LOGINMakan pagi di rumah utama milik nyonya Jane sudah selesai, kini semua orang yang diundang tadi malam bersiap pulang ke tempat tinggal masing-masing, termasuk Kayden dan istrinya. Kylo masih tinggal di rumah itu dengan alasan mau mengenal lebih jauh wanita yang dijodohkan sang nenek padanya, semua orang melihat bahwa Kylo sendiri terlihat nyaman dengan gadis antah berantah yang dibawa nyonya Jane tadi malam, yang dikenalkan sebagai cucu dari sahabat sang nyonya. Kayden merasa lega karena Kylo sepertinya sudah melupakan Valerie, mantan kekasih yang dengan sengaja direbut Kayden darinya hanya untuk menunjukkan kepada Kylo bahwa dia selalu lebih unggul daripada dia, yang hanya anak dari wanita simpanan. Namun, Kayden tidak bisa sepenuhnya lega karena sikap istrinya yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat sejak semalam. Dia yang beberapa waktu ini tampak penurut dan manis, tiba-tiba berubah jutek dan angkuh, semenjak bertemu lagi dengan Kylo dan makan malam bersama.
Trivia hanya bisa tersenyum tipis mendengar pujian nyonya Jane, dia tahu bahwa dirinya bukanlah wanita jelek, tapi dibandingkan dengan Valerie yang begitu pintar memakai make up, Trivia merasa tidak percaya diri. Dia tidak pernah berdandan dan hanya suka memakai baju kasual yang nyaman, bagaimana seorang Kylo akan tertarik padanya sedang selera Kylo adalah wanita pintar berdandan seperti Valerie? Trivia semakin pesimis bisa membuat Kylo suka padanya dan memenuhi keinginan nyonya Jane untuk membuat cucu keduanya move on dari cinta yang mengenaskan. Bukankah tadi malam Trivia mendengar sendiri bagaimana Kylo dan Valerie masih memiliki perasaan satu sama lain? Haaah, sepertinya ini misi yang sangat sulit. Trivia sudah bisa membayangkan hasilnya bagaimana, yaitu kegagalan. Setelah berbincang sebentar dengan nyonya Jane, akhirnya Trivia bisa keluar dari ruangan sang nyonya. "Haaaah, gara-gara terbawa perasaan mendengar cerita nyonya Jane, aku malah setuju tinggal di gedung ya
Dengan berat hati, Nyonya Jane akhirnya mengeluarkan keluh kesah yang dia simpan cukup lama. Nyonya Jane rupanya tahu bahwa istri Kayden saat ini adalah mantan kekasih Kylo, dia tidak ingin terjadi percekcokan antara dua cucunya tersebut, sehingga meminta tolong pada Trivia untuk memikat Kylo agar bisa melupakan Valerie dan merelakan wanita itu jadi suami kakaknya. Mendengar permintaan Nyonya Jane, Trivia terkejut bukan main. Memikat Kylo? Kylo saja selalu marah setiap kali dekat dengannya, bagaimana caranya memikat pria dingin dan tak punya perasaan itu?! Trivia sendiri tak yakin bisa mengalahkan Valerie, karena dia merasa minder melihat kecantikan Valerie. Karena itu, dengan berat hati, Trivia pun menjawab. "Saya ... saya nggak punya kepercayaan diri untuk melakukan itu, tapi saya akan berusaha, Nyonya. Anggap saja ini sebagai balas budi saya karena telah membebaskan semua hutang keluarga saya dan membuat saya bisa berkuliah lagi." Trivia tidak bisa menjanjikan hal yang
Nyonya Jane lebih dulu menanyai Trivia, alih-alih Kylo yang merupakan cucunya sendiri. Trivia yang tiba-tiba gugup karena menjadi pusat perhatian, berdeham satu kali sebelum mengeluarkan jawaban. "Saya minta maaf, Nyonya. Bukannya saya tidak menghargai kebaikan hati Anda dengan menjodohkan saya dengan cucu Anda tersayang, tapi... di peristiwa yang sebesar ini, saya rasa saya tidak bisa mengambil keputusan itu sendirian." Trivia pun menjelaskan bahwa dia tidak bisa sembarangan menerima tawaran ini tanpa berkonsultasi dulu kepada orang tuanya. Sedangkan saat ini ayahnya dipenjara dan sang ibu berada di rumah sakit, sehingga Trivia pun belum bisa memberikan keputusan apakah akan setuju atau tidak. Jawaban Trivia itu sepertinya membuat semua orang yang hadir langsung lega dan melanjutkan sarapan dengan tenang. Trivia yang masih gugup karena belum mendengar jawaban Kylo, melirik pria tampan yang kini makan dengan tenang di samping dirinya. Ha, dia pasti menolak perjodohan i
"K-kamu ini sebenarnya mau bawa aku ke mana, Kylo?" Masih dalam cengkeraman tangan Kylo yang membuat pergelangan Trivia sakit gadis itu memandang ke kiri kanan, hanya ada kegelapan di taman yang sangat luas ini, di depan mereka tampak pohon yang sangat besar. Kylo masih terus berjalan tanpa memedulikan protes dari Trivia, dari tatapannya, sepertinya dia sedang menuju ke arah pohon besar itu. "Kylo, lepasin. Kamu mau bawa aku ke mana?!" Langkah Kylo berhenti, menoleh ke arah Trivia dengan ekspresi sinis. "Ke mana, ya? Aku butuh ngelepasin stress karena baru saja bertemu mantan pacarku tercinta. Kamu ingin kita bercinta di sini atau di kamar?" Mata Trivia seketika membulat lebar mendengar perkataan Kylo. Apa tadi? Bercinta? bercinta katanya?! "K-kamu ini serius saat bilang kayak gitu?!" Kylo yang sudah berjalan lagi, menoleh ke arah Trivia dan mengendikkan bahu. "Yeah, aku benar-benar sedang ingin bercinta denganmu saat ini, untuk melepaskan stress. Jadi kamu ingin di mana? Di
Bukannya trenyuh dengan pemandangan menyedihkan Valerie, Kylo malah tertawa mengejek, dia masih ingat betul bagaimana penolakan wanita ini saat di rumah sakit waktu itu. Kenapa sekarang dia bersikap, seakan masih mencintai dirinya? Menggelikan! "Astaga, hey, Nyonya Kayden. Apakah kamu sedang mengajak aku bercanda sekarang?" sindir Kylo tajam. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" sergah Valerie cepat, Ekspresinya terlihat terluka. "Lalu aku harus bagaimana? Bukankah rumah tangga kalian sangat mesra, Nyonya Kayden?" Kylo kembali menyindir dengan tatapan dingin menghunjam. "Kylo!" "Ah, maaf, sekarang aku juga sudah punya calon tunangan. Kamu tadi juga dengar sendiri kan gimana nenek mengumumkan hal itu?" Valerie yang menyesal telah menyia-nyiakan kekasihnya sehingga berubah seperti ini, menatap Kylo dengan air mata berderai. "Kylo ... Apa kamu ingin balas dendam akan tindakanku? Kamu tahu, aku juga terpaksa ngelakuin semua itu demi ibuku!" Kylo tertawa terbahak-
Aaron tak menjawab, sehingga Brandon mengulang dengan nada mengejek. "Kamu pasti mengajak bertemu untuk minta damai, kan, Aaron. Aku tahu hal itu!" Brandon tertawa terbahak-bahak, merasa di atas angin karena sangat yakin rencananya telah begitu sempurna. Hening beberapa saat, sebelum kemudian s
Aku tidak bisa menjawab. Air mata mulai menggenang di mataku, air mata kebingungan, ketakutan, dan hasrat yang tak bisa dibendung. Melihat air mataku, seolah ada tamparan keras di wajahnya. Ekspresi penderitaan yang mendalam muncul. Dengan gerakan yang tiba-tiba dan penuh kekerasan pada dirinya s
"K-kak... bukan seperti itu!"Aku langsung menggeleng, sementara Aaron hanya menatap ke arahku yang masih terbaring di sofa dengan tubuh Aaron menahan ruang di atasku. Berat badannya tidak sepenuhnya menindih, aku bisa merasa napasnya yang hangat, detak jantungku yang terlalu cepat, dan tatapanny
“Ibu tidak mau dengar alasan apa pun, Sherry!” Seperti dugaabku, suara ibu meledak dari seberang, keras dan penuh emosi. “Pulang sekarang juga ke desa. Malam ini juga!”Aku tersentak dan sangat terkejut dengan perintah ibu.“Bu, ini sudah larut. Jalanan gelap, jauh. Besok pagi saja, ya? Aku bisa







