LOGINThrown out by her step mother, when Victoria was trying hard to find a shelter for herself and her sick little brother.. He appeared, an ugly looking rich man with a life changing contract.. She has to marry him and be his wife and in exchange he will give her a shelter and her brother's medical fee's.. She agreed for the sake of her brother and stepped into his world where lots of unknown dangers were waiting for her!! But, when the truth revealed, he turned out someone beyond her imaginations and her identity changed dramatically!! Yet, he won't not let her go!! Because, they have been vowed to be together till the end.....
View MoreKakinya terus melangkah, sementara kepalanya terus menunduk. Hanya melangkah tanpa tujuan pasti. Tangannya menggenggam sebuah kertas. Mulai lelah berjalan, dia duduk begitu saja, tidak peduli jika kemeja yang dia kenakan akan berdebu. Kepalanya terangkat, menatap kerumunan mahasiswa berkemeja putih.
“Diva!” panggil seseorang, menghampiri gadis itu.
Berbeda dengan Diva yang lusuh, gadis berkemeja putih itu terlihat lebih fresh dan ceria. Satu langkah lebih unggul dibanding Diva, membuatnya bangga.
“Re,” gumam Diva.
“Udah acc?” tanya Rere. Diva menyembunyikan kertas yang tadi dia pegang ke balik tubuhnya. Rere yang melihat hal itu, malah menarik kertas tersebut. Gadis itu hendak tertawa, tetapi mencoba menetralkan wajahnya kembali.
“Kamu bahkan belum lulus mata kuliah dia juga? Padahal ini kali kedua kamu mengikutinya, ‘kan? Sebenarnya ada masalah apa sih kamu dan Pak Juan?”
Jangankan Rere, gadis itu sendiri juga tidak mengetahui di mana letak kesalahannya, hingga pria bernama Juandra William begitu sulit meluluskannya. Diva merasa sudah berjuang cukup keras. Namun, hasilnya masih nihil.
“Ehm, sejujurnya aku gak enak mengatakannya, tapi..”
Rere memperhatikan sekelilingnya. Jantung Diva berdetak dua kali lebih cepat, merasa sesuatu tidak baik akan terjadi.
“Kamu gak pantas menjadi seorang mahasiswa! Mungkin selama ini kamu lulus karena kamu cantik aja! Semua tersihir karena kecantikan, bukan karena otak sebagai mahasiswa. Pak Juan terkenal sebagai sosok perfeksionis yang tidak pandang fisik, makanya kecantikan kamu gak mempan sama dia. Sorry tapi itulah faktanya, Div,” lontar Rere.
Diva membisu, pandangannya kosong. Perkataan Rere, sahabat yang paling dia percaya membuat hatinya hancur berantakan. Bukannya memberi semangat, Rere malah menjatuhkan mentalnya.
“Rere! Sini, ada tamu kamu nih!”
Gadis bernama Rere itu mengangguk. Dia menatap Diva sejenak sebelum benar-benar pergi. Dia sudah seminar proposal, selanjutnya akan penelitian, menyusun skripsi dan lulus, sementara Diva? Gadis itu masih stuck dengan mata kuliah dari Juandra William yang belum juga tuntas, ditambah lagi pria perfeksionis itu malah terpilih sebagai dosen pembimbingnya.
Mata sayunya melirik orang-orang yang tengah menikmati kebahagian akan satu tahap di depannya. Dia mengepalkan tangan, hingga kertas tanda tidak lulus itu ikut terkepal. Mahasiswa gagal! Gak pantas menjadi mahasiswa! Lulus karena kecantikan belaka! Kata-kata itu berhasil menjatuhkan mentalnya.
“Hanya karena aku tidak secerdas mereka, apakah aku pantas direndahkan?” gumam gadis itu, menahan air matanya untuk jatuh.
Dia menghela napas. Mereka tidak pernah mengetahui apa saja yang sudah dia alami sejauh ini. Namun, begitu berani menghakiminya. Dia gagal, dan dianggap tidak pantas menjadi mahasiswa.
Gadis itu bangun, membersihkan celananya yang berdebu. Dia melangkah cepat, memesan taksi untuk pergi ke suatu tempat. Semua mulai menjauh saat merasa dirinya tidak berguna. Selama perjalanan dia tidak berhenti menangis.
“Isi otaknya dulu, baru penampilan!”
“Kamu harusnya belajar dari kesalahan. Ini udah kedua kalinya kamu gagal, mau sampai kapan begini terus?”
Lelah, kacau, hancur, semua bergabung menjadi satu. Dia memutuskan untuk menghubungi seeorang.
“Rin, aku ingin cerita, boleh?” pintanya pada seseorang di seberang sana.
“Mau cerita kegagalan lagi? Sorry Div tapi aku cukup muak mendengarnya. Intropeksi diri dulu deh, kapan-kapan cerita lagi!”
Tut!!
Sambungan terputus begitu saja. Satu-satunya orang yang menjadi teman curhatnya pun mulai muak pada semua keluhannya. Padahal itu jelas bukan keinginannya. Siapa sih yang ingin selalu gagal?
Diva juga sudah berjuang keras. Salahkan saja otaknya yang tidak seencer yang lainnya. Lebih tepatnya sejak peristiwa beberapa tahun lalu, otaknya melemah dan tidak bisa berpikir terlalu keras. Kepalanya akan pusing jika dipaksa belajar.
Tapi, tidak seorang pun akan mengerti! Mereka hanya akan melihat kegagalan, tanpa tahu penyebabnya.
Beberapa tahun yang lalu, sebuah kecelakaan terjadi, membuat gadis itu mengalami pendarahan pada bagian kepala dan wajahnya yang rusak membuatnya harus dioperasi. Selain luka fisik, dia juga menerima luka psikis karena kehilangan seseorang yang paling dia sayangi.
“Pak, tolong putar arah ya, kita ke TPU,” pintanya setelah menenangkan diri. Jika orang yang hidup tidak lagi bisa menjadi tempat berbagi, maka orang yang sudah berbeda alam pun jadi. Diva hanya ingin didengar.
Gadis itu turun dari taksi, memberikan bayaran serta tip pada supir taksi yang sudah mengantarnya.
“Nak,” panggil pria berusia berkisar 40 tahunan itu. Pria itu bahkan turun dari mobil untuk menghampiri penumpangnya.
“Ada apa, Pak? Apa uangnya kurang?”
Pria itu menggeleng pelan.
“Gagal adalah kesuksesan yang tertunda. Meski berat tetapi tetap harus dijalani. Bapak punya seorang putri. Dari anak Bapak yang lain, dia yang paling tidak memiliki potensi. Dia selalu gagal, kalah dalam akademik. Sekarang, justru dia yang paling sukses di antara saudaranya,”
Diva mulai tertarik mendengar cerita supir taksi itu. Kisah putrinya sedikit relate dengan kondisinya saat ini.
“Apa rahasianya, Pak?” tanyanya penasaran. Sukses bukan semata-mata tetang materi saja, tetapi juga tentang orang yang ditemui, lingkungan juga kehidupan yang lebih baik.
“Mantra, dia bilang bertemu seseorang yang memberinya mantra ajaib. Kalau mau, Bapak bisa memberikan nomor ponselnya. Kamu bisa menanyakan langsung padanya nanti,” tawar pria itu.
Diva tidak terlalu percaya pada keajaiban, tetapi kesempatan tidak akan datang dua kali, maka dia meminta nomor ponsel orang itu. Dia akan mempertimbangkannya lagi, nanti.
Sekarang, dia hanya ingin berkeluh kesah dan menumpahkan unek-uneknya. Berat rasanya mengunjungi seseorang yang dulu menjadi tempat untuk bersandar, kini berbeda alam dengan kita. Untuk melihat raganya saat rindu pun, sudah tidak lagi bisa.
Dia bersimpuh tepat di hadapan sebuah makam bertuliskan Saka Pramudyono. Tangannya menyentuh nisan, dibarengi dengan air mata yang mulai menetes.
“Ka, aku gagal lagi. Capek banget, Ka!”
Cerita mengalir begitu saja. Dia yang harus berjuang sendiri, dengan otak yang tidak bisa dipaksa untuk belajar terlalu keras. Orang tuanya memang tidak menuntut gadis itu untuk segera menyelesaikan studinya, mengingat peristiwa yang menimpa gadis itu beberapa tahun lalu. Namun, lingkungan membuat mental gadis itu semakin memburuk.
“Pak Juan namanya, dosen nyebelin yang buat aku masuk rumah sakit beberapa kali. Dia itu sok perfek banget tau, Ka! Masa iya hanya karena kesalahan menulis paper aku harus ulang lagi mata kuliahnya semester depan,”
Diva menghela napas.
“Seandainya kamu masih ada, Ka. Pasti aku gak akan sesulit ini menghadapi dunia perkuliahan. Aku juga gak tau mau sampai kapan begini terus. Rasanya pengen nyerah, tapi seperti kata kamu aku sudah mulai dan harus aku selesaikan!”
Dia terus merengek, memaki bahkan menyumpah serapahi dosen yang mempersulit hidupnya. Si dosen yang dicintai banyak orang, kecuali Diva tentu saja.
“Padahal dulu aku adalah jenius yang sulit dikalahkan, tapi sekarang hidup aku berubah, Ka. Kalau kamu masih hidup, apa kamu akan tetap temanan sama aku yang gak bisa apa-apa ini? Menurut kamu lebih baik cantik atau pintar, Ka?” Diva kembali bermonolog, mempertanyakan banyak hal yang tentu tidak akan mendapat jawaban.
Cantik tapi bego, atau jelek tapi pintar?
Dulu dia dijauhi karena kurang cantik. Sekarang dia dijauhi karena kurang pintar dan dianggap hanya mengandalkan kecantikan. Dunia memang tidak pernah adil padanya.
Eesadora smiled sweetly, looking at the two infants came out just an hour ago.. This is her another two precious jwelles.. Her two recently born babies.. One is a daughter and other one is son.. Both of them are very pretty.. They were lying down beside her.. She felt a hot and soft touch on her forehead.. She looked up.. It was her husband.. "Hey, sweetheart.. You doing okay?" He asked.. He was with her the whole time of the birth process.. He didn't want to leave and miss the chance as he did on Vivian's.. He didn't want to miss any moment with his kids.. She nodded "I am fine.. Just a bit tired.." "Go to sleep then.. You need rest.." Alexander said.. She was about to nod but suddenly, there was knock on the door and Daniel walked inside with a nurse.. He smiled at them.. "How are you doing now Eesadora?" He asked.. "She is tired.." Alexander spoke with a poker face.. Daniel nodded "it's na
Alexander kept looking in her eyes.. He couldn't belive what he's heard.. Like the first time, this time too she managed to shock him.. "You do?" Alexander asked.. His voice came out like a whisper.. Eesadora nodded.. "Yes.. Alexander I don't remember our past time with each other but I don't want to hold on those memories anymore.. I want to start with you from the beginning.. I want to feel those feelings again which I have forgot.. I want to restore all the emotions this time.." "You have supported me a lot in my hard times.. My insecurities, my feelings, you have always prioritised them first.. You have become an amazing father and a perfect husband.. You are the man every girls always dream about.. And I don't want to loose you, not anymore.." Saying she waited eagerly for his answer.. Alexander felt a rush of warmth inside his heart.. This is not the first time she is telling him these things, he heard it before from her.. But, h
Eesadora looked outside from the big veranda.. She is currently standing in the King's mansion.. No, she did not remember anything yet.. But, what Alexander has explained her that night, make sense.. Few months passed away after that night when he explained every single thing to Eesadora.. On one hand she felt exited and on the other hand she was nervous too.. But, Alexander proved how capable and patience he is and remove all her worries by his support.. To get her free from her doubts, he even does the DNA test with Vivian and it matched 99.9%, which says what he has said is true.. He also informed her family members and even apologised for his carelessness and what his mother had done.. Eesadora's parents were very much happy to know that finally their daughter and grand child found their husband and father.. Even their another daughter is also happy in the same family with Edward.. They even get married and preparing to
Eesadora stood on her place like a statue.. She couldn't believe what just happened! Her head started spinning around.. Did he just kiss her and call her wife!? That exact word click something in her mind.. The word is so familiar to her! She tried her hard recall but in vain.. She couldn't remember.. Flashing some water on her face, Eesadora again went to the Hall.. Everyone was still seating there.. Talking with each other.. Her eyes fell in Alexander and Vivian.. She was giggling with him.. And suddenly, she noticed something! The more she looked at them the more they looked similar! Specially, those eyes! They were same! While she was thinking hard.. She heard her father saying "Dora? Why are you standing there? Come here.." Everyone looked at her.. She felt a bit embarrassed and shy.. Specifically, under Alexander's gaze.. When her eyes caught his, she saw the same look from before in it, smiling.. Sh
Alexander jerked his hand from Edward's.. He finally found his Victoria! How could this brat do this to him! Again he stepped to go inside the house.. But, Edward stop him again.. "Calm down bro! What on earth you are doing!?" Alexander glanced him with rage "I am going to my wife
Alexander get down from the car and looked at the villa in front of him.. He heard about Ivanka's sister.. She is a self owned business woman.. Seeing them Ivanka came out to greet them "Hello, Mr. King.. Hi Edward.." Alexander didn't nod nor he reply.. He is like that and Ivan
Both Alexander and Edward went directly to the business party.. They left Vincent with bodyguards and his nanny.. In the car Alexander spoke with his blank tone "Inform Ivanka we will meet her family tomorrow.." Edward nodded "okay, I will inform her.. I am just a bit curi
Almost five years passed... And in King's mansion has been covered with a gloomy mood for past five years.. People there forgot to smile..Vincent is now completely in fine health.. He has started going to school physically.. But, Alexander did not want to take any risk so he pl












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore