Mag-log inSi Heryst, isang prinsesa at anak ng isang hari na siyang tagapangalaga ng bundok. Si Heryst ay mabait at matulungin na siyang naging dahilan upang ipatapon s'ya ng kanyang ama sa lupa upang maransan ng anak ang kalupitan ng mundo ng mga tao. Doon ay nakilala ni Heryst ang binatang si Aris at kinalaunan ay nabuo ang pag-ibig sa puso nila. May maganda kayang wakas ang pag-iibigan ng dalawang pusong nagmamahalan ngunit magkaiba ang mundong pinanggalingan?
view moreJaeran mengecup pelan surai sang isteri yang masih terlelap dengan lemah lembut pria itu membangunkan Rosa yang masih tertidur pulas. Jaeran melihat ke arah arlojinya lalu memeluk pinggang sang isteri sesaat, tak mungkin jika dirinya melakukan olahraga erotis dipagi hari seperti ini. Suara dentingan ponsel membuat Rosa merasa terganggu, karena tak ingin sang wanita merasa badmood dipagi yang cerah ini dengan terpaksa Jaemin mengubah mode silent pada pengaturan ponselnya. "Mau tidur sampai jam berapa, hm?" Tanya Jaeran dengan nada rendah dan tenang.
"Bentar lagi, ih. Ngantuk semalam aku setoran banyak sama editor ..." Jaeran mendengus lalu beranjak darisana dan melangkah ke arah kamar mandi. Sekiranya tak ada suara lagi, Rosa membuka kelopak matanya kemudian mencari sosok suaminya, karena hampir diseluruh penjuru rumah Jaeran tak ada dan tak ia temukan.
Rosa lantas berteriak dan menjerit ketakutan akan Jaeran yang meninggalkannya. Air matanya luruh berjatuhan, pria itu yang melengan keluar dari kamar mandi tersentak melihat sang isteri menangis saat melihatnya. "Shhtt, ... aku di sini, gak akan ke mana-mana. Udah ya," Jaeran mengusap pelan pipi tirus Rosa lalu merengkuhnya ke dalam pelukkan hangat lelaki itu.
Jaeran menghela panjang seraya mengusap surai Rosa yang masih terisak. "Jangan tinggalin aku lagi," pemuda itu terkekeh lalu menggenggam tangan sang isteri dan berjalan ke arah dapur. "... kamu taukan sebegitu takutnya aku kehilangan kamu?"
Jaeran menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Rosa yang menatapnya penuh makna. "Bukan kamu ajh, aku juga takut kehilangan kamu ... jangan pikirin yang aneh-aneh lagi, gak baik buat kesehatan kamu."
Jaeran mengangkat telepon dan melirik ke arah Rosa yang sedang membuat roti bakar untuk sarapan mereka, setelah memutuskan panggilannya pemuda memeluk tubuh ramping isterinya secara tiba-tiba dari belakang. "Hari ini aku ada pasien, kamu gak ke mana-manakan?" Rosa menggeleng pelan lalu meletakkan roti yang baru ia panggang di atas piring saji.
"Ada apa?"
"Nanti jadwal kamu kontrol, ..." ucap Jaeran mengingatkan. Wanita itu menghentikan aktifitasnya dan menatap sang suami tak banyak reaksi, Rosa masih diam dan tak menjawab peringatan Jaemin.
"Aku udah sehat," Jaeran mengulum bibirnya tipis dan tak berkata apapun. Pria itu tau dari kejadian beberapa saat lalu tentu kondisi sang isteri belum sembuh benar dari trauma yang menderanya.
"Karena kamu udah sehatkan? Jadi harus dicheck." Pelan pemuda yang mencoba membujuk Rosa.
"Kenapa gak kamu ajh yang meriksa? Kan kalian satu profesi, ... sama-sama ahli kejiwaan?" Jaeran tersekat saat sang isteri mulai mendebatnya dengan kesabaran yang masih tersisa, pemuda itu mencoba untuk tak sakit hati akan perkataan sang isteri.
"Sayang--- tentu kamu tau, dia dokter yang menangani kamu dari sebelum kita nikah," Rosa masih tak merespon dengan baik, wanita itu memegangi kepalanya yang kian pening. Jaeran yang melihat itu langsung saja, menurunkan tangan perempuannya itu dan menuruti keinginan isterinya. "Okey, okey, kita gak akan kontrol! Puaskan?" Rosa mengulas senyum lalu memeluk tubuh bongsor sang suami, Jaemin terpaksa melakukan hal itu karena tak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk.
"Makasih," bisiknya melirih. "Aku sayang kamu, Na." Dekapan itu dipererat oleh Jaemin dan tanpa sadar air mata lelaki itu turun begitu saja.
"Aku juga sayang kamu sampai mau gila rasanya, ..." balas Jaeran yang akhirnya berangkat kerja.
Herina menatap Jaeran yang datang tak bersama isterinya, ... pemuda itu mendengkus saat berada diruangan teman semasa kuliahnya dulu. Herina tau masalah yang dihadapi oleh pria itu berat mengingat apa yang membuat mereka saling jatuh cinta dan memutuskan bersama. "Bagaimana Rosa?" Jaeran menggeleng pasrah, lelaki itu menatap nerawang langit biru dari luar jendela.
"Masih sama, ..."
"Saran gue, kenapa gak loe panggil Jerome ajh. Adik loe kan juga satu profesi sama kita dan kebanyakan pasien yang dia tangani sembuh secara total." Jaeran tak yakin dengan keputusannya itu, memanggil Jerome memang bukan hal yang buruk. Namun memikir apa yang akan terjadi membuat pemuda semakin mengurungkan niatnya.
"Gue gak mau sesuatu terjadi,"
"Jangan ada keraguan kalo loe mau isteri loe sembuh dan bisa memiliki keturunan, Jae. Pikirin saran gue baik-baik, biar bagaimanapun Jerome masih adik loe. Diluar dari hubungan kalian yang kurang begitu baik, pentingin juga kesehatan Rosa." Jaeran masih diam tak banyak merespon saran dari Herina sampai perempuan itu beranjak pergi darisana.
Rosa berjalan memasuki rumah megah yang ia ketahui itu adalah rumah keluarga Minendra, perempuan masuk begitu saja selayaknya pemilik rumah. Rosa terkejut melihat seorang wanita menatapnya tak suka karena masuk tanpa izin. Wanita itu mengusir Rosa lalu itu tak membuat isteri dari Jaeran itu takut. "Menantu mama kapan datang?" Tegur sang ibu mertua yang cukup buat perempuan disebelahnya terkatup rapat.
"Baru, ma. Ouh ya ini siapa?"
"Calon Jerome," Rosa mengangguk pelan lalu tersenyum ramah. Perempuan yang mengulas senyum tipis itu memaklumi sikap perempuan yang baru saja menariknya keluar. "Gak sama Jaeran? Padahal mama kangen lho sama anak sulung mama ..." ujar sang ibu mertua kecewa.
"Nanti dijemput kok, ma." Mama mengangguk lalu menggandeng tangan Rosa berjalan ke dalam rumah. Perempuan paruh baya itu menceritakan tentang kondisi putra bungsunya yang akhir-akhir ini menanyakan tentang isteri kakaknya sendiri.
Mama yang menyinggung soal bayi tak sengaja membuat hati Rosa sakit dan memori yang terputar dalam benaknya menampilkan wajah Jaeran yang senang terhadap anak kecil. Perempuan itu tersenyum pilu saat ingat betapa sempurnanya seorang Gernandra Jaeran dan mau menerima perempuan cacat seperti dirinya. Sebuah cairan bening menetes tanpa sadar, Rosa yang tak mau berlama-lama di sana memutuskan untuk pulang saja dan tak menunggu sang suami datang. Sesampainya dirumah perempuan langsung mengurung diri dalam kamar dan menguncinya, Jaeran yang juga baru pulang dari rumah sakit dibuat terkejut dengan pintu kamar yang terkunci. Pria itu mengetuk pintunya lalu mencoba melakukan panggilan. "Rosa," panggil Jaeran pelan.
Sedangkan Rosa terus saja meracaukan hal yang tak penting. "Aku gak bisa ngasih anak," isaknya pelan dalam kamar mandi. "Aku mandul, ..." Jaeran mendengar sesuatu jatuh dari dalam kamar mandi. Karena perasaannya mulai tidak enak terhadap sang isteri, Jaemin tak berpikir dua kali dan langsung mendobrak pintu kamarnya sendiri.
Pemuda itu berlari ke arah kamar mandi, betapa terkejutnya lelaki itu melihat kondisi sang isteri yang kian hancur. "ROSA!!?" pekiknya terkejut lalu menggendong sang isteri ala bridle style.
Jaeran meletakkannya dengan hati-hati diremasnya tangan sang isteri dengan penuh rasa khawatir. "Jangan sakit, ... jangan lakukan hal yang bisa membuat aku kehilanganmu, ayo sembuh. Biar kita bisa memiliki keturunan ..." pedih Jaeran yang ikut menangisi akan penderitaan sang isteri.
Rosa menatap sayu sang suami dibelainya surai kibiruan milik Jaeran. "Na, ... ayo kontrol," lirih perempuan yang mampu saja membuat senyum dibibir pemuda itu terbit. Jaeran mengangguk antausias, kemudian menghubungi Herina agar segera datang ke kediamannya.
Setelah beberapa saat diperiksa, Herina menghela lelah. "Kamu tuh jangan terlalu memusingkan hal yang gak penting."
"Apa anak gak penting?"
"Penting, ... tapi bagaimana mau memiliki anak kalo kamu diajak ketemu aku gak mau!!" Omel Herina yang malah dibalas tawa kecil oleh Rosa. Herina ikut tertawa kecil dan menatap perempuan yang tengah berbaring itu lurus. Selepas Rosa tertidur, Herina pergi menemui Jaeran yang duduk termenung sendiri. "Sebaiknya loe ikutin saran gue, dan yang gue dengar dari isteri loe. Jerome udah ada calon, ... jadi loe gak perlu khawatir." Herina pergi begitu saja tanpa mempedulikan si pemilik rumah.
Daniel's POVNandito na ulit kami sa loob ng sasakyan at ngayon ay kasama na namin si Heryst. Mabuti na lamang at SUV ang dinala ko ngayon dahil kung hindi ay hindi kami magkakasyang apat sa isang sasakyan lamang.Ako ang nag-drive ngayon at katabi ko si Alex. Magkatabi naman si Heryst at Aris sa likod namin na kapwa tahimik lamang.Ilang minuto na ang nakalipas ngunit hindi pa rin siya nagsasalita. Sa tingin ko ay masyado na siyang napagod sa nangyayari.I know na sa kabilang banda ay hindi tama ang gagawin ko na ito, ang patuluyin ang isang babae sa bahay namin. Una sa lahat ay baka kung ano ang isipin ng mga tao malapit sa amin, pangalawa ay baka may pamilya talaga si Heryst, hindi lang niya maalala dahil traumatize siya sa mga nangyari sa kaniya.Pero sa kabilang banda ay pinipilit ako ng aking puso na gawin ito, paano kung wala nga talaga siyang pamilya? Kapag hinayaan namin siya sa police ay baka may mangyari pang hindi maganda sa kaniya. Bak
Heryst's POV"Tulong, tulungan ninyo ako!" malakas na sigaw ko ngunit kahit isang tao man lamang ay walang nagkusang loob na ako ay tulungan. Tila ba may pagaalinlangan sa kanilang mga mata.Patuloy pa rin ako sa aking pagpupumiglas na makawala sa dalawang lalaki na nakahawak sa akin.Kung meron lamang akong kapangyarihan ngayon, makakawala agad ako sa dalawang tao na ito nang hindi nangangailangan ng tulong ng iba.Palapit kami nang palapit sa madilim na lugar at ang unang pumasok sa aking utak ay ang mga sinabi sa akin ng aking ama bago niya ako ipatapon sa mundo na ito."Dapat kitang parusahan dahil sa ginawa mo. Napagpasyahan namin na ikaw ay ipatapon sa mundo ng mga tao upang malaman mo kung gaano kalupit ang mundong iyon. Hindi ka makakabalik... hanggat hindi ka
Heryst's POVSobrang sakit at sobrang lungkot ang nararamdaman ko ngayon. Hindi ko mapigilan ang mga luha na kusang lumalabas mula sa aking mga mata. Ang sakit dulot ng nangyari ay patuloy na dumudurog sa aking puso.Wala akong makita kung hindi mga puti at berde na kulay lamang sa aking paligid. Maliwanag ang mga kulay na ito at ito ang nagsisilbing paalala sa akin na hindi na ako makakabalik sa tunay kong mundo. Ang lugar na ito ay ang daan patungo sa kabilang mundo, sa mundo ng mga tao.Patuloy lamang ako sa aking pagiyak. Hindi ko kayang pigilan ang mga luha na ito.Bigla akong nakaramdam ng kakaiba sa aking katawan, "Arrgghh!" Napasigaw ako nang malakas dahil sa aking naramdamang sakit sa aking puso. Para itong tinutusok nang paulit ulit at hindi ko nakakaya ang sakit na dulot nito sa akin. Habang tumatagal ay mas sumasakit pa ito at nanghihina na rin ako.Bigla na lamang pumasok sa aking isipan ang dahilan kung bakit napunta ako s
"LUMAYO KA SA KAPATID KO!" malakas na sigaw ni Zheus sa babaeng kaharap niya ngayon. Iwinasiwas niya ang kaniyang espadang naglalagablab sa liwanag ng dahil sa lakas ng kaniyang kapangyarihan. Umatake si Zheus sa babae gamit ang kaniyang espada ngunit madali lamang itong naiiwasan ng babae.Patuloy pa rin sa pagatake ang binatang si Zheus nang bigla na lamang nawala sa kaniyang harapan ang babae at naramdaman na lamang niya ang prisensya nito sa kaniyang likod. Nararamdaman ni Zheus ang isang matulis na bagay na nakadikit sa kaniyang tagiliran."Wala akong panahon para makipaglaro sayo, ang nais ko lang naman ay makita ang kapatid mo, Zheus.Nais ko lamang na siya ay kumustahin dahil lalo na ngayon na malapit nang mangyari ang pinakahinihintay ko. Pakisabi sa ama mo, maghanda na siya," bulong ng babae sa kaniya habang ito ay tumatawa. Galit ang nangingibabaw sa puso ngayon ni Zheus, alam man niya ang buong katotohan sa pagitan ng kaniyang ama at sa babaeng ito ay
"Prinsesa Heryst, sa oras na ito ay magsasanay ka kasama ang dalawa sa mandirigma natin. Para malaman ang iyong tunay na lakas ay lalabanan mo silang dalawa ng sabay."Kasalukuyang nagsasanay si Heryst kasama si Johro at ang dalawa sa mga pinakamahusay na mandirigma ng Eriatha."Sa
Tanghali na ngunit mahimbing pa ring natutulog si Heryst sa kanyang malaking kama. Lubha itong napagod sa ginawa nilang pagsasanay kasama ang kanyang kuya na si Zheus at ang mga tauhan nito.Araw-araw silang nagsasanay upang mahasa at matuklasan ni Heryst ang iba n'ya p
Sa isang madilim at masukal na kagubatan may isang batang lalaki ang tumatakbo ng mabilis habang tumatangis at halatang kinakapos na ito ng hangin dahil sa walang tigil na pagtakbo. Ngunit hindi ito puwedeng huminto.
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.