MasukI'm screwed.If I want to keep my dream job, my new (and way-too-attractive-for-his-own-good) boss says I have to score an interview with one of the legendary Fontaine brothers of Hollywood.I know three things about the Fontaine brothers:1) that they're Hollywood royalty,2) that all four of them are ridiculously, mind-numbingly sexy,and3) that they never, ever give interviews.My only chance is to seduce one of them. The only problem? Historically speaking, I'm way more likely to put my foot in my mouth (or generally make a fool of myself) than charm the pants off anyone.That's where my way-too-sexy boss comes in. He might hold the fate of my job in his hands, but he's also totally willing to teach me the art of seduction. I only hope I can survive his lessons. . . Due to explicit scenes, this steamy romantic comedy is rated 18+.The Secret to Seduction is created by Ember Casey, an eGlobal Creative Publishing signed author.
Lihat lebih banyak"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
My stomach grumbles at me. I glance down at my watch, and I almost don't believe the time - I should have left work over an hour ago. But I've been so absorbed in polishing my latest piece that I completely lost track of how late it was. My interview with Dante Fontaine is tomorrow, and I've blocked off the whole morning so I can make sure I'm prepared. This is my chance to forge a major connection, to make sure Celebrity Spark is the publication Dante contacts whenever he needs to promote a project or wishes to arrange a "scandal" in the name of a little extra publicity. If I play this right and earn Dante's trust, I might be able to turn that into a working relationship with some of the other Fontaines as well. Tomorrow's interview could make my entire career.A shadow looms over my desk, and I jump - and then look up into the eyes of Roman. My chest flutters. We've only been officially dating for a couple of weeks, but I have a sneaking suspicion that this lightheaded, giggly feeli
Roman's wicked promise turns my knees to jelly.I hear myself beg, "Not here. Please."He doesn't wait another moment. He releases his grip on my waist, then grabs my hand and pulls me through the sea of reporters. We're moving against the crowd, but that doesn't stop Roman. He forces his way through, dragging me behind him. I nearly stumble in my heels, but he doesn't let me fall. He leads me away from the carpet.As we go, I hear a new round of shouts go up behind us."Raphael!""Just one picture!""Raphael! A question!"Roman's hand tightens on mine, and his steps quicken. I'm more than happy to leave as fast as possible. I'm not particularly interested in facing Raphael right now. The video of the two of us hasn't gone viral yet - to my knowledge, at least - and I pray it gets buried by juicier celebrity news before more than a handful of people see it. And if it does start spreading... well, I'll deal with that when and if I have to. If the dating history of the Fontaine bo
Even with the barrier of the dress between us, my body still responds to Roman's touch, still remembers all the ways he caressed - and kissed, and licked - me just two short nights ago. My body doesn't care that my job is on the line, or that we're in the middle of a red carpet with people all around us. But I care, and I force myself to focus on Luca and Dante."If interviews aren't your thing, then what is your thing?" I ask sweetly. My voice is only the tiniest bit strained.Luca's grin turns decidedly devilish. "That's a personal question, isn't it? I don't even know your name."Roman's fingers have nearly moved between my legs from behind, and I suck in a breath and grab onto the barricade so I don't topple over. He's doing this on purpose - tormenting and distracting me while I'm trying to do exactly what I came here to do. But even though I'm barely holding it together, I try not to let it show."I'm Felicia," I say to Luca. "And your brother has already agreed to speak with
Dante Fontaine's stare isn't like the ones Roman has been giving me all week - dark and intense and full of desire - but rather one of confusion, and I realize that he recognizes me but can't seem to place how.So I do the only thing I can - I smile and hold up my press badge, hoping he connects the dots. And it works - I practically see the light bulb going off in his head.This is my chance.I pull away from Roman and push my way along the barricade - only elbowing one person in the process - until I'm a little closer to Dante."You owe me an interview!" I call over the people around me.The look he gives me isn't quite a smile, but there's a flicker of something in his eyes - humor? Appreciation? - that gives me hope. And then before I realize what's happening, he says a quick word to his date and walks toward the barricade. Toward me.I'm so surprised that I almost turn and run just out of habit. But I'm not going to miss my chance. And anyway, Roman has just squeezed in behi












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan