LOGINHe grabbed hold of my neck and lifted me off the ground. His angry eyes bore into mine as I gasped for breath. “You're a mute, a Stealer wolf and worse, you're weak. I can never accept you as my Luna, not in this life or the next to come.” **** Estelle's already jammed up life took a turn for the worse when she is discovered to be a Stealer wolf; a wolf, whose scent drives single and widowed wolves wide. Being a mute, she is ridiculed and looked down on, and she took solace in the fact that she would be saved and healed whenever she found her mate, but what happens when this mate of hers refuses to accept her because he saw her as not worthy and weak to become his Luna? She is turned into a slave since she is the only one who isn't affected by the Alpha's aura, but can she use this as an advantage to win his heart, especially now that the pack doctor wants to have him for herself? She's a mute. Will she be able to pull through all the obstacles and heal?
View More[Dek, sudah gajian, 'kan? Kirimin Ibu uang, dong! Ibu harus bayar hutang. Bekal adikmu juga sudah habis.]
[Oke, Bu. Nanti aku transfer ke rekening Ibu.]Huft. Embun menghela nafas kasar setelah membaca percakapan antara suami dan mertuanya. Pesan yang selalu datang tiap awal bulan. Dan permintaan ini tak hanya datang sekali dalam sebulan, tapi berkali-kali. Ada saja alasan dari ibu mertuanya. Beras habis, bayar arisan, sampai dengan keinginannya yang wajib membeli baju baru tiap bulan. Semua itu, harus Bumi yang menanggung.Lalu, dimana gaji pensiunan mendiang Ayah Bumi? Apakah selalu habis dalam sekejap? Hingga Retno, selaku Ibunda Bumi selalu membebankan kebutuhan rumah tangganya pada anak ketiganya itu."Sayang …."Bumi yang baru keluar dari kamar mandi, heran melihat istrinya berdiri di samping nakas tempat tidurnya."Dek, kenapa?"Karena tak kunjung mendapat jawaban, Bumi pun mendekati Embun agar bisa melihat wajah istrinya itu dari arah depan. Sedari tadi, Embun tak menyahut dan terus membelakanginya."Dek … dari tadi gak nyahut-nyahut."Kini Bumi telah berhasil menyentuh istrinya. Seketika Embun terkesiap dan gugup hingga tak sengaja melemparkan ponsel suaminya ke atas tempat tidur."Nah … kepo sama isi di handphone Mas, ya?"Bumi menggoda istrinya. Dia tak merasa tersinggung apalagi ketakutan saat tahu istrinya menggeledah ponselnya. Toh, di dalamnya tak ada bukti apapun yang akan membuat Embun marah. Bumi memang pria setia dan sangat menyayangi istrinya."Eh … e … enggak, Mas. Tadi gak sengaja aja."Embun masih terlihat gugup. Perbuatannya selama ini tertangkap basah oleh suaminya. Dia malu sekaligus tak enak hati pada sang suami. Padahal dia mengecek ponsel Bumi bukan karena curiga suaminya itu berkhianat. Hanya saja, Embun terlalu penasaran dengan isi pesan yang selalu mertuanya kirim.Bumi melihat ponsel yang tergeletak di ranjang. Pesan dari ibunya selama ini telah terbuka dan terlihat oleh mata. Dia baru tahu kalau sedari tadi istrinya terdiam karena melihat percakapannya dengan orang rumah via WA.Bumi mengambil ponselnya. Sempat terdiam sesaat. Namun dia kembali mengangkat wajah dan tersenyum ke arah istrinya."Maaf, ya, Sayang. Kalau tabungan serta penghasilan Mas selama ini harus dibagi lagi dengan orang rumah. Tapi bukankah Mas sudah izin denganmu?"Benar. Selama ini, Bumi memang izin pada Embun untuk membagi gajinya dan diberikan pada orang rumah. Tapi itu hanya untuk satu kali dalam sebulan. Bukan berkali-kali dan menjadikan Bumi sebagai penanggung jawab sepenuhnya untuk orang rumah. Padahal Ibu mertua Embun masih menerima pensiunan mendiang ayah mertua. Bukan mengandalkan Bumi selalu. Miris. Embun ingin berontak tapi takut dianggap tak berbakti pada mertua."Em … tapi, Mas." Embun sedikit ragu. Dia mencoba untuk menyusun kata agar sang suami tak salah paham dengan maksud ucapannya nanti."Tapi apa, Sayang? Katakan saja! Kamu keberatan? Nanti biar Mas berbicara sama Ibu."Inilah yang membuat Embun begitu menghormati suaminya. Walaupun dalam rumah tangganya, hanya Bumi yang menghasilkan uang, tapi pria itu tetap menghargai sang istri."Bukan, Mas. Kita harus pikirkan masa depan kita juga! Toh, Ibu juga ada uang pensiunan. Kenapa kita tak batasin dulu kiriman uang ke orang rumah?"Sesaat, Bumi terdiam. Ada perang batin dalam dirinya. Dia merasa perkataan Embun ada benarnya, tapi dia juga ingin membantu keluarganya yang kini tak punya kepala keluarga lagi setelah sang ayah meninggal.—--------------"Kok masih segini uangnya? Berarti Bumi belum transfer juga."Bu Retno, selaku Ibunda Bumi, merasa cemas karena saldo di ATM-nya tak kunjung bertambah. Tak ada transferan dari kemarin."Mana udah ditagih hutang sama tetangga. Beras dan kebutuhan rumah juga sudah habis. Mana sih, Bumi? Dari kemarin suruh transfer, gak juga dilakuin. Lelet banget jadi orang. Kalau gini, aku kan jadi pusing."Bu Retno mengacak-acak rambutnya. Ia terus menggerutu, menyalahkan anak ketiganya itu. Ia geram karena Bumi tak kunjung mengirimkan uang. Padahal masih banyak kebutuhan dirinya yang harus dipenuhi saat ini. Ia pun memutuskan menelpon Bumi.TuuuutTuuuutTuuuut"Ini tersambung, kok. Tapi kok gak diangkat terus sama si Bumi?" Bu Retno menggerutu. Ia pun kembali menelpon anaknya untuk kedua kalinya.Kali ini terangkat. Namun ini bukan suara Bumi."Halo, Bu." Ini adalah suara Embun."Loh … ini Embun?" tanya Bu Retno."Eh … iya, Bu. Mas Bumi masih sarapan.""Kok agak gak sopan, ya, kamu? Berani banget jawab telepon suami. Kalau ini dari bosnya, apa kamu angkat juga? Sekalian goda, ya?"Embun terdengar menghela nafas pelan. Pagi-pagi dia sudah dihadapkan dengan sindiran pedas dari sang mertua."Ada apa, Bu?" Embun terpaksa menelan bulat-bulat kata-kata menyakitkan dari mertuanya. Dia masih berusaha bersikap sopan."Kasi teleponnya ke Bumi! Malas sekali berbicara sama kamu. Ganggu mood-ku hari ini," ucap Bu Retno mengikuti gaya bicara anak muda masa kini."Memangnya mau bicara soal apa, Bu? Uang lagi? Mas Bumi bukan mesin ATM yang bisa memberikan ibu uang setiap saat."Tak terasa, Embun nekat melawan sang mertua. Dia sudah geram dengan sikap Bu Retno yang bisa dibilang memeras anak dan menantunya."Hah? Apa kamu bilang? Coba katakan sekali lagi!" Bu Retno berteriak dari seberang telepon. Embun tak mau kalah, dia pun mengulang perkataan yang barusan dia ucapkan."Mas Bumi bukan mesin ATM, Bu. Tolong bilang sama anak Ibu yang lainnya untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah. Kami juga punya mimpi untuk keluarga kecil kami. Selama ini, kami bahkan harus irit karena Mas Bumi menuruti keinginan ibu terus. Bagaimana kami bisa punya rumah dan yang lainnya jika Ibu terus menggerogoti kami? Bahkan hanya sekedar kendaraan pun, Mas Bumi tak punya. Dia masih memakai kendaraan milikku, padahal gajinya cukup besar."Embun menghela nafas kasar. Telepon dimatikan secara sepihak olehnya. Dia sudah tahu pasti sang mertua kini sedang memaki-makinya di tempat lain.Di sisi lain, Bumi mendengar percakapan istri dan ibunya sejak tadi. Kebetulan Embun lupa mematikan loudspeaker teleponnya. Dia kini mendekati Embun dan mengambil ponselnya dengan sedikit kasar. Embun terkejut."Kamu tak seharusnya berkata kasar seperti itu pada Ibu. Aku setuju dengan saranmu kemarin, untuk membatasi uang yang akan dikirimkan pada orang rumah. Tapi bukan begini caranya. Aku tersinggung."Bumi meninggalkan istrinya begitu saja. Embun serasa ingin berteriak. Suaminya kini justru kecewa terhadap dirinya. Apa mungkin Embun terlalu jahat? Ataukah ini wajar dilakukan pada mertua yang bahkan tak bisa menghargainya? Karena semakin nurut Embun, dia justru semakin diinjak-injak oleh mertuanya.Telepon kembali berdering. Itu dari Bu Retno, mertua Embun. Kini Bumi yang menerimanya. Tapi Embun ikut melebarkan kuping agar bisa mendengar percakapan mereka."Ibu sakit hati, Bumi. Istrimu keterlaluan. Tolong ajari sopan santun padanya! Jangan berbicara sembarangan sama Ibu! Jadi benalu aja belagu. Sekarang kirimkan uang yang ibu minta. Sekalian saja kirim sepuluh juta!"Deg! Embun merasakan sesak di dada. Sepuluh juta? Ibu mertuanya meminta sepuluh juta pada Bumi? Sedangkan Bumi hanya mendapat gaji sebesar dua belas juta rupiah per bulan.Haruskah Bumi menuruti permintaan ibunya dan membuat keluarganya sendiri kelaparan?**Estelle's POV**Someone came to celebrate me and Alpha Cedric's arrival. And she was Scarlett.She came with flowers as if she cared about me. She handed it over to me but her gaze seemed to hate me so much. “Welcome, Estelle! I heard cheers along the way when I was at home. And it turns out you've come back. So, how's your treatment going?"I was sure she thought my therapy was a failure because I came home before my pre-arranged schedule.Alpha Cedric grabbed my hand so I didn't have time to answer him. He whispered, “Ignore her! Come on!"So, I obeyed his orders. As my feet moved away, Scarlett chuckled, "Why are you avoiding me as if I'm a threat to you?"Alpha Cedric frowned. He must have thought Scarlett was crazy. No one here considered her a threat. She was just a useless louse.She walked
**Estelle's POV**“Alpha, why didn't you answer me? You're free from the curse, right?" I was worried when I asked that question, worried that I might end up getting an answer I didn't expect.Oh, we'd found the one who cursed us. Alpha Cedric had beaten them. In the classic case, our curse should have disappeared right? So why didn't he answer me loudly and confidently? He just looked down, looking very sad."You make me think that the curse hasn't been removed from your body." I wanted to cry when he finally looked up and held my fingers as if giving an instant answer.Doctor Gordon left us for a while. He reasoned that he wanted to get drinking water from his earthen jug, which was placed in the kitchen. It gave me time with Alpha Cedric. I thought he did that on purpose so Alpha Cedric could talk to me freely.Alpha Cedric looked me straight
**Alpha Cedric's POV**We were cornered because of the many hybrids surrounding us. And if we sprayed them with a paralytic potion, it might not work completely.Our backs were pressed against each other, keeping no gaps for the enemies.“Alpha, do you think we’re going to die?” he asked. He didn't sound scared at all, instead, he sounded very gentle and calm.I wouldn't believe it if I didn't hear it with my ears."We will not die!" I dodged when a hybrid tried to spit at me. "We will definitely win." I whistled. It echoed across the walls of the cave and must have been heard by all of our soldiers.Soon they appeared, hanging in various places. The cave had holes so they could slip in between. While a few of them charged through the entrance."Attack them!" The Gammas shouted. They sprayed t
**Alpha Cedric's POV**Alpha Daren was standing behind the gate, waiting for Prince and me. Did they already know what I mean? I didn’t think so."Welcome, Alpha," said Alpha Daren welcomingly. He let me in.I got out of the car and followed Alpha Daren. He led me to the guest hall. I was not sure why Prince accompanied him.“Please sit down, Alpha!”I nodded and sat down in a comfortable chair. As usual in front of me was always filled with delicious and fresh food. A pitcher filled with very fresh water. I chugged it all and wiped my mouth."It's amazing that you came without making an appointment, Alpha. Is there a serious problem going on?” he asked.Without responding, I pulled out a report document to him and handed it over. I glanced at Prince, giving him information signals. But
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews