MasukThis is a story about a beautiful 22 year old girl who's hungry for the world, hungry to grab the world by her hands and make twist of it with just one finger, centering it into what she saw in her dreams. She drops out of varsity so because of tuition fees, gets a temporal job just so she could get some money to survive and to save up for school. Mia felt like her dreams were beneath her surroundings, she wantedto explore Europe ,Ever-since she was young, but she meets the one cute guy who offers her a stepladder to climb and get to touch the centre of the bulb.
Lihat lebih banyakGaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang.
Setiap langkahnya, dia mendengar orang-orang mulai membicarakan, memuji dan mengagumi hasil karya Rosélia mulai dari dekorasi maupun layout venue. Itu cukup membuat hati Rosélia terobati meski menurutnya tema baru yang diinginkan Valerie, adiknya, tidak seindah yang sebelumnya. Mata indahnya mencari sebuah ruangan di mana Valerie berada, bride room. Heels berwarna senada berhenti begitu ruangan yang dia cari sudah ada di depan mata. Ada ragu, namun Rosélia tetap masuk. Semua mata tertuju padanya saat suara pintu terbuka. Keluarganya dan keluarga Ashbourne, keluarga mempelai pria juga ada di sana, memperhatikan. "Kak, sini!" seru Valerie. Kali ini dia tidak bisa menghampiri Kakaknya sebab masih ada beberapa tangan yang menyapukan brush di wajahnya. Dia hanya mampu melihat Rosélia dari pantulan cermin di hadapannya. Rosélia menyimpan tas yang dia tenteng di sebuah meja kecil di ruangan itu sebelum menghampiri Valerie. Begitu sudah berada di samping Adiknya, Valerie bertanya, "gimana, gaunnya bagus tidak?" Gaun pengantin juga berwarna ivory karena itu memang warna semula yang ada di konsep sebelum Valerie berubah pikiran dan berakhir Rosélia merevisi konsepnya habis-habisan malam tadi. "Gaunnya bagus," jawabnya singkat. Rasa lelah masih dia rasakan setelah dua hari ke belakang dia mengurus seluruh layout venue pernikahan Valerie dan Maverick. "Riasannya? Menurut Kakak ada yang kurang?" Lagi-lagi Valerie meminta pendapat Rosélia . Kali ini Rosélia hanya menggeleng, menandakan jika riasan Valerie sudah lebih dari cukup. Semua sesuai dengan porsinya. "Mending kamu segera menyusul untuk menikah. Gak enak kalau jadi perawan tua, apalagi hidup di masa tua sendirian." Viviane mendekat, kedua tangannya melipat di depan dada, tatapannya tajam dan menyindir. Rosélia sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Cacian, makian kerap keluarganya layangkan padanya. Rosélia memilih tak menjawab dan mengabaikan ucapan Ibu Sambungnya itu. "Bouquet untuk kamu pegang nanti sudah aman?" tanya Rosélia memastikan. "Sudah, meski aku tidak terlalu suka dengan perpaduan warnanya. Tapi, karena Kakak yang membuatnya untukku, jadi akan aku pakai." Ucapannya antusias, namun tetap ada yang menggores hati Rosélia dari ucapan adiknya itu. "Hmm, aku keluar sebentar. Masih ada hal yang harus aku cek," ucapnya segera berlalu dari sana. "Rosélia , bisa ke sini sebentar." Maverick memanggil Rosélia dari ambang pintu. Gadis itu kebingungan, ada apa gerangan Maverick tiba-tiba memanggilnya. Namun, dia tetap mendekat takut ada hal penting yang hendak pria itu bicarakan. Mendengar Maverick memanggil Kakaknya, Valerie lantas ikut menoleh. Dia juga penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan. Namun, dia sama sekali tak mendengar sepatah kata pun karena keduanya berbicara sambil meninggalkan bridal room. Valerie tahu itu bukan pembicaraan romantis, mungkin hanya pembicaraan seputar venue dan acara. Tapi Valerie cemburu. “Valerie, kamu sudah minum obat?” Viviane bertanya sambil menggeledah tasnya mencari pouch berisi obat milih Valerie. Perhatian gadis itu teralihkan sesaat. “Belum, aku akan meminumnya nanti.” Valeri mengangkat pouch yang Ibunya cari sebagai pertanda jika Ibunya tak perlu mencari lagi. Penyakit jantung yang Valerie idap sejak kecil membuat gadis itu harus mengonsumsi obat setiap hari. Hal itu juga yang membuatnya menjadi anak kesayangan Viviane dan Evander. Sementara Rosélia… hampir tidak pernah mendapatkan perhatian itu sama sekali. Viviane tersenyum dan menghentikan kegiatannya. “Jangan lupa diminum, Ibu keluar sebentar untuk menelpon,” ucapnya yang dijawab anggukan oleh Valerie. Satu persatu orang-orang di ruangan itu pergi mulai dari makeup artist hingga seluruh keluarganya. Katanya menemui beberapa kolega yang mulai berdatangan sebagai tamu VVIP. Mata Valerie menggelap. Efek lelah, kurang istirahat, emosi dan juga cemburu membuatnya bersifat impulsif. Ekor matanya melirik sebuah tas tangan berwarna ivory yang dia yakini itu milik Rosélia . Perlahan dia mendekat dan berakhir memasukan pouch itu ke dalam tas milik Kakaknya. Tak berlebihan, dia hanya ingin Kakaknya tidak disukai orang terutama Maverick, jangan sampai. “Terlewat sekali saja tidak masalah, aku masih bisa menahannya,” ucapnya. Setelah itu dia kembali ke tempatnya. Sampai Rosélia kembali ke sana bersama Evander. “Bersiaplah, acaranya akan segera dimulai,” ucap Rosélia memperingati. “Kamu siap, Sayang?” Evander bertanya pada putri kesayangannya di depan Rosélia . Pahit sekali hidupnya, ketika Valerie hampir setiap hari mendapatkan panggilan sayang, sementara dirinya hanya selalu mendapatkan makian. Valerie mengangguk. Evander menggandeng sang putri sampai mereka tiba di depan sebuah pintu tinggi yang masih tertutup. Pintu itu mengarah ke altar. Pengantin wanita mulai merasakan ada yang tidak beres. Nafasnya sesak, penglihatannya mulai mengabur dan tubuhnya lemas. Dia tergeletak di pangkuan sang Ayah. “Sayang, Valerie kamu kenapa?” Evander panik saat putrinya sudah tidak sadar. Rosélia , Keluarga Deveraux dan keluarga Ashbourne yang ada di belakang mereka juga ikut panik. Mereka mengerumuni tubuh Valerie. “Valerie, bagun.” Rosélia menepuk pelan pipi adiknya. “Kita harus membawanya ke rumah sakit, Sayang,” ucap Viviane. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak semata wayangnya. “Tapi pernikahannya…” sambung Viviane bingung. Di satu sisi pernikahan Maverick dan Valerie tidak mungkin dilanjutkan karena pengantin wanita tidak sadar, tapi di sisi lain, semua persiapan, semua tamu yang sudah datang, tidak mungkin mereka membatalkannya begitu saja. Apalagi hal ini pasti akan merusak nama keluarga mereka. “Lanjutkan, lanjutkan pernikahannya,” ucap Evander yakin. Matanya perlahan menatap Rosélia . Rosélia yang semula masih menatap Valerie mulai mengalihkan atensinya saat dirasa ada beberapa pasang mata yang menatapnya. “Rosélia , menikahlah dengan Maverick.” Bagai disambar petir di siang bolong, Rosélia terkejut bukan main. Badannya kaku, lidahnya kelu untuk beberapa saat. “Ja-jangan bercanda, Ayah,” ucapnya dengan gemetar. Otaknya masih belum bisa memproses semua yang Evander katakan. “Aku bilang, menikah dengan Maverick!” Kesabarannya habis. Bersamaan dengan itu seorang staf menghubungi ambulans. “Tunggu, Tuan Evander—” “Tak ada cara lain Tuan Edric Kita harus melakukannya. Semua persiapan sudah selesai, para tamu undangan juga sudah datang. Kita tak bisa ambil resiko untuk mempermalukan keluarga kita, kan?” Evander menyela Edric, calon besannya. Hening, tak ada suara sampai Rosélia berkata, “aku menolak, Ayah. Aku tidak mau.” Suara ketukan tongkat di lantai granit memecah keheningan. Theodore Deveraux, kakek Rosélia dan Valerie, mendekatinya. “Ikuti saja apa yang dikatakan Ayahmu! Kamu tidak punya hak untuk menolak!” ucapnya kemudian. "Punya, aku punya hak untuk menolak, Kek! Ini hidupku, jadi biarkan aku yang memilih hidup seperti apa yang aku mau!" Akhirnya amarah Rosélia pecah. Dia tidak bisa terus menahannya. "Dasar anak pembawa sial!" Tangan Theodore melayang hendak memukul Rosélia, namun seseorang berhasil menahan tangan itu. "Tuan Theodore jangan lakukan itu. Kita bawa dulu Valerie ke rumah sakit," ucap Edric meyakinkan. "Kamu pikir berapa lama mereka bisa menunggu?" Jawab Theodore menunjuk para tamu undangan yang sudah ada di venue. "Para kolega, pejabat, dan bahkan ada Ketua Dewan di sini," lanjutnya. Edric diam, dia tidak bisa menjawab. Apa yang dikatakan Theodore ada benarnya. Saat itu, atensi Theodore kembali pada Rosélia. "Kamu mau acara dibatalkan?! Kamu mau buat nama baik keluarga kita hancur, hah?!" sentaknya. Suasana hening sesaat, Rosélia tidak menjawab pun dengan yang lainnya. "Untuk sementara saja agar tamu tidak merasa kesal. Maverick tetap milik Valerie!" Rosélia terdiam. Semua terdiam sampai ada beberapa perawat yang datang membawa Valerie ke rumah sakit. “Lanjutkan, Rosélia.” Suara Evander kali ini memelan. Masih tak ada jawaban. Menurut Rosélia tak ada gunanya dia menolak, toh Evander akan tetap memaksanya. Air mata menetes dengan cepat. Dihalaunya dengan tangan dan Rosélia berkata, “lakukan apa yang Ayah mau.” Rosélia pikir, drama pernikahan ini sudah selesai pagi tadi saat dia selesai merevisi venue. Dia kira dia akan terbebas dan bisa sedikit tenang. Tapi, siapa sangka justru ini adalah sebuah awal yang nyata dari penderitaannya. Menikah dengan orang yang sama sekali tak dia cintai juga tak mencintainya dan hanya dijadikan sebagai pengganti. Ini adalah mimpi terburuk dalam hidup Rosélia . Setelah ini, sepertinya sudah tidak ada lagi tempat aman baginya di dunia. Semua akan terasa menyakitkan dan menyesakkan. Di tengah semua hal yang singgah dalam pikiran Rosélia , para makeup artist datang dan menambah pakaian Rosélia dengan beberapa elemen yang lebih istimewa sampai dia sudah siap menjadi seorang pengantin pengganti.It was time for me to go home so I header there. Just when I was in the taxi, waiting for it to depart town, a number called me and left was like ' !WTF is this '?Honestly I did recognize the contact somewhere somehow and since I did and it wasn't saved, I knew it was probably one of those assholes who are always asking "when are you visiting me"?I mean like seriously seriously this shit is really fucking annoying. Do whites do this bullshit? Hahaha I don't think so, probably its blacks! Hahaha.Apparently I knew this guy, he was one of the guys I had hooked up with and never liked form then. I just never pictured myself being with him ever again! You wann
I literally felt like shouting and screaming that 'guys! I have a date'...Hahahaha funny right?Well I literally love the feeling of meeting someone new you know, like the inner butterflies and all, its really incredible honestly.Like skipping bed because you gotta squart by the plug with a charger just so that your phone's battery doesn’t run low....I mean really? We've all done this right? So question is where are they now? Hahaha they gone! No longer exist in our lives.See? You should have been doing something useful and productive with those late hours ,hahaha....just kidding but it's true just that we can't live in regret, we meet people for sacred reasons , either they learn or you do, its just one of the lessons and pri
Well it was what it was, same fucking situation which never seemed to be growing old, but what can I say? We all get used to the everyday uniform that we just wanna scrap off our bodies. I'm talking about everyday heartbreaks which seem to have took its toll lately in this very same century. I get to ponder about it at times if this is the very same pain that was experienced by our folks or what? But nah! Come to think of it, arranged marriages occurred and happened to be the wide pictures, but now! It's a stupid fucking twat of a trend. I mean look around...just take a glance. People are divorcing every single day... global statistics mention that 41 percent of marriage end in divorce, wait for it....61 percent of second marriages end in divorce , imagine!
In the first rush of being in love, you might feel completely dedicated to your partner, ready to do anything and everything to help them through a tough spot or even just make their lives a little easier. Empathy and your fast-growing attachment can fuel your desire to be there for them and help them however possible. But the hormones involved in love can sometimes affect how you make decisions. You might also look at other things with new eyes. Many people in love feel more willing to try new things, or things they previously didn’t care for, simply because their partner enjoys them. We sense our emotions from the time we're babies. Infants and young children react to their emotions with facial expressions or with actions like laughing, cuddling, or crying. They feel and show emotions, b
I listened, for what? To be tortured again? Fuck me for being such a stupid whore, I said in my thoughts whilst staring at the beauty of the moon, for it had appeared. I don't know m
It was time to close, so I did, with a $100 in my purse! Don't you forget that. Just when I was about to lock. I video called my friend Chantelle, only to discover she was 2 minutes away, but we proceeded, it was very fun until my boss realized I was de
I took a deep breathe and waited, just as I eyeballed the bridge on my right, damn! There he was, he came towards me and then diverted from there going to the Debonairs. I quietly screamed
CHAPTER 1 Butterflies in the stomach turn the mind and soul into the joyful space of the moon and the stars. Mhhh! Stars… The






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.