LOGINReina Clementine Romano the youngest Romano of the Sicilian mafia and course the most badass. A successful CEO of the Romano's hotel in the day; but at the night she hides under the name The Black Hunter. A professional crazy criminal with talents in every corner of the underground world. The best shooter, body hunter, assassin, fighter, and practically anything you can name. Jax Phoenix Martinez the ruthless and bloody American Mafia boss. Feared by many cops and criminals. He loves seeing his enemies suffer so tortures him for days on end; nonstop. An absolute psycho! He simply doesn't give one damn towards anyone so say the wrong things to him and the rest of your life is not promised. Both are feared and talented in what they do; both love seeing their enemies on their knees begging for mercy; both are beyond the word crazy. What happens when they cross paths? Will the demons rise while the angel falls or will they be intertwined by fate and fate alone?
View More“Halo, maaf ini siapa ya?” Aku menyapa seseorang di ujung telepon sana yang nomornya sama sekali tidak kukenal.
“Siska, ini gua, Alex!” jawabnya singkat.
Seketika detak jantungku terasa berhenti, lalu berdebar-debar tak karuan. Sekujur tubuhku serasa mati rasa, kaku laksana tersambar petir di siang bolong.
“Iya Bang, ada apa ya?” tanyaku agak gemetar setelah terdiam beberapa saat.
“Nanti jam satu malam, datang ke rumah gua lewat belakang. Datang dalam keadaan telanjang bulat. Saat gua ngeliat lu keluar dari pintu belakang rumah, harus udah bugil. Kalau lu gak mau, maka nyawa suami lu jadi taruhannya!” ancam Alex setelah itu menutup teleponnya.
Aku masih ternganga. Terbayang harus berjalan menyeberangi pekarangan belakang rumah sejauh dua puluh meteran dalam keadaan bugil di tengah malam buta. Preman kampung super bejad ini benar-benar sudah gila!
Ingin rasanya aku memaki dan menolaknya. Namun aku sangat takut dengan ancamannya. Alex punya banyak teman sesama preman yang bringas dan terekenal raja tega. Ancamannya bukan main-main, sewaktu-waktu mereka bisa dengan mudah menyakiti bahkan membunuh suamiku. Mas Bayu tidak mungkin mampu melawan gerombolan manusia biadab itu.
Bagaimana jika nanti malam ada yang melihatku kelayapan dalam keadaan begitu?
Apa yang akan Alex dan gerombolannya lakukan terhadapku?
Mengapa mereka tidak membunuhku saja sekalian?
Apa yang harus aku lakukan?
^*^
Tak pernah kubayangkan peristiwa itu akan menjadi serumit ini. Namaku Siska Maelastri, usia 24 tahun. Ibu rumah tangga, istri yang sangat mencintai suami. Mas Bayu, lelaki berusia 30 tahun, berpenampilan kalem dan menarik, dan pastinya sudah cukup mapan karena mempunyai pekerjaan tetap. Walau tidak memiliki jabatan mentereng.
Mas Bayu bekerja di salah satu perusahaan pertambangan emas ternama di Negeri ini. Dia juga memiliki bisnis sampingan yang sedang berkembang walau belum banyak membantu perekonomian keluarga. Namun aku sangat yakin, kejujuran dan keuletan dalam berusaha akan membawa kami meraih kesukseskan kelak.
Aku pun aktif dalam berbagai kegiatan ibu-ibu kompelks dan juga komunitas persatuan istri-istri karyawan di perusahaan suamiku bekerja. Sebelum menikah aku sempat menjadi tenaga honorer pemda selama dua tahun.
Kehidupan keluarga kami relatif standar dan stabil tak beda jauh dengan kehidupan rumah tangga muda golongan menengah pada umumnya. Kami menikah dengan jalan dijodohkan oleh Pak Yusuf, atasanku di kantor dulu. Beliau adalah suadara sepupu Mas Bayu. Walau terkesan dijodohankan, namun pada akhirnya kami bisa saling mencintai.
Saat pertama dikenalkan oleh Pak Yusuf kepada Mas Bayu, aku tidak menduga jika mereka sepupuan. Tampang mereka jauh berbeda, walau sama-sama menarik. Namun sejujurnya Pak Yusuf jauh lebih gagah dan ganteng diusianya yang lebih tua. Pada awalnya aku sangat tertarik dengan Pak Yusuf, namun sadar karena dia sudah berkeluarga.
Tak terasas pernikahanku dengan Mas Bayu sudah berjalan hampir dua tahun, namun masih belum dikaruniai momongan. Bukan karena kami sengaja menundanya, melainkan karena Mas Bayu mengalami banyak gangguan dalam kejantanan dan keperkasaannya. Sering disfungsi ereksi, bahkan terkadang sama sekali tidak berfungsi.
Kami relatif sering bercinta, tapi sepertinya sperma dia tidak sampai masuk ke rahim, sehingga tak mampu membuahi sel telurku. Saat rudal dia baru masuk setengahnya, terkadang sudah keluar duluan isinya. Hal seperti itu nyaris terjadi setiap kami melakukan hubungan intim. Berutung kami tinggal agak jauh dengan sanak saudara, sehingga tidak terlalu panas telinga mendengar pertanyaa ‘Kapan punya anak?’
Untuk urusan cinta, perhatian dan kasih sayang, Mas Bayu juaranya. Hanya saja untuk urusan ranjang, aku harus benar-benar bersabar, ikhlas dan rela menerima dia apa adanya. Gairah seksualku yang terbilang sangat tinggi dan menggebu-gebu, terpaksa harus ditekan kuat-kuat karena suamiku tiidak sanggup mengimbanginya.
Tak ada gading yang tak retak. Harus aku akui jika suamiku memiliki banyak kelemahan dalam aktivitas ranjangnya. Pembawaannya saat di atas ranjang tidak sejantan dan sebergairah lelaki normal pada umumnya. Jauh sekali dengan ekspetasiku yang senantiasa menggambarkan para lelaki itu seperti yang kubaca di novel-novel dewasa karangan Fajar Merona, atau yang pernah kutonton dalam film-film dewasa.
Kami menjalani hidup berumah tangga dengan sangat bahagia di sebuah rumah kontrakan yang relatif sederhana. Lingkungan sekitar pun terasa sangat tenang dan nyaman. Hubungan interaksi antar sesama warga kompleks pun cukup baik. Hanya saja selalu ada kekurangan di baliknya. Tak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini. Kebahagiaan kami pun terkadang masih sering terusik.
Di belakang rumah kami tinggal seorang pemuda yang dijuluki sebagai preman kampung. Dia terkenal arogan, bersikap semena-mena dan semau gue kepada semua orang. Terlebih lagi kepada aku dan suamiku yaang notabene sebagai warga baru di kompleks itu.
Namanya Amri Alamsyah, tapi semua orang biasa memanggilnya Alex. Usianya mungkin sebaya denganku kisran dua empat tahun. Alex belum menikah, dan tinggal bersama neneknya yang sudah tua. Tidak banyak yang mengetahui silsilahh keluarganya, karena semua orang pun berusaha tidak terlalu dekat dengannya.
Kini Mas Bayu terkesan menjadi sangat takut kepada preman kampung itu. Bermula saat kami sedang jalan berdua, kebetulan berpapasan dengan Alex. Mas Bayu mencoba bersikap sopan kepadanya, namun Alex justru membentak dengan melontarkan kata-kata yang sangat kasar. Bahkan mengeplak kepala Mas Bayu di depan semua orang.
Saat itu Alex maksa meminta uang. Mas Bayu buru-buru menyerahkan selembar uang lima puluh ribu yang ada di kantongnya. Alex menolaknya karena dia meminta lima ratus ribu. Tentu saja kami tidak mampu memenuhi keinginannya.
“Bang tolonglah, kami kan hanya karyawan biasa yang gaji bulannnya hanya cukup buat makan sehari-hari saja.” Mas Bayu mencoba bernegosiasi.
“Heh, lu pikir gua Lemabga Sosial? Terserah elu mau cukup atau kagak itu gaji. Yang pasti gua minta duit gope, sekarang juga!” Alex menjambak kerah baju Mas Bayu, hingga suamiku kesulitan bernapas.
“Bang, tolonglah kami, Bang.” Aku mencoba melepaskan cengkeraman tangan Alex dari kerah baju suamiku. Wajah Mas Bayu benar-benar pucat.
“Heh, Siska! emang lu punya duirnya? Gak usah banyak bacot, sini mana!” Alex melepaskan cengkremannya dan berbalik seakan mau menyerangku. Bau alkhohol dari mulutnya kangsung menyergapku.
“Ti..tidak ada Bang. Kami hanya punya sisa lima puluh ribu lagi, itu pun jatah kami dua hari ke depan.”
“Hahaha, dasar manusia-manusia pelit lu. Gua denger keluarga kalian itu orang-orang kaya di sana, bener kan?” Alex menyeringai menatap kami.
“Bohong Bang! Saya bahkan sudah tidak punya Bapak lagi.” Entah mengapa aku masih bisa berbohong. Namun sebenarnya tidak terlalu salah, karena memang Bapakku sudah lama pergi dengan selingkuhannya entah kemana.
Alex beralih menatap suamiku, “Jadi gimana ini Bayu? Masa lu jadi suami kagak punya duit. buat apa lu kerja tiap hari. Mendingan lu jual aja istri lu yang cantik ini! gua yakin banyak yang minat!”
JEGER!
Bagai terkena petir ganas yang mendadak menyerang. Sekujur tubuhku mendadak kaku dan jiwaku terkesima. Sungguh biadab ucapan si Alex ini. Bbenar-benar telah merendahkan harkat dan martabatku sebagai seorang manusia yang juga seorang wanita baik-baik yang sudah bersuami.
Ingin rasanya aku mengamuk dan menangis sejadinya sambil merobek-robek mulutnya yang menjijikan itu. Namun apalah dayaku hanyalah seorang wanita. Mas Bayu pun yang sehausnya bisa melindungiku, bahkan hanya tertunduk ketakutan.
“Baaang, mohon diterima dulu ini, nan…nan…ti kita bisa bicarakan lagi lebih lanjut.” Mas Bayu kembali bernegosasi sambil terus menydorkan uang lima puluh ribu pada Alex.
“Oke kali ini masih bisa gua maklumi. Nanti kita akan bicarakan lagi semuanya, Bayu!” Akhirnya Alex menerima uang yang disodorkan suamiku.
Untuk sesaat aku bisa menarik napas lega. Serasa baru saja keluar dari himpitan goa angker yang gelap gulita. Namun demikian tatapan mata Alex yang beringas kemerahan tak ayal membuat nyaliku nyaris terjatuh ke dasar lembah yang terdalam. Alex pun pergi meninggalkan kami sambil mengantongi uang suamiku.
“Sayang maafkan kelemahan suamimu ini,” ucap Mas Bayu sambil merangkul bahuku. Lalu dia pun menyeka air mataku yang tak kusdari ternyata sudah mengalir deras membasahi pipiku.
“Mas janji untuk selanjutnya akan benar-benar melindungimu.” lanjutnya.
“Aku sudah gak betah tinggal di sini Mas,” jawabku lirih sambil terus melanngkah pulang ke rumah.
“Iya, secepatnya kita akan pindah dari sini, tapi mas harap kamu bersabar dulu ya, Sayang.” Mas Bayu terus menghiburku sambil memapah tubuhku yang terasa limbung. Benar-benar tak terima dan sakit hati direndahkan oleh manusia yang bahkan aku senantiasa mengalah dan berbuat sopan kepadanya.
^*^
Jax’s Point of ViewI was on the phone with Angelo when she was dragging me out of that stupid dirty burrito shop. Despite the shop looking infested with pests, the burrito itself was nice. It seems to have a delicious taste no matter how much the presentation sucked. She pulled me towards her while giving me her phone to take photos.All I could hear was Angelo’s voice on the other side but my mind was focused on her. Her jet black hair was the same coconut scent it always was. Her dark brown skin glowed effortlessly. She was perfect in every sort of way. I took photos in every angle, capturing her gorgeous beauty. I could stare at her all day and never get bored; she would always hold my heart in her hands. She could tell me to do something and I fucking would. She literally owns me. She owns every part of me.I cut the phone on Angelo and moved towards her. I sent the photos to my phone before handing her phone to her.“God, the view is perfect,” she sighed under her breath. My eye
Reina’s Point of ViewAs soon as the doorbell rang, there was a gun pointed at Narc’s face and I instantaneously drew out my gun. I looked up to meet one of the most well known criminals in the world.Harlow River Cortez. The woman, who rules most of Europe and South America, has men trembling at the sight of her. Her grey eyes bore onto Jax’s, serious and solemn; if she wanted to she could kill everyone. Started her own legacy in Mexico with the cartel, she then expanded to multiple countries and powerful men bowed down to her both willingly and in fear. Honestly, in the mafia world, she is the most powerful man and everyone knew not to mess with her because she gave no damn to excuses, no hesitation to castrating and no fucks to someone’s worth.France was her territory and whether or not we got the permission from her, we would be killed. So the next few seconds with the wrong words would only cost us our life.“Cortez, lovely to see you again.” Jax stated calmly.“Want to tell me,
I had one chance to win her over and give her a reason to forgive me. I know that she would never fully forgive me and to me that was completely understandable. She owns every single part of me whether I liked it or not. She manages to cause a whirlpool in my mind, only focusing on her, I love her too much to ever let her go.She fell asleep slowly after our conversation in the car, leaving me to my thoughts. I only had two nights and three days before leaving and there were way too many activities to do in the city of love. I had a couple planned already. By the time we reached the airport, she was deep asleep and I had no plan to ruin her peace so I carried her into the private plane and laid her in her seat while, I took the seat next to her.The plane ride went quite quickly and it was around 2 in the morning when we landed in Paris and as no surprise Reina was still fast asleep. She could probably sleep for 15 hours and still want more sleep. I carried her into the hotel and laid
“Language sweetheart and the date will be in Paris”.My mouth gaped open while a couple of butterflies swarmed in my stomach with his gruff voice nicknaming me ‘sweetheart’. Paris. He wanted to take me to Paris: the city of love, the city of romance and the city of everlasting sex. If he wanted to do anything like that with me, it would have to be after I’m dead and in the afterlife because no way in hell would I let him touch me. Not even with 10 foot pole.I hate how he made me feel but I wouldn’t let him come near me again. Not after what he did. He killed me and felt no remorse. Well, not until he realised I wasn’t the rat and it was his own best friend.“I am not going to Paris with you because I have a job over here and some paperwork to do,” I stated plainly and turned on my heel making my way back into the house, but before I could make it three steps his hand grabbed my hips, forcing me to look him in his eyes.“Too late, baby. I’ve already bought some McDonalds chicken nugge
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews