LOGINAfter seeing her own father murdered by a cultist sect inside her own home, Lariel teams up with her newest colleague and savior, the wizard Eric, to get revenge. However, things are worse than she thinks: these men want to revive the ancient Empress of Hell, and unless they do something, they may succeed.
View MoreSetelah acara pengambilan hasil kelulusan. Marwah melajukan mobilnya dengan kencang. Sayyidah yang duduk di samping kemudi mendengkus kesal dengan sikap buru-buru mamahnya. Ia bahkan belum sempat foto-foto dengan temannya. Acara merayakan kelulusan di puncak 'pun gagal total. Lantaran Marwah tidak memberinya izin.
"Sayang! Di rumah sudah ada yang menunggu mamah. Maafkan mamah ya, kalau jalannya agak kencang. Yang penting pakai sabuk pengaman biar aman," ucap Marwah tanpa menoleh, ia fokus dengan jalanan di depan.
"Hmmm iya, Mah," jawab Sayyidah pelan, tetapi ucapannya masih bisa di dengar oleh Marwah.
Setelah mobil memasuki pekarangan rumah. keduanya turun dan mendapati seorang laki-laki duduk di sebuah kursi yang terletak di samping pintu masuk.
Dengan memakai sarung, atasannya kemeja koko putih panjang, di bagian kepala ada peci putih yang menutupinya.
"Padahal masih terlihat muda, tetapi gaya berpakaiannya nggak keren. Ketinggalan zaman. Sangat jauh beda dari cowo-cowo di sekolah," ucap Sayyidah, yang tentunya hanya di dalam hati.
"Assalamuallaikum Abbas, maaf menunggu lama. Mari silahkan masuk!" ajak Marwah.
"W*'allaikumussalam Tante, tidak begitu lama kok Tante!" Tersenyum sopan, memasuki pintu mengikuti pemilik rumah, lalu duduk di kursi setelah di persilahkan oleh pemiliknya.
"Kamu sudah besar ya, Bas. Tante sampe pangling. Kamu apa kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat Tante, berkah do'a dari Tante juga."
"Sofa pasti bahagia di alam sana, melihat anaknya sesholeh kamu," puji Marwah. Abbas hanya tertunduk malu.
"Sayang! Ini Abbas putra dari Tante Sofa! Abbas, ini Sayyidah putri Tante," ucap Marwah memperkenalkan Sayyidah dengan Abbas.
"Sayyidah." Gadis itu mengulurkan tangan kepadanya.
"Abbas."
Mengatupkan kedua tangan di depan dada. "Maaf, ya!" ucapnya sopan dengan mengabaikan uluran tangan Sayyidah.Sekilas ada pandangan yang sedikit melirik ke arah Sayyidah. Dia tidak seperti Sayyidah, yang terang-terangan menatapnya tajam dari ujung kepala sampai ujung kaki, seperti penyidik.
"Apakah dia malu?" "Jelas-jelas aku cukup cantik dan banyak yang mendekatiku, hanya saja aku tak mau menghabiskan waktuku mengisi hati untuk seorang lelaki, fokus dengan pelajaran itu lebih baik. Terkecuali Sofyan, yang membuatku sedikit tertarik," batin Sayyidah.
***
Setelah pertemuan singkat itu, Marwah berusaha mati-matian membujuk Sayyidah agar mau menikah dengan Abbas. Ia memasuki kamar Sayyidah yang sudah beberapa hari tidak mau keluar. Sayyidah duduk bertumpuan bantal di kepalanya. Pikirannya melayang membayangkan masa depannya.
Marwah duduk di tepi ranjang dan membelai rambut Sayyidah yang terurai panjang.
"Sayyidah putriku yang sholehah. Insyaallah ini jalan yang terbaik untuk kamu, Nak! Kamu harus menuruti keinginan mama untuk menikah dengan Abbas, ya!"
"Dia laki-laki yang baik! Dia pasti akan menjaga dan membimbing kamu menjadi wanita yang sholehah," bujuk Marwah kepada Sayyidah."Tapi Mah, Sayyidah masih mau kuliah dan mengejar cita-cita Sayyidah," tawar Sayyidah.
"Pernikahan itu bukan penghalang untuk meraih cita-cita, Nak! Justru menjadi penyemangat." "Sebab ada orang yang akan menemani kamu nanti!"
Kali ini ucapan Marwah tidak bisa ia tolak lagi.Mau tidak mau, suka, maupun tidak suka. Sayyidah sangat tak berdaya menolak perintah mamanya. Orang tua satu-satunya. Disaat ia kehilangan sosok ayah, maka Marwahlah yang sigap berperan ganda menjadi ibu sekaligus ayah baginya.
***Dalam suasana sakral yang hanya di hadiri oleh beberapa keluarga dan saudara, terdengar suara laki-laki mengucapkan ijab qobul dengan menggunakan lafadz Arabiyah di dalam sebuah masjid yang bernuansa cat putih khasnya, " Qobiltu nikaha w* tazwijaha ...."
Kemudian terucap kata, "Sah!"
Kata yang sangat singkat dan sederhana. Namun, merubah segalanya. Mimpi yang Sayyidah idamkan, cita-cita yang selalu ia gaungkan dalam semangatnya belajar dan ambisinya untuk meraih segala keinginan, kini menciut seketika.Memang pernikahan bukan belenggu. Namun, kebebasan masa remajanya telah terenggut. Sayyidah belum kuat mental. Baginya semua butuh persiapan dan waktu yang matang.
***
Setelah acara selesai, semua sibuk dengan dunianya masing-masing. Sanak-saudara sudah meninggalkan tempat acara. Karena bukan pesta yang besar. Hanya sebuah acara akad yang sederhana.
Tinggalah Abbas laki-laki yang telah resmi menjadi suami Sayyidah kini.
"Ayo wudhu! Kita sholat bersama," ajak Abbas memulai pembicaraan mereka di dalam sebuah kamar dengan nuansa pink. Kamar yang menjadi tempat favorit Sayyidah untuk menyendiri, maupun merehatkan tubuhnya setiap lelah menyelimuti.
"Iya!"
Setelah selesai salam Abbas terlihat khusyu berdo'a, kemudian dia membalikkan badan dan memegang kepala Sayyidah.
DEG ...
Jantung Sayyidah seperti terlepas dari tempatnya. Mendapatkan perlakuan dari Abbas. Memang bukan pertama kalinya Sayyidah bersentuhan dengan laki-laki, tetapi kali ini pengalaman yang cukup memompa detak jantungnya lebih cepat.
"Apa yang mau dia lakukan kepadaku?" “Sebelum menikah bahkan ia menolak tanganku untuk bersalaman. Tapi saat ini ia menempelkan telapak tangannya di puncak kepalaku, dengan mulutnya yang merapalkan do'a.”
"Kholas! bereskan lagi mukenahmu!" ucap Abbas setelah melepaskan tangannya dari kepala Sayyidah.
"Apa maksud kamu? kholas?" ujar Sayyidah dengan tatapan bingung.
"Kholas itu artinya selesai," terangnya.
"Oh!""Kamu sakit?" timpal Abbas lagi. Ia ingat bagaimana wajah kusut dan tak semangat Sayyidah sebelumnya. Walaupun berbalut make up, tetapi ekspresinya tidak bisa di bohongi, membuat hatinya sedikit menciut.
"Tidak," ketus sayyidah.
Rasa benci dan tak terima Sayyidah sedikit menguap seiring sikap dan wajah teduh Abbas kepadanya. Walaupun rasa jengkel Sayyidah masih lebih besar kepada Abbas.
"Kalau begitu kemarilah mendekat kepadaku!" panggil Abbas, melihat Sayyidah selesai merapihkan alat sholatnya di lemari tembus pandang, yang terletak di ujung ruangan.
"Ada apa?" ketus Sayyidah, dia merasa takut akan perlakuan Abbas kepadanya. Bahkan selayaknya suami-istri yang berbahagia saat pengantin baru. Sayyidah merasa sangat risih membayangkan semua itu.
"Tidak apa-apa, aku tidak akan melukaimu. Kita ngobrol santai saja, anggaplah ini perkenalan kita." Terlihat senyum mengembang di bibir Abbas.
Mendekat dan tanpa basa-basi, "Aku tidak ingin punya anak!"
"Aku mau kuliah ... jangan sentuh aku!" Dengan suara lantang dan tanpa jeda.Tidak ada ucapan balasan apapun dari Abbas. Dia hanya menarik Sayyidah dan memposisikan kepala Sayyidah di pangkuannya. Tangan Abbas terulur membelai kepala Sayyidah.
"Aku juga masih kuliah, kok! Tahun ini masuk semester 5 di jurusan Pendidikan Agama Islam," ucap Abbas, "kamu masuk jurusan apa?" sambungnya.
"Bahasa Inggris," jawab Sayyidah. Ia tak tau apa yang ada di pikiran Abbas. Yang jelas keputusannya saat ini harus waspada dengannya.
"Semangat, ya!"
Tangan Abbas mengepal di udara."Jangan sok akrab! Sok nyemangatin, deh!" batin Sayyidah mendengus kesal.
***
Sinar matahari menyeruak masuk di sela-sela jendala yang terbuka, membuat Sayyidah terpaksa membuka mata.
"Mmmmm ... Mama kenapa di buka? Sayyidah masih mau tidur, semalem mimpi buruk," rengek Sayyidah sambil menguap. Hatinya merasa lega.
"Mungkin semua ini cuman mimpi semalam?!" batin Sayyidah."Nak, kamu harus belajar jadi istri yang baik! Bangunlah lebih pagi!"
"Abbas ngga ada yang nyiapin sarapan!" tegas Marwah."Apa!" Sayyidah tersentak kaget dan bangkit dari kasur dengan wajah frustasi.
Ternyata bukan sekedar mimpi, tapi jelas semuanya telah terjadi.
Lariel absorbs the details quickly. The boy looks to be about her age, has a shaved head, broad, blood-shouldered shoulders, dark skin, and green eyes so bright they look like jewels. On his back is a quiver full of arrows, and in the boy's hands a bow.He was probably trying to hunt down the wolves that run mercilessly after him, growling and slobbering, but he was not discreet and silent enough. Before he can even try to face the beasts, Varic springs into action.He is very fast. His long, slightly shapely legs speed towards the wolves, and just as he is about to collide with them, he leaps into the air, passing them both.As the animals are moving at high speed, they can't brake in time. Duly positioned behind the wolves, Varic throws the two daggers straight into their flanks, causing the blades to bury themselves deep into their necks.At the same time, the unknown half-elf takes the necessary distance and, in short, precise shots, hits the animals' heads, pinning them to the d
The first thing Lariel noticed was the unusual beauty of the boy Eric said was his cousin. He was taller than she was, though slimmer, and his shoulder-length hair shone like flames.His brown eyes sparkled as he smiled, gallantly."I heard a party going on and came to join in." He looks around at the fallen bodies. "But apparently the celebration ended early. A shame.""How did you find me?" Eric asked."Are you serious? You're a traveling disaster, you leave traces everywhere. A blind, deaf, olfactionless dog could find you."The wizard's cheeks turn red. Apparently he is well aware of the lack of discretion.The man looks at Lariel and raises one of his eyebrows, oozing charm."You are one of the most beautiful things I have ever seen."The girl ignores, totally disaffected and indifferent. Instead, she begins rummaging through the bodies, careful not to be taken by surprise."Does the pretty thing have a name?" Eric's cousin insists."Lariel.""Lariel, it's a great pleasure. I am
The arrows were raining down, and it was a splendid miracle that absolutely none of them hit them. As she ran desperately to save her own skin, the half-elf was filled with frustration in her mind. She could barely move without something terrible happening to her. It seemed that the days of peace, weekly trips to the market and silent training in the middle of the forest were officially over. It would be a miracle if she managed to arrive in town with her head stuck to her neck."PURPURA IGNIS!"Eric launched a wave of purple fire that advanced toward the pursuers, but the mage did not stop to see if it would work. A few screams were heard. Then he caught the hand of Lariel's, who was running in an uncoordinated manner. Her abdomen was bleeding.The rain of arrows diminished, but they were still under attack. They didn't stand a chance.If Lariel's sense of direction was still working, instead of heading east, they were now running south. That is, just more woods for miles until they
After a restless night of talking about conspiracies, cults, and stories about ancient empires and bloody battles, the two decided to take a few hours' sleep. They were to head east as soon as they awoke.Lariel could not sleep, although he tried. Her thoughts were disconnected and confused, and the revelation that she had an uncle did not help at all.Losing one family member and gaining another soon after. Fate must have been finding it hilarious.Eric explained that the old man was supposed to be living there, and would probably be the Cult's next target. They should hurry as much as they could, since time was against them. Just as she was about to relax and catch up on sleep for good, she feels a friendly squeeze on her shoulder."Shall we?"She doesn't have much choice but to get up, drink some water, and begin the long walk into the forest.Eric even seems in a pretty good mood for someone who has spent the night sleeping on hard ground. Lariel would give anything for a bath an
"That is preliminary information. I need some more details, which I can get when we reach our destination. However, everything I know now can be proven."This is how Eric begins to tell about everything, which led him to go out on an insane quest across the world to stop that horrible, unholy evil
"Stop, Seelk!" The mage's grave, imperious, and utterly incapable of being disobeyed voice causes the little dragon to stop in mid-stride, braking sharply. The half-elf was already on her feet and ready to run, although she doubted she stood a chance against something out of legend. She looked at
The sound of the wind in Lariel's slightly pointed ears whistled like the final song of death, the last sound she would be aware of hearing before meeting her end. Her speed increased more and more, and there was nothing she could do but accept the Passage.The girl managed to register the sound of
"NO!!!!!" Lariel's scream is loud, hoarse, and filled with pain and despair. She doesn't even care about the other men around, nor if they will finish her off right there; the half-elf simply runs to her father's body. "Father! Father!!!" She screams and shouts, shaking his collapsed body. He do












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews