LOGINRachel Vels tidak pernah menyangka cinta pertamanya harus berakhir dengan cara paling kejam. Dua tahun pacaran dengan Gerard Winston, pewaris keluarga terkaya nomor 3 di New York, Rachel pikir cinta bisa mengalahkan segalanya. Sampai ibunya Gerard, Tamara Winston, memanggilnya ke Winston Tower. Bukan restu yang dia dapat, tapi penghinaan. "Kita tidak selevel. Ayahmu pemabuk dan penjudi, ibumu cleaning service. Apa kamu mau Gerard ikut terseret jadi bahan tertawaan?" Tamara meletakkan cek $100.000 di depannya. Uang untuk melunasi semua hutang ayahnya yang hampir mati digebukin debt collector. Syaratnya satu: Putuskan Gerard sekejam mungkin, dan PERGI DARI NEW YORK. Jangan pernah dekati Gerard lagi. Malam itu, dengan air mata darah, Rachel mengirim satu pesan WhatsApp yang menghancurkan hati Gerard: "Ger, kita putus. Aku bosan sama kamu. Aku dapat yang lebih kaya. Jangan cari aku lagi." Lalu dia hilang. Gerard Winston hancur. Depresi. Selama 8 tahun dia hidup dengan dendam pada satu nama: Rachel Vels. 8 TAHUN KEMUDIAN. Rachel kini hidup tenang sebagai Marketing Manager di sebuah perusahaan kreatif. Sampai suatu pagi, perusahaan itu diakuisisi. Dan CEO baru yang masuk ke ruang meeting adalah pria yang paling ingin dia lupakan. Gerard Winston. Lebih tampan, lebih berkuasa, dan tatapannya penuh kebencian. "Kamu terkejut, Ms. Vels? Mulai hari ini saya bos kamu." Itu bukan reuni. Itu neraka.
View MoreNew York.
Rachel Vels tidak pernah merasa sekecil ini di dalam gedung Winston Tower. Lantai 60. Semua dindingnya kaca, semua orangnya memakai jas seharga uang kuliahnya setahun.
Dia dipanggil kesini bukan oleh Gerard, tapi oleh sekretaris ibunya Gerard.
"Ms. Rachel Vels?" Seorang wanita berambut cepak menyambutnya dingin. "Mrs. Winston sudah menunggu di dalam."
Jantung Rachel berdegup kencang. Selama 2 tahun pacaran dengan Gerard Winston, dia belum pernah sekalipun bertemu orang tuanya. Gerard selalu bilang, "Nanti, kalau aku sudah jadi Vice President, baru aku kenalkan kamu. Biar mereka tidak bisa meremehkanmu."
Dan hari ini, tanpa Gerard tahu, mereka memanggilnya duluan.
Pintu kayu raksasa itu terbuka.
Di dalam, bukan satu, tapi dua orang. Seorang pria tua berwibawa dengan jas hitam, Richard Winston, dan seorang wanita yang cantiknya seperti patung es, Tamara Winston. Ibunya Gerard. Matanya persis seperti Gerard, tapi tidak ada hangatnya sama sekali.
Rachel menunduk sopan. "Selamat siang, Mr. Winston, Mrs. Winston..."
"Duduk," potong Tamara. Bahkan tidak menyuruhnya duduk dengan kata silakan.
Rachel duduk di ujung sofa, kaku. Tas ransel lusuhnya dia peluk erat.
Tamara meletakkan sebuah map coklat tebal di meja marmer di depan Rachel, dengan bunyi brak yang keras.
"Kami tidak akan berbasa-basi, Rachel," kata Tamara, senyumnya tipis dan merendahkan. "Kami tahu kamu pacaran dengan anak kami, Gerard. Sudah dua tahun, ya?"
Rachel mengangguk pelan. "Iya, Tante..."
"Kami tahu semuanya tentang kamu," Richard menimpali, suaranya berat. "Mahasiswi beasiswa di NYU. Ibu bekerja sebagai cleaning service di Queens. Dan ayah..." Dia berhenti sejenak, menatap Rachel tajam. "Ayahmu Frank Vels. Pemabuk dan penjudi. Hutangnya di mana-mana. Minggu lalu bahkan digebuki oleh debt collector di bar Bronx, benar?"
Wajah Rachel langsung pucat pasi. Darahnya seakan berhenti mengalir. 'Bagaimana mereka bisa tahu?'
Tamara tertawa kecil, tawa yang kejam. "Lihat wajahmu. Kamu kaget? Sayang, kami adalah keluarga terkaya di New York. Tidak ada yang tidak bisa kami cari tahu."
Tamara mendorong map itu ke depan Rachel.
"Buka."
Dengan tangan gemetar, Rachel membuka map itu. Isinya foto-foto. Foto ayahnya yang mabuk tergeletak di jalan. Foto surat tagihan hutang ayahnya yang totalnya $87.000. Foto ibunya yang sedang mengepel lantai di gedung orang. Dan foto dia dan Gerard yang sedang berpelukan di kantin kampus, tertawa bahagia.
Air mata Rachel langsung menggenang.
"Rachel," kata Tamara, kini suaranya lebih dingin lagi. "Kamu gadis pintar. Kamu pasti tahu, kita ini tidak selevel. Winston tidak akan pernah bersanding dengan Vels. Gerard itu akan mewarisi semua ini. Dia akan menikah dengan wanita selevel kami, seperti Alysa Laurent, putri pemilik bank terbesar. Bukan..." Tamara melirik penampilan Rachel dari atas ke bawah, "...bukan gadis beasiswa dengan ayah pemabuk dan penjudi."
"Apa kamu mau Gerard ikut terseret?" Richard menambahkan. "Kamu mau anakku yang masa depannya cerah itu harus ikut membayar hutang ayahmu? Harus menanggung malu punya mertua pemabuk? Kamu mau Gerard jadi bahan tertawaan di kalangan high society karena istrinya adalah anak dari cleaning service?"
Setiap kata seperti pisau yang mengiris jantung Rachel.
"Tidak... aku tidak pernah..." Rachel terisak. "Aku cinta sama Gerard..."
"Cinta?" Tamara memotong. "Cinta tidak bisa bayar hutang $87.000 itu, sayang."
Tamara lalu mengeluarkan satu lembar cek dari tas Hermes-nya. Dia menuliskan angka dengan cepat dan meletakkannya di atas foto-foto itu.
$200.000
"Ini cukup untuk melunasi semua hutang ayahmu, dan sisa untuk ibumu berobat dan pindah dari apartemen kumuh itu," kata Tamara. "Syaratnya satu."
Rachel menatap cek itu dengan air mata bercucuran.
"Tinggalkan Gerard. Putuskan dia. Dengan cara sekejam mungkin biar dia benci kamu dan tidak mencari kamu lagi. Dan pergi dari New York. Terserah kamu mau ke mana, ke California, ke Texas, ke neraka pun aku tidak peduli. Yang penting jangan pernah dekati Gerard lagi. Jangan pernah muncul di hadapannya lagi."
Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar isak tangis Rachel yang tertahan.
Kalau dia tolak, ayahnya bisa mati dibunuh penagih hutang. Ibunya bisa dipecat. Gerard akan hancur kalau tahu kebusukan keluarganya.
Kalau dia terima, dia harus menghancurkan hati pria yang paling dia cintai di dunia ini dengan tangannya sendiri.
Tamara berdiri, merapikan mantel bulunya.
"Kamu punya waktu 24 jam. Setelah itu, penagih hutang itu akan datang lagi ke rumah ayahmu. Dan kali ini bukan cuma gebukan. Kamu pilih, Rachel. Cinta egoismu, atau nyawa keluargamu."
Tamara dan Richard meninggalkan Rachel sendirian di ruangan mewah itu, bersama map penuh aib dan cek yang bisa menyelamatkan keluarganya.
Rachel akhirnya pecah. Dia menangis sejadi-jadinya di lantai 60 gedung tertinggi, merasa menjadi manusia paling kotor dan hina di New York.
Di luar jendela, salju pertama mulai turun. Dan di ponselnya, ada chat masuk dari Gerard.
Gerard: Sayang, kamu dimana? Aku sudah di kantin nungguin kamu. Kangen.
Rachel menatap chat itu, lalu menatap cek di tangannya.
"Aku harus apa, Gerard?"
Gerard Winston masih berlutut di tengah lantai kayu yang berdebu itu. Pakaian pasien rumah sakitnya yang tipis sudah kotor, darah dari bekas infus di lengannya menetes pelan ke lantai, dan pelipisnya yang diperban kembali mengeluarkan darah segar."Rachel..."Namanya ia bisikkan seperti sebuah doa yang tidak pernah dijawab.Di luar, suara ambulans dan suara teriakan para pengawal keluarga Winston semakin mendekat. Tamara Winston yang panik karena putranya kabur dari rumah sakit, menyusul ke sana dengan wajah yang pucat pasi."Gerard! Anakku!"Tamara berlari masuk ke dalam apartemen kosong itu dan memeluk putranya dari belakang. Tubuh Gerard yang tinggi dan dulu selalu hangat, kini dingin dan gemetar seperti es."Sayang, ayo pulang. Kita pulang, ya? Lupakan wanita itu. Dia sudah pergi. Dia tidak pantas untuk kamu." tukas Tamara.Gerard tidak menjawab. Ia membiarkan ibunya memeluknya, tetapi matanya tetap kosong menatap sudut ruangan tempat dulu meja belajar kecil Rachel berada. Di sudu
Rachel tidak menjawab. Ia hanya duduk di genangan air hujan, basah kuyup, melihat ambulans yang membawa Gerard pergi menjauh dengan sirene yang meraung-raung.Pada saat itulah, Rachel tahu bahwa ia harus benar-benar pergi. Malam ini juga.Pukul empat pagi. Hujan sudah reda.Ambulans telah pergi. Mobil mewah keluarga Winston telah pergi. Gang sempit di Bronx itu kembali sepi.Rachel masuk ke dalam apartemennya dengan tubuh yang basah kuyup. Ia membangunkan ibu dan ayahnya yang masih tertidur karena mabuk."Bu, Ayah, kita pergi sekarang," kata Rachel dengan suara yang sangat tenang, tetapi matanya kosong."Rachel, kamu kenapa? Kamu basah kuyup, Nak ""Kita pergi dari New York malam ini juga, Bu. Aku sudah melunasi semua utang Ayah. Semua bunganya juga sudah aku lunasi. Aku masih punya sisa uang untuk kita menyewa apartemen kecil di Boston. Aku sudah diterima kerja sambilan di sana. Kita mulai hidup baru, ya, Bu? Tanpa utang, tanpa rentenir, tanpa kenangan di sini."Rachel menunjukkan bu
Pukulan itu mengenai pelipis Gerard. Gerard terhuyung ke belakang, hampir jatuh ke genangan air hujan. Darah segar langsung mengalir dari pelipisnya, bercampur dengan air hujan yang dingin."AYAH! APA YANG AYAH LAKUKAN!" Rachel yang mendengar keributan itu langsung membuka pintu dan menjerit histeris. Melihat Gerard yang berdarah dan basah kuyup, hati Rachel hancur berkeping-keping untuk kedua kalinya malam itu."GERARD!"Rachel ingin berlari dan memeluk Gerard, ingin membersihkan darah di pelipisnya, tetapi Frank mendorong Rachel kembali masuk ke dalam."Masuk kamu! Jangan pernah bertemu dengan anak ini lagi! Keluarga mereka sudah menghina kita! Mereka pikir kita bisa dibeli dengan uang!""Pergi kamu! Pergi dari sini, anak manja!" teriak Frank kepada Gerard, lalu ia membanting pintu apartemen itu dengan keras hingga seluruh gedung bergetar.Suara kunci pintu yang dikunci dari dalam terdengar.Maria Vels yang melihat semuanya hanya bisa menangis dan memeluk Rachel yang sudah terduduk
Hujan turun dengan sangat deras di Bronx malam itu.Langit New York yang biasanya dihiasi cahaya lampu gedung-gedung pencakar langit, malam itu hanya berwarna hitam pekat dan kelam. Air hujan menghantam atap-atap seng apartemen murah dengan suara yang keras, mengalir menjadi sungai kecil di jalanan yang berlubang.Di depan pintu Apartemen 3B, sebuah gedung petak yang catnya sudah mengelupas dan lampunya yang berkedip-kedip, berdiri seorang pemuda.Pemuda itu adalah Gerard Winston.Pakaian yang ia kenakan basah kuyup. Jaket varsity kesayangannya yang berwarna biru tua itu sudah tidak lagi terlihat biru, melainkan hitam karena air hujan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi, kini menempel lepek di dahinya. Wajahnya pucat, bibirnya membiru karena kedinginan, tetapi matanya... matanya masih menyala dengan api yang sama. Api cinta yang terluka, api kebingungan yang mendalam, dan api penolakan yang tidak bisa ia terima.Sudah tiga jam ia berdiri di sana.Setelah menerima pesan putus yang ke












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.