LOGINThis is a story that contains the stories of six people and their lives s a family. Starting with Krissy a young doctor who works with the military and finds love on the worst of days. One by one her kids and herself grow and add to the family over a span of twenty Plus years.
View More"Haha... gak mungkin lah aku beneran suka sama dia. Bagiku, dia gak lebih dari seekor anjing pesuruh!"
Degh! Arga yang berdiri di dekat pintu, terkejut saat mendengar perkataan gadis pujaannya. Perkataan tersebut membuat harga dirinya sebagai seorang pria diinjak-injak hingga ke dasar. Dada pemuda 21 tahun itu seketika bergemuruh hebat. Emosinya memuncak ke ubun-ubun dan nyaris meluap. "Dibandingin sama kamu, Arga gak ada apa-apanya. Bahkan, gak pantas dibandingin sama ujung kuku kamu." "Kalau dia tahu cuman dianggap seekor anjing, dia pasti bakalan nangis darah!" Di balik pintu apartemen tersebut, Arga mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh dengan erat. Wajahnya merah padam, rahangnya mengeras membuat gigi-giginya beradu dan menimbulkan bunyi gemeretak. Tak tahan, pemuda miskin yang hanya tamatan sekolah menengah akhir itu pun menendang pintu apartemen gadis pujaannya dengan gerakan yang kasar dan cepat. Brak! Bunyi bantingan pintu terdengar keras, membuat sepasang sejoli laknat yang duduk mesra di atas sofa terperanjat kaget. Spontan, gadis cantik berhati busuk yang duduk di pangkuan si pemuda bergerak turun sambil merapikan dress-nya yang sedikit terbuka. Sepasang mata gadis itu membola penuh, kaget melihat keberadaan Arga yang tiba-tiba datang ke apartemennya. Karena biasanya, Arga selalu menghubunginya lebih dulu jika akan datang dan mengajak kencan. Namun kali ini, pemuda miskin itu datang tanpa memberi kabar ataupun sekedar mengirimkan pesan. "A-a-arga, kok kamu datang gak ngasih tahu aku dulu?" tanya si gadis tergagap. Arga yang ditanya, tersenyum getir sambil angguk-angguk kepala. Matanya yang memerah, menatap tajam pada sang kekasih yang berdiri di samping pacar gelapnya. "Kenapa, kaget lihat aku ada di sini? Kalau aku gak datang diem-diem, mana mungkin bisa mergokin kamu yang lagi asik pacaran sama Bimo," kata Arga dengan suara tertahan. Sedangkan tangan pemuda miskin itu menunjuk pada selingkuhan pacarnya yang terlihat tegang di pinggiran sofa. Ditunjuk oleh Arga, pemuda bernama Bimo yang tak lain adalah temannya sendiri itu pun justru menyunggingkan sudut bibirnya, menunjukkan senyuman remeh pada Arga yang memang berasal dari kalangan bawah. Ya, pemuda yang memiliki nama lengkap Argantara itu adalah seorang pemuda miskin yatim piatu yang tinggal di kawasan kumuh pinggiran kota bersama kakak iparnya. Sedangkan kesehariannya bekerja sebagai pelayan di sebuah kafe. Sore itu, Arga yang pulang bekerja, sengaja mendatangi apartemen kekasihnya lantaran ingin memberikan kejutan ulang tahun. Nyatanya, saat tiba di sana, justru dirinya yang diberi kejutan tak terduga. Gadis cantik berhati busuk yang sudah setahun menjadi kekasihnya itu ternyata berselingkuh dengan temannya sendiri. Bahkan dengan tega memanfaatkan dan menganggapnya sebagai seekor anjing pesuruh. "Aku gak nyangka, kalau kamu sejahat ini, Wi. Ternyata selama ini kamu cuma manfaatin aku. Di luaran sana aku mati-matian kerja banting tulang dari pagi sampe sore buat menuhin keinginan kamu, tapi ternyata kamu malah selingkuh dan balas kesetiaanku kayak gini!" Gadis bernama Dewi itu meneguk ludah dengan bersusah payah. Tak menyangka jika Arga yang selama ini selalu bersikap lembut, bisa marah seperti itu. "Hei, Ga! Seharusnya kamu sadar diri, kalau kamu gak pantas jadi pacar Dewi. Kerja cuman jadi pelayan kafe dengan gaji pas-pasan, apa yang bisa diarepin dari cowok kere macam kamu?!" Bimo yang berdiri di pinggiran sofa, berbicara dengan nada mengejek pada Arga yang menatap marah padanya dan Dewi. Darah di tubuh Arga seolah mendidih. Rasanya ingin sekali ia membogem keras mulut busuk Bimo yang seperti habis minum air comberan hingga giginya copot dan ompong. Namun, otaknya masih cukup waras untuk tidak melakukan kekerasan yang dapat menimbulkan masalah untuk dirinya sendiri. "Asal kamu tahu ya, aku dan Dewi saling suka. Dan— kami udah berhubungan lama, tepatnya seminggu setelah dia nerima kamu jadi pacarnya!" lanjut Bimo sembari membalas tatapan Arga dengan tatapan remeh. Semakin mendidih darah Arga, emosi di dalam dirinya serasa ingin meledak dan semakin sulit dibendung. Dewi yang semula tegang dan merasa takut, kini ikut tersenyum. Merasa senang dan puas karena Bimo membela serta menjelaskan hubungan mereka pada Arga. "Kamu denger sendiri 'kan, Ar. Aku dan Bimo saling cinta! Lagipula, selama ini aku gak pernah beneran suka sama kamu. Nerima kamu dulu cuman karena kasihan, dan kebetulan aku lagi butuh jongos yang bisa nurutin maunya aku!" Degh! Hati Arga saat ini begitu sakit, dadanya terasa sesak seperti dilempari dengan bongkahan batu yang besar. Dua orang yang ia percayai, teganya menusuk dari belakang. Menghancurkan kepercayaannya hingga ke dasar. Tak dapat lagi menahan gejolak amarah di dalam dirinya. Pemuda miskin itu mendekati Bimo, lalu melayangkan pukulan keras ke wajahnya beberapa kali. Buk, buk! "Bangsat, kalian semua biadab. Bajingan!" maki Arga dengan suara tertahan. Melihat Arga mengamuk, Dewi menarik tubuhnya dengan kasar, menjauhkannya dari Bimo yang terduduk di sofa. "Arga, cukup! Jangan gak tahu diri kamu!" Gadis cantik berhati busuk dan murahan itu melotot tak suka pada Arga yang bersikap kasar pada Bimo. "Cuih! Dasar cewek murahan, bikin jijik... kalau aku tahu kamu cewek gak beres, gak bakalan sudi aku pacaran sama kamu! Pick me!" Muak, Arga pun melangkah keluar dari apartemen Dewi, meninggalkan dua sejoli laknat itu dalam keadaan hati yang berantakan. Dengan langkah tergesa, pemuda miskin itu menuju lift dan turun ke lantai dasar gedung apartemen tersebut. Ia menuju posisi motor bututnya terparkir, lalu memacunya menembus jalanan kota di sore menjelang malam hari tersebut. Di sepanjang perjalanan pulang ke kediamannya yang berada di komplek kumuh pinggiran kota, Arga tak henti-hentinya mengumpati Dewi dan Bimo. "Bikin jijik, yang satunya brengsek dan yang satunya lagi cewek murahan. Kudoain mati g*ncet!" Umpatan-umpatan bersuara lembut dan berbahasa halus itu keluar dan lolos begitu saja dari mulutnya. Berbahasa lembut dan halus, apa tidak salah? Dadanya masih saja bergemuruh sejak tadi. Rasanya begitu sulit mengendalikan gejolak emosi yang ada di dalam dirinya saat ini. Setelah memacu motor bututnya yang memakan waktu hampir setengah jam, Arga pun tiba di kawasan komplek kumuh. Dengan sedikit kasar, pemuda miskin itu menstandarkan motornya di teras sebuah rumah yang catnya sudah pudar. Selanjutnya, Arga memutar gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Lalu, memasuki rumah berlantai semen yang retak dan bolong-bolong tersebut. Dengan gontai, ia pun melangkah menuju dapur. Pemuda itu meraih teko air di atas meja dan menegak isinya beberapa tegakan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang lantaran tak hentinya mengumpat dan memaki sejak tadi. Namun, suara aneh yang berasal dari kamar kakak iparnya, membuat Arga seketika tersedak air yang baru saja membasahi tenggorokannya. Bahkan, matanya spontan melotot tajam. "Emmmpphh, ahh... enaknya!"Four days later, the group stood on the front lawn of the Uesugi house. There were cars lined up and down the street. As the couple stood there and watched as their families all were happy along with friends and all the kids playing together, Morgana’s parents showed up. “no.” was all she said.“Morgana? “Greg asked as he looked down at his wife and saw her expression change. He looked up and saw her eyes on a well-dressed, somewhat fancy older couple walking up to them. “Those are your parents?”“Yes. “She said as she could breathe again.“Morgana. It is time to pack up and come home with everyone else. Ah, Kenshin.” Her mother said as she looked behind Morgana to her uncle, “It is time to have everyone in their rightful place, and the kids come home.”“Well, my home is here,” Morgana said as she looked at her mother and father, who were
Greg drove to the new house he had signed for hours before he had seen her again today. He watched her as her eyes widened. “What is this?” She asked.“Hopefully, our first place.” He said as he got out and met her at the door of the house.“What?” she asked.“I told you things happened fast when I asked my parents for a little help.” Greg laughed. “Here is your key.”“Are you serious?” She asked as he handed her the key. She unlocked the door and was amazed at how the house opened up.“There is a second and third floor, really. This is like a gaming room or something.” Greg said, and she was racing up the stairs. She was standing in the middle of the main room when he caught up to her. She saw the air mattress and everything else that was there for them to use for the night. “Do you like it?”“I love it.” S
Greg stood off to the side at the party. He was thinking of everything that still needed to be done quickly. He had one thing he really wanted to do right now, but he wanted to do it in private. He knew what the answer would be. He knew that she was his future. He had always known that.Everything and everyone was a little too much for him at the moment. He was getting antsy. He looked at his father, who was running around playing with one of the kids. He looked at his mother and then at his sisters and their families. He knew what he wanted in life. He wanted it all right now."How’s it good to be out of the warzone?” His father’s old boss asked as he smiled at boogs in his uniform.“Who said I was out of it.” Greg laughed. “right now, it feels like I am still there.”“We all understand that feeling.” He said with a laugh. “If you need some air go get it. You probably
Greg was in his dress uniform as they loaded everyone into his parent's cars. Both had minivans for the younger ones that they had. He got into his car. He smiled as he followed his parents to the local university, and he parked in the back lot, and then he started to where he would be sitting with her uncle. He was steading himself for that.When he saw the small group that was waiting for him. He also noticed that people were looking at him. Kenshin smirked as he looked at his uniform. "I can't believe you chose to wear that.""Well, I did just get home. "Greg said as he put out his hand to shake the older man's hand. The little kids were there around his legs waiting to be hugged. He lifted them all up to look at them, and they giggled and laughed."Well, not really just got home," Kenshin said as he looked at the younger man. "She told me.""She did?" Greg asked. He was really surprised."Despite the differences between us, she is
When Gina got there, she looked over the two men and laughed. "go." She said as she watched over the younger ones along with her own kids. She went into the Kitchen and began to get some meals for the family. Everything was going to busy for the next few days. Though she
The two were locked together, and they both knew that things were changing really quickly between them. The kiss deepened even more, and soon they had lost track of time. Greg pulled up first though he really didn't want to. "As much as I want this to continue, I can't l
Two weeks went by, and Steven settled into the idea of sharing his life and house with Calista. He had made room for her in the office and had got her a desk. He was on the phone when she walked in the door.“Yes, dad.” He said as he looked slightly mad
Steven walked into the house, smelling like food. He wandered around for a few minutes and found her in the Kitchen cooking something on the stove. He walked up behind her, “you know, I thought this would never happen.” He whispered in her ear.












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews