The CEO's Proposition

The CEO's Proposition

last updateLast Updated : 2023-03-12
By:  Margarette GreyCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
9.8
47 ratings. 47 reviews
62Chapters
165.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Powerful. Steadfast. New York’s most eligible bachelor. Rafael Sebastian had been labeled every good and wicked thing in the corporate world. At the stage of my heartbreak from my failed marriage, I literally ran into him as a stranger that hit my hot buttons at first sight, a man who left me breathless with a single word and an irresistible smile. He made me feel better, and I confided in him more than I should. Our chemical connection was almost overwhelming, and the desires were unstoppable. To relieve ourselves from the intense tension igniting us—he had a proposition. A tempting but dangerous answer to our perplexing situation. But could I really live a life painted with lies? I know this was a bad idea, but that was something I’d think about later…

View More

Chapter 1

Chapter 1

“Pembunuh!”

“Wanita jahat! Hukum dia!”

“Penggal kepalanya!”

Suara-suara itu bergema tajam di telinga, bagaikan dengungan ribuan lebah. Setiap teriakan disertai tatapan kebencian, hinaan, dan jijik yang menghujam lebih tajam daripada pedang mana pun.

Di tengah lapangan eksekusi, seorang gadis muda berdiri dengan tangan terikat ke belakang, rambut panjangnya kusut, hanfu yang dikenakannya jauh dari kata layak.

Gadis itu akan dihukum, karena kesalahan yang tidak dilakukannya. Mencelakai Putri Kanaya, dengan mengirimkan bandit pada gadis itu untuk diperkosa, untungnya Putra Mahkota Daniel datang tepat waktu menyelamatkan gadis itu. Ini semua telah direkayasa oleh seseorang.

Elena memandang sekeliling, mencari satu tatapan iba sekadar bukti bahwa ia tidak sepenuhnya sendirian di dunia ini. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan kebencian.

‘Aku benar-benar sendirian?’ batinnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Tidak ada keluarga Adipati Dirgantara, tidak ada orang yang mencintainya. Hanya orang-orang yang menunggu kematiannya dengan senyum lebar.

Di ujung pandangan, algojo mengangkat pedang besar yang memantulkan sinar matahari. Bilahnya terlihat berkilau dan tajam.

‘Jadi sampai di sini jalanku?’ batin Elena.

Elena menutup mata rapat, kini ia pasrah. Sebuah bilah pedang menyentuh kulitnya.

Crash!

Seketika semuanya terlihat gelap.

"Tidak!"

“Hosh! Hosh!”

Elena terbangun dengan teriakan tertahan. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membasahi kening. Tangannya refleks meraih lehernya masih utuh, tanpa luka, tanpa darah. Jantungnya berdegup kencang seperti hendak pecah.

Pintu kamar terbuka dengan cepat, seorang gadis pelayan berambut cokelat masuk tergesa-gesa mendengar teriakan dari dalam.

“Nona! Apa yang terjadi?!” serunya panik, matanya melebar melihat nona mudanya menggigil di atas ranjang.

Elena menoleh cepat, pandangannya langsung terpaku. “Cani?” suaranya serak, nyaris tidak percaya apa yang dilihatnya.

Pelayan itu berhenti di ambang pintu. “Iya, Nona. Ini aku. Kenapa? Anda terlihat sangat pucat. Apa hari ini Nona kurang sehat?” tanyanya dengan khawatir.

Elena tidak menjawab, hanya menatap pelayan muda itu lekat-lekat, seolah takut gadis itu akan menghilang kapan saja. Di kehidupan sebelumnya, Cani pelayan setianya telah meneguk racun untuk menggantikan dirinya, gadis itu mati di pelukannya, tetapi sekarang?

“Kau masih hidup?” tanya Elena, suaranya bergetar.

Cani mengerutkan kening bingung. “Tentu saja, Nona. Apa nona bermimpi buruk?”

Elena mengabaikan pertanyaan itu, tangannya kembali meraba leher, memastikan sekali lagi bahwa kepalanya tidak terpisah. Semuanya nyata, panas tubuhnya, detak jantungnya, semuanya hidup.

“Cani!” Elena menatapnya dengan tatapan penuh kegelisahan, “tahun berapa sekarang?”

Cani terdiam heran, namun tetap menjawab, “Tahun 261 M, Nona. Kenapa bertanya seperti itu?”

Dunia seakan berhenti berputar, Elena menahan napasnya. Tahun 261 M itu adalah tiga tahun sebelum kematiannya. Hari ketika Kanaya datang ke rumah Adipati Dirgantara untuk pertama kalinya, hari ketika segalanya mulai runtuh.

Mata Elena membulat sempurna. ‘Aku … aku kembali? Dewa apakah ini kesempatan kedua?’ batinnya berdegup kencang.

“Nona?” Cani melangkah mendekat, pelayan itu bertanya kembali, “Apa Anda—”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Elena tiba-tiba menarik pelayan itu ke dalam pelukannya.

“Cani,” bisik Elena.

Tangis Elenaa pecah, penuh rasa kehilangan yang baru saja dihapus oleh keajaiban. “Kau hidup … kau benar-benar hidup.”

Cani membeku, kaget dengan pelukan hangat yang tiba-tiba itu. “Nona apa yang sebenarnya terjadi? Anda jangan menakutiku.”

Elena menahan air mata yang nyaris jatuh. Di kehidupannya yang lalu, Cani mati, kini ia bersumpah dalam hati tak akan membiarkan hal itu terulang.

“Tidak apa-apa,” kata Elena dengan suara bergetar, mencoba tersenyum. “aku hanya sangat bersyukur.”

Cani menatap wajah nona mudanya yang pucat, masih diliputi kebingungan. “Nona harus menenangkan diri. Adipati memerintahkan agar Anda bersiap ke aula utama. Katanya pagi ini ada tamu penting.”

Ucapan Cani itu menghantam kesadaran Elena. Aula utama, ingatan masa lalunya melintas jelas di ingatannya. Hari ini adalah hari Kanaya putri kandung Adipati Dirgantara akan datang. Hari di mana dirinya dipaksa menyerahkan paviliun pribadinya, fi kehidupan lalu, ia menolak dengan keras, dan berakhir dihukum.

Tapi kini Elena menarik napas panjang, tidak lagi ia menjadi bodoh. Ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Elena melepaskan pelukan pada Cani dan menatapnya penuh tekad kuat. “Baik. Bantu aku bersiap.”

Cani mengangguk, masih ragu namun tetap patuh. “Ya, Nona. Saya akan menyiapkan air hangat lebih dulu.”

Saat Cani bergegas ke kamar mandi. Elena menatap bayangan dirinya di cermin besar. Gadis berambut hitam panjang itu dengan mata biru kehijauan menatap balik. Di balik kelembutan wajahnya, kini terpantul sesuatu yang baru, tekad keras yang lahir dari kematian.

Elena menggenggam jemarinya erat. “Kesempatan kedua ini,” gumamnya pelan, “akan kupakai untuk merebut kembali hidupku.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ratings

10
94%(44)
9
2%(1)
8
0%(0)
7
4%(2)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
9.8 / 10.0
47 ratings · 47 reviews
Write a review

reviewsMore

Barbara Chandler
Barbara Chandler
this author is addictive. love love love every book.
2026-01-18 05:29:44
2
0
Kathryn
Kathryn
This author is excellent!.
2025-08-01 03:50:34
1
0
Jeanfrancis
Jeanfrancis
very interesting. I enjoyed reading it
2025-07-26 06:17:14
0
0
Wilimi Musyk
Wilimi Musyk
This book is to good ....a 10/10...100/100....
2024-10-04 07:47:48
1
0
Suraya My
Suraya My
This is good
2024-07-17 16:08:40
1
0
62 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status