LOGINHe had everything—power, wealth, and her unconditional love. Until the night she opened his office door… and saw him with another woman. Aria Black was the perfect fiancée—graceful, loyal, and hopelessly in love with the city’s most powerful CEO. But one betrayal shattered the fairytale. She vanished without a trace, leaving behind nothing but the engagement ring that was supposed to mean forever. Months later, she returns as Lia Hart—a woman reborn, untouchable, and determined to never love again. Now she works under Lucien Hayes, a mysterious billionaire who sees straight through her carefully built walls. But when Ethan Black discovers she’s alive—and thriving without him—regret becomes his obsession. Between a past that refuses to die and a future that tempts her to risk her heart again, Lia must choose: the man who broke her, the man who could heal her, or the woman she’s finally learned to become. > He shouldn’t have broken her. Because now, she’s the one thing he can’t have back.
View MoreAku tidak percaya, ternyata tubuh mertuaku jauh lebih nikmat daripada istriku sendiri. Malam ini, akhirnya aku bisa melepaskan hasratku dengan Mama Siska, ibu mertuaku sendiri.
"Enak banget Ma, semakin lama rasanya semakin nikmat." Aku tidak berhenti menggoyang mertuaku di atas kasur. "Kamu juga sangat perkasa Raka, Mama sampai kewalahan. Kamu memang luar biasa, ayo Raka bikin Mama puas!" Desahnya, badannya bergetar. "Siap Ma, akan kubuat Mama puas. Kita main sampai pagi Ma, Mama mau kan aku goyang sampai pagi?" "Mau banget Raka, Mama pasrah apapun yang kamu lakukan." Istriku berselingkuh dengan pria lain, maka dari itu aku membalasnya, berhubungan dengan Ibunya.**
Hujan deras mengguyur malam itu, menciptakan simfoni yang seharusnya menenangkan. Tapi tidak untukku. Aku terjaga di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berantakan, seperti hujan yang mengguyur tanpa henti. Seharusnya di sebelahku ada istriku yang menemaniku, di saat cuaca dingin begini aku hanya bisa memeluk guling. Aku sudah membayangkan bisa bercinta semalaman dengan istriku, padahal baru beberapa hari saja kita resmi menjadi suami-istri. Memang di saat malam pertama pernikahan kita, aku sudah bercinta dengannya semalaman suntuk tanpa henti. Sekarang benda pusaka ku ingin memuntahkan lahar panas nya, tapi sekarang aku sendirian tidak mungkin jika aku sampai jajan di luar. Aku punya nafsu yang tinggi, apalagi cuaca dingin begini, semakin besar keinginanku untuk bercinta. Ponsel di tanganku masih menyala, menampilkan pesan suara dari Tiara. "Sayang, jangan lupa makan ya. Mama pasti bakal perhatian sama kamu, jadi gak usah khawatir." Suara Tiara terdengar lembut, tapi ada sesuatu yang terasa jauh. Aku menarik napas panjang sebelum membalas. "Iya, hati-hati di sana." Setelah hampir seminggu Tiara pergi dinas ke luar kota. Awalnya, aku pikir tidak masalah tinggal sendiri di apartemen. Tapi dia bersikeras agar aku tinggal di rumah orang tuanya. "Biar Mama bisa nemenin kamu. Lagian, kamu belum terlalu akrab sama Mama, kan?" Dan di sinilah aku sekarang. Di rumah yang bukan rumahku, di bawah atap yang sama dengan seorang wanita yang… semakin sulit untuk tidak kupikirkan. Bu Siska. Bukan ibu kandung Tiara, tapi ibu tirinya—dan itu seharusnya tidak membuat perbedaan. Tapi, entah kenapa, aku mulai melihatnya dengan cara yang tidak seharusnya. Ibu Siska terlihat sangat cantik, badannya seperti gitar spanyol, kulitnya putih mulus dan senyumnya itu rasanya mengajak untuk berbuat maksiat. Aku menggeliat di tempat tidur, mencoba mengabaikan kegelisahan pikiran kotor yang mulai merayapi pikiranku. Tapi rasa lapar memaksa aku keluar kamar. Langkahku di lorong terasa lebih berat dari biasanya, mungkin karena pikiranku yang tidak tenang. Begitu tiba di dapur, aku langsung melihatnya. Bu Siska. Ia berdiri di dekat meja makan, hanya mengenakan gaun tidur satin berwarna biru muda. Kain halus itu membalut tubuhnya dengan pas, menyoroti lekukan yang masih terjaga di usianya yang menginjak 42 tahun. Bahunya terbuka sedikit, memperlihatkan kulitnya yang masih kencang dan mulus, seperti wanita yang jauh lebih muda dari usianya. Rambut hitamnya tergerai santai, memberi kesan liar namun tetap elegan. Mataku tertuju pada buah dadanya yang lumayan montok, saat dia menata piring rasanya buah dadanya akan tumpah. Aku buru-buru mengalihkan pandangan, tapi terlambat. Ada sesuatu yang menancap di benakku. Sesuatu yang mengusik. Astaga, ini ibu mertuamu sendiri, Raka. Fokus. Namun sebelum aku bisa merapikan pikiranku, ia menoleh dan tersenyum. Senyum yang lembut, tapi ada sesuatu di sana. Sesuatu yang membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat. "Raka, ayo makan dulu," ajaknya dengan suara yang hampir seperti bisikan. Aku mengangguk dan duduk di meja makan. Dia menuangkan sup hangat ke dalam mangkukku, aroma rempah dan jahe menguar, menyebarkan kehangatan di ruangan yang terasa semakin sempit. Entah kenapa rasanya Bu Siska, seperti sengaja menempelkan buah dadanya pada wajahku. Hingga tercium aroma parfum dan body lotion nya, yang membuat pedang pusaka ku berdenyut-denyut. "Tiara pasti sering masakin kamu, ya?" tanyanya, matanya menatapku lebih lama dari seharusnya dan dia meremas buah dadanya sendiri seperti sengaja. Aku menelan ludah. Senyum itu… tidak seperti senyum ibu mertua pada menantunya. Kenapa juga dia harus meremas buah dadanya sendiri di depanku. "Iya, Ma—eh, Bu," jawabku, buru-buru memperbaiki panggilan. Mama Siska terkekeh pelan, suara tawanya renyah, hampir seperti godaan. "Mama aja nggak apa-apa. Toh, kamu memang anak Mama sekarang." Aku ikut tertawa kecil, mencoba tetap tenang. Tapi saat aku hendak mengambil sendok, tangannya tanpa sengaja menyentuh tanganku lagi. Sekilas, itu mungkin hanya kebetulan. Tapi kehangatan yang tertinggal di kulitku bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Aku meneguk air putih, mencoba menenangkan diri. Setelah makan, aku beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Saat aku hendak kembali ke kamar, suara Mama Siska menghentikan langkahku. "Raka," panggilnya pelan. Aku menoleh. Ia berdiri di lorong, bersandar di kusen pintu kamarnya, satu tangan terangkat menyentuh kayu, tubuhnya sedikit miring. Gaun tidurnya tampak lebih pendek daripada tadi, memperlihatkan pahanya yang mulus di bawah cahaya redup. Aku menahan napas. "Kalau butuh sesuatu… jangan ragu panggil Mama, ya?" Dia mengedipkan mata sambil mengigit bibirnya. Suaranya begitu lembut, hampir seperti bisikan di telinga. Seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan lebih dari sekadar kata-kata. Aku hanya bisa mengangguk. "I-iya, Ma." Ia tersenyum tipis, sebelum masuk ke kamarnya dan menutup pintu perlahan. Aku diam di tempat, jantungku berdegup lebih cepat dari seharusnya. Tidak. Ini pasti cuma pikiranku saja. Tapi saat aku berbalik, mataku tak sengaja menangkap pantulan di kaca jendela ruang tamu. Pintu kamar Mama Siska belum benar-benar tertutup. Masih sedikit terbuka… cukup untuk kulihat sepasang mata yang mengawasiku dari celah itu. Aku merinding. Aku segera berbaring di kasur, menarik selimut dan berharap segera pagi. Tapi ternyata aku tidak bisa tidur, pikiranku terbayang wajah Mama Siska apalagi saat dia meremas buah dadanya. Gara-gara memikirkan Mama Siska, membuat gairahku naik. Seketika benda pusaka ku langsung mengeras, sampai terlihat jelas di dalam celanaku. "Ssshhh aaahhhh...." Tiba-tiba terdengar suara aneh, aku turun dari ranjang dan mencari sumber suara itu. Aku membuka pintu dan ternyata pintu kamar Mama Siska masih terbuka, suara itu semakin terdengar jelas. Sekarang aku tau jika itu suara Mama Siska, dia sedang mendesah membuat kerongkonganku mendadak kering. Aku berjalan secara perlahan, sampai berada di depan kamar Mama Siska. Aku mengintip di balik tembok melihat ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya aku, melihat Mama Siska berbaring tanpa sehelai benangpun. Tangan kirinya membelai lembah terlarang nya, dan tangan kanannya meremas buah dadanya. "Ahhh enak Raka, terus sayang.... !" Nafasku terasa sesak, mungkin aku salah dengar. Jantungku berdebar kencang, rasanya udara semakin panas dan keringat menetes di dahi ku. Di tambah lagi benda pusaka ku malah makin keras, apalagi melihat tubuh Mama Siska yang aduhai. "Masuk Raka, jangan ngintip!" Aku semakin terkejut, rupanya Mama Siska tau jika aku sedang ngintip. Akhirnya aku menampakan diri, aku berdiri sambil menatap Mama Siska yang masih berbaring telentang dengan begitu menggoda. "Kamu gak bisa tidur ya? Ayo sini tidur sama Mama!" Aku harus melawan antara nafsu dan status. Dia mertua ku, tidak mungkin jika aku mengkhianati istriku sendiri. Tapi nafsu mengalahkan segalanya, aku tidak peduli yang jelas malam ini harus di lampiaskan. Aku sudah tidak kuat menahannya, dalam beberapa hari ini. Sedangkan di depan mataku, terdapat kenikmatan surgawi yang sudah menantang ku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya, aku butuh pelampiasan. "Raka...... Raka.... Raka.... !" Suara itu semakin terdengar jelas, hingga aku membuka mataku. "Tokkk.... Tokkkk.... Tokkkk... Raka... Raka... Bangun!" Itu suara Mama Siska, ternyata semuanya hanya mimpi. "I-iya Ma, aku sudah bangun." Jawabku gelagapan. "Mama tunggu di meja makan ya?" "Iya Ma," Aku segera berlari ke kamar mandi. Gara-gara memikirkan Mama Siska, membuatku bangun kesiangan.Lia’s POVI didn’t go home that night.Instead, I walked.Through the cold streets, past the glowing windows of restaurants and shops, past couples laughing and holding hands — all reminders of a world I no longer belonged to.By the time I finally reached my apartment, the ache behind my ribs had turned into a hollow pit.Lucien had worked for Ethan.The man who shattered me.And he hadn’t told me.It shouldn’t have mattered — it was his past, not mine — but it did. Because he was the one person I’d started to trust again, and now that trust felt like glass under my feet.I poured myself a glass of water, my hands shaking, and sat on the edge of the couch.Then there was a knock.I didn’t have to check who it was.Somehow, I already knew.I opened the door, and there he stood — Lucien. His shirt slightly undone, eyes heavy, tired. Like a man who’d been fighting himself all night.“Lia,” he said quietly.I folded my arms. “You shouldn’t be here.”“I know,” he said. “But I couldn’t let
Lia’s POVThe next few days passed in a blur.I threw myself into work, clinging to the comfort of deadlines and spreadsheets. Logic, structure, control — things that didn’t lie, things that didn’t cheat.But no matter how much I tried, Ethan’s reappearance hung over me like an unfinished chapter I didn’t want to reread.Every time I closed my eyes, I saw his face — the guilt, the regret. I didn’t want to care, but some part of me, small and tired, still flinched at the sound of his voice in my memory.It scared me — how even a ghost from the past could still stir something in me.---Lucien noticed, of course.He had this uncanny ability to read people — to sense when you weren’t okay, even when you wore the perfect mask.He didn’t push, not at first. Just quieter glances, a longer pause in his words, a subtle shift in how close he stood beside me.By Thursday, he finally asked.“You’ve been… somewhere else lately,” he said, leaning against the doorway of my office. His tone wasn’t a
Lia’s POVThe following morning at Hayes Corporation passed quickly. Our campaign proposal had made it through the first round of investors, and everyone was buzzing with relief. Lucien had smiled — a small, proud smile that still felt like sunlight every time I earned it.He didn’t hover or flirt. He didn’t need to. His attention was calm, intentional — the kind that made you want to do better, not for him, but for yourself.“Dinner,” he said casually that afternoon as we finalized a few details. “Team celebration. You’re coming, right?”I hesitated. “I don’t really do celebrations.”He leaned back, his gaze steady. “Then do this one. You earned it.”And before I could find an excuse, he was already walking away, leaving me no room to argue.---By 7 p.m., we were at a quiet rooftop restaurant overlooking the city skyline. The table was small, tucked in a corner, the view breathtaking. Everyone laughed, drank, shared stories. I found myself smiling more than I expected.Lucien caught
Lia’s POVWhen I walked into the office that morning, the smell of freshly brewed coffee hit me before I even reached my desk.Then I saw it—sitting right in the middle of my workspace.A sleek black cup. My name written on it in clean, bold handwriting.And beneath it, a small folded note:“Don’t forget to breathe today. — L.H.”Lucien Hayes.For a moment, I just stared at it. My fingers hovered over the note, heart tugging in a way I wasn’t ready to admit.No one had written me a note in months. Not since Ethan.But this one didn’t sting—it soothed.I took a sip. The coffee was perfect—black with two sugars, just the way I liked it. The realization made something in my chest tighten. I’d never told Lucien my preference. Which meant he’d noticed.That detail felt dangerously intimate.---Later that morning, the office buzzed with quiet chaos. We were finalizing an investor campaign, and Lucien had insisted on being directly involved. I spent most of the day shadowing him—reviewing d
Lia’s POVThe first thing I noticed about Lucien Hayes wasn’t his suit, though it probably cost more than my entire wardrobe. It was his eyes—steady, unreadable, the kind that made you want to straighten your posture and choose your words carefully.He extended a hand across the glass desk. “Lia Ha
Aria’s POVThe morning after Ethan walked out, the city was quiet—too quiet.Rain tapped softly against the windows, turning the skyline into a watercolor blur. I stood there for a long time, barefoot, staring out the window.My phone blinked with unread messages, bringing my gaze to it.Ethan (14
Aria’s POVI don’t remember how I got home that day.Maybe I drove. Maybe I walked. Maybe I just floated through the city like a ghost who hadn’t realized she was dead.The next thing I remember clearly is standing in the middle of my apartment, still wearing my engagement dress fitting from earlie
Aria’s pov“Mrs. Black-to-be.” The receptionist smiled at me as I stepped into the penthouse. The soon-to-be Mrs. Ethan Black.I used to like how it sounded. Now… I wasn’t so sure.Still, I smiled, the same soft, graceful smile everyone expected from me. Composed, polite, sweet, and dare I say, ti


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.