MasukShe was captured and sold as a bed warmer to a notorious Mafia Lord. On her escape, he was caught by him. As their eyes met, she was stunned. Did she just find her second chance mate? She thought. Her heart went wild, and so with her wolf inside. But the gorgeous man just looked at her with cold eyes. There were no traces that he felt what she felt. Her mate's pull toward her seemed to be not working. Until she realized by sniffing at him that he was not just a wolf. He was something more! “Moon Goddess, I was just rejected by my mate, but here you are again, giving me a second chance mate, who is as cold as an iceberg,” she thought, whining. Her wolf shouted, “Mate! He is ours!” But then she was captured by the most fearful Hybrid King, who took her as his captive. But why did her heart go wild too as she saw him? There was no fear in heart for him but a familiar feeling of love and security. She was already in a dilemma when her Alpha mate who rejected her returned to claim her! Darn! Moon Goddess, whom would she choose?
Lihat lebih banyakAnisa memandangi cermin di depannya. Wajah yang dulu ia kenali kini tampak seperti milik orang asing. Mata yang dulunya bersinar penuh harapan, pun kini kehilangan kilauan, hanya menyisakan kekosongan dan kelelahan yang begitu dalam. Di bawah matanya, lingkaran hitam terlihat menebal, mengisyaratkan malam-malam tanpa tidur yang telah menjadi rutinitas.
“Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku?” Anisa berbisik pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam keheningan kamar kecilnya. Tak ada yang menjawab, hanya bayangannya di cermin yang kembali menatap, seolah mengejek kelemahannya. Tiga bulan yang lalu, hidup Anisa berada di puncak. Karirnya sebagai desainer grafis sedang menanjak, dan ia baru saja mendapatkan kontrak besar dengan perusahaan ternama. Kekasihnya, Reza, juga tampak sebagai pasangan yang sempurna, penyayang, perhatian, dan selalu ada di sampingnya. Tapi semua itu harus berakhir dalam sekejap. Reza, yang selama ini menjadi tumpuan harapannya, tiba-tiba memutuskan hubungan mereka tanpa alasan yang jelas. Dan yang lebih menyakitkan lagi, hanya berselang seminggu setelah itu, Anisa mengetahui bahwa kontrak besar yang ia banggakan dicabut secara sepihak. Perusahaan yang awalnya begitu memujanya kini bahkan tidak sudi memberikan penjelasan kepadanya. Anisa merasa seluruh dunianya telah runtuh. Hidupnya pun hancur. Kehilangan pekerjaan dan juga kekasih dalam waktu yang begitu singkat membuat Anisa terpuruk. Tapi ia tidak tinggal diam, ia mulai mencoba mencari pekerjaan baru, namun setiap pintu yang ia ketuk seolah-olah tertutup rapat. Uang simpanannya selama ini juga mulai menipis, dan setiap malam ia selalu bergulat dengan perasaan putus asa yang semakin menghimpit. Malam-malam panjang dihabiskan dengan menangis di sudut kamar, memeluk lutut, dan bertanya-tanya apa yang salah dalam hidupnya selama ini. Hari ini, Anisa merasa hidupnya lebih hancur daripada sebelumnya. Ia telah menghabiskan hari dengan mengirimkan lamaran kerja ke puluhan perusahaan, hanya untuk mendapatkan balasan yang sama. Yaitu penolakan. “Kami menghargai minat Anda, namun kami telah memilih kandidat lain,” begitu bunyi kalimat yang terus menghantui dirinya. Anisa berjalan perlahan menuju jendela kecil di sudut kamarnya, wanita berwajah tirus dan beriris mata coklat muda itu menyingkap tirai dan memandang keluar. Kota ini, yang dulu ia cintai dengan segala kebisingan dan hiruk-pikuknya, kini terasa sangat sepi seperti penjara. Setiap orang yang ia lihat tampak bahagia dan bergerak dengan tujuan pasti, sementara ia terjebak dalam lingkaran setan ketidakberdayaan. Tiba-tiba ponselnya berdering, memecah lamunan kelam yang menyelimutinya. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas meja, berharap-harap cemas. Mungkin ini kabar baik, pikirnya. Namun, ketika melihat nama yang tertera di layar, hatinya semakin tenggelam. Bank. Dengan berat hati, Anisa menjawab panggilan itu. Suara di seberang sana begitu formal dan dingin, menyampaikan kabar yang sudah ia duga namun tetap menghantamnya keras. “Ibu Anisa, kami ingin mengingatkan bahwa Anda memiliki tunggakan yang harus segera dilunasi. Jika tidak, kami terpaksa akan mengambil tindakan lebih lanjut.” Kata-kata itu berputar di kepalanya, menguatkan perasaan bahwa ia sedang terjerumus semakin dalam ke dalam lubang yang tak berdasar. “Saya ... saya akan berusaha secepat mungkin,” jawabnya, suaranya bergetar. Tetapi ia tahu, tak ada yang tersisa untuk diusahakan. Simpanan uangnya hampir habis, dan tak ada pekerjaan di depan mata. Setelah menutup telepon, Anisa merasa pusing dan sesak. Ia duduk di tepi ranjang, menggigit bibirnya yang mulai bergetar. Apa lagi yang harus ia lakukan? Tidak ada yang peduli, tidak ada yang datang untuk menolong. Semua orang yang dulu ada di sisinya perlahan-lahan menghilang, seolah-olah masalahnya adalah penyakit menular yang harus dihindari. Tak tahan dengan kesunyian yang menyiksa, Anisa meraih jaketnya dan keluar dari apartemen. Ia berjalan tanpa tujuan di jalanan yang mulai sepi. Angin malam yang dingin menampar wajahnya, namun ia tidak peduli dengan hal itu. Baginya, rasa dingin itu lebih baik daripada rasa mati rasa yang telah lama menghuni hatinya. Tanpa sadar, langkahnya membawa wanita itu ke sebuah taman kecil yang terletak di pusat kota. Taman itu biasanya dipenuhi anak-anak yang bermain atau pasangan yang duduk di bangku-bangku sambil berbicara pelan. Tapi malam ini, taman itu kosong. Hanya ada suara gemerisik dedaunan yang diterpa angin dan bayang-bayang pohon yang bergerak perlahan. Anisa duduk di salah satu bangku, membiarkan pikirannya melayang jauh. Ia mengingat semua mimpinya yang hancur, semua harapan yang pupus, dan rasa sakit yang tak kunjung reda. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah habis. Hatinya terlalu lelah untuk menangis lagi. Di tengah keheningan itu, Anisa merasakan kehadiran seseorang. Ia menoleh dan melihat seorang pria duduk di bangku di seberang taman, menatapnya dengan mata yang penuh rasa penasaran. Pria itu tampak tinggi dengan jaket hitam yang membungkus tubuhnya, memberikan aura misterius. Meskipun jarak mereka cukup jauh, Anisa bisa merasakan tatapan pria itu menembus jiwanya, seolah-olah pria itu bisa melihat semua kesedihan yang berusaha ia sembunyikan. Merasa tidak nyaman, Anisa akhirnya berdiri dan berjalan pergi, berharap pria itu tidak mengikutinya. Tapi langkah kakinya terasa berat, dan sebelum ia sadar, pria itu sudah berdiri di sampingnya. “Apa yang kau lakukan di sini sendirian, Nona?” suara pria itu dalam dan tenang, namun ada sesuatu di balik nada suaranya yang membuat Anisa merinding. Anisa menoleh dan melihat pria itu lebih dekat. Wajahnya tampan, namun ada kelelahan yang terukir di sana, seolah-olah pria itu membawa beban yang sama beratnya dengan yang Anisa rasakan. “Aku hanya ... butuh udara segar,” jawabnya, mencoba menyembunyikan kegelisahannya. Pria itu mengangguk pelan, seolah memahami perasaannya tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. “Terkadang udara segar tidak cukup untuk mengusir semua masalah kita,” katanya, pandangannya tetap tertuju pada Anisa. “Sepertinya kau butuh sesuatu yang lebih.” Anisa merasa ada sesuatu dalam kata-kata pria itu yang menyentuh hatinya. Ia ingin tahu lebih banyak, tapi ketakutan dan keraguan menghentikannya. Namun, sebelum ia bisa berkata apa-apa, pria itu tersenyum tipis dan berkata, “Jika kau butuh seseorang untuk mendengarkan, aku ada di sini.” Pria itu kemudian melangkah pergi, meninggalkan Anisa yang masih terdiam, memikirkan kata-kata yang baru saja didengarnya. Ada sesuatu tentang pria itu yang berbeda. Ia tidak tahu apa, tapi ia merasakan dorongan untuk mengikutinya, meski hanya untuk mencari tahu lebih lanjut. Namun, Anisa tetap berada di tempatnya, membiarkan pria itu menghilang di balik bayang-bayang malam.I Gerthel moved her hands as if pushing Alpha Leeno so hard, and with that Alpha Leeno floated more, up into the sky, to the latter's further fear. They were in that situation when further chaos happened. A part of the packhouse of Alpha Leeno has been set on fire by a golden flying dragon. The pack members of Alpha Leeno have been in a panic not knowing where to hide. The golden flying dragon, was in an obvious rage as it spitted more fire once again. Gerthel’s attention was caught by the golden dragon that was spitting fire at that moment. Outright, Gerthel’s heart knew who was the golden dragon. It was Boss Dar. Her mate, who she knew now to be a hybrid one too - A werewolf and a dragon at the same time. Gerthel’s heart pumped so hard with excitement but was suddenly interrupted when she heard the commotion made by Alpha Leeno’s pack members. Gerthel made a move to save the innocent pack members of Alpha Leeno. With Gerthel’s one chant, Alpha Leeno’s body floated more into the a
IThe two dragons landed at the secluded part of the farm of Gerthel. When their feet landed on the ground, the two dragons immediately transformed themselves into their human forms. No one from the farm should see them yet in their dragon forms. The farm people are purely humans and seeing them in their dragon forms might bring fear to them.Not even Gerthel knew that they are a group of dragons and that Boss Dar, their King is even a hybrid one - a werewolf and a dragon.As they walked to the house of Gerthel, the men assigned by Boss Dar to guard around the premises of the mini farm saw them. They bowed at Boss Dar, their Hybrid King in their Dragon Kingdom and their Mafia Lord in the human city. No car entered the gate of the mini farm and the guards knew how their Boss and their head guard traveled to this place from the mansion. Their minds were talking without their lips letting out any word, and they all understood each other.Boss Dar ran toward the house of Gerthel and into
IGerthel woke up inside a room, which was not familiar to her. She abruptly stood up which cause her sudden dizziness. She then steadied herself and then look around the room. She could say that the room is not owned by a simple man as everything inside screams affluence, from the large king-size rounded bed to the beddings, floor carpet, the walk-in closet, lucrative Cleopatra-style love bed, and so on.She then remembered the last thing that happened before she collapsed and was drowned in blackness."Alpha Leeno Tretoon, you will regret that you did this to me!" she hissed with anger as she recollected in her mind what Alpha Leeno did. He kidnapped her. He took her against her will and she can never forgive him for this. Suddenly, she panicked and check on herself if she has been raped by Alpha Leeno. With her heart thumping so wild, she lifted her dress and was able to release a sigh of relief when she noticed that she still have her underwear and she felt no signs of intrusion
IThe next day, everything has been peaceful at Gerthel's farm. Boss Dar decided to stay with Gerthel the whole day. He stayed with her even the next day."Are you sure, you still want to stay here for a couple of days?" Boss Dar asked Gerthel. He wanted Gerthel to come with him in going back to the mansion. If only he has no urgent matters to attend to in the city, he will not leave Gerthel at her farm. Gerthel nodded and enclosed his waist with her arms. She then tiptoed and kissed him lightly on his right cheek. "I will be fine here. I missed this place so much. Please let me stay for at least another three days," she said thereafter, pleading with him.“Alright. Just three days, my love, and I will come to fetch you,” Boss said agreeing. He then cupped her face and kissed her deeply a couple of times before he left her. She watched him walk toward his parked car with her heart full of love and with a broad smile. She only got inside her house when she saw his car pass through th
ILooking at Gerthel, with his eyes penetrating and scanning her soul, Boss Dar then spoke with firmness. “I know a lot of things, Gerthel. Do not ask me again, why. That Alpha Leeno should not in any way touch you or mark you. You are mine, Gerthel.” Somehow, Gerthel felt ecstatic upon hearing his p
IAn hour after Alpha Leeno left Gerthel’s house, Boss Dar arrived with worries plastered on his face. His expression was evidently not pleasant at all.The moment Boss Dar entered her house, Gerthel, right there and then knew that he already arrived. His scent immediately filled her nostrils bringing
IAround ten o'clock in the morning the next day, the ten men of Boss Dar, who will guard the mini farm premises of Gerthel arrived. They had a meeting first with Boss Dar before the latter bade goodbye in the meantime to Gerthel."I will be back in the mansion now. If not for my important business me
IOn the fourth night, Gerthel has been awakened from her deep slumber when she felt someone lay beside her on the bed and tightly embraced her.She opened her eyes hastily and was about to scream when she smelled the familiar scent. She froze with excitement."Dar, you are here now!" she said exclaimi
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan