The Night He Owned Me

The Night He Owned Me

last updateLast Updated : 2024-11-22
By:  LindsayCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
1 rating. 1 review
82Chapters
1.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

"You can't walk away," he whispered, his breath hot against my ear. "Not now." I never should've followed him. I knew it the second I saw his dark, predatory eyes lock onto mine across the bar. But I couldn't stop myself. I was drawn to him, to the danger simmering beneath his cool, controlled exterior. "One night," I told myself, "just one night." But it wasn't just a night. It was a raw, thrilling ride into darkness, where he took control in ways l'd never imagined. "Do you like it when I make you beg?" he growled, and I did. God, I did. By morning, I was tangled in his sheets, marked by his touch, my body still aching from the things he'd done to me. But when I opened my eyes and saw his face in the cold light of day, reality hit like a punch to the gut. The man l'd spent the night with, the one who made me surrender in every way possible, wasn't just a sexy stranger. He was a mafia kingpin-one of the most feared men in the city. And me? I'm the future district attorney, the one assigned to take him down. "You belong to me now," he said, his voice a deadly promise. And as much as I wanted to deny it, I knew he was right. But what happens when the lines between law and lust blur beyond recognition?

View More

Chapter 1

1

"Ah..."

Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.

Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak. 

Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.

Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen. 

Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.

Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.

"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.

Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.

Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.

Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.

Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.

Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."

“Tapi….” 

“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”

Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.

Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es. 

Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.

Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.

Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.

"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."

Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...

"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.

"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"

Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.

“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”

Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Wu Chen, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan WU Chen, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.

"Li Lian…Kau terlambat," tegur Wu Chen tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."

Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.

Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.

Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.

"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."

Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.

Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.

"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.

Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.

Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.

"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.

"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Irene
Irene
Excited how the story will unfold between a mafia boss and a district attorney
2024-11-13 20:41:26
0
0
82 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status