The Secret Heiress Revenge

The Secret Heiress Revenge

last updateLast Updated : 2024-10-21
By:  Happyrolake Ongoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
6
1 rating. 1 review
13Chapters
1.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Almost losing the woman she thought was her mother, Cherry seeks many ways to pay for her Mother's surgery but couldn't get any help. She had no choice but to agree to go into a contract marriage with her boss, the ruthless and arrogant billionaire CEO of the Alphonso construction company, Leonard Alphonso. They fell in love within six months of the one-year contract and lived happily from that moment until Leonard offered her a divorce paper claiming he ran out of love for her; which she vehemently refused. Later on, she had no choice but to sign the divorce papers after Leonard had already put her in a tight condition. Being pregnant and helpless, she left his house and that was when she found out that she is the heiress to a billionaire fortune. Cherry becomes successful, powerful, and independent. Leonard eventually regretted his action and sought many ways to get her back. But will Cherry give Leonard a second chance after being betrayed by the first man she had ever loved?

View More

Chapter 1

Prologue

"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?"

"Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!"

"Ta-tapi Nyonya, eh Bu...."

"Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!"

"Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku, Nola."

Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil. Setelah membuka pintu penumpang bagian tengah, dengan kepala membungkuk aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sejak pertama datang mencoba peruntungan di kota ini.

"Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin."

Nyonya Nola sangat jelas frustrasi. Tapi mengingat status diriku, jangankan.mengatakan apa-apa, untuk menegakkan wajah pun aku tidak punya cukup keberanian.

Namun, siapa yang menyangka kalau pada saat sedang menunduk dalam inilah Nyonya Nola justru memberiku sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal!

Wanita bersuami ini tiba-tiba saja mengecup pipiku! Demi Tuhan, aku seperti baru saja menerima sengatan listrik arus pendek. Darahku benar-benar tersirap dibuatnya!

Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, ini adalah kali pertama dia memberiku sesuatu yang entah apa maksudnya.

"Jangan sampai terlambat!" katanya lagi dan melenggang anggun menuju pintu utama sanggar kebugaran.

Aku hanya menjawabnya dengan satu anggukan kecil seraya diam-diam menikmati wangi tubuh yang dia tinggalkan.

Jeda kemudian, aku memejamkan mata, coba meresapi kembali apa yang baru saja terjadi. Namun, alih-alih. Bahkan, untuk beberapa saat lamanya, dunia seperti berhenti berputar. Semuanya tampak bergeming. Sampai-sampai udara yang mengalir di rongga jantung ini pun seolah ikut terhenti.

Kecupan kecil Nyonya Nola barusan, rasa-rasanya itu lebih tuak dari tuak manapun yang ada di muka bumi ini. Dahsyatnya melebihi kedahsyatan serangan candu anggur merah yang pernah menjajal pembuluh darahku. Sungguh, aku sudah lebih dulu mabuk bahkan hanya dengan membayangkan betapa nikmat aromanya.

Akan tetapi, apalah halusinasi. Lagipula, memangnya siapa aku di matanya?

Baru beberapa menit meninggalkan halaman sanggar kebugaran, ponselku berdering. Ada telepon masuk. Dari Tuan Edy Hidayat. Segera kupinggirkan mobil lalu menerima panggilannya.

"Iya, Tuan, saya?"

Berbicara dengan yang 'kastanya' berada di atasku seperti Tuan Edy Hidayat, mau tidak mau aku harus mengikuti ritme keformalan mereka. Bukan untuk memanipulasi status sosial, tapi lebih kepada tuntutan profesi.

Supir pribadi dan yang setara, atau yang lebih rendah darinya, memang boleh dikatakan hanyalah seorang pembantu. Tapi apa pun sebutannya, tetap saja suatu profesi.

"Mungkin itu, Tuan. Nyonya lagi senam sampai tidak sempat angkat telepon." Aku mereka-reka kalimat supaya dapat mengimbangi Tuan Edy Hidayat.

"Baik, Tuan, nanti saya sampaikan pesan Tuan."

Tuan Edi Hidayat tidak lagi menambahkan, dan langsung memutus sambungan telepon.

Sebelum pukul lima, aku sudah 'standby' di halaman sanggar kebugaran yang lokasinya berada tepat di jantung ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Nyonya Nola baru keluar setelah kira-kira dua puluh menit aku menunggu.

"Nyonya, tadi ... eh maaf-maaf, maksudku, Nola."

Lagi-lagi aku mempertontonkan watak asliku yang 'kelas coro'. Namun, apa boleh buat. Ujung lisan ini sepertinya masih butuh pembiasaan supaya tidak belibet ketika harus menyebut nama langsung, tanpa harus menyertakan embel-embel apa pun.

"Iya, tadi Tuan nelpon," lanjutku seraya fokus menyetir. Sekarang mobil kami mulai merayap di jalan raya.

"Hm, terus, si Tua Bangka itu ngomongin apa saja?"

Nada bicara hingga isi kalimat Nyonya Nola sangat jelas menggambarkan ketidakempatian. Padahal, orang yang sedang kami bicarakan tidak lain adalah suaminya sendiri.

Mengetepikan sikap dia yang sejatinya tak ada hakku untuk ikut campur, kulanjutkan saja dengan tenang apa pesan Tuan Edy Hidayat untuk dia.

Dari Nyonya Nola ini 'ngapain' saja, kenapa tidak angkat telepon, tidak juga membalas pesan singkat via W******p, adalah sedikit dari beberapa pertanyaan Tuan Edy Hidayat yang kuinformasikan.

Terakhir, kusampaikan pesan Tuan Edy Hidayat yang katanya akan berada di luar kota hingga lima atau enam hari ke depan.

"Enam hari? Wah, bagus dong!"

Nyonya Nola sudah tidak ubahnya seorang pegawai negeri 'nyambi influencer amatiran' yang mendapatkan voucher libur gratis. Entahlah jika dia sengaja ingin memperlihatkan wajah lain yang tersembunyi di balik status sosialnya yang boleh dibilang serba formal, khususnya ketika sedang berurusan dengan masyarakat kelas bawah sepertiku.

"Kok gerah, ya?" ucapnya tiba-tiba.

Tidak yakin dia sedang berbicara denganku, aku coba mencari bayangannya pada kaca cermin di langit-langit mobil sejajar dashboard.

"Oh astaga?" Aku mendesis dalam kemudian cepat-cepat menarik pandang.

Wanita ini ternyata sedang mencopot baju senam yang dia kenakan. Meskipun hanya sekilas, tapi aku sudah melihat dari dekat tubuh bagian atasnya. Kulitnya seputih susu. Sepasang bukit kembarnya, tampak kepenuhan. Size-nya aku perkirakan, paling tidak size 40 kalau bukan size 42. Sudahlah begitu, itu barang ya, tampak menjulang ke depan.

Dan... adalah kelemahanku. Entah kenapa, aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan liur saat melihat barang bagus seperti punyanya Nyonya Nola.

Hah... memprihatinkan diriku ini.

"Oh ya, Nola, ini langsung pulang atau gimana?"

Selain sebagai pengalihan suasana, kebetulan juga boleh dikatakan ini adalah hal wajib untuk ditanyakan. Masalahnya, adakalanya Nyonya Nola ini akan lebih dulu singgah di sana-sini sebelum minta diantar pulang ke rumah.

Nyonya Nola menyebut satu nama tempat. Tanpa banyak bicara aku langsung mengarahkan mobil menuju sana.

Kendari Beach, demikianlah orang di kota ini menamai tempat dimaksud.

Lazimnya pembantu pada majikannya, entah itu akan masuk atau keluar dari mobil, sudah menjadi kewajibanku untuk selalu sigap membukakan pintu, lalu menyeru dengan hormat pada Nyonya Nola atau Tuan Edy Hidayat. Hal ini berlaku juga pada keluarga inti mereka.

Sedangkan pada awal senja ini, begitu mobil kami berhenti, Nyonya Nola tidak lagi menunggu. Dia langsung turun sendiri dari mobil.

"Temanin aku sebentar, yuk!"

"Maaf, Nola, aku di sini saja."

"Sudah ... tidak apa-apa. Ayok!"

Nyonya Nola meraih lalu menautkan lengannya ke lenganku, memaksa aku untuk melangkah bersama.

Kami sudah tidak ubahnya sepasang kekasih di tempat umum begini, jelas ini tidak baik.

"Oke oke, tapi tidak perlu juga sampai harus gandengan tangan kayak gini, 'kan?"

Aku coba menepis, khawatir ada yang mengenali lalu melaporkan kami pada Tuan Edy Hidayat. Bukan takut, tapi karena suatu alasan, aku tidak boleh sampai kehilangan mata pencaharian.

"Memangnya kenapa kalau gandengan tangan?"

"Nola ...." Aku mendesis frustrasi. "Demi kebaikan semua pihak, mohon kondisikan dirimu."

Nyonya Nola pada akhirnya menurut. Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, tangannya mendadak luput dari pantauanku.

Tiba-tiba ada sentuhan di bawah perutku, dan tanpa basa-basi langsung menjalar ke bawah. Sampai di sini barulah aku sadar, Nyonya Nola ternyata sudah kehilangan akal!

"Pegang tangan 'kan tidak boleh, ya? Tapi kalau pegang ini boleh, dong."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Harls
Harls
I hope she doesn't take him back! And I hope this story doesn't drag on forever! I lose interest in both aspects.
2025-05-29 08:42:33
0
0
13 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status