LOGINJulie thought she had it all: a Husband who loves her, a promise of forever, and a love story born under the Montana sky. But betrayal shattered her world, leaving her a single mother on the run. Adam, the love of her life and the man she trusted, cheated and betrayed her, leaving a trail of lies and a burning past. Four years later, fate intervenes. A chance encounter with their son throws them together again. Adam, consumed by guilt and regret, fights for a second chance. Julie, hardened by hurt, grapples with the ghosts of their past and the constant attacks of the jealous socialite Elena, Adams new Fiance . Adam was laced with Drama, She'd never knew he was the Owner of Delta Tech and A playboy billionaire, that was until she saw the man she recently had divorced announce his new engagement to the world while she wasted away in a jail cell. She had finally started to build again and Adam comes back to flip her world upside down, she needs to protect her child. And although Adam is pleading for a second chance, and promising to right his wrongs she falls deeper and deeper into the whole she struggled so hard to get out of. As the truth unravels, secrets come to light, and a web of deceit threatens to tear them apart. Can they overcome the firestorm of lies and Elena's vengeful fury? Can their ranch love rekindle amidst the opulence of a billionaire's world?
View MoreWidjaja Group.
Narendra membaca tulisan berwarna keemasan yang menghias bagian depan gedung pencakar langit 77 lantai. Ini bukan pertama kalinya dia mengunjungi gedung yang pernah menjadi gedung tertinggi di negara ini, tetapi baru kali ini dia menyadari kalau aura gedung ini begitu angkuh dan mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.
Pelan dia memutar pandangan. Memperhatikan orang yang berlalu lalang di sekitar. Mereka yang menggunakan lanyard dengan logo W dan tulisan Widjaja Group terlihat begitu percaya diri dan penuh kebanggaan. Sementara yang lain menatap gendung ini dengan pandangan iri campur mendamba.
Sebenarnya ini bukan hal yang aneh. Hampir semua penduduk negara ini ingin menjadi bagian dari Widjaja Group. Bayangkan saja, korporasi terbesar di seluruh Asia Tenggara tentu gaji dan fasilitas yang ditawarkan adalah yang terbaik. Bahkan ada anekdot yang mengatakan ID card pegawai Widjaja Group lebih mumpuni dari paspor negara ini.
BYUUUUR!!
Sebuah mobil mewah keluaran terbaru melintas di samping Narendra dan melindas genangan air. Seketika pria itu basah kuyup karena kejadian itu begitu cepat dan dia tidak sempat menghindar. Kemeja putih yang dikenakan berubah warna dengan bercak cokelat di sana-sini.
“Sial,” Narendra berujar kesal sambil berusaha membersihkan sisa air. Matanya tidak lepas memperhatikan mobil mewah keluaran Jerman yang terus melaju memasuki kawasan gedung Widjaja Group tanpa setitik pun perasaan bersalah.
Kalau tidak ingat janji yang dimiliki, ingin rasanya Narendra pulang. Tetapi saat ini dia tidak punya pilihan. Ada hal yang harus diselesaikan. Dia harus menjalankan ini sesuai dengan perjanjian yang sudah disetujuinya.
Tepat ketika kakinya menjejak lobi, seorang petugas keamanan segera mendekati Narendra. Belum sempat petugas berbadan besar itu mengucapkan sepatah kata pun, seorang pria menghampiri sambil tertawa mencemooh.
“Sejak kapan gembel bisa masuk ke gedung ini?” Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada merendahkan begitu kental.
Narendra bergeming. Dia berusaha menggali ingatan tentang siapa pria di hadapannya.
“Gue sengaja ngelindas genangan air buat ngusir gembel kayak lo. Nggak pantes di sini,” pria itu masih terus merendahkan sambil memperhatikan penampilan Narendra dari ujung kepala sampai ujung kaki, “Kemeja putih, celana hitam. Pasti nyari kerjaan, ya? Jadi office boy aja lo nggak pantes di sini.”
“Sayaaang, aku kok malah ditinggal, sih?” Seorang wanita dengan gaun selutut berpotongan dada rendah mendekat kemudian memeluk lengan pria di hadapan Narendra.
Ah, putra keluarga Kesemua dan tunangannya, Narendra akhirnya berhasil mengingat siapa mereka.
“Ada gembel ganggu pemandangan,” Ardi Kesuma berujar pongah, “Bikin mata aku gatel lihatnya. Ini harus dilaporin ke Pak Sabda.”
“Pak Sabda siapa?” dengan kenes Sang tunangan bertanya.
“Babe, kok, bisa kamu lupa? Itu CEO Widjaja Entartaiment. Kita nanti meeting sama dia. Aku udah ngasih data dirinya buat kamu hapalin dari bulan lalu. Gimana, sih?!”
“Lupa,” Sang tunangan bergelayut mesra hingga payudaranya menempel ke lengan Ardi seakan lupa kalau mereka ada di tempat umum.
Ardi baru akan mengucapkan sesuatu ketika sudut matanya menangkap sosok seorang pria, Abimana Widjaja. Salah seorang anggota keluarga Widjaja sekaligus tangan kanan Sabda Widjaja. Dengan cepat Ardi mengulaskan senyum ramah kemudian melambaikan tangan, “Pak Abi!”
Abimana yang sedang sibuk dengan ponsel segera mencari sumber suara. Ketika melihat Narendra dan Ardi, dia segera berjalan mendekati mereka, “Udah datang?”
Entah untuk siapa pertanyaan itu diajukan.
“Udah. Terlalu semangat mengingat ini meeting pertama kita dan langsung ketemu sama Pak Sabda,” Ardi sigap menjawab, “Semoga ini bisa jadi awal untuk kerja sama keluarga Widjaja dan Kesuma, ya”
Abimana hanya membalas dengan senyum profesionalnya. Dia sudah terlalu lama berkecimpung di dunia bisnis untuk tahu karakter asli seseorang. Ardi jelas seorang yang fake dan pengejar keuntungan semata.
“Keamanan gedung ini kurang oke, ya,” Sang Tunangan yang sejak tadi diam tiba-tiba menyeletuk.
“Maaf, keamanan bagaimana maksudnya?” Abimana bertanya sopan.
“Ini, Pak Abi,” Ardi menunjuk Narendra kemudian berujar pongah, “Kalau di K-Group pasti udah langsung diusir.”
“Siapa yang Anda maksud dengan gembel?!” Intonasi Abimana sedikit berubah, “Pria ini,” dia menunjuk Narendra yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka dalam diamnya.
“Akan segera keluar,” Narendra tersenyum penuh arti, “Memang bukan tempat saya di sini.”
Abimana berdecak kesal, “Akan saya urus, Anda tenang saja,” dia melempar senyum profesional sebelum menarik Narendra menjauh diirini dengan senyum kepuasan Ardi.
“Pintu keluar di sana, Pak Abi,” Narendra berujar tenang sambil membiarkan Abimana menarik lengannya.
“Gue tahu. Gue lebih kenal gedung ini dibanding lo,” Abimana terus menariknya menuju lift khusus yang hanya boleh digunakan oleh petinggi Widjaja Group dan membutuhkan kartu akses khusus agar lift itu berfungsi. Abimana baru melepaskan tarikannya setelah mereka hanya berdua saja di dalam lift, “Sampah banget itu Si Ardi! Dia tahu nggak, sih, lo siapa?”
“Nggak tahu. Kalau tahu nggak mungkin kelakuannya kayak gitu. Dia ngapain? Pakai bawa tunangannya segala. Mau ngemis ke kita?”
“Ngasih proposal film. Tokoh utamanya ya…tunangannya.”
“Basi!” Narendra tertawa kecil, “Jangan bilang lo nyuruh gue datang hari ini buat meeting sama mereka? Gue nggak mau. Gue datang cuma buat ngecek berkala dan tanda tangan berkas aja.”
“Ck! Sampai kapan, sih, lo mau berhenti main-main, Dra?! Lo itu salah satu penerus Widjaja Group! Udah waktunya lo buat tampil. Tunjukin ke dunia lo itu siapa sebenarnya.”
Narendra kembali tertawa. Sejak dia kembali ke negara ini setelah menyelesaikan pendidikannya di London kemudian Boston dan memutuskan untuk mencoba kehidupan orang biasa selama tiga bulan, pertemuannya dengan Abimana selalu berisikan hal yang sama. Sepupu yang hanya lebih tua beberpaa tahun darinya sejak kecil memang sudah menjadi tangan kanannya. Ke mana pun Narendra pergi, Abimana selalu ikut.
Kecuali ketika Narendra dengan gilanya memutuskan untuk menjadi oran biasa selama tiga bulan.
Seorang Abimana tentu tidak bisa lepas dari kemewahan. Begitu juga dengan Narendra. Tetapi kebosanan membuatnya ingin mencoba. Seperti dugannya menjadi orang biasa penuh dengan tantangan….juga berbagai hal baru.
“terserah, deh. Tapi itu si Ardi mau diapain? Nggak habis pikir lo bisa setenang itu,” pintu lift terbuka, “Awas aja kalau lo lepasin.”
“Bikin miskin,” Narendra menjawab santai. Bagi seorang Widjaja, harga diri adalah segalanya, “Kalau perlu sampai seluruh keluarganya.”
“Roger, Bos,” Abimana terlihat bersemangat, “Gue bakal beresin. Lo tinggal nonton aja.”
Narendra hanya tertawa sambil melambai sebelum memasuki ruangan besar dengan dua dindingnya berupa kaca jendela yang menawarkan pemandangan terbaik ibukota, kantor CEO Widjaja Entertaiment yang berada di lantai 70 gedung Widjaja Group.
Sebuah papan nama dari kayu jati dengan kualitas terbaik berdiri penuh keangkuhan di atas meja bertuliskan namanya, Sabda Narendra Widjaja.
The thunder rumbled low in the distance, a heavy drumroll that shook the windows and the walls, rattling the thin panes of glass in their frames. Rain lashed against the house like a thousand tiny fists, and the room was filled with the steady hiss of water meeting earth. I watched Adam talk to Nana, his voice low, almost lost in the sounds of the storm. He stood close to her, leaning in with a kind of reverence, the way someone might lean toward a delicate flower, afraid it might wilt if they got too close. He was good at that—making himself seem small when he wanted to, humble even, and I hated how much I liked that about him.I tossed the last log onto the fire, the wood crackling as the flames licked hungrily around it. Nana turned to me, a cup of cocoa in her hands, her smile soft in the glow of the firelight. "Oh, I do love a warm fire on nights like these," she said, her voice calm, timeless. Her words seemed to fill the room, pushing back against the sound of the rain, making e
Julie's POVIt should have been the moment that defined everything—when he stepped onto the farm. Part of me wanted him from the start, even if I refused to admit it. He was life itself, like the sun—a warmth that could burn, yes, but one you crave even when you know it might hurt. The first two weeks were okay, just okay, and I hated how indifferent they felt. He’d wake early, saunter into the house for breakfast, then disappear into town for hours. Sometimes he’d be gone until dinner, when he’d stroll back with the swagger of a man who’d had a good time. He’d settle into that chair he claimed the very first day, next to Nana. Close enough to chat with her, but far enough from me that it drove me mad. Far enough that I couldn't breathe him in—that intoxicating scent that was all his own—but close enough that our knees would occasionally brush, just barely. And each time, it sent a wave of something through me, a kaleidoscope of questions spinning in my head. What did it mean when his
Jules' POV The room was draped in the gentle glow of late afternoon, the kind of light that makes the dust motes linger in the air, suspended like tiny worlds of their own. I hadn’t realized how still I’d been standing, how long I had been watching him, until his voice cut through the silence like a stone thrown into still water."Are you going to just stand there and stare at me?"I snapped back, feeling the rush of heat crawl up my neck. My cheeks betrayed me, flushing crimson. I was caught—there was no way to deny it. But, really, how could anyone not look? His form seemed to have been carved by hands that knew how to shape desire. Every inch of him held the kind of beauty you didn't turn away from, even if it meant being found out."Yeah," I muttered, twisting a lock of hair around my finger, a childish habit that always betrayed my nervousness. I perched on the old couch near the barn window, pretending it was the view outside that had held my gaze. The worn leather felt cool ben
ONE YEAR AGOJules’ POVThe afternoon sunlight lingered lazily, cascading in golden threads through the small, old-fashioned windows, catching the dust particles in its path and making them glimmer, suspended in their quiet, aimless dance. I watched them float, as I often did. Outside, the vastness of the fields stretched endlessly—wheat swaying with the same gentle rhythm, as if time itself had lulled the farm into a perpetual hum of sameness. I was not a part of it, not really. The farm was a stage, and I, a bystander, waiting for a cue that never came.I loved writing. I could almost feel the tactile click of keys beneath my fingers, the soft glow of the laptop illuminating the stories waiting to be released from my mind. But here, on the farm, everything moved slower. The stories stayed locked inside, and instead, I found myself in Nana's kitchen, caught in a different kind of rhythm—her rhythm. The scent of apples simmering in sugar and cinnamon filled the small kitchen, mingling
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.