LOGINSekar hanya perlu inspirasi untuk menulis novel spicy romance berikutnya. Tapi kali ini dia perlu sesuatu yang nyata; punya suami betulan. Sampai suatu hari writer’s block-nya itu mendapat solusi; Sekar dijodohkan dengan anak sahabat orang tuanya; seorang pria yang baru patah hati yang sialnya sesuai di segala aspek dengan ide tokoh utama dalam novelnya.
View More“Waktu itu kamu keluarinnya di luar, kan?”
Si pria mengangguk.
Di sebuah kedai kopi dan pastry Sekar duduk menyender, mendengarkan percakapan seorang pria dan wanita yang duduk berhadapan yang diyakininya sebagai sepasang kekasih.
Sejak awal masuk kedai ini, Sekar sengaja memilih duduk di sebelah mereka sambil membuka laptop, menyumbat kedua telinga dengan earphone yang volumenya dimatikan demi dapat ide obrolan romantis pasangan itu.
Sudah sebulan ini dia mengalami kebuntuan menulis. Apalagi tema novel romantis dewasanya kali ini tentang bulan madu pengantin baru. Selama ini tulisannya lebih sering tentang cinta satu malam.
Dia butuh adegan-adegan mesra baru nan segar, dan mulai lelah mencari referensi di aplikasi obrolan tanya jawab.
Sementara, kursor di layar laptop berkedip-kedip di sepanjang satu kalimat: Mereka sudah tak tahan lagi untuk berciuman. Di bawah meja kaki-kaki mereka beradu mesra ….
Sekar menyesap minumannya sambil memperhatikan semua gerak-gerik pasangan itu dari ekor mata.
“Kamu nggak—?” tanya si pria.
Si wanita mengeleng. “Aku mens hari ini.”
Setelah obrolan itu mereka sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Ternyata pasangan di meja sebelah tak romantis—lebih mirip dua orang yang sedang berselingkuh, bukan tema yang mau dia tulis.
Sekar langsung mengetik asal di atas keyboard dan menaikkan volume lagu di earphone hingga dia tak mendengar suara barista yang sudah memanggilnya berkali-kali.
“Atas nama Kak Sekar Aramita.”
Pandangan Sekar terpaku pada layar laptopnya seolah terkena hipnotis, padahal cuma membaca ulang satu kalimat yang belum diteruskannya lagi.
Sekar tak tahu kalau dia salah mengambil pesanan. Dia juga tak membaca stiker putih di gelas plastik yang bertuliskan nama orang lain dengan pesanan yang jelas berbeda dengannya.
Suara di meja dari jari tengah dan telunjuk yang mengetuk seirama mengalihkan pandangan Sekar seketika.
Insting sebagai penulisnya otomatis mulai bekerja.
‘Tangannya ganteng—jemari panjang, ramping, kuku bersih terawat, urat-urat tipis tampak di punggung tangannya. Hem, dia cocoknya kerja di kantor di pagi hari, dan malamnya menggenggam tangan sang kekasih, membelai ….’
“Kamu yang namanya Sekar Aramita? Yang dari tadi dipanggil sama barista?”
Sekar mendongak, melepas earphone. Tatapannya naik ke si pemilik jemari tampan yang sedang berdiri di hadapan, tangan kirinya memegang gelas plastik minuman kafein yang stiker putihnya seolah sengaja diarahkan ke mata Sekar.
‘Hmm, lumayan juga tampangnya.’ Sekar membatin.
“Halo!” Si jemari tampan menegur dengan suara baritonnya seraya menggerakkan lima jarinya di muka Sekar.
“Eh, kenapa, Mas?”
Cowok itu mengulurkan gelas kopinya. “Baca nih, ini nama kamu bukan?”
‘Astaga! Cakep tapi judes banget jadi cowok!’
Sekar melirik stiker putih di gelas sesuai permintaan cowok itu, lalu membacanya pelan. “Americano on the rock dolce. Sekar Aramita.”
Mata gadis 27 tahun itu seketika membulat, tenggorokannya tercekat. ‘Tunggu, kalau itu kopi pesananku, terus yang ini?’
Sekar bangkit dari kursi, bolak-balik memandang gelas di tangan si cowok dan miliknya di atas meja. Diraihnya gelas yang isinya tinggal setengah itu.
“Iced-coffee latte. Liam.”
Sekar seperti sedang belajar mengeja. Sekarang dia ragu-ragu menatap cowok yang bernama Liam ini. Dia malu, bisa-bisanya salah ambil pesanan.
“Kamu salah ambil kopi. Itu punya saya!” Liam menegaskan situasi seolah Sekar seorang kriminal.
Sekar menarik napas. ‘Oke kalau dia mau main galak-galakan, aku juga bisa gigit tangannya sampai putus kalau perlu!
“Maaf kalau gitu, Liam! Saya nggak tahu kalau salah ambil kopi. Saya akan ganti.”
Sekar tak ingin memanggil cowok itu dengan sapaan hormat semacam Mas atau Pak, sebab orang itu pun memanggilnya dengan nama ditambah kata kamu.
Liam mengangkat bahu, memandang tajam Sekar. “Nggak usah.”
Satu alis Sekar naik, dalam hati mendecih kalau si Liam-Liam ini sombong tiada tara.
“Kan saya salah ambil. Saya nggak tahu kalau itu ternyata itu punya kamu.”
Sekar beranjak menuju ke arah konter pemesanan.
“Nggak perlu. Tadi saya udah bilang, kan?” Liam menurunkan suaranya, setengah berbisik di telinga Sekar.
Katanya lagi, “Saya cuma kasih tahu aja kalau kamu salah ambil, itu artinya saya yang pesan duluan, dan kamu nyerobot!”
‘Hah? Nyerobot? Ah sialan, suaranya enak lagi! Sekar … fokus, ini bukan waktunya menghalu!’ Dalam hati mengingatkan dirinya yang imannya mulai oleng itu.
Sekar mundur sedikit. “Karena saya nggak merasa nyerobot, makanya saya mau tanggung jawab. Itu aja kok. Mau berbuat baik,” bilangnya ketus.
“Nggak usah drama. Ini tempat umum.”
Liam maju, bisikannya makin tegas, Sekar sampai merasa yakin kalau kata-kata Liam berusan ditulis dengan huruf kapital semua.
“Saya nggak drama!” Sekar melotot seperti akan menelan Liam hidup-hidup.
Liam mengerutkan kening dan terlambat merespons benturan bahu Sekar yang tak sengaja menyenggol lengan Liam.
Senggolan bahu gadis selangsing Sekar benar-benar membuat dunia Liam seperti hilang arah keseimbangan. Dalam hitungan nanodetik gelas plastik kopi yang digenggamnya jatuh mengenai tepi meja dan menyebabkan kebocoran.
“No!” pekikan Liam membuat Sekar menoleh, mengikuti gerak cairan berwarna cokelat susu itu menetes perlahan ke arah … laptopnya.
Sekar berbalik badan, tak sadar kalau masih memegang gelas kopi dan melemparnya panik.
“Awas, laptop Saya!” Tangannya langsung mengangkat laptop dari atas meja.
“Hei! Sialan kalian!”
Sekar dan Liam bersamaan menoleh ke asal suara yang marah-marah. Si pasangan yang mungkin selingkuh menatap marah dengan noda cipratan kopi di pakaian mereka.
Liam kembali ke kursinya. “Well, berteman setelah pisah. Ya, bisa. Yang ada anak aja, mereka bisa apa tuh namanya?”“Co-parenting?” Sekar juga kembali ke kursinya, camberut mendapati es stik sudah mulai mencair.“Menurut kamu, kita bisa begitu?”Sekar menoleh, meraih kantong plastik berisi es stik. “Temenan abis divorce? Bisa aja. Why not?”“Ya, asal nggak jatuh cinta, kan?” Liam berdiri, “esnya mau di bawa ke mana?”Sekar membeku sesaat. “Masukin freezer. Udah cair!” Lalu dia balik badan, “sering-sering berantem kalau gitu. Biar kita saling sebel, kesal, benci.”“Buat apa?” Liam menutup pintu balkon.“Biar nggak jatuh cinta. Kita saling kesel aja gitu Kayak yang nggak mungkin lah kamu tahan sama sikap aku yang ngeselin itu!” Sekar membuka pintu kulkas, memasukkan semua es stik ke dalam freezer.Liam memandangnya dari pintu balkon, bertanya dalam hati, apa yang bisa membuatnya membenci Sekar?“Oh, ya Sekar?” Liam teringat sesuatu. “Kamu kerjanya mulai besok?”Sekar mengiyakan dari bal
‘Apa boleh aku meminta tiba-tiba sekarang ada gempa bumi? Supaya nggak perlu dengerin cerita Liam, nggak perlu sok kuat kayak gini. Supaya aku sama Liam juga langsung mati.’Sayangnya semesta tak mengabulkannya secepat itu. Sayangnya Sekar mesti tetap mendengar, mesti tetap sok kuat. Lagipula bukankah dirinya sendiri yang mau belajar untuk tak cemburu?Jadi, Sekar harus menghadapi, mendengarkan apa pun pengakuan Liam tentang apa yang terjadi di kota SB itu dengan Fira.“Lama?” Dilepaskannya tangan Liam.“Apanya?”“Ciumannya.” Sekar tak mau berkedip, menunggu lanjutan ucapan Liam.Liam mengangguk. “Lumayan.”Mereka saling menatap. Lama, dalam, tak ada yang bicara. Hanya ada embusan suara napas keduanya dan angin malam, serta tetangga sebelah yang baru mereka ketahui memasang lagu tempo dulu tentang metafora sungai bulan.“You, drunk?” kata Sekar usai lagu usai, sebab ingin mendengarkannya sampai habis, mencegahnya meneteskan air mata.“Enggak. Baru seteguk waktu itu.”Suara Liam terden
Meski kecupan di keningnya sudah berlalu beberapa menit yang lalu, tapi campuran aroma tembakau dan es rasa anggur masih tertinggal di wajah Sekar. Dia merasa angin malam itu juga tak mau menghilangkan jejaknya begitu saja.“Gimana ceritanya? Si Pak Andi Kunang-kunang emangnya beneran butuh pegawai?” Liam tak sabaran, menarik kursi plastik yang tadi di dudukinya ke hadapan sekar.Sekar ngakak sampai menunduk memegangi perut. “Kocak banget sih, kamu suka nambah-nambahin nama orang.”Liam ikut tertawa. “Aku penasaran nih, gimana? Gajinya berapa?”“Ehm ….” Sekar pura-pura berpikir sambil mengemut es stik perlahan, “katanya boleh aja. Dia nggak nyari karyawan sebetulnya. Malah kaget aku dateng ngelamar kerja.”Di kursinya, Liam duduk menopang satu kaki. Menyimak cerita Sekar kata demi kata.“I see. Terus?” Kilap basah tipis tertinggal di istrinya, sejenak dia salah fokus.“Pak Andi bilang emang kadang dia suka bingung, kalau dia mau keluar sebentar ada urusan, toko bukunya nggak ada yang
Setelah merasa cukup menjadi pusat perhatian selama beberapa saat di kafe, Sekar menarik-narik lengan kemeja Liam, mengajak keluar dari sana sambil tetap mempertahankan senyum seadanya pada orang-orang di sana.Sejak beberapa bulan lalu sampai barusan, mereka selalu bikin kehebohan. Bedanya kali ini Sekar dan LIam tidak diusir keluar kafe, malahan dapat gratis dua potong cake. Hadiah pernikahan, kata si barista kumisan tadi.“Take away aja. Aku nggak sanggup diliatin orang-orang! Ayo, cepet!” bisik Sekar di telinga Liam yang tampak tak selesai-selesai diberi selamat para staf kafe dan beberapa pengunjung.Setelah akhirnya salam-salaman itu usai, mereka baru bisa keluar kafe. Liam langsung menuju ke tempat pencucian mobil, sementara Sekar menunggu di kursi depan.Dia baru menyadari kalau ternyata kedai kopi berlogo putri duyung ini memiliki penampilan baru yang agak bergaya klasik. Beberapa meja kursi terhampar di atas trotoar berbatu halaman kafe.Meski sudah pasti jadi area merokok,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews