuhnya. Berkali-kali ia menggosokkulitnya dengan sabun, seolah dengan begitu bau tak sedap dan penghinaan yangia terima hari ini bisa ikut luntur bersama air yang mengalir ke lantai.Namun, percuma.Kata-kata yang dilontarkan orang-orang hari ini masihterdengar jelas di kepalanya.Udah muka pas-pasan, dandanan kayak gini lagi.Pantesan nggak ada yang mau temenan sama lo.Turun sini aja ya, Dek. Penumpang pada komplain.Apa susahnya sih jadi anak yang bisa diandalkan kayakkakakmu?Semua kalimat itu terus berputar tanpa henti di kepalanya.Setelah selesai mandi, Anya keluar dengan handuk yangmelilit rambutnya dan mengenakan piama longgar berwarna krem
Anya duduk sendirian di halte bus yang temaram, kedua tangannya memeluk lutut. Lampu jalan di atasnya berkedip-kedip lemah, menambah kesan suram pada malam yang sudah cukup buruk baginya.Sudah hampir sejam ia menunggu, tetapi bus yang lewat bisa dihitung jari dan dari yang sedikit itu, cuma satu yang benar-benar berhenti untuknya.Tadi juga sempat naik sih..., kenangnya pahit, mengingat kembali kejadian sepuluh menit lalu. ..."Woy, bau apaan sih ini?" seorang penumpang di kursi belakang mengernyitkan hidung begitu Anya duduk."Anjir, iya bau banget," yang lain menimpali sambil menutup hidung dengan tangan.Bisik-bisik mulai menyebar ke seluruh bus. Mata para penumpang mulai melirik ke arahnya dengan tatapan jijik yang bahkan tidak berusaha mereka sembunyikan."Dek, maaf ya," sopir bus menoleh dari depan dengan ekspresi sungkan, tetapi tegas. "Penumpang pada komplain. Turun sini aja ya, kasian yang lain."Anya menunduk, wajahnya memerah menahan malu yang luar biasa. Tanpa membantah,
Pukul 20.45.Anya tersentak bangun. Tubuhnya terguncang kaget karena rasa dingin yang tiba-tiba menyerbu seluruh tubuhnya. Matanya terbuka lebar, napasnya memburu, kebingungan sesaat dengan apa yang baru saja terjadi dan di mana dirinya berada."Akhirnya bangun juga!" sebuah suara ketus terdengar dari luar bilik, disusul bunyi kunci yang diputar dan pintu yang terbuka kasar.Berdiri di depannya seorang office girl berseragam abu-abu. Tangannya masih memegang ember kosong, sementara wajahnya tampak cemberut kesal. Namanya tertera jelas pada name tag yang dikenakannya: Yuli."Ngapain sih tidur-tiduran di toilet orang? Nyusahin aja! Gue kira lo mayat, tau nggak!" omel Yuli. Nada suaranya galak, mirip banget sama gaya Chelsea dan kawan-kawannya.Anya yang masih setengah sadar mencoba bangkit sambil berpegangan pada dinding bilik toilet. Yuli menatapnya dari atas hingga bawah, kaus oversize lusuh yang sudah basah kuyup, celana sederhana, kacamata bulat yang melorot di ujung hidung, serta r
Jam menunjukkan hampir pukul tujuh malam ketika Chelsea, Tres, dan Clara akhirnya memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran mewah di lantai atas mall."Anya, sini deh bentar," panggil Chelsea sesaat sebelum mereka masuk ke restoran. Nada suaranya tiba-tiba berubah manis, yang justru membuat Anya waspada."Kenapa?" tanya Anya, sedikit curiga."Ikut ke toilet dulu, ada yang mau gue omongin," Chelsea menarik lengan Anya tanpa memberi kesempatan untuk menolak, diikuti Tres dan Clara yang saling melempar senyum penuh arti di belakang punggung Anya.Terlalu lelah untuk curiga lebih jauh, Anya hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Mereka berempat masuk ke toilet yang sepi, lokasinya yang agak terpencil di ujung koridor mall membuat area itu jarang dilewati pengunjung."Masuk situ dulu deh," ujar Clara sambil mendorong Anya masuk ke salah satu bilik. "Kita mau ngomong penting."Belum sempat Anya bertanya lebih jauh, pintu bilik langsung ditutup dari luar, disusul suara klek kunci yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.