MasukBlurb: A retelling of Cinderella, with a twist. Her Prince never met her at a ball, but in a bike crash, when she tried to escape years of abuse. She was never the beauty in a glass slipper, but a wolfless girl born from an Alpha’s line. He was not a Prince Charming. Not a saviour. Just a Don from a line of ruthless Rogue Alphas, and heir to a fearsome security company the packs could not mess with. Yet Donna-Belle accepted whatever life threw at her when she wound up under his protection and had to sign a contract that promised his protection and her cooperation. As long as she had a way to get back her inheritance and fight her stepfamily, she did not mind getting entangled with danger and mixed signals. Being the Don’s ‘personal heiress’ was not a day’s job, but Donna was determined to raise her company to greater heights and get back at her abusive stepfamily. Even if she played with a volcano yet to erupt, she was set on breaking away her fears and insecurities and stepping up for herself. He never believed in the old myth of mates. She never wanted to be entrapped by him. They both never got what they wanted. Fate decided.
Lihat lebih banyakFallen Permana, seorang gadis cantik yang hidup bagaikan di dalam sangkar. Ia tak pernah menginjakkan kaki bahkan untuk ke luar dari rumahnya. Bahkan ia bersekolah di rumah. Tanpa teman, tanpa kasih sayang, ia tumbuh menjadi gadis yang pendiam dan penakut.
Bukan tanpa alasan, Fallen hidup dalam kesepian dan kesedihan akibat sang ayah yang bernama Gunanda sangat membencinya. Sebenarnya, sejak lahir, ayahnya tidak menyukai keberadaannya karena ia adalah anak perempuan. Keberadaannya pun turut mengganggu waktu Gunanda bersama sang istri.
Hingga saat Fallen berusia delapan tahun, bencana itupun terjadi. Ia dan ibunya terlibat kecelakaan sehingga membuat sang ibu meninggal.
Dan sejak itulah, Gunanda semakin membenci Fallen, yang ia anggap sebagai anak pembawa petaka.
Pada saat Fallen dewasa, ia dipaksa menikah dengan seorang CEO kejam bernama Arjun Wijaya agar hidupnya semakin menderita.
"Kau adalah pembunuh. Menderita lah seumur hidupmu!" Gunanda menatap wajah Fallen dengan penuh dendam yang membara. Membuat Fallen hanya bisa tersenyum menahan tangis.
"Ayah, bolehkah aku memelukmu meski untuk yang terakhir kali?" pinta Fallen dengan raut wajah memelas.
"Bermimpi lah, anak pembawa sial! Aku tidak akan mengotori tubuh ku dengan kesialan mu!" Gunanda pergi meninggalkan Fallen yang kini berurai air mata.
Dengan air mata yang sudah tumpah, ia pun tersenyum sembari berkata, "Aku menyayangi mu, Ayah."
Namun tak hanya sampai di situ, kehidupan baru Fallen pun dimulai bersama Arjun, sang CEO kejam.
Hingga hari itu pun terjadi, satu persatu misteri pun terkuak dalam kehidupan mereka. Siapa Fallen dan Arjun sebenarnya adalah sebuah rahasia besar yang disembunyikan beberapa orang dengan alasan berbeda.
Bagaimana kah ceritanya? Yuk kita baca.
Jangan lupa follow I*******m @yenitawati24 untuk mendapatkan informasi seputar novel author ya ?Dipaksa Menikah
Di sebuah rumah mewah di tengah kota.
Plakkkk!!
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Fallen. Seorang gadis belia berusia dua puluh satu tahun. Pipi mulusnya kini terdapat ruam kemerahan akibat tamparan dari seseorang yang biasa ia panggil dengan sebutan Ayah.
"Apa kau bilang? Kau tidak mau menikah dengan Arjun?" tanya Gunanda dengan tatapan tajam.
"Dia sangat kejam, Ayah, aku takut." Fallen menangis sembari memegangi pipinya yang terasa sangat sakit akibat tamparan dari Gunanda.
"Asal kau tahu, aku tidak peduli dengan hidupmu. Aku menunggu saat ini, agar kau bisa menikah dengan pria kejam itu dan merasakan penderitaan seumur hidupmu, anak pembawa sial!" Gunanda menunjuk wajah Fallen dengan mata merah menyala, tampak jelas tatapan kebencian di mata nya.
Fallen langsung bersimpuh di kaki ayahnya. "Ayah, aku mohon, jangan paksa aku menikah dengannya. Selama ini aku selalu menuruti keinginan Ayah. Kasihani aku, Ayah. Kenapa di saat Ayah mau berbicara padaku, malah ini yang aku dengar."
"Menyingkir dari kakiku, dasar sialan!" Gunanda mendorong tubuh Fallen hingga kaki nya terlepas dari tangan Fallen.
Fallen hanya bisa menangis menerima perlakuan seperti itu dari ayah nya. Melawan? Tentu ia tidak akan berani. Karena sejak ia sadar dari koma, ayah nya tidak pernah menyayanginya, atau bahkan menganggap nya sebagai anak. Bahkan, publik pun tidak tahu bagaimana rupa anak dari seorang Gunanda Permana. Anak yang sejak lahir, tidak pernah diperkenalkan ke publik, dan lebih parah nya, sejak kecil, Fallen selalu menggunakan kacamata, topi dan masker ketika keluar bersama sang ibu saat masih hidup.
"Apa kau tahu, kenapa aku memberi mu nama Fallen?" tanya Gunanda tanpa menatap wajah Fallen.
Fallen hanya diam mendengarkan.
"Fallen artinya jatuh. Dan aku ingin kau selalu jatuh, hidup berantakan, agar kau merasakan bagaimana tersiksa nya hidup dalam penderitaan. Bagiku, kau itu hanya lah anak pembawa sial! Jika saja malam itu kau tidak bersama istriku, maka kecelakaan itu tidak akan terjadi! Kau yang menyebabkan istriku meninggal, dan kau malah hidup setelah itu!" Tatapan tajam Gunanda yang kini sangat menusuk membuat Fallen semakin takut.
"Ayah, maafkan aku, aku tidak ingat apa yang terjadi saat aku masih kecil, aku bahkan kehilangan ingatan setelah nya." Fallen menatap sembari memohon.
"Harus nya kau tidak hanya kehilangan ingatan, harus nya kau kehilangan nyawa sekalian!"
Mendengar ucapan Gunanda, Fallen hanya bisa terdiam. Ia dapat mengerti pasti rasa cinta ayah nya pada ibu nya sangat lah besar.
"Apa sekarang kau masih menolak?"
Dengan berat, akhir nya Fallen menggeleng. "Aku akan menuruti keinginan Ayah."
"Bagus, kalian akan segera menikah. Lebih cepat kau keluar dari rumah ini, itu akan lebih baik." Gunanda melangkah meninggalkan Fallen yang masih bersimpuh di atas lantai ruang keluarga.
Kakinya terasa berat untuk berdiri. Ia kembali mengingat perlakuan ayah nya setelah ia sadar dari koma. Begitu membuka mata, ia melihat tatapan kebencian di wajah ayah nya. Dan sejak itu, ayah nya tidak pernah mau berbicara dengannya kecuali hari ini, hanya untuk memaksa nya menikah dengan seorang Arjun Wijaya, seorang CEO yang terkenal akan kekejaman nya.
Seorang pelayan yang sudah berumur, datang menghampirinya lalu memeluk nya dan ikut menangis. Dialah Fatimah, seorang pelayan yang menyayangi Fallen sejak kecil seperti anaknya sendiri. Ketika Fallen bersedih, dia lah yang selalu ada untuk Fallen.
"Bibi Fatimah." Fallen menangis di pelukan pelayan nya itu.
"Bersabar lah, Nona. Semua ini ujian untuk Nona. Bibi akan selalu menyayangi Nona." Fatimah mengusap pelan kepala Fallen. Tampak jelas bahwa ia sangat menyayangi Fallen.
"Kenapa semua ini terjadi padaku, Bi. Aku pun tidak ingin hidup seperti ini. Aku tidak ingin kehilangan ibuku, aku tidak ingin mengalami kecelakaan itu. Tapi kenapa semua harus seperti ini, Bi." Fallen mengeluarkan semua keluh kesah nya.
"Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan umatnya, Nona. Jalani semua ini dengan ikhlas, Bibi yakin Nona akan mampu melewati nya.
Setelah lama bertangis-tangisan, akhirnya Fallen pun pergi ke kamar nya.
Di sana, ia mengambil sebuah bingkai kecil berisi foto ibu nya, lalu menangis. "Bu, kenapa Ayah tidak pernah menyayangi ku. Kenapa, Bu?"
"Jika saja waktu dapat diputar ulang, pasti aku tidak akan menderita seperti ini. Aku ingin sekali saja, Ayah menyayangi ku. Kenapa rasanya itu sulit sekali, Bu." Fallen mengusap air mata nya yang ini membasahi foto ibu nya. Dengan air mata yang masih mengalir, akhir nya ia pun tertidur.
*****
Di sebuah rumah mewah di kota yang sama.
Seorang pria tampan yang berwajah datar sedang menatap sebuah foto. Ia terus memandangi foto tersebut sambil sesekali tersenyum licik. Dialah Arjun Wijaya, pria berusia dua puluh lima tahun yang merupakan calon suami Fallen.
"Kenapa Gunanda memberikan putri yang sedari dulu tidak pernah ia perkenalkan ke publik? Apa yang dia rencanakan?" gumamnya sambil terus memandangi foto yang adalah foto Fallen.
"Hei, aku sedang bertanya, seharusnya kau menjawab ku, Jim," ucap Arjun tanpa menoleh.
"Apapun yang Tuan putuskan, saya yakin itu adalah hal yang tepat," ucap Jim, yang merupakan asisten pribadi Arjun.
"Bukan itu yang aku ingin dengar, apa kau ingin ku hukum cambuk lagi?" Kini Arjun menoleh ke asisten pribadi nya itu.
"Saya rasa Tuan Gunanda ingin melihat putri nya menikah."
"Menikah? Atau menderita?" tanya Arjun kurang puas.
"Saya rasa, keduanya, Tuan."
"Ya, kau benar. Tidak ada gadis yang berani dekat denganku, dan dia malah menyerahkan anaknya yang masih belia itu. Lihat saja, aku akan membuat hidup gadis itu menderita. Karena aku, tidak percaya pada wanita." Arjun menatap tajam ke foto Fallen. Ia dapat melihat betapa polosnya gadis yang akan ia nikahi. Ia bahkan masih ingat, saat Gunanda mendatanginya beberapa hari yang lalu hanya untuk memintanya untuk menikahi putrinya, dan meminta imbalan suntikan dana ke perusahaannya yang sedang tidak stabil.
Arjun langsung menerima permintaan Gunanda tanpa syarat apapun. Itu merupakan suatu keberuntungan untuk Gunanda karena keinginannya untuk melihat Fallen lebih menderita lagi, akhirnya terkabul.
Arjun melangkah menuju lift untuk menuju ke kamarnya. Namun, saat ia menyentuh tombol luar lift, ia merasakan bahwa tombol itu masih berdebu.
"Panggil pelayan kebersihan!" teriaknya hingga membuat seisi rumah menjadi takut.
Beberapa pelayan kebersihan yang adalah wanita semua pun datang dengan wajah pucat. Tanpa berkata, Arjun langsung menampar mereka satu persatu dengan tangannya sendiri.
"Berani sekali kalian membuat debu menempel di lift. Sekarang, pergi ke ruang hukuman dan jalani hukuman kalian. Jika aku melihat kesalahan lagi, aku akan membuat kalian kehilangan satu anggota tubuh kalian!" Arjun melangkah masuk ke dalam lift. Sementara, Jim hanya mengantar sampai depan lift.
Hukuman apa yang mereka terima? Itu adalah hukuman cambuk. Sebagaimana yang telah disepakati saat mereka melamar kerja, mereka harus menandatangani surat yang menyatakan bahwa mereka siap menerima sanksi dan hukuman dari Arjun apapun itu, meski menyakiti tubuh mereka. Karena bekerja pada Arjun, artinya menyerahkan diri mereka pada CEO kejam itu.
Donna's POV I read through the new contract given to me. My eyes shifted to the little girl, staring at me. I didn't expect a child within the mafia, especially in one as tense as this. I looked back at the contract she had given me. It was identical to Contract 21 except I'd be the main receiver of this one, and not my father. Should I see it as simply changing autonomy? I knew Theoden could be sneaky. I rubbed my temples. Why did I bother overthinking? Theoden had no reason to secretly betray me. He already had a good cut, though I didn't know how much. I should still be aware of these things. Our last conversation sounded like he had my best interest in mind. I should give him more trust. "Pen, please?" I stretched my hand to the girl. Her fingers tightened around the pen. I knew that reaction all too well from teaching first grade during summer. This girl didn't like me. That was odd since we were meeting for the first time. There had been a knock on the door, a
Theoden’s POV I would be really busy for the next few days. There was a lot of underground work to be done in case her stepfamily tried to file a missing person report. They were not above being shameless even if she was a grown woman they had ordered around. "Tomorrow, get her lawyer to handle the will of the late father and what pertains to her company." I told Rufus, taking a sip of my coffee. "Bring them in." I could hear Hansel scratching the door impatiently. Rufus opened the door, and a dark-haired girl, gripping a cat by its stomach, shuffled inside quickly. I could never understand how that cat, Chin, was comfortably being held like that. After many checks, we confirmed he actually was. I slid my chair back, giving the little girl a chance to wedge herself between my thighs, saying nothing. As always. Chin left her hold and got on my table. I grabbed my glass of coffee from the edge before he got to it. A soft sigh left me. "Thank you, Rufus." He was still at t
Chapter Nine: Aware Theoden's POV My grandfather really pulled a number on me by letting this girl's safety be his dying wish. However, so far, I wasn't enjoying this. She was gritty enough to survive a hellhole for long, and used that grit to pass her judgment on them. She wouldn't be depending on us as much as I thought. In a way, that disappointed me a little. "Do you know anything about what he does for work? Or what we'd be doing to assist you?" It was fair that she wanted to start her path, but did she have any clue how tedious it would be? "The company is currently being run by your father's supervisor, whom we have contacted to keep it up until you're twenty-five." I answered, while checking my tab for emails. "Twenty-five?" She slapped the bed, and I looked up from my tab. "Why would you make that decision without informing me?" She wasn't offended that the decision was made, but that it was made without her consent. That meant she understood why it was ma
Donna's POV After leaving my house, I began to wonder what would happen next. I wouldn't mind being away from there till my step family were gone, but was it really alright for me to stay with Theoden? He was even yet to tell me what he gained from all these? Why were there two huge guards in suits seated with me at the back, while Rufus drove the car? None of them said a word to me. I was still elated at my revenge, but with the uncertainty ahead, I became quiet again. "Excuse me, sirs." I decided to break the silence. These guards jolted like little kids— I swear to the Moon Goddess. I paused what I wanted to say and gave them time to breathe. "Would I be spending the next week at your place?" "Wouldn't you like to?" I knew for sure they were good people so that wasn't a scary idea, however it couldn't be for free. Our parents were close but they couldn't just take me in when I still had a source of livelihood. "I don't mind paying all my expenses." I could pull out all
Donna's POV My fists clenched on the document so much that it crumpled. What's this hag saying? "Why would I marry someone like that?" "Donna!" I jolted, my eyes growing teary because deep down, I knew I had no way to fight this. I was truly alone in this world and at the mercy of my stepmothe
CHAPTER ONE: DONNA'S POV There was a limit to what one could endure, and my limit had come really close. I looked at my stepmother and my stepsiblings discussing my marriage plans with their guest while I stood in front of them. The eldest, Chris, walked into the room and handed a file to his
Donna's POV I regretted stepping out for a freedom I didn't deserve, and now, I was somewhere locked up and ready to be sold to some smuggler. My stepmother had been comically right about me getting kidnapped if I ever stepped out of the house. I always assumed they were lies to keep me indoors.
Theoden's POV First, wait for the little lady of Draven to wake up and let her know what's happening. Second, let her work for me, as that's the only way to be close. She was an heiress to what the Draven had left, so I'd use that to my advantage. She must be gullible after all. "Why do you so












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.