INICIAR SESIÓNIvy Sinclaire was born powerful—Heiress to House of Valemont and Manhattan royalty. Power doesn’t stop betrayal from crawling into her life—all cloaked in the form of her husband and her closest friend/ legal counsel. On the night she receives her Woman of Year award in global business, she walks into her office and finds Harry between Vivienne’s legs on her Italian marble desk—the same one she had closed multi-million deals on. The same night, her car crashes in a fiery wreck, and she’s declared dead, but alas! Ivy isn’t dead. She is saved by the one man who’s always wanted her and her nemesis. Chase Sterling. An arrogant billionaire and philanthropist in a tailored suit. A man who’s watched Ivy from the shadows for years. Keeping his distance, waiting for the perfect moment to swoop in and be her hero. “They tried to kill you and they almost succeeded,” Chase scoffs, adjusting his cufflinks. “I shouldn’t have trusted them,” Ivy wipes the tears streaming down her cheeks violently. “So what now?” She looks him dead in the eye. “I’ll give you 30% of House of Valemont. In return, you help me destroy them.” Reborn as Victoria St. James, Ivy returns to New York—unrecognizable, vengeful, and dangerous. With Chase at her side, she sets the stage for a merciless takedown, but as their dark alliance deepens into something twisted and magnetic, the question remains: who’s really in control? Because Chase didn’t just save her… He remade her, and he has no intention of letting her go.
Ver másTEMEN TAPI DEMEN
Oleh: Kenong Auliya Zhafira
Sahabat adalah teman terdekat yang akan selalu menemani dalam berbagai macam keadaan di kala sedih dan bahagia. Baik suka, maupun duka. Tidak akan pernah ada tangan yang terlepas dari genggaman. Dan akan saling menguatkan satu sama lain.
Jika salah satu ada yang kesakitan, maka akan ada orang yang suka rela memberikan sebuah pelukan. Dan jika ada air mata kesedihan, maka akan ada tangan yang selalu siap untuk menghapusnya.
Begitulah persahabatan di mata gadis yang bernama Shakira Widuri. Shasa selalu bersama dengan Soni Pratama di setiap harinya. Soni sebenarnya adalah pria idaman dari semua gadis sewaktu masa sekolah.
Bagaimana tidak, Soni memiliki wajah tampan layaknya aktor korea. Hidung yang mancung, kulitnya yang putih, badannya yang atletis, belum lagi bapaknya adalah juragan tarub di kampung.
Mengenal Sasha semenjak seragam merah putih hingga putih abu-abu membuat Soni sangat memahami karakternya.
Bahkan saking dekatnya, Soni bisa hapal jadwal tamu bulanan Shasa. Soni juga tidak malu kalau roti tawar bulanan Shasa habis sebelum waktunya, maka ia akan dengan cepat membelikan untuknya.
Seperti sore ini, Shasa lupa membeli roti tawar, padahal stoknya hanya tinggal yang dipakai saja. Tanpa malu, tanpa ragu, Shasa langsung menuliskan satu pesan di ponselnya.
Shasa
[ Son, tolong ke warung dong? Beliin gue roti tawar yang kaya biasa. Cepetan! Gak pake lama! ]
Soni yang sedang membantu bapaknya menandai kalender untuk jadwal pasang tarub pun langsung menghentikan aktifitasnya saat mendengar benda pipihnya berbunyi.
Dengan cepat Soni menyambar ponselnya yang berada di atas meja. Huruf ‘S’ yang terbaca di atas layar ponsel sudah tak asing lagi di matanya.
“Pasti ingin minta tolong. Dasar cewek kalau ada maunya aja baru ngirim pesan,” ucapnya lirih. Akan tetapi senyumnya melengkung menghiasi kedua pipi menerima pesan dari Shasa.
Soni
[ Ya, elah. Tinggal ke warung ngapa? Gue lagi bantuin bokap nandain harta karun. Nanggung soalnya ]
Shasa
[ Malu tau! Ini lagi banjir soalnya, takut tembus. Gue tungguin ya? Tapi jangan kelamaan, takut kepenuhan entar meleber ]
“Dasar cewek ... emang maunya apa-apa kudu diturutin,” geram Soni yang mulai kesal dengan sikap Shasa yang pelupa.
“Untung temen dari kecil, kalau gak, ogah gue beliin begituan,” ucap Soni lagi.
Bapak yang sedari tadi melihat anak bujangnya ngomong sendirian, mulai penasaran. Ia paham jika Soni sudah nyerocos tidak jelas pasti selalu berhubungan dengan gadis yang selalu bersama anaknya. Siapa lagi kalau bukan Shakira Widuri.
“Kamu kenapa ngomong sendiri, Son? Kaya orang gila aja. Emang disuruh ngapain lagi sama si Shasa?” tanya bapaknya yang masih fokus menghitung kalender dengan orderan.
“Ini, Pak ... Shasa minta beliin roti tawar. Tapi, nanggung ini bentar lagi selesai,” jawab Soni. Tangannya pun masih memegang bolpoint.
“Ya udah sih, sana beliin dulu. Lagian ini juga udah mau selesai. Tinggal dua tanggal lagi. Kasihan nanti Shasa nunggunya lama.”
“Beneran nih, Pak? Ya udah, kalau begitu aku mau ke warung dulu,” pamit Soni yang langsung meletakkan kalender dan bolpoint dengan asal.
Saat hendak sampai di pintu, langkah Soni terhenti karena ucapan Bapak yang membuat hatinya menjadi berdebar dan bergetar.
“Awas hati-hati, Son! Awalnya temen, entar lama-lama demen,” ejek bapak diiringi tawa renyahnya hingga meramaikan ruang tamu.
Soni menoleh, menatap sang bapak yang masih menertawainya.
“Emang, Bapak mau punya mantu seperti Shasa?” tanya Soni dengan pikiran yang embuh. Kedua netranya kini terlihat serius menunggu jawaban bapaknya.
“Harusnya Bapak yang nanya ... emang Shasa mau punya suami kayak kamu?” Lagi, tawa Bapak kembali terdengar. Membuat hati Soni menjadi berpikir lebih keras tentang Shasa.
Mengenal Shasa yang sudah bertahun-tahun membuat Soni mengetahui apa pun tentangnya. Bahkan baik buruknya pun ia tahu.
“Buang jauh-jauh pikiran itu dari kepala gue ....” Soni menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menepis semua kemungkinan itu.
“Au, ah! Pergi dulu ke rumah Shasa. Assalamu'alaikum,” ucap Soni dari depan pintu kemudian berlalu pergi menuju warung di ujung pertigaan rumahnya.
“Wa'alaikumsalam ... dasar bocah! Entar demen beneran baru tahu,” jawab lirih sang bapak yang kemudian kembali fokus dengan kalender.
Karena jarak rumah yang tidak begitu jauh, Soni memutuskan menaiki sepeda ontel. Sekalian berolah raga sore. Sudah lama ia tidak pernah membuang keringat dengan bersepeda.
Setiap kayuhan pedalnya, Soni mengingat banyak memori tentang Shasa. Dari yang sering berboncengan berdua, tertawa karena hal yang tidak lucu, bahkan pernah tercebur sungai kecil karena kesiangan berangkat ke sekolah.
Wajahnya yang dibasahi oleh air bewarna kecoklatan, rambutnya yang menjadi seperti kucing habis mandi, dan baju sekolahnya yang tembus pandang. Juga omelannya yang tanpa jeda masih membekas kuat dalam ingatan Soni.
Tanpa sadar senyumnya lagi dan lagi merekah mengingat kejadian itu. “Apa bener kata Bapak ya? Kalau gue mulai demen sama si Shasa?” tanyanya pada diri sendiri.
Soni menghentikan lamunannya dan juga sepedanya tepat di depan warung. Dengan malu-malu, ia memberanikan diri memasuki warung. Kebetulan sekali keadaan lagi sepi. Hanya Bu Dina saja selaku pemilik warung.
Ini seperti keberuntungan buat Soni.
“Eh, ada Mas Soni ... tumben nih ke warung? Pasti mau beliin roti tawar buat Mba Shasa kan?” tanya Bu Dina saat baru melihat Soni masuk.
“Astaga! Bu Dina aja sampai paham kalau gue pengen beli gituan buat Shasa,” batin Soni.
Soni tersenyum untuk menutupi rasa malunya.
Soalnya ini bukan pertama kali, melainkan entah yang keberapa ia pun sudah tidak ingat lagi.
“Iya, Bu. Yang kaya biasa ya? Yang merk wings, yang ada sayapnya. Yang ukuran jumbo sekalian, Bu. Biar awet. Sekalian buat yang night juga,” jawab Soni.
Bu Dina yang sudah biasa mengerti, langsung bergegas mengambilkan roti tawar dan memasukkannya ke wadah kantong plastik sedang bewarna hitam.
“Ini, Mas ... kantongnya sengaja warna hitam, biar gak malu. Semuanya jadi empat puluh lima ribu,” ucap Bu Dina sambil menyodorkan kantong plastik berisi roti tawar.
“Makasih, Bu.” Soni pun memberikan uang pas, kemudian bergegas pergi sebelum warung menjadi bertambah ramai. Ia takut mentalnya mendadak hilang jika harus mendapat ledekan dan pujian.
“Mas Soni ...!” panggil Bu Dina lagi.
Soni menghentikan langkahnya, kemudian berbalik.
“Ada apa lagi, Bu? Apa uangnya kelebihan?”
“Bukan, Mas. Cuma mau doain, semoga bisa jadi suami idaman untuk Shasa,” ucap Bu Dina dengan senyum yang artinya apa, lalu berbalik masuk ke dalam warung.
Glek!
Soni berusaha menelan ludahnya sendiri. Masih ada rasa tidak percaya tentang perkataan Bu Dina barusan. “Awas aja lo, Sha. Lo udah buat malu gue untuk yang keberapa kalinya dengan sebuah roti tawar,” geram Soni.
Saat hendak menaruh kantong dalam setang sepeda, ponsel dalam saku berdering. Soni segera mengambil dan menekan tombol hijau. Ia sadar kalau Shasa pasti sebentar lagi akan mengomel.
“Halo, Sha ....”
“Kok lama sih? Udah sampai mana? Gue nungguin dari tadi juga, malah gak nongol-nongol. Buruan, Son?” Ucapan Shasa terdengar sedikit melengking.
Bahkan Soni sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya. Takut telinganya menjadi bermasalah.
“Iya, bawel!”
Soni mengakhiri panggilan teleponnya dengan sepihak. Kemudian mengayuh sepedanya lagi hingga sampai ke rumahnya Shasa.
Rumah Shasa dari dulu tidak pernah berubah. Selalu terlihat asri dan sejuk karena dipenuhi banyak pepohonan dan bunga-bunga. Secara ibunya memang menyukai tanaman.
“Eh, ada calon mantu. Sudah lama, Soni gak pernah main? Lagi ramai job tarubnya ya?” tanya Tante Weni, mamanya Shasa.
“What? Calon mantu?” Soni mendadak geli mendengar ‘calon mantu’ dari Tante Weni.
“E-em, a-anu ... iya lagi banyak pesenan, Tan,” jawab Soni malu.
“Masuk aja, kayaknya Shasa lagi ada di kamar,” titah calon mertua.
Eh! Ada yang ngarep jadi mantu. Bukan, maksudnya Tante Weni.
Sudah kebiasaan Soni akan dengan mudah memasuki kamarnya Shasa. Pertemanan yang cukup lama membuat mereka berdua tidak sungkan satu sama lain saat bermain ke rumah.
“Sha ... Shasa ...?”
Soni memanggil Shasa dari depan pintu. Tak lama, pintu pun terbuka. Wajahnya kali ini sedikit terlihat pucat, mungkin karena sedang datang bulan jadi darahnya yang keluar mengurangi pesona kecantikannya.
Soni menatap sekeliling kamar Shasa. Masih sama seperti dulu. Banyak tertempel poster-poster band favoritnya di dinding kamar.
Ia masih mengingat ketika dulu bolos waktu sekolah menengah atas hanya untuk menemani Shasa membeli sepuluh poster band terkenal dari Jogjakarta, siapa lagi kalau bukan Sheila On 7.
“Gila ...! Kamar lo masih aja kaya gedung bioskop, Sha? Gak malu apa sama usia?” ucap Soni sambil memberikan sekantong berukuran sedang berisikan roti tawar.
“Bahkan dari formasi lawas sampai formasi kekinian masih terpajang tanpa debu. Emang Sheila Gank sejati lo, Sha,” ucap Soni lagi.
“Bawel lo! Udah tau juga kalau gue suka masih protes,” jawab Shasa sewot kemudian berlalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti roti tawarnya.
Selama menunggu Shasa kembali dari kamar mandi, mata Soni melihat bingkai foto mereka berdua yang berada di atas meja.
Ya, foto itu menarik langkahnya hingga lebih mendekat. Bahkan gerak tangannya seperti dikendalikan oleh magnet yang membuatnya ingin mengambil foto tersebut.
Senyum Shasa yang natural menambah aura kecantikannya. Secara sadar Soni melengkungkan sudut bibirnya membentuk satu senyuman.
Soni baru menyadari bahwa Shasa itu ternyata cantik. Cantik banget malah.
“Dor ...!!!”
Suara Shasa mengagetkan lamunan Soni.
“Ngapain lo mandangin foto kita?” tanyanya tiba-tiba.
Soni masih memandang wajah Shasa yang basah karena habis mencuci muka. Wajah di depannya seakan menghipnotis matanya.
Pelan, bingkai foto itu diletakkan kembali di atas meja. Tanpa mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang selama ini sudah dikenalnya.
“Kenapa gue baru nyadar pesona lo, Sha ....” lirih Soni dalam hati.
“Jangan diliatin terus. Entar lo demen gue lagi,” jawab Shasa asal.
Kemudian mengambil handuk kecil di dekat kursi untuk mengusap wajahnya yang basah.
“Gu--gue de--demen lo ...???” jawab Soni terbata.
Mendadak ada yang berlarian cepat di dalam dada. Membuat rasa gugup itu semakin mendebarkan dan membuatnya hampir melayang tanpa kendali.
Matanya sebisa mungkin ia alihkan keluar jendela kamar Shasa. Berusaha menatap pemandangan. Sekedar untuk membuang hatinya yang mulai tidak bisa berkompromi.
Yang jelas, Soni merasa gugup kini berada dalam satu kamar dengan gadis yang sudah biasa menemani harinya dengan status label teman.
“Apa iya, kalau gue demen sama temen sendiri?”
--------****---------
Bersambung
VICTORIAFour years laterThe air feels different today — softer, lighter, almost unreal.The sun pours gently over the gardens of Valemont estate, painting the marble white and the grass gold.Children run barefoot across the lawn, their laughter spilling through the breeze like music.I am standin
******************************************************************************************CHASEThe music floats across the beach, slow and warm, the kind that makes the night feel softer than it is.Fairy lights sway in the ocean breeze, and laughter ripples through the guests as I stand near the
VICTORIAThe sand is warm under my heels as we walk down the narrow path leading to the beach, the faint hum of waves mixing with distant laughter.My hand rests lightly on my belly, the other laced tightly with Chase’s because I still can’t believe this is real — that he’s this happy, that we are.
I pretend not to notice, but something cracks quietly inside me.On the jet, she wasn’t exaggerating about sleeping. The moment she sits down, she curls up, adjusts the blanket, and shuts her eyes without a word. I sit across from her and just… stare as the engines hum softly, clouds drift past the
We slip in through the back entrance, down to the underground garage.As the car stops, I glance at my reflection in the tinted window. I look tired, maybe even haunted—but the fire in my eyes is back.I head to the elevator and I step inside, press the top floor.When the doors open again, the sigh
VICTORIAThe door slams, and the sound cuts straight through me.For a second, I stand there in the hallway, frozen, until my chest starts to cave in. I can’t breathe—each inhale shallow, ragged. My fingers tremble as I grip the railing and descend the stairs, my vision blurring at the edges.When I
The words hang in the air, heavy and venomous.I slam both palms against the table. The sound echoes, the glass trembles, papers flutter.The door bursts open.“Ms. Victoria?” Dana’s voice trembles slightly. “Are you okay? I heard—some commotion.”I turn to her slowly. Her wide, nervous eyes flicker
CHASEVictoria’s voice trembles. “Oh my god… how? How did you do this?” Her hands still shaking as she paces across the room, disbelief written all over her face.I lean back, one leg draped over the other, and watch her with a faint, smug curve tugging at my mouth. “Well… I just offered them above
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reseñas