LOGINRhea Veris was never meant to be weak. As one of the strongest warriors and the only female warrior of the Valcrest Pack, she spent years fighting and training beside the future Alpha, Artavius Ravencrest, the man she had secretly loved for years. So when she discovered that he was her fated mate, she thought it would be the happiest moment of her life. Instead, the very man destined to be hers shattered her world in a single night. Artavius chose her sister as his mate and Luna. Not only is Brielle carrying his child, but the entire pack celebrates her as the future Luna while Rhea is cast aside like she was nothing. Betrayed by her mate, replaced by her own sister, and humiliated before the entire pack, Rhea becomes a shame to everyone. But what they fail to realize is this: Warriors do not break easily. As darkness rises against the werewolves and dangerous secrets begin to unravel, Rhea slowly transforms from the rejected woman they discarded into someone the entire kingdom will one day fear. And when the Alpha who betrayed her finally realizes what he lost… It may already be too late.
View MorePemeran utama bukan siapa yang paling banyak disorot kamera, tapi siapa yang bisa menguasai panggung
Diawal memulai karirnya sebagai model hingga akhirnya mendapat peran pertamanya di film, Evaria Dona kesulitan menjaga matanya tetap terbuka di depan blitz kamera. Wajahnya akan terlihat sangat jelek karena mengernyit menahan silau. Sekarang Eva sudah terbiasa, ia bisa mempertahankan ekspresi cantiknya dengan percaya diri.
Di depannya ada puluhan kamera wartawan, ditambah kamera fans yang berlomba-lomba mendapatkan potret terbaik seorang Evaria Dona. Eva bediri memegang sebuah piala yang digadang-gadang berlapis emas murni.
“Eva menyangka tidak bisa masuk nominasi dan bahkan menang sebagai aktris terbaik tahun ini meskipun tidak jadi pemeran utama di film terakhirmu?” Tanya salah satu wartawan.
Eva tersenyum elegan, ia memandang piala di tangannya sesaat sebelum menjawab. “Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik di setiap proyek yang saya kerjakan, sekecil apa pun peran yang saya mainkan untuk mendapatkan hasil terbaik juga. Jujur sebenarnya saya tidak menyangka hasil terbaik itu akan berupa piala ini. Saya berterima kasih kepada semua pihak yang banyak membantu saya sehingga saya bisa memainkan karakter saya dengan baik.”
“Mengenai Adelina Hara yang mana tokoh utama dalam film Jendela tidak masuk satu pun nominasi, bagaimana pendapat kamu?”
“Mungkin pertanyaan itu lebih tepat ditanyakan ke dewan juri, penilaian semua ada di tangan mereka. Saya yakin Hara juga melakukan yang terbaik, dia masih sangat muda dan berbakat.”
"Apa ada komentar untuk orang-orang di luar yang menganggap kemenanganmu tidak adil?"
"Mereka baru bisa menganggap itu tidak adil, jika keputusan ada di tangan saya, manajer, dan teman-teman terdekat saya. Saya tidak bilang saya lebih baik dari Hara, tapi saya ingin kita semua menghargai penilaian dewan juri. Jika masih ada yang merasa saya tidak layak, saya tidak bisa melakukan apa-apa. Kita semua memiliki hak untuk mendukung atau membenci orang dengan atau tanpa alasan."
“Ada rumor kedekatan kamu dengan sutradara Rizal Chandra, apa itu benar?”
“Ya, kami memang dekat.” Jawaban Eva memancing kehebohan para wartawan yang ingin tahu lebih. “Mas Rizal orang pertama yang melihat bakat saya dan sekaligus orang pertama yang mempercayai saya memerankan salah satu karakternya di film debut saya. Saya selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang berjasa dalam hidup saya.” Eva melanjutkan dengan jawaban bijaksana. Ia sangat paham ke mana sebenarnya pertanyaan itu ingin diarahkan.
Masih wartawan yang sama melanjutkan pertanyaannya atau lebih tepatnya disebut pernyataan. “Ada sumber yang mengatakan pernah melihat kalian liburan berdua di Bali.”
Eva menatap langsung pada wartawan perempuan muda yang ia ketahui dari salah satu infotainment stasiun TV swasta. Wajahnya sudah tidak asing lagi karena terlalu sering bertemu. "Saya ingat di kesempatan lain Anda juga menanyakan pertanyaan sama, dan jawaban saya juga masih sama. Tugas Anda yang mencari tahu rumor itu benar atau salah, karena saya tidak akan menjawab pertanyaan apa pun yang bersumber dari katanya.” Eva menekankan kata terakhirnya.
Eva mengakhiri wawancara dengan senyum termanis yang bisa ia berikan, ia sudah terlalu malas berlama-lama berdiri di sana. Oleh manager yang setia mendampinginya dari sudut tak terlihat, Eva diarahkan masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu.
Eva menghempaskan punggungnya di jok dengan kasar begitu mobil mulai melaju meninggalkan gedung pertunjukan. Ia sudah tidak peduli gaunnya akan kusut atau rambutnya berantakan.
“Aku nggak mau lihat wartawan itu lagi.”
“Siapa?” Tanya Prita, managernya, yang duduk di kursi depan. “Oh... Yang nanya soal Rizal itu?”
“Mbak nggak bisa bikin dia dipecat atau mati gitu?”
“Hus!” Mbak Prita memperingatkan. “Tidak seharusnya kamu terancam sama orang seperti itu. Dia bukan sainganmu.”
Eva tahu itu. Wartawan itu menganggu karena dia terlihat begitu berambisi menghancurkan Eva lewat skandal berita.
Mobil yang melaju mulus tiba-tiba direm mendadak, beruntung Eva memakai sabuk pengaman. Prita meneriaki Lala, asisten pribadi Eva yang menyetir dengan sembrono itu. “Mobil depan berhenti mendadak.” Lala bela diri.
Eva menyadari pialanya menggelinding jatuh ke dekat kakinya. Eva hanya membiarkannya dan memandanginya dengan tatapan lelah. Dalam ruang sempit minim pencahayaan, benda itu seolah memancarkan sinar keemasan.
Waktu sudah membawanya sampai sejauh ini.
Hari yang panjang, Eva tidak ingat apa saja yang sudah ia lakukan kemarin. Memikirkan tentang besok selalu membuat Eva resah, apa itu sesuatu yang sanggup ia hadapi? Apa Eva bisa melewatinya sebagai pemenang seperti hari ini?
“Wah, hashtag TeamEva jadi tranding topik.” Seru Prita, “Mengalahkan AFI2020 itu sendiri.” Prita mengulurkan ponselnya ingin menunjukkan pada Eva, sayangnya Eva sama sekali tak tertarik untuk melirik.
Prita menarik lagi tangannya. “Kenapa? Karena bukan piala pertama kamu, kamu nggak bangga?” Dua tahun lalu Eva membawa pulang piala yang sama, piala pertamanya sebagai aktris terbaik versi AFI.
Level ajang penghargaan Anugerah Film Indonesia disebut-sebut paling tinggi dari ajang penghargaan lain. Nominator dan pemenang dipilih langsung oleh belasan juri kredibel dan memiliki nama besar di dunia perfilman. Maka tak heran jika setiap tahunnya selalu muncul nama-nama mengejutkan. Yang terpopuler atau terlaris tak lantas menjadi yang terbaik.
Salah satu nama mengejutkan yang muncul ialah nama Evaria Dona. Jendela merupakan satu-satunya film Eva yang rilis di periode tahun itu, di situ pun Eva tidak memerankan pemeran utama, melainkan artis pendukung. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya lantaran ada kategori sendiri untuk aktor-aktor pendukung, maka tak heran jika banyak orang yang memberi kritik pedas. Publik terpecah menjadi dua kubu yaitu tim Adelia Hara, dan Tim Evaria Dona.
“Apa menurut mereka aku nggak layak menang?” Tanya Eva terdengar tidak sungguh-sungguh ingin tahu.
“Tidak, sebaliknya. Mereka bilang kamu pantas. Nih, aku bacakan, ya.”
Eva memalingkan kepala menatap ke luar jendela, mendengarkan komentar teratas yang disukai terbanyak oleh warganet.
“Suka tidak suka, kita harus akui kualitas akting Evaria makin dewasa. Jelas dia bukan anak kemarin sore lagi yang wajahnya harus dibuat sangat jelek agar bisa keluar air mata.
“Kenapa Eva yang jadi aktris terbaik dan bukan si pemeran utama? Buat yang sudah menonton Jendela pasti bisa menilai. Karakter Jane yang dimainkan Eva sangat kuat dan menjadi bagian penting dalam alur cerita. Kalau nggak ada Jane, film Jendela cuma akan jadi kisah klise cewek miskin yang kebetulan cantik, berjuang meraih mimpinya. Menurutku, pemeran utama Jendela sebenarnya adalah Jane, tapi kita semua tahu tidak banyak yang ingin melihat tokoh antagonis dijadikan pemeran utama."
“Evaria sangat jeli memilih naskah, hampir semua film yang dia bintangi meledak. Entah karena dia memang jeli atau karena faktor X yang cuma dimiliki Evaria.”
“Evaria Dona aktris terbaik 2020.”
“Evaria membuktikan pemeran utama belum tentu bisa jadi bintang utama.”
Tidak buruk. Eva memejamkan mata, setidaknya malam ini ia mungkin akan mimpi indah.
Koen’s POV I stared at Danika as though I was seeing her for the first time. For a moment, I could barely recognize the woman standing in front of me. I couldn’t believe that this was the same woman I had once loved. The woman I once thought I would spend the rest of my life with. Staring at her now, all I could feel was disgust. “Get out!” I yelled at her. “I won’t repeat myself again. Leave my room!” Danika’s smile slowly faded. For a second, she simply stared at me, stunned and almost in disbelief. “What?” Her brows furrowed. “That’s it?” “There is nothing to think about.” Her expression changed. I forced myself to stand straighter despite the heat burning through my body. “I hate Zevran. I hate what he did to me, and I hate what he is trying to do to Celestia now.” My jaw tightened. “But I am not going to become worse than him just to get revenge.” Danika stared at me. “I’m not going to use a child to take Drakhar from him. And I’m definitely not going to sleep with you
Koen’s POVThe poison is eating me alive.Heat surged through my veins like molten metal, burning its way from my stomach to my chest, then climbing into my throat and pounding behind my skull.I couldn't think straight… I couldn’t breathe right.Every breath scraped against my throat, too shallow to fill my lungs. Sweat soaked through my shirt and ran down my back, yet nothing cooled me. If anything, the fire beneath my skin kept getting worse.I gripped the edge of the bed and lowered my head between my shoulders.How much poison had I swallowed? How long do I have before it fully consumes me?A hard knock against the door startled me out of the haze.I lifted my head, fighting through the dizziness as another knock followed, louder and more urgent this time.Someone was outside.It had to be Rhea.She was the only person I could think of who would come all the way here just to check on me.Relief surged through me. I need to get to her. I need to get help. I forced myself to my fe
Koen’s POV I had no idea where I was going. I just let my feet carry me wherever they wanted. I only wanted to be left alone. No questions. No accusations. No one looking at me as though I was supposed to have an answer for every damn thing that had gone wrong. I just wanted to get as far away from that council chamber as possible. Hell, I wanted this whole thing to be over. Harven Cole. The bastard had spent less than a day inside Celestia, yet somehow he had managed to drag my entire Pack into this mess. One rogue. That was all it took. One man we had never even accepted. One man we had never protected. One man we had actually rejected because we knew something about him was wrong. And somehow, we were still the ones being punished for it. My jaw tightened. What more did they expect from us? Harven came to Celestia asking for a place. We gave him the same chance we gave everyone else. We listened to his story. We checked his claims. Sandra found inconsistencies, and the
Rhea’s POVKoen stormed out of the council chambers the moment the hearing ended.“Koen!” I called after him, but he didn’t even look back.Sandra and I hurried after him, weaving between the representatives spilling into the hallway. Koen was already several steps ahead of us, moving so quickly that I nearly had to run to catch up.Something was wrong.He had endured every accusation thrown at him inside that chamber without breaking. Even when Alpha Garran had practically called him a criminal to his face, Koen remained calm.But the moment Harven Cole’s name came up, something in him changed.“Koen, wait.”I finally caught up to him. My hand lifted instinctively toward his arm, but I stopped myself before touching him.He slowed down and glanced at me.“Are you all right?” I asked him worriedly. “I’m fine,” he answered, barely looking at me.My brows drew together. He doesn’t look fine.His jaw was clenched, and his hands were curled tightly at his sides as though he were holding
Rhea’s POVA hollow, suffocating silence pressed against my chest.My sister is pregnant.And the father was none other than my own mate, the same man that I had given myself to last night. Now, both our families are here discussing my mate and my sister’s official mating ceremony so she could for
Rhea’s POVArtavius is now the official future Alpha of the Valcrest Pack. After years of being gone, he is officially returning home tonight.Yesterday, the pack had just received news that Artavius, our Alpha’s only son had emerged victorious from the Ascension Rite.It is an old werewolf traditi
Rhea’s POVEleven days passed.Only three remained before Artavius and Brielle’s mating ceremony.The entire pack had transformed in preparation for it.Decorations draped the Packhouse halls while warriors doubled patrol rotations around the territory. Noble families from neighboring packs had alr
Rhea’s POVPeople rushed to comfort Brielle while they only spared me judging glances.Not a single person approached me.The people who once praised me for my strength and loyalty, and respected me as Valcrest’s Vanguard didn’t dare to approach me.I suddenly felt completely alone.Alone in the mi






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.