LOGINDia mengatakan itu sambil menangkup pipi Kayden dan menciumi bibir sang suami dengan air mata putus asa mengalir di pipi, sementara buah dada Valerie yang hanya tertutup bra itu menempel erat di dada Kayden. Sayang, setelah semua tindakan penuh provokasi seperti itu, tetap tidak ada reaksi apapun dari Kayden, dia seperti seseorang yang benar-benar tidak punya nafsu kepada perempuan. Tangis Valerie semakin deras saat menyadari bahwa semua usaha ini sia-sia, dia tak tahu lagi harus berbuat apa. Valerie yang sedang memeluk Kayden yang seperti batu ini menempelkan kening di pundaknya dan menangis tersedu-sedu. "Gimana caranya ... gimana...." Kenapa sesusah ini menaklukkan pria itu? Dia merasa putus asa dan dipermainkan. Baru kali ini Valerie merasa sangat rendah diri, semua usaha yang dia lakukan untuk membuat suaminya turn on gagal sudah. Sementara itu Kaydenhanya diam, mengawasi reaksi Valerie yang terlihat bersungguh-sungguh menyelesaikan apa yang dia kerjakan. Kayden s
"T-tolong, jangan beri aku pinalti. Aku akan melakukannya! Aku akan membuat dirimu turn on di sini, Kay," ujar Valerie dengan wajah memelas. "Kalau begitu, apalagi yang kamu tunggu?" Kayden yang duduk sambil menyilangkan tangan di dada, mengangguk pelan, memberi isyarat pada Valerie untuk segera melakukan perintahnya dan naik ke paha Kayden. "Tunggu apalagi? Cepat naik sini." Dagu Kayden menunjuk ke pahanya, sementara wajah Valerie semakin memucat karena dia tak tahu cara merayu seorang pria sampai pria itu turn on. Biasanya Kayden yang selalu memulai, jadi dia kebingungan sekarang. Haruskah dia merayu Kayden dengan air matanya? Bukankah tidak ada pria yang tahan saat melihat wanita cantik menangis? Valerie berusaha memeras air matanya, tapi usaha itu gagal, akhirnya dengan tangan terkepal erat karena mengumpulkan tekad, Valerie pun segera meloncat ke atas paha suaminya yang sudah menunggu. Namun, saat sudah duduk di atas paha Kayden yang kencang itu, Valerie malah kebin
Kayden bertanya dengan suara dingin. Valerie tentu saja buru-buru menggeleng dengan wajah memucat. "B-bukan, bukan kayak gitu, Kay. Aku hanya merasa bahwa kehadiranku di sini mungkin mengganggu dan membuat mood-mu memburuk, jadi lebih baik turunin aja aku di sini, aku akan menganggapnya sebagai hukuman karena semalam telah berani bertindak lancang padamu." Valerie mencoba menjelaskan dengan eskpresi memelas, meski benar bahwa dia minta diturunkan karena ingin menelepon Kylo untuk dijemput dan meraih simpatinya dengan berencana mengatakan bahwa dia diusir dan diturunkan paksa oleh Kayden di tengah jalan, tapi di depan Kayden, Valerie bersikap seakan-akan tak pernah memiliki rencana seperti itu. Valerie tak pernah berani bersikap ketus pada suaminya, Kayden, karena dia tahu ini hanya pernikahan kontrak, dan dia ingat, dalam klausul kontrak yang dulu mereka buat berdua, ada peraturan yang mana jika Kayden merasa kesal atas tindakan Valerie, maka wanita itu harus membayar pinalti.
Valerie berteriak, mencoba melepaskan diri dari ciuman Kayden yang kasar, ciuman yang terasa menghina dirinya. Kayden selalu melakukan ini jika dia sedang marah atau cemburu tanpa sebab kepada Valerie, sehingga Valerie merasa sangat muak. Kayden tak peduli dengan raungan marah istrinya, seperti sengaja, Kayden malah menggigit bibir bawah istrinya tersebut sekali lagi untuk melampiaskan kemarahan dan kekecewaan telah dibohongi oleh wanita yang sudah dia nikahi, sehingga Valerie pun menjambak rambut Kayden tanpa perduli dia orang yang telah menyelamatkan nyawa ibunya dengan membiayai seluruh pengobatan sang ibu. Atas tindakan Valerie tersebut, Kayden akhirnya melepaskan bibir Valerie dari pagutannya, dan menyugar rambutnya yang acak-acakan akibat jambakan sang istri beberapa waktu lalu. Sedangkan Valerie yang berhasil lepas dari Kayden, memegang bibir bawah yang rasanya bengkak dan sakit dengan tatapan marah. "Kayden! Ini pelecehan namanya! Kamu terus kayak gini sama aku!" M
Makan pagi di rumah utama milik nyonya Jane sudah selesai, kini semua orang yang diundang tadi malam bersiap pulang ke tempat tinggal masing-masing, termasuk Kayden dan istrinya. Kylo masih tinggal di rumah itu dengan alasan mau mengenal lebih jauh wanita yang dijodohkan sang nenek padanya, semua orang melihat bahwa Kylo sendiri terlihat nyaman dengan gadis antah berantah yang dibawa nyonya Jane tadi malam, yang dikenalkan sebagai cucu dari sahabat sang nyonya. Kayden merasa lega karena Kylo sepertinya sudah melupakan Valerie, mantan kekasih yang dengan sengaja direbut Kayden darinya hanya untuk menunjukkan kepada Kylo bahwa dia selalu lebih unggul daripada dia, yang hanya anak dari wanita simpanan. Namun, Kayden tidak bisa sepenuhnya lega karena sikap istrinya yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat sejak semalam. Dia yang beberapa waktu ini tampak penurut dan manis, tiba-tiba berubah jutek dan angkuh, semenjak bertemu lagi dengan Kylo dan makan malam bersama.
Trivia hanya bisa tersenyum tipis mendengar pujian nyonya Jane, dia tahu bahwa dirinya bukanlah wanita jelek, tapi dibandingkan dengan Valerie yang begitu pintar memakai make up, Trivia merasa tidak percaya diri. Dia tidak pernah berdandan dan hanya suka memakai baju kasual yang nyaman, bagaimana seorang Kylo akan tertarik padanya sedang selera Kylo adalah wanita pintar berdandan seperti Valerie? Trivia semakin pesimis bisa membuat Kylo suka padanya dan memenuhi keinginan nyonya Jane untuk membuat cucu keduanya move on dari cinta yang mengenaskan. Bukankah tadi malam Trivia mendengar sendiri bagaimana Kylo dan Valerie masih memiliki perasaan satu sama lain? Haaah, sepertinya ini misi yang sangat sulit. Trivia sudah bisa membayangkan hasilnya bagaimana, yaitu kegagalan. Setelah berbincang sebentar dengan nyonya Jane, akhirnya Trivia bisa keluar dari ruangan sang nyonya. "Haaaah, gara-gara terbawa perasaan mendengar cerita nyonya Jane, aku malah setuju tinggal di gedung ya
Ia tidak menoleh ke arahku, tapi masih fokus memelototi para mahasiswa yang tadi menghinaku. “Kamu pikir adikku perempuan murahan?” katanya lagi, dengan mata merah karena marah. “Kamu tahu siapa dia? Dia ADIKKU! Dia tak butuh melakukan hal se menjijikkan itu hanya untuk sebuah nilai!"“Arsion…”
Gadis itu seolah sengaja membuat kata-katanya menggantung di udara, lalu cekikikan bertiga, sehingga ruangan mulai riuh oleh spekulasi. "Aku akan melaporkan ini! Kalian sudah melakukan pencemaran nama baik!" seruku, tak sanggup lagi menahan marah. Mendengar aku akan melapor, mereka malah salin
Aaron berdiri di balik kaca jendela mobil hitam yang terparkir di seberang gedung kampus.Tatapannya dingin, rahangnya mengeras dan tangannya terkepal erat seakan sedang mengendalikan kemarahan yang membara. Di layar tablet di tangannya, rekaman dari kamera Drake berhenti tepat pada detik ketika t
"Oke, oke, kita masuk dulu," jawabku buru-buru, sedangkan Kaiser hanya tersenyum. Kami berjalan beriringan, saat semakin dekat dengan pos satpam, aku merasa gentar dan reflek menggenggam tangan Kaiser, Kaiser menepuk lembut punggung tanganku dan berkata dengan nada santai. "Tenang. Percaya sama a







