LOGINAlmost losing the woman she thought was her mother, Cherry seeks many ways to pay for her Mother's surgery but couldn't get any help. She had no choice but to agree to go into a contract marriage with her boss, the ruthless and arrogant billionaire CEO of the Alphonso construction company, Leonard Alphonso. They fell in love within six months of the one-year contract and lived happily from that moment until Leonard offered her a divorce paper claiming he ran out of love for her; which she vehemently refused. Later on, she had no choice but to sign the divorce papers after Leonard had already put her in a tight condition. Being pregnant and helpless, she left his house and that was when she found out that she is the heiress to a billionaire fortune. Cherry becomes successful, powerful, and independent. Leonard eventually regretted his action and sought many ways to get her back. But will Cherry give Leonard a second chance after being betrayed by the first man she had ever loved?
View More"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?"
"Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!" "Ta-tapi Nyonya, eh Bu...." "Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!" "Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku, Nola." Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil. Setelah membuka pintu penumpang bagian tengah, dengan kepala membungkuk aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sejak pertama datang mencoba peruntungan di kota ini. "Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin." Nyonya Nola sangat jelas frustrasi. Tapi mengingat status diriku, jangankan.mengatakan apa-apa, untuk menegakkan wajah pun aku tidak punya cukup keberanian. Namun, siapa yang menyangka kalau pada saat sedang menunduk dalam inilah Nyonya Nola justru memberiku sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal! Wanita bersuami ini tiba-tiba saja mengecup pipiku! Demi Tuhan, aku seperti baru saja menerima sengatan listrik arus pendek. Darahku benar-benar tersirap dibuatnya! Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, ini adalah kali pertama dia memberiku sesuatu yang entah apa maksudnya. "Jangan sampai terlambat!" katanya lagi dan melenggang anggun menuju pintu utama sanggar kebugaran. Aku hanya menjawabnya dengan satu anggukan kecil seraya diam-diam menikmati wangi tubuh yang dia tinggalkan. Jeda kemudian, aku memejamkan mata, coba meresapi kembali apa yang baru saja terjadi. Namun, alih-alih. Bahkan, untuk beberapa saat lamanya, dunia seperti berhenti berputar. Semuanya tampak bergeming. Sampai-sampai udara yang mengalir di rongga jantung ini pun seolah ikut terhenti. Kecupan kecil Nyonya Nola barusan, rasa-rasanya itu lebih tuak dari tuak manapun yang ada di muka bumi ini. Dahsyatnya melebihi kedahsyatan serangan candu anggur merah yang pernah menjajal pembuluh darahku. Sungguh, aku sudah lebih dulu mabuk bahkan hanya dengan membayangkan betapa nikmat aromanya. Akan tetapi, apalah halusinasi. Lagipula, memangnya siapa aku di matanya? Baru beberapa menit meninggalkan halaman sanggar kebugaran, ponselku berdering. Ada telepon masuk. Dari Tuan Edy Hidayat. Segera kupinggirkan mobil lalu menerima panggilannya. "Iya, Tuan, saya?" Berbicara dengan yang 'kastanya' berada di atasku seperti Tuan Edy Hidayat, mau tidak mau aku harus mengikuti ritme keformalan mereka. Bukan untuk memanipulasi status sosial, tapi lebih kepada tuntutan profesi. Supir pribadi dan yang setara, atau yang lebih rendah darinya, memang boleh dikatakan hanyalah seorang pembantu. Tapi apa pun sebutannya, tetap saja suatu profesi. "Mungkin itu, Tuan. Nyonya lagi senam sampai tidak sempat angkat telepon." Aku mereka-reka kalimat supaya dapat mengimbangi Tuan Edy Hidayat. "Baik, Tuan, nanti saya sampaikan pesan Tuan." Tuan Edi Hidayat tidak lagi menambahkan, dan langsung memutus sambungan telepon. Sebelum pukul lima, aku sudah 'standby' di halaman sanggar kebugaran yang lokasinya berada tepat di jantung ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Nyonya Nola baru keluar setelah kira-kira dua puluh menit aku menunggu. "Nyonya, tadi ... eh maaf-maaf, maksudku, Nola." Lagi-lagi aku mempertontonkan watak asliku yang 'kelas coro'. Namun, apa boleh buat. Ujung lisan ini sepertinya masih butuh pembiasaan supaya tidak belibet ketika harus menyebut nama langsung, tanpa harus menyertakan embel-embel apa pun. "Iya, tadi Tuan nelpon," lanjutku seraya fokus menyetir. Sekarang mobil kami mulai merayap di jalan raya. "Hm, terus, si Tua Bangka itu ngomongin apa saja?" Nada bicara hingga isi kalimat Nyonya Nola sangat jelas menggambarkan ketidakempatian. Padahal, orang yang sedang kami bicarakan tidak lain adalah suaminya sendiri. Mengetepikan sikap dia yang sejatinya tak ada hakku untuk ikut campur, kulanjutkan saja dengan tenang apa pesan Tuan Edy Hidayat untuk dia. Dari Nyonya Nola ini 'ngapain' saja, kenapa tidak angkat telepon, tidak juga membalas pesan singkat via W******p, adalah sedikit dari beberapa pertanyaan Tuan Edy Hidayat yang kuinformasikan. Terakhir, kusampaikan pesan Tuan Edy Hidayat yang katanya akan berada di luar kota hingga lima atau enam hari ke depan. "Enam hari? Wah, bagus dong!" Nyonya Nola sudah tidak ubahnya seorang pegawai negeri 'nyambi influencer amatiran' yang mendapatkan voucher libur gratis. Entahlah jika dia sengaja ingin memperlihatkan wajah lain yang tersembunyi di balik status sosialnya yang boleh dibilang serba formal, khususnya ketika sedang berurusan dengan masyarakat kelas bawah sepertiku. "Kok gerah, ya?" ucapnya tiba-tiba. Tidak yakin dia sedang berbicara denganku, aku coba mencari bayangannya pada kaca cermin di langit-langit mobil sejajar dashboard. "Oh astaga?" Aku mendesis dalam kemudian cepat-cepat menarik pandang. Wanita ini ternyata sedang mencopot baju senam yang dia kenakan. Meskipun hanya sekilas, tapi aku sudah melihat dari dekat tubuh bagian atasnya. Kulitnya seputih susu. Sepasang bukit kembarnya, tampak kepenuhan. Size-nya aku perkirakan, paling tidak size 40 kalau bukan size 42. Sudahlah begitu, itu barang ya, tampak menjulang ke depan. Dan... adalah kelemahanku. Entah kenapa, aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan liur saat melihat barang bagus seperti punyanya Nyonya Nola. Hah... memprihatinkan diriku ini. "Oh ya, Nola, ini langsung pulang atau gimana?" Selain sebagai pengalihan suasana, kebetulan juga boleh dikatakan ini adalah hal wajib untuk ditanyakan. Masalahnya, adakalanya Nyonya Nola ini akan lebih dulu singgah di sana-sini sebelum minta diantar pulang ke rumah. Nyonya Nola menyebut satu nama tempat. Tanpa banyak bicara aku langsung mengarahkan mobil menuju sana. Kendari Beach, demikianlah orang di kota ini menamai tempat dimaksud. Lazimnya pembantu pada majikannya, entah itu akan masuk atau keluar dari mobil, sudah menjadi kewajibanku untuk selalu sigap membukakan pintu, lalu menyeru dengan hormat pada Nyonya Nola atau Tuan Edy Hidayat. Hal ini berlaku juga pada keluarga inti mereka. Sedangkan pada awal senja ini, begitu mobil kami berhenti, Nyonya Nola tidak lagi menunggu. Dia langsung turun sendiri dari mobil. "Temanin aku sebentar, yuk!" "Maaf, Nola, aku di sini saja." "Sudah ... tidak apa-apa. Ayok!" Nyonya Nola meraih lalu menautkan lengannya ke lenganku, memaksa aku untuk melangkah bersama. Kami sudah tidak ubahnya sepasang kekasih di tempat umum begini, jelas ini tidak baik. "Oke oke, tapi tidak perlu juga sampai harus gandengan tangan kayak gini, 'kan?" Aku coba menepis, khawatir ada yang mengenali lalu melaporkan kami pada Tuan Edy Hidayat. Bukan takut, tapi karena suatu alasan, aku tidak boleh sampai kehilangan mata pencaharian. "Memangnya kenapa kalau gandengan tangan?" "Nola ...." Aku mendesis frustrasi. "Demi kebaikan semua pihak, mohon kondisikan dirimu." Nyonya Nola pada akhirnya menurut. Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, tangannya mendadak luput dari pantauanku. Tiba-tiba ada sentuhan di bawah perutku, dan tanpa basa-basi langsung menjalar ke bawah. Sampai di sini barulah aku sadar, Nyonya Nola ternyata sudah kehilangan akal! "Pegang tangan 'kan tidak boleh, ya? Tapi kalau pegang ini boleh, dong."LEONARD’S POV:I was sent a mail from one of my investing company for a ceremony for me to attend.The L’Avogue company had been my very own good business partner over the last three years even though the CEO had been left anonymous .It would be embarrassing for me to not attend the inauguration party for it’s new CEO.I was so delighted to meet the new CEO of the company that was one of my investors. I would like to be a good friend to the new CEO so as to build a good relationship and to find a solid supporter.THE INAUGURATION PARTY:I knew I was already late for the party which was not done intentionally .My work and schedules had taken my time for me to not be able to come to the party on time. I saw most people that I had known that had also attended the party.Some of my business partners were all attended in the party.It was evening already for the party was done on the yacht. I saw fireworks lit up on the sky writing;”CONGRATULATIONS MISS CHERRY.”“Could the new CEO be a woman
It was already a Saturday morning where I was sitted on the couch watching television while the twins were in their room sleeping .I heard a surprising unexpected sound on the door which caught away my attention that was fixated on the television. I then realized it was a knock ,which made me feel disturbed because I was not expecting anyone at that period of time.I knew it would be someone familiar for the security guard to open the gate for such person at that period of time . “Yes, who is it?” I asked. “It is I, Richard.”He answered. I did not expect him to come at that period of time.It felt surprising.He came inside the house with a woman that could be in her fifty’s. “Good morning,Miss Cherry.”He greeted. “Good morning,Richard.Why are you here today so early this morning ? I was not expecting you.” “I came on time to deliver the message you sent me. I had already scrutinized my way out to get the best of the housekeeper that you were looking for.” “Oww, I see.You are welc
I was in my office handling some important documents when I heard a knock on my door. “Who is it?”I asked “It’s Richard,ma’am. “ “You can come in.The door is not locked.” “Good morning,ma’am.“He greeted. “You called for me ma’am?” “Yes, I did. I wanted to ask you if you could get any amusement park to take my kids to play at.And I want it to be a safe for them to play.” I asked. “There is one that I know that is very secure for the twins and it is owned by one of our business partners.It is the least of things owned by our business partner .” “Really?That is fine. I would want you to help me to book a reservation.” “I would make that is done on time.”He assured. SUNSHINE AMUSEMENT PARK I found a seat for myself as I watched my kids playing with the swing and having fun .The atmosphere was so much filled with the laughters of kids that had been there. “Mommy,come and join us.”Gabriel said looking into my face. “Mommy, come and push me so I can go higher than thi
Martin had already drove me back to the office. I had already been scared thinking that I had misplaced the key. I found the keys on top of the stacks of papers that I had placed on my table. I returned back after I had taken the key. I wondered what my kids could be the doing at the time I was away. I don’t like to leave them to be with other people that I was not close to just like that. AT HOME I was still in the car when I glanced through the window and could see my kids playing and laughing with Mr Harper already. I was so overwhelmed with their laughter and joy with Mr Harper. It was usually their joy that made me feel alive whenever I found myself in trouble. I came out of the car quietly without letting them know that I had arrived.After five minutes that they were playing, I decided to interrupt what they were doing. “Gabriel! Gabriella!Mommy is back.” I shouted with joy. “Mommy!Mommy!”They screamed in unison. They both rushed into my arms to give me a hug . I c
Just moving back to Los Angeles seemed stressful while trying to adapt to the environment again. It’s been five years now and everything seems to bring back nostalgic feelings. I was going to be the new CEO after the death of my mother,heading the L’Avogue transportation company. I was still the CEO
Leonard’s POV: Words could not explain the way I felt when I woke up and smelt how gross I was. How would I have drank and forgotten to clean myself before going to bed? I felt a slight headache and was not feeling quite okay; from the way my body had ached. But why would I have drank to the extent
The time had already past 1:00 pm and I knew I was already late for the lunch meeting with Mr Harper. I came out of the company and could already see Martin waiting for me. He quickly came out of the car to open the car’s door for me.“Please can you drive faster than this?”“Okay ma’am,” Martin repli
Cherry’s POV: “Take me to her? Do you know what you are saying?How did you get to know me?”I said while he stood surprised. “Let me introduce myself to you. My name is Richard Kingsley. I have been working for your mother as her secretary for the past twenty years now. She told me to come and get












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews