Se connecterLara was never meant to be a Luna in their eyes—an orphan, wolfless, and burdened with a mark the pack called a curse. Yet fate bound her to Alpha Matteo, a powerful leader torn between destiny and duty. But love in a ruthless pack is fragile. When the elders pressure him and Lara’s inability to conceive becomes a problem for the pack, Matteo makes an unthinkable choice—he rejects her and casts her aside. In her place rises Selene, a seemingly delicate woman who quickly secures her position as the future Luna immediately she was announced to be pregnant with Matteo's son. Broken and discarded, Lara is forced into exile… unaware that her fall is only the beginning of something far greater than anyone could imagine.
Voir plusAku tidak percaya, ternyata tubuh mertuaku jauh lebih nikmat daripada istriku sendiri. Malam ini, akhirnya aku bisa melepaskan hasratku dengan Mama Siska, ibu mertuaku sendiri.
"Enak banget Ma, semakin lama rasanya semakin nikmat." Aku tidak berhenti menggoyang mertuaku di atas kasur. "Kamu juga sangat perkasa Raka, Mama sampai kewalahan. Kamu memang luar biasa, ayo Raka bikin Mama puas!" Desahnya, badannya bergetar. "Siap Ma, akan kubuat Mama puas. Kita main sampai pagi Ma, Mama mau kan aku goyang sampai pagi?" "Mau banget Raka, Mama pasrah apapun yang kamu lakukan." Istriku berselingkuh dengan pria lain, maka dari itu aku membalasnya, berhubungan dengan Ibunya.**
Hujan deras mengguyur malam itu, menciptakan simfoni yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak untukku. Aku terjaga di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berantakan, seperti hujan yang mengguyur tanpa henti. Seharusnya di sebelahku ada istriku yang menemaniku, di saat cuaca dingin begini aku hanya bisa memeluk guling. Aku sudah membayangkan bisa bercinta semalaman dengan istriku, padahal baru beberapa hari saja kita resmi menjadi suami-istri. Memang di saat malam pertama pernikahan kita, aku sudah bercinta dengannya semalaman suntuk tanpa henti. Sekarang benda pusaka ku ingin memuntahkan lahar panas nya, tapi sekarang aku sendirian tidak mungkin jika aku sampai jajan di luar. Aku punya nafsu yang tinggi, apalagi cuaca dingin begini, semakin besar keinginanku untuk bercinta. Ponsel di tanganku masih menyala, menampilkan pesan suara dari Tiara. "Sayang, jangan lupa makan ya. Mama pasti bakal perhatian sama kamu, jadi gak usah khawatir." Suara Tiara terdengar lembut, tapi ada sesuatu yang terasa jauh. Aku menarik napas panjang sebelum membalas. "Iya, hati-hati di sana." Setelah hampir seminggu Tiara pergi dinas ke luar kota. Awalnya, aku pikir tidak masalah tinggal sendiri di apartemen. Tapi dia bersikeras agar aku tinggal di rumah orang tuanya. "Biar Mama bisa nemenin kamu. Lagian, kamu belum terlalu akrab sama Mama, kan?" Dan di sinilah aku sekarang. Di rumah yang bukan rumahku, di bawah atap yang sama dengan seorang wanita yang… semakin sulit untuk tidak kupikirkan. Bu Siska. Bukan ibu kandung Tiara, tapi ibu tirinya—dan itu seharusnya tidak membuat perbedaan. Tapi, entah kenapa, aku mulai melihatnya dengan cara yang tidak seharusnya. Ibu Siska terlihat sangat cantik, badannya seperti gitar spanyol, kulitnya putih mulus dan senyumnya itu rasanya mengajak untuk berbuat maksiat. Aku menggeliat di tempat tidur, mencoba mengabaikan kegelisahan pikiran kotor yang mulai merayapi pikiranku. Tapi rasa lapar memaksa aku keluar kamar. Langkahku di lorong terasa lebih berat dari biasanya, mungkin karena pikiranku yang tidak tenang. Begitu tiba di dapur, aku langsung melihatnya. Bu Siska. Ia berdiri di dekat meja makan, hanya mengenakan gaun tidur satin berwarna biru muda. Kain halus itu membalut tubuhnya dengan pas, menyoroti lekukan yang masih terjaga di usianya yang menginjak 42 tahun. Bahunya terbuka sedikit, memperlihatkan kulitnya yang masih kencang dan mulus, seperti wanita yang jauh lebih muda dari usianya. Rambut hitamnya tergerai santai, memberi kesan liar namun tetap elegan. Mataku tertuju pada buah dadanya yang lumayan montok, saat dia menata piring rasanya buah dadanya akan tumpah. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, tapi terlambat. Ada sesuatu yang menancap di benakku. Sesuatu yang mengusik. Astaga, ini ibu mertuamu sendiri, Raka. Fokus. Namun sebelum aku bisa merapikan pikiranku, ia menoleh dan tersenyum. Senyum yang lembut, tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat. "Raka, ayo makan dulu," ajaknya dengan suara yang hampir seperti bisikan. Aku mengangguk dan duduk di meja makan. Dia menuangkan sup hangat ke dalam mangkukku, aroma rempah dan jahe menguar, menyebarkan kehangatan di ruangan yang terasa semakin sempit. Entah kenapa rasanya Bu Siska, seperti sengaja menempelkan buah dadanya pada wajahku. Hingga tercium aroma parfum dan body lotion nya, yang membuat pedang pusaka ku berdenyut-denyut. "Tiara pasti sering masakin kamu, ya?" tanyanya, matanya menatapku lebih lama dari seharusnya dan dia meremas buah dadanya sendiri seperti sengaja. Aku menelan ludah. Senyum itu… tidak seperti senyum ibu mertua pada menantunya. Kenapa juga dia harus meremas buah dadanya sendiri di depanku. "Iya, Ma—eh, Bu," jawabku, buru-buru memperbaiki panggilan. Mama Siska terkekeh pelan, suara tawanya renyah, hampir seperti godaan. "Mama aja nggak apa-apa. Toh, kamu memang anak Mama sekarang." Aku ikut tertawa kecil, mencoba tetap tenang. Tapi saat aku hendak mengambil sendok, tangannya tanpa sengaja menyentuh tanganku lagi. Sekilas, itu mungkin hanya kebetulan. Tapi kehangatan yang tertinggal di kulitku bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Aku meneguk air putih, mencoba menenangkan diri. Setelah makan, aku beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Saat aku hendak kembali ke kamar, suara Mama Siska menghentikan langkahku. "Raka," panggilnya pelan. Aku menoleh. Ia berdiri di lorong, bersandar di kusen pintu kamarnya, satu tangan terangkat menyentuh kayu, tubuhnya sedikit miring. Gaun tidurnya tampak lebih pendek daripada tadi, memperlihatkan pahanya yang mulus di bawah cahaya redup. Aku menahan napas. "Kalau butuh sesuatu… jangan ragu panggil Mama, ya?" Dia mengedipkan mata sambil mengigit bibirnya. Suaranya begitu lembut, hampir seperti bisikan di telinga. Seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan lebih dari sekadar kata-kata. Aku hanya bisa mengangguk. "I-iya, Ma." Ia tersenyum tipis, sebelum masuk ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Aku diam di tempat, jantungku berdegup lebih cepat dari seharusnya. Tidak. Ini pasti cuma pikiranku saja. Tapi saat aku berbalik, mataku tak sengaja menangkap pantulan di kaca jendela ruang tamu. Pintu kamar Mama Siska belum benar-benar tertutup. Masih sedikit terbuka… cukup untuk kulihat sepasang mata yang mengawasiku dari celah itu. Aku merinding. Aku segera berbaring di kasur, menarik selimut dan berharap segera pagi. Tapi ternyata aku tidak bisa tidur, pikiranku terbayang wajah Mama Siska apalagi saat dia meremas buah dadanya. Gara-gara memikirkan Mama Siska, membuat gairahku naik. Seketika benda pusaka ku langsung mengeras, sampai terlihat jelas di dalam celanaku. "Ssshhh aaahhhh...." Tiba-tiba terdengar suara aneh, aku turun dari ranjang dan mencari sumber suara itu. Aku membuka pintu dan ternyata pintu kamar Mama Siska masih terbuka, suara itu semakin terdengar jelas. Sekarang aku tau jika itu suara Mama Siska, dia sedang mendesah membuat kerongkonganku mendadak kering. Aku berjalan secara perlahan, sampai berada di depan kamar Mama Siska. Aku mengintip di balik tembok melihat ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya aku, melihat Mama Siska berbaring tanpa sehelai benangpun. Tangan kirinya membelai lembah terlarang nya, dan tangan kanannya meremas buah dadanya. "Ahhh enak Raka, terus sayang.... !" Nafasku terasa sesak, mungkin aku salah dengar. Jantungku berdebar kencang, rasanya udara semakin panas dan keringat menetes di dahi ku. Di tambah lagi benda pusaka ku malah makin keras, apalagi melihat tubuh Mama Siska yang aduhai. "Masuk Raka, jangan ngintip!" Aku semakin terkejut, rupanya Mama Siska tau jika aku sedang ngintip. Akhirnya aku menampakan diri, aku berdiri sambil menatap Mama Siska yang masih berbaring telentang dengan begitu menggoda. "Kamu gak bisa tidur ya? Ayo sini tidur sama Mama!" Aku harus melawan antara nafsu dan status. Dia mertua ku, tidak mungkin jika aku mengkhianati istriku sendiri. Tapi nafsu mengalahkan segalanya, aku tidak peduli yang jelas malam ini harus di lampiaskan. Aku sudah tidak kuat menahannya, dalam beberapa hari ini. Sedangkan di depan mataku, terdapat kenikmatan surgawi yang sudah menantang ku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya, aku butuh pelampiasan. "Raka...... Raka.... Raka.... !" Suara itu semakin terdengar jelas, hingga aku membuka mataku. "Tokkk.... Tokkkk.... Tokkkk... Raka... Raka... Bangun!" Itu suara Mama Siska, ternyata semuanya hanya mimpi. "I-iya Ma, aku sudah bangun." Jawabku gelagapan. "Mama tunggu di meja makan ya?" "Iya Ma," Aku segera berlari ke kamar mandi. Gara-gara memikirkan Mama Siska, membuatku bangun kesiangan.The impact cracked through the silent room. My head snapped back, and the force knocked me off my feet, sending me crashing into the weapon rack. Blood filled my mouth as it streamed from my nose, running over my upper lip and down my chin.I staggered to my knees, coughing violently, staring up through a haze of pain and stars.Kael stood over me, his chest heaving, his knuckles already slick with my blood. The amber fire in his eyes burned with a rage I hadn't seen since we fought together on the frontlines."Shut your fucking mouth, Lucien," Kael growled, his voice trembling with a terrifying, quiet fury as he leaned down, gripping the front of my collar to drag me halfway back up. "You don't get to speak her name right now. Not after what you just did.""I was going to tell her!" I spat back, wiping a hand across my mouth, smearing the fresh blood into my stubble. "I was on my way to talk to her, Kael!""Talk to her?" Kael threw me backward, letting me slam against the stone floor
I stepped back even farther, the sudden loss of her warmth sending a sharp, icy chill through my veins. The air between us felt heavy, charged with the lingering electricity of a kiss that had completely shattered my resolve.I stared at her.My mind was a complete battleground. Every logical part of me knew what I was supposed to say. I knew the exact words that would sever the sacred string tying our souls together. I opened my mouth to speak, to force the words past my teeth and put an end to the madness before it consumed us both.I, Lucien, reject—The words died in my throat.Nothing came out. My jaw locked, my throat tightening as if a physical hand were gripping my windpipe. The image of her softly touching my hand, the quiet grace with which she was offering to sacrifice her own happiness, and the intoxicating, undeniable pull of that kiss rushed back through my mind all at once.I couldn't do it.I stood there like a coward, staring at the woman who had done nothing but suff
Lucien's POV"What favor?" I asked, my voice rough as I broke the silence.Stella took a slow step toward me, her eyes fixed on mine. “Just one kiss,” she whispered, her voice shaking. “Please. Just one real kiss from you before you break the bond.”She swallowed hard, trying to steady herself. “I know it won't change anything. I know you'll still leave. But when the bond is gone and I can't feel you anymore, I want something to remember. Just one thing that was mine. I want to know what it felt like to kiss my mate, even if you never wanted me back.”A sad smile touched her lips, as if she were trying to make the request seem easier than it was.I stared at her, completely frozen. My mind shouted at me to step back, to say no, to put an absolute end to this before it crossed another line. But the mate bond, sensing her raw vulnerability, surged violently beneath my skin. My wolf clawed at the surface, practically roaring inside my chest, deafening every rational thought I had left.K
"It is," I cut her off, unable to look her in the eye.I couldn't look at her without seeing the threat she inadvertently posed to Elara. I couldn't look at her without feeling the pull of a bond I never asked for, calling to a part of me I was fiercely trying to lock away. But as my harsh words settled over the room, guilt followed. Stella hadn't asked for any of this. She hadn't done anything to Elara, and she didn't deserve my anger.The bond gave a sharp pull in my chest, and I caught the hurt in her expression before she hid it."I'm sorry," I murmured.Stella paused with her hand on the brass handle."I shouldn't have snapped at you," I murmured, my voice losing its bitter edge as the lingering adrenaline drained out of me. "None of this mess is your fault, Stella. You didn't do anything wrong."She stood still for a long beat, letting the heavy apology settle. Then, stepping through the broken glass without a second thought, she closed the distance between us.She reached out,
LARAI opened my eyes to a white ceiling.The room was spacious and spotless, and the sharp scent of medicine lingering in the air told me immediately that I was in a clinic. I pushed myself upright, but the nauseating smell twisted my stomach violently.A soft hand rested against my back before I
My heart rate rose sharply, despite being in a near-unconscious state. I've always been afraid of the dark. A natural phenomenon that werewolves loved and eagerly anticipated. The endless shadows between the trees, the suffocating silence, the feeling that something unseen was always watching... it
Selene didn’t speak at first.She simply stood there, her expensive heels planted firmly in my line of vision, the faint scent of her rose perfume cutting through the damp, soapy air of the laundry room. I kept my head down, my raw fingers still moving mechanically over the last sheet, scrubbing ev
Overnight, everything had changed.I was no longer allowed to sleep in the bedroom I once shared with Matteo. Instead, I was ordered to move to the maids’ quarters. I had less than three days to gather my belongings and disappear from this pack forever.When I reached the small, dimly lit room, I p






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.