로그인COVER PHOTO CREDITS: Monique Albatross A nice hockey romance is waiting for you... but it is also full of unexpected twists, action, and happy endings. Nathaniel is a new hockey player from Canada and Valentina is just a sports reporter who hates hockey players...Or so she tells herself... sparks will fly, promises will be made and broken...secrets are getting uncovered... and since we are at it already let's find a happy ending for the whole team, shall we? dive with me into a whole series of hockey love steam and action In the second story you get to know Anabelle and Seth, each of them has a story that could break your heart...but would they heal, or ruin each other? And so much more awaits you...
더 보기"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
Chapter 27 (Loraine’s POV) epilogue Some years later… “Andrew! The girls will be here any minute, could you get Samuel ready for me please?” Before you make any assumptions let us make something clear. Samuel is our son, and he is three years old. As weird and unthinkable as it might sound, all girls gave birth to a child in the same year. Sure, there were differences, Valentina and Nathaniel had three kids. The first one was a little girl named Daisy, who was not so little anymore since she was nine years old already. Second was a boy named Gareth, he was six years old and the last was Penelope who was three years old as well as our Samuel. Then there was Anabelle and Seth. They had two kids, twins to be exact. A boy and a girl, Samantha, and Sam, they were three years old as well. If we move forward, we have Anastasia and Benjamin, they had just one kid the same as me and Andrew, and the little three years old princesses’ name was Lory. The next in line would be Malcolm and Mandy
Chapter 26 (Andrew’s POV)We were on our way to the airport and of course, with Malcolm in the car we were driving over the speed limit and if a police officer pulled us over there would be hell to pay once he realized who the driver was, but mostly no one dared stop Malcolm, even the new guys knew his car and just waved when he passed. But in my opinion, we were still not driving fast enough. I wanted to be at the airport already, deal with the bastard and wrap my Loraine in my arms where I knew I could keep her safe.But as much as I wanted to yell and rant and be a smart ass, I knew I was thinking irrationally so I rather just sat back and kept my mouth shut. That and the fact that Malcolm threatened to throw me out of the car if I dared be loud.Thankfully we arrived at the airport just when my patience was running low. But as we stopped the car, I could not believe my eyes. There was a plane, ready to take off at any moment, but the stairs were still pulled out and firmly on the
Chapter 25 (Loraine’s POV)Either these people were stupid, or they just assumed I knew London so well that I did not need to have my eyes covered while we were driving to the airport. Or maybe it was just the fact that they were so sure I would not be going anywhere except board the plane to Washington.Too bad for them because I had every intention to run away as fast as my legs could carry me, especially now that I knew two of six guys were on my side. Two of those guys that were not on my side are going into the plane’s cabin to make sure everything is set up and two will be completely oblivious to my attempt thanks to my accomplices. I still had no idea what their moto was, but I was not about to ask them since I was just happy to have someone willing to help me get away without a need to kill someone.You see all my self defense classes and so on that I was taking while on the run were in case, I found some place I want to stay and not run anymore, but before London there was no
Chapter 24 (Andrew’s POV)“WHAT DO YOU MEAN SHE IS FUCKING GONE?! YOU STUPID BUNCH OF IMBECILS! HOW COULD YOU LET HER SLIP OUT OF THE CLUB WITHOUT ANY OF YOU NOTICING!?” As you can see, saying I was pissed would be a huge understatement, because I was livid! Somehow, while we were celebrating our win in the office with Malcolm and the girls, and a few minutes later with their boyfriends as well, Loraine managed to slip out of the club and disappeared into thin air.If you would tell me a week ago, she disappeared I would probably believe she ran away like she did every time in the past eight years when something or someone got too close to her and her heart, but today I was sure she did not run away. She promised me that she would not run away, and she would stay with me for as long as I wanted her and on the other hand, the fact that Rodriguez was just leaving my club when Loraine mysteriously disappeared just did not stop nagging me. So, I had my suspicion that he had something to d
Chapter 20 (Andrew’s POV)The moment Loraine barged into my office I knew something was going to go awfully wrong and as usual I was proven right when the asshole opened his mouth.Thankfully me and Malcolm seem to be on the same page because when Loraine ran out of my office as if she was on fire, we
Chapter 15 (Loraine’s POV)Everything was going great. I was happy in my working place, building new friendships, having fun with Anabelle and Mandy, nights were spent with little to no sleep, but I was not going to complain about it, since I was getting the better part of the deal in those sleepless
Chapter 17 (Loraine’s POV)A day out with girls sounded just like what I needed right now.As it was, I was constantly on edge, looking over my shoulder and was getting more and more anxious with every passing day and one day with girls spent shopping probably eating in a nice restaurant, playing dres
Chapter 14 (Andrew’s POV)Seriously, I need to start googling what are the symptoms of unhealthy obsession with someone because as weird as it might sound, or maybe not, I am starting to think only about Loraine. Wait. It has been like that since the day I met her. Oh well, then I should correct myse






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
리뷰