LOGINI had a caring, loving, and steady boyfriend and we were so much in love but our breakup was one I didn't see coming and I fell into an endless maze of twists which left me broken and lost. . . Mary, daughter to Mr. Nyomvi was given out to a husband at a crucial time in her life. Desperate to save his company from debt, he merged with a stronger company. A good deal. How far will he go to save his company? What price does Mary pay due to her father's actions? A tale of family lies and secrets, hidden behind closed doors and disguised by money. A touching story of the one chain that binds one to another... Family.
View MoreCandy Rebbeca Stain, nama perempuan cantik berusia dua puluh dua tahun yang akan menikah pagi ini. Muda memang, tapi kalian akan menarik kembali kata-kata itu jika tahu pada usia berapa calon ayah mertuanya memiliki anak. Umur tidak menjadi perkara, setidaknya itu adalah apa yang ada di dalam benak mereka yang sudah tidak sabar ingin menikah.
Gaun putih indah nan mewah dengan atasan bermodel sabrina melekat pada tubuh dia yang terduduk di depan meja rias. Rambut Candy digulung indah dan diberi hiasan bunga-bunga berbentuk mahkota. Namun …, sepertinya sang mempelai tidak dalam suasana hati yang bagus untuk bisa menampilkan senyuman yang akan memperindah semua riasan di wajah.
Gadis itu cemas memikirkan sang kekasih yang masih tak kunjung menampakkan diri padahal acara akan segera dimulai, kurang dari lima belas menit lagi. Sepi ruangan Candy menunggu membuatnya terdengar sangat hening, tidak ada apa pun yang terdengar kecuali suara AC. Sejuk benda itu menyapu area pundak Candy yang terekspost, sangat dingin sampai membuatnya sedikit menggigil.
Namun, itu bukanlah gemetaran ulah kedinginan. Candy tidak bisa berhenti takut mempertanyakan tentang keberadaan sang calon suami yang seharusnya tiba sedari setengah jam yang lalu.
Tok, tok, tok … suara gedoran pintu terdengar membuat Candy reflek mendongak. Gadis itu menantikan seseorang datang memanggil untuk memberi berita, sang calon suami telah tiba, tapi nyatanya … hal itu tidak terjadi. Ekpresi kesedihan yang tercetak di wajah siapa yang memasuki ruangan menghadirkan firasat buruk dalam hati.
Candy berpikir …, sesuatu telah menimpa sang calon, tapi ternyata apa yang terjadi melebihi hal itu.
“Candy,” panggil pria berusia 39tahunan, sangat maskulin dengan gaya rambut yang disisir rapi dan setelan formal berwarna hitam. Ada bunga menyelip di saku jasnya.
“Ayah,” panggil Candy tanpa bisa tersenyum. Lelaki tampan dengan kulit putih dan rahang tegas itu bernama Robert Wijaya, seseorang yang akan menjadi ayah mertuanya setelah pernikahan ini dinyatakan resmi. Sayangnya … Candy tidak berpikir hal itu akan terjadi karena sang mempelai hilang entah ke mana.
Ragu Candy bertanya, “Putra belum ditemukan, Ayah?” Candy bukan hanya mencemaskan pernikahan yang entahlah akan berlangsung atau batal, dia mencemaskan keadaan sang pria terkasih yang sudah bersamanya selama lima tahun.
Candy tahu betapa Putra Wijaya mencintai diri ini, itu adalah alasan mengapa pernikahan diadakan dini. Tapi … haruskah Candy akui bahwa sang kekasih berubah akhir-akhir ini? Satu minggu lalu, terhitung empat bulan semenjak melamar diri ini untuk dijadikan istri.
Candy tidak tahu apa yang telah terjadi karena Putra terlalu pendiam untuk mau bercerita. Sorot matanya kosong dan Candy benar-benar tidak bisa bertanya. Candy berpikir, semua itu hanya imajinasi saja sampai kemudian sang kekasih tidak hadir di hari pernikahan yang telah ditetapkan.
Tidakkah hari ini adalah hari yang sangat Putra nantikan? Candy yakin itu, Putra selalu mengatakannya. Tapi mengapa diri ini tidak dapat menghubunginya? Tidak bahkan sekali. Panggilan tidak diangkat, pesan tidak berbalas, tidak ada satu orang pun bisa menebak di mana keberadaannya termaksud sahabat karib yang juga telah menanti.
“Candy.” Suara Robert sukses menyadarkan Candy yang malah sibuk melamun, membuat gadis itu kembali mendongak dan mempertemukan kontak mata.
“Ada apa, Ayah?” tanya gadis itu, tampak penasaran dibuat raut wajah serius sang calon mertua.
Robert tidak langsung menjawab. Dia menarik kursi plastik berwarna merah dan mengambil duduk di depan Candy. Dia kemudian mengeluarkan ponsel dan mengotak-atiknya sejenak. Robert … tidak tahu di mana anaknya berada kini, tapi ia punya sesuatu yang sangat penting yang harus Candy saksikan dengan mata kepala sendiri.
Rekaman video yang mengambarkan setiap pergerakkan Putra bercumbu bersama seorang perempuan di dalam mobil. Mata Candy melebar, dua telapak tangan berbalut sarung putih berenda reflek membekap mulut yang hendak menjerit.
Ludah yang ditelan setajam silet, menyangkut di bagian dada, sukses menusuk jantung membuatnya kesulitan untuk bernafas. Candy bisa melihat wajah sang calon suami dengan sangat jelas, sangat jelas sampai tidak ada keberanian mengklaim bahwa video hitam putih itu palsu.
“Putra berselingkuh dengan pacarku,” ungkap Robert.
Candy tidak tahu bahwa sang mertua memiliki seorang pacar, tapi selingkuh …? Candy tidak tahu kapan rekaman itu diambil, mata yang mendadak buram tidak mampu melihat tanggal dan waktu yang tercetak dengan jelas. Gadis itu … meneteskan air mata, tidak mampu berkata.
Ini adalah hari pernikahan mereka, haruskah ia bersyukur atau marah karena semua kebenaran yang terungkap? Haruskah Candy senang karena ia gagal menikahi seorang pria yang ternyata bajingan? Hati Candy sakit, sama sekali tidak mampu memutuskan.
“Apa … yang harus aku lakukan?” Gadis itu terbata, kepala sudah seperti akan meledak mengingat hari pernikahan sudah di depan mata, hanya tinggal menghitung menit!
Candy tidak berpikir memulangkan para tamu akan menjadi sebuah solusi bijak, ia dan keluarga mustahil bisa menahan rasa malu itu dan Robert pasti merasakan hal yang sama, Candy berpikir.
“Bagaimana bisa Putra tega …” Candy terisak, tidak mampu menahan rasa sakit yang semakin menjadi di bagian dada. Candy tidak menyangkal Putra bersikap lain akhir-akhir ini, tapi selingkuh …? Hal itu sama sekali tidak terpikirkan. Putra selalu bersikap seolah-olah hanya ada Candy di dalam hidupnya, mata tidak mungkin berbohong. Tapi … bukti sudah menggila di dalam kepala, bagaimana bisa Candy tidak percaya?
Raut wajah Robert sendu. Dia mengangkat tangan guna membantu menghapus air mata yang membasahi pipi. “Jangan menangis,” harap lelaki itu. Suaranya terkesan lembut tanpa menghilangkan kesan gagah, segagah tubuh kekar yang mengatakan sang empu sering berolahraga. “Kau akan menghancurkan riasanmu dengan air mata,” tambahnya.
“Riasan ini sudah tidak berguna!” seru gadis itu putus asa. “Hari pernikahanku hancur, aku tidak mungkin menikah dengan putramu!” Tidak setelah apa yang telah terjadi! Padahal Candy mencemaskan Putra setengah mati dan lelaki itu bahkan tidak berkabar, sungguhkah dia menghindari pernikahan ini demi sang selingkuhan?
Candy hanya sekedar menebak, tapi di satu sisi merasa sangat yakin. Putra tidak lagi mencintai diri ini. Tentu saja, karena jika dia masih menaruh hati, dia tidak akan pernah bermain dengan perempuan lain! Perempuan yang adalah kekasih ayahnya? Putra pasti sudah gila!
“Aku minta maaf karena harus memberitahumu berita menyakitkan ini,” kata Robert pelan.
Candy menggigit bibir bawah sembari menggeleng kecil. “Tidak,” jawabnya sembari menggelap air mata. “Aku senang karena aku tahu seperti apa Putra di belakangku.”
“Aku membencinya,” ungkap Robert tiba-tiba, sukses membuat Candy reflek mendongak dan kontak mata pun bertemu.
Tidak usah bertanya soal apa maksud dari ungkapan itu. Robert menjelaskan, “Setelah dia membuat aku kehilangan seorang istri, dia dengan berani mencuri kekasih yang aku cintai. Fakta bahwa dia adalah anakku jauh lebih menyakiti hatiku.”
Candy tidak dapat berkomentar pada mirisnya kalimat yang ayah Putra keluarkan. Robert mungkin sudah memiliki dua anak, tapi itu tidak mengartikan dia tidak pantas bertemu perempuan lain dan berbahagia. Terlepas dari penampilannya yang memang masih terlihat muda dan segar seperti berusia 25an, dia memiliki materi dan sikap yang baik. Setidaknya itu adalah apa yang Candy tahu.
“Candy, menikah denganku.” Satu kalimat pendek yang mendadak meluncur keluar dari mulut Robert sukses memukul jantung Candy bagaikan palu raksasa.
I grabbed a handful of the sodden earth and sniffed it."I don't think ma would've liked to see you do that," Warren objected. I flicked him off and took another huge whiff of the scent.I heard grunting and after a few pants, felt a touch on my shoulder. His straight face came into view and the orange light behind him created a halo around his head. "You ready?""I'm sure this is what ma would've wanted." I breathed in and tried to relax my stiff shoulders when Warren picked up the ceramic vase.After he settled into the same kneeling position beside me and we just sat in silence. My mind strayed and I felt he did the same.I would never get over what she did. Not fully but I had that mutual understanding that she felt she was protecting us anyway she could. Admittedly not the best decision as this is where it had led us to; her on the other side and both of us hurting and shattered.
Wriggling my toes in the wet sand, I smiled up at the sun feeling like a kid at Christmas. My shades flipped over my eyes and I smiled at the redhead beside me. "You know, you don't have to be so grumpy on the beach.""Uh, yes I do," she said. "Someone has to be the adult here."I smirked and wrapped my hands around her, stopping further movement and eliciting a yelp from her. "Oh yeah?""Yeah." She bent her head to the side. An open invitation and how could I resist? I lowered my head and dropped a kiss on the curve where her neck met her shoulder earning a shiver in return."No need to get all touchy, people!" The shout made Val jerk in my grip and our heads collided at the sudden movement. "Let's try to keep what goes on in the bedroom, in the bedroom please!""Yeah, we have children in our midst so keep it light and PG." Devin backed her up and I could hear them snicker behind us.After our initial shyness after the graduation cere
*ONE MONTH LATER*Wild cheers tore through the field and caps flew in the air as our graduating set hugged each other with wide smiles plastered on their faces."Congratulations!" Warren crushed me into a hug threatening to cut off my blood circulation but I wouldn't have it any other way. "Told you we'd make it."The huge eagle of happiness and pure joy in my heart only allowed me to nod, smiling widely. Before I could say, Jack, Val snatched me away from his side and right into her tight hug. "Omg, we made it, Rowa!""Yes." I squealed with her as we both jumped multiple times while holding hands. "Now you can give my baby brother the kiss he's been dying for.""Shhh." She covered my mouth with her hands, her eyes wide. After peering over my shoulder, she tried to conceal the vivid blush on her cheeks. "Remember I'm taking things slow.""Slow, shmlow," I scoffed waving my hand as if throwing the idea away. "It's just one k
Deep and varying shades of the sun set set the dark brown of his eyes off , the warmth of his palm over mine a silent reassurance he didn't plan in going anywhere anytime soon. His silence said it all while he waited for me to sift through and try to solve the puzzle of emotions clashing against each other, demanding my attention in my mind."Who would've guessed it?"Even with my eyes concentrated on the miniature view of the city below us and the cars, lights, people, movements seemed to take slow motions but I knew they hurried but it made no difference from this distance, I noticed his head tip back and he drew in an audible breath.He didn't give me a response, silently urging me to continue. I sigh and found his hand giving it a small squeeze."Who would've thought my creep would turn out to be this annoying being beside me."That drew a silent chuckle from him and he tightened his hold in my hand. "True." He
Devin.Her voice came out in a soft whisper beside me. "This is just breathtaking. I'm impressed."Hair dancing to the tune of the wind like a snake to an animal whisperer.
Morowa.That day in Kampala where I had ate my first rolex. Not the watch. The local street food of Uganda.The
Warren.My head hurt as I try opening my eyes. The soft yet harsh light coming from where I'm thinking is the sun tortures my eyelids.I try adjusting the pillow on my chest so I could take a shower
Present dayMorowa."Just choose something comfortable." I suggested without look






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore