LOGIN"You can't walk away," he whispered, his breath hot against my ear. "Not now." I never should've followed him. I knew it the second I saw his dark, predatory eyes lock onto mine across the bar. But I couldn't stop myself. I was drawn to him, to the danger simmering beneath his cool, controlled exterior. "One night," I told myself, "just one night." But it wasn't just a night. It was a raw, thrilling ride into darkness, where he took control in ways l'd never imagined. "Do you like it when I make you beg?" he growled, and I did. God, I did. By morning, I was tangled in his sheets, marked by his touch, my body still aching from the things he'd done to me. But when I opened my eyes and saw his face in the cold light of day, reality hit like a punch to the gut. The man l'd spent the night with, the one who made me surrender in every way possible, wasn't just a sexy stranger. He was a mafia kingpin-one of the most feared men in the city. And me? I'm the future district attorney, the one assigned to take him down. "You belong to me now," he said, his voice a deadly promise. And as much as I wanted to deny it, I knew he was right. But what happens when the lines between law and lust blur beyond recognition?
View More"Ah..."
Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.
Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak.
Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.
Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen.
Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.
Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.
"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.
Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.
Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.
Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.
Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.
Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."
“Tapi….”
“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”
Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.
Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es.
Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.
Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.
Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.
"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."
Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...
"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.
"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"
Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.
“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”
Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Wu Chen, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan WU Chen, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.
"Li Lian…Kau terlambat," tegur Wu Chen tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."
Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.
Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.
Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.
"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."
Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.
Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.
"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.
Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.
"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.
"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.
“That’s for me to decide.”I nodded and took a deep breath. “I do love you, Gina, and if you want me, I’m in this for the rest of our lives.”“I should be mad at you,” she said as she stood up and approached me. She reached up to cup my face with her hands. “But I love you for putting aside your happiness for your family.”“Does that mean that you’ll take me back?”Gina smiled and leaned into me as I wrapped my arms around her. “Of course.”I grinned and stood, picking her up and spinning her around in a tight hug. She laughed and wrapped her legs around my waist.“I love you, Gina.”“I love you too.”When I captured her mouth in a searing kiss, all felt right with the world. Her hands sank into my hair, holding me to her as I carried her across the beach and into the house.I nipped at her bottom lip, and our tongues tangled as I took her down the hall. She moaned as I spun and pinned her against the wall, rolling her hips and grinding her core against my hardened cock.With a groan,
BrandonAmaliawatchedmeasI carried plates of food to the kitchen table. I sat in front of her before taking my own and sitting beside her. She sighed and picked up her fork, moving the roast potatoes around the plate.“You know, she loves you,” Amalia said.“I don’t know what you’re talking about.” So instead, I focused on slicing my chicken into small pieces. I didn’t want to be having this conversation right now.“And I know that you love her. What I’m struggling with right now is why you still haven’t told me I will have a sibling.”I nearly choked on the chicken I had just put into my mouth. I reached for my water glass and took a long sip before looking at Amalia. She leaned back in her chair and crossed her arms.“Where the hell did you hear about that?”“Gina told me. I’ve been talking to her a lot the last couple of days. Did you know that she’s thinking about leaving Silverlake? She might move back to the city.”I froze, my entire body stiffening as I looked at her. While I k
Gina“You’regoingtohaveto talk to me sooner or later,” I said as I stood beside Amalia in a coffee shop. It had been nearly a week since the breakup, and she had ignored every call.I tried going to her house when I knew Brandon wasn’t home to see her. During the first visit — when she didn’t think I was coming — she had answered the door.Talking to her since then had been nearly impossible.Amalia sighed as she approached the counter. She gave the barista a small smile. “Two large mochas, please.”I smiled, but my stomach was tossing and turning. I felt like I was going to be sick. This was the first chance that she had given me all week.“I don’t want to throw our friendship away over this,” Amalia said as she looked at me.“Then there’s something else you should know before we get into everything,” I said, knowing I couldn’t keep the baby a secret.Amalia needed the whole truth before deciding whether to forgive me.As soon as our drinks were made, Amalia led the way to a booth in
“And what did you do? You hurt me anyway.” Amalia’s eyes were glassy as she glanced away from me. “I want you to end it with her.”“Then I’ll do it.”The words hurt me to say. It felt like I was ramming a knife through my chest, but my daughter was the only family I had left. I wasn’t going to alienate her. If breaking up with Gina was what it took to keep my daughter in my life, then that is what I had to do.“You’re too old for her. What the hell happens when you get even older? Will she spend the last good years of her life changing your diaper?” Tears tracked down Amalia’s cheeks. “And what about you? Are you going to spend the next few years trying to keep up with someone as young and ambitious as Gina?”As much as I hated to admit it, Amalia was making all the points that had spent the last several weeks circling through my mind. I knew that there was no way I would be able to keep up with Gina forever.That was supposed to be a problem when we got older.“Break up with her, Dad






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews