LOGINElias Rourke was more than a billionaire he was a tempest in a custom-fitted suit. As the CEO of Rourke Enterprises a bachelor, he was known for his icy effectiveness, merciless transactions, and total absence of emotion. Everyone referred to him as “Ice King” when he wasn't around. Up until her. Chloe Hart had worked as his secretary for slightly more than two weeks. Timid, kind-hearted, and excessively courteous, she was the type of woman who kept track of birthdays, tended to plants, and uttered "please" to the coffee maker. Elias hardly paid attention to her,until the morning she entered his office unannounced. “I apologize for the interruption,” she said, her voice shaking, “but you haven’t had anything to eat today.” "It's nearly four." He looked at her, irritated. “That’s none of your business.” “I prepared a sandwich for you.” She places it on his desk and walks away before he has a chance to reply to her. Even with how rude he is to her, she brings him homemade meals everyday and lavender tea after tough meetings. He started to notice little details about her, the way she played with her necklace when anxious, she shows no emotions even when he yells at her. One day, he sees himself approaching her desk not to order her around, but to ask her about her well being. When a scandal almost destroys Elias’s empire. She stays by his side, not out of obligation, but because she trusted him. He looked at her and whispered, “You are the gentleness in my whole existence." "I don't know how to show emotions, but I will learn just for you." Chloe smiled, looking at him and said "Steel is capable of melting, Elias." "Even kings can experience love."
View More"Aakh...!!sakit mas..!!kumohon berhentilah..!!"
Maura gadis cantik itu memohon ampun pada Dewa Allandra,lelaki yang saat ini sedang memompa tubuhnya dengan brutal. Lelaki itu tak menghiraukan permohonan gadis cantik yang kini hilang kesuciannya."Tubuhmu sangat nikmat sayang,aku tak bisa berhenti sebelum hasratku tertuntaskan."sahut Dewa yang masih begitu semangat memacu tubuhnya di atas tubuh molek adik iparnya tersebut.Ya,Dewa adalah suami dari Maulina Arabella yakni kakak dari Maura Anabella. Lelaki itu menikahi Mauli sekitar dua tahun yang lalu. Maulina atau kerap di sapa Mauli berprofesi sebagai model.Wanita itu jarang pulang karena menjadi model profesional,dengan segala tuntutan profesinya,Mauli tak bisa memberikan perhatian pada Dewa yang di landa kesepian.Meskipun begitu,Dewa begitu sabar menjalani hubungan yang menurutnya tak sehat ini.Belakangan ini,Dewa merasa Mauli semakin mengabaikannya. Lelaki itu mulai menaruh curiga pada sang istri yang mulai jarang memberi kabar padanya.Malam ini Dewa menggila setelah ia kalah tender dari saingannya yang merupakan mantan kekasih dari sang istri.Lelaki itu pergi ke bar dan melampiaskan amarahnya pada minuman keras. Hingga tengah malam,Dewa masih berada di dalam bar dengan kondisi mabuk berat.Lelaki itu tak bisa pulang lantaran kondisinya yang mabuk parah,alhasil Rio sang asisten lah yang terpaksa harus bekerja keras menyeret manusia itu untuk pulang.Kebetulan malam ini akhir pekan dan Maura tengah berada di rumah sang kakak saat ini. Seperti biasa,gadis yang memilih hidup bersama sang nenek, setelah kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan itu,ia akan selalu berkunjung kerumah kakak iparnya untuk bertemu Mauli kakaknya di setiap akhir pekan dan menginap di sana.Dan apesnya,malam ini Maura menginap saat sang kakak ipar dalam kondisi tak terkendali akibat minuman keras,di tambah lagi sang kakak tak pulang karena ada pemotretan di luar kota.Gadis itu terkejut ketika membuka pintu dan mendapati sang kakak yang di papah oleh asistennya. Ia meminta Rio untuk membawa kakak iparnya ke dalam kamar lelaki itu.Setelah kepergian Rio,gadis itu berusaha membantu kakak iparnya untuk berganti pakaian karena pakaian yang di pakai oleh Dewa sudah kotor bekas muntah dan tumpahan wine berbau menyengat.Karena dalam keseharian Maura dan kakak iparnya lumayan akrab,ia tak merasa canggung untuk menggantikan baju kakak iparnya. Hanya sebatas atasannya saja,begitu pikir gadis itu.Ia tak menyangka jika akhirnya lelaki mabuk itu justru tak terkendali saat ia mulai membuka pakaiannya,lelaki itu mulai melampiaskan kegilaannya akibat terpengaruh minuman keras.Dewa memaksa menggauli Maura yang saat itu dalam pandangannya adalah Mauli sang istri.Dan berakhirlah Maura yang kini menangis dalam kukungan di bawah tubuh lelaki itu karena kini gadis itu sudah hilang kesucian akibat ulah kakak iparnya.Lelaki itu dengan liar terus bergerak diatas tubuh Maura mencari puncak kenikmatannya sendiri.Si cantik hanya bisa pasrah dan menangis,mahkota yang ia jaga selama ini dan akan ia persembahkan untuk sang suami kelak,kini telah terkoyak tak bersisa.Hampir satu jam kakak iparnya menikmati permainan panas itu sampai akhirnya.."Argh....aku sampai sayang!!" Dewa menggeram melepaskan puncak kenikmatan yang ia dapatkan. Lelaki itu menanamkan benih dalam rahim adik iparnya sendiri.Usai pelepasan,lelaki itu langsung terkulai dan pulas. Maura mendorong tubuh lelaki itu dengan sisa tenaganya agar beranjak dari atas tubuhnya.Menangis,hanya itulah yang dapat Maura lakukan atas kejadian yang menimpanya. Ia tak mungkin mengadukan hal ini pada Mauli kakaknya atau hal ini akan menghancurkan rumah tangga kakaknya.Meratapi nasib,itulah yang terjadi. Maura menangis sejadi -jadinya,tubuh polosnya yang berhias peluh memeluk lutut di atas ranjang sang kakak ipar yang menjadi saksi bisu atas hilangnya kesucian yang ia miliki.Apa yang sudah hilang tak mungkin ia miliki lagi,kini tak ada lagi Maura gadis cantik yang masih suci. Yang ada hanyalah Maura yang kini telah ternoda. Mahkota yang kelak akan menjadi kebanggaan yang akan ia persembahkan pada tambatan hatinya kelak,kini telah sirna.Lalu bagaimana ia akan menjalani kehidupan setelah ini??"Oma..hiks..hiks..maafkan aku,aku tidak bisa menjaga kehormatanku,hiks.." Maura kembali terisak.Ia mengangkat pandangannya,ia tatap lelaki yang kini sudah pulas usai menembakkan lahar putihnya ke rahim gadis itu,entah mengapa Maura tak bisa membenci lelaki yang merenggut kesuciannya tersebut.Mungkin karena Dewa selalu bersikap baik kepadanya selama ini,gadis itu selalu mendapatkan apa yang ia inginkan jika ia mau merengek pada kakak iparnya tersebut,hubungannya terjalin cukup baik dengan sang ipar,tapi ia tak pernah menyangka bahwa hari seperti ini akan menghampirinya.Seseorang yang ia anggap sebagai malaikat pelindung,ternyata merampas hal yang paling berharga yang ia miliki."Bagaimana jika mbak Mauli sampai tahu kejadian ini??"gadis itu terus bermonolog dengan diri sendiri.Sesekali Maura menggeleng dan memukul kepalanya sendiri memaksa otak sempitnya untuk berpikir keras agar menemukan solusi terbaik dalam memecahkan masalah ini. Ia tak mungkin menjadi duri dalam pernikahan kakaknya sendiri.Cukup lama Maura terus bergelung dengan pikirannya sendiri,namun hingga menjelang pagi,gadis itu sama sekali tak menemukan solusi. Ia tak dapat menerka apa yang akan terjadi pada dirinya kedepannya setelah kejadian ini.Karena lelah terus berpikir dan menangis,gadis malang itu mencoba kembali berbaring dan meringkuk,ia pejamkan mata,namun tak kunjung juga berhasil menyelami alam mimpi. Bayang bayang dimana kakak iparnya mengukung dan memaksa menyetubuhinya terus menari di benaknya.Gadis itu kembali membuka mata,ia menoleh ke arah pria yang telah merampas kesuciannya tersebut. Di tatapnya wajah damai sang ipar yang terpejam begitu lelapnya,air mata nya kembali mengalir dengan derasnya tanpa bisa di bendung."Aku harus bagaimana mas??hiks...aku tidak mungkin merusak hubunganmu dengan mbak Mauli,tapi sekarang aku hancur,,hiks..siapa yang mau menerima gadis kotor dan tak suci lagi sepertiku??hiks..hiks.." Maura kembali terisak.Ia kembali memiringkan tubuhnya dan meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Ia biarkan tubuhnya polos tak tertutup kain sehelai pun,rasanya ia tak sanggup hanya sekedar untuk menarik selimut dan menutupi tubuhnya.Maura terus menangis hingga merasa lelah,bahkan kepalanya mulai terasa pening karena terus menerus menangis semalaman. Ia terus berusaha untuk memejamkan mata,berharap esok pagi ia merasa lebih baik dan menemukan solusi yang terbaik.Dengan berbantalkan lengannya sendiri,gadis itu meringkuk,tubuhnya terasa seakan remuk redam akibat pertempuran yang di iringi pemaksaan oleh sang ipar....Bersambung.......Three Years LaterThe morning sunlight spilled through the floor-to-ceiling windows, casting a golden glow across the apartment. Chloe stood at the counter, stirring coffee, her hair tied loosely, a comfortable t-shirt paired with soft jeans. The smell of fresh bread lingered from the breakfast she’d made.Elias appeared behind her, warm and steady, his hands resting lightly on her shoulders. She leaned back into him instinctively, smiling without looking up.“You made pancakes again,” he said softly, his voice low and familiar.“I know you like them,” she murmured, tilting her head to press a quick kiss to his cheek.He chuckled, the sound full of contentment. “And I still love that you remember. Every little thing about me.”Chloe finally turned, catching his gaze. The years had softened some of the edges around him, the intensity tempered by laughter, late-night talks, and quiet mornings like this. But the depth, the care, the way he looked at her, remained exactly the same.“Three
CHLOE’S POV The sound of a car pulling up outside made my stomach flutter.I paused in front of the mirror one last time, smoothing my hair, straightening the dress I had carefully chosen. Not too fancy. Not too casual. Just… right. My heart was racing, hammering like it had a rhythm of its own.I took a deep breath, running my fingers lightly along the necklace I had put on a small ritual, grounding me. Tonight wasn’t just any night. Tonight was the night I was finally giving myself permission to be with him. To be honest with my heart.A soft knock pulled me from my thoughts. I opened the door, and there he was: Elias.No suit tonight. Just him. Calm, steady, the same presence that had haunted my days and dreams for weeks, yet somehow warmer, more open.“Chloe,” he said, voice low, certain. “ You look so beautiful”I couldn't hold back my smile. “ And you look good too” I responded He looked at me with assurance “Before we go… I need to say something.”My stomach fluttered harder
CHLOE'S POV After I returned to my office, Nina burst into my office right after lunch, her eyes wild like she already sensed something.“Talk,” she demanded. “Your aura has been doing backflips all day.”I blinked.She put both hands on her hips.“Chloe. Spill. Now.”I sighed, closing my laptop.She didn’t even sit, she dragged the chair across from me like she was preparing for war.“I chose,” I said quietly.Nina froze.Her mouth opened… closed… opened again.“You…. WHAT? Who?!”“Elias,” I said softly.She screamed.Actually screamed.Then slapped a hand over her mouth because the office was not soundproof.“Explain,” she whispered violently.I did.Everything.The confusion.The guilt.The dream I couldn’t shake.How Gavin told me to stop running.How Elias looked at me like he was afraid to breathe until I said the words.How I sat at the yard downstairs and thought of everything after the little scene at the bread room.By the time I finished, Nina’s eyes were glassy.“Chloe,”
CHLOE’S POV I didn’t go far.Just down the stairs, through the glass doors, and into the small courtyard behind the building the one with two benches, a few potted plants, and a fountain that never seemed to work.It was quiet enough.I sat on the edge of one bench, hands clasped between my knees, breathing in the cool air. It felt steadier out here. Less charged. Like the world had softened just enough for me to stop pretending.For a moment, I just sat there.Listening. Breathing. Trying not to feel everything at once.But of course, that was impossible.Because the moment I let my guard drop, the emotions I’d been holding back all morning came rushing forward…. not violently, not painfully, just… honestly.Like a tide I’d been standing against for too long.I rested my elbows on my thighs and lowered my head, eyes stinging just a little.Not from sadness.From relief.From finally letting myself admit even just in silence that I wasn’t okay.That I was overwhelmed. That I was con
CHLOE’S POVThe hallway felt longer than it had before.Or maybe it was just me.My heartbeat was too loud, my palms still a little damp from crying, and the air in my chest wasn’t moving the way it should. But Nina’s words stayed with me like a thread wrapped around my wrist, tugging me forward.Y
ELIAS’S POV.The ride back from the warehouse felt different.Not lighter, that would have implied joy.Not heavier, that would have meant regret.Just… different.Like something internal had finally stopped fighting to stay alive.Chloe sat beside me, her shoulder resting against the seat, her fin
CHLOE’S POVThe second the door clicked shut behind me, I pressed both palms flat against it and just… breathed.Slowly at first. Then too fast. Then unevenly.My heart felt like it was trying to break free from my ribs, like it had been running long before the rest of me caught up.I slid down unt
CHLOE’S POV We left the small chamber slowly, like stepping out of a memory instead of a room.The corridor felt different now.Not darker.Not lighter.Just… aware.As if the conservatory itself had exhaled with us.Elias still held my hand, his thumb brushing the back of mine in small, absent m












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews