Share

Bab 037 : Gaun Kebesaran

Penulis: Xiao Chuhe
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-13 19:09:17

Esther menghela napas pelan, duduk di meja makan Istana Utama bersama suaminya.

Sementara di depannya, Claire mengatur beberapa pelayan untuk memindahkan makanan dari troli ke hadapan William—hanya di depan William.

Di saat yang bersamaan Asisten Koki juga turun tangan secara langsung mengantarkan makanan Esther.

Pemandangan ini membuat Esther mengerutkan kening dengan kepala miring ke kanan.

Setelah semua pelayan sudah pergi, Claire pamit undur diri dari ruang makan, William mengizinkannya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 087 : Gaun Merah

    Setelah menentukan rencananya, Esther segera menulis undangan untuk William dan Claire di sela-sela pekerjaannya. Undangan itu menuliskan bahwa ia mengundang Claire untuk makan malam dengannya di Istana Utama.Esther mengirim surat pada William untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin makan malam di Istana Utama tanpa memberitahu bahwa Claire akan ikut dengannya. Emma bertanya penasaran saat diminta untuk menyerahkan undangan-undangan itu. "Yang Mulia, kenapa Anda mengajak Nona Saintess juga? Bukankah lebih baik kalau makan malamnya hanya berdua saja?"Esther berdeham pelan. "Aku hanya ingin melaporkan pekerjaanku saja. Ini bukan hal romantis." Emma tersenyum jahil. "Baiklah, Anda mungkin masih merasa malu untuk mengakuinya, tapi sebenarnya saya tahu, Anda senang menghabiskan waktu bersama Baginda, bukan?" Esther melotot kesal. "Itu sungguh tidak seperti yang kau bayangkan, Emma …."Esther kembali melanjutkan pekerjaannya hingga pukul dua siang. Hingga jam itu, ia harus memenuhi

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 086 : Kembali Seperti Dulu

    "Lalu apa yang Anda inginkan dari saya?" tanya Esther malas. William berdiri, menatap Esther tanpa berkedip. Ekspresi wajahnya begitu licik."Berikan aku perlakuan yang seperti dulu juga." Esther mengernyit dalam. "H-hah?!" "Kau ingin aku memperlakukanmu seperti dulu, bukan? Aku ingin kau pun melakukan hal yang sama." William tersenyum tipis. Esther membalikkan tubuhnya, mendengus kesal. Permintaan orang ini sungguh sulit dikabulkan. Yang benar saja. William ingin ia menjadi Esther yang sebenarnya, dalam artian, Esther yang selalu mengejar cintanya dan rela mempermalukan diri sendiri demi mendapatkan perhatian William. Dengan kondisi yang seperti ini, bukankah itu tidak mungkin? Esther yang sekarang adalah Olivia. Janganlah menempel terus-menerus pada William, berperilaku tidak sopan di depannya pun ia tak sepenuhnya berani. "Bagaimana, Permaisuri?" William bertanya lagi. Esther terdiam sejenak. Ia memikirkan apa yang akan terjadi kalau ia melakukan itu. "B-biarkan saya mem

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 085 : Berterima Kasih

    Esther terdiam mematung di tengah pintu kamarnya sendiri. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Di belakangnya, Emma melongokkan kepala untuk melihat apa yang membuat Esther tiba-tiba terdiam.Lalu matanya menatap William yang duduk di tepi ranjang, bergeming. Ia membulatkan mata. Segera berjalan mundur setelah William melemparka tatapan mengusir padanya. Esther menoleh ke belakang dan melotot saat tahu Emma sudah pergi lebih dulu. Ia melangkah mundur pelan-pelan, lalu tertawa hambar. "Ah, hahaha …. S-sepertinya saya melupakan satu pekerjaan lagi—""Sudah melihat suamimu menunggu pun kau masih memilih pekerjaan, ya? Haah …, padahal aku berharap kau sedikit menyapaku." William melipat lengan di depan dada, sengaja menyindir. Esther menghentikan langkah dan berbalik dengan rahang mengeras, merasa cukup kesal. "Baginda …, saya hampir melupakan betapa pentingnya menyapa Baginda saat kita sudah saling berhadapan karena pekerjaan itu benar-benar pen

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 084 : Tiara Emerald

    Semua orang duduk di kursi yang telah disediakan, melingkari meja makan dengan diameter satu meter berisi masing-masing empat kursi. Jumlahnya ada lima belas meja makan. Berpasang-pasang bangsawan mengambil tempat duduk masing-masing. Esther berada di meja yang sama dengan Duchess Luthadel dan Duchess Evander, hanya berisi tiga kursi. Emma berdiri di belakangnya. Lucien bersama teman-teman lamanya, sesekali masih melirik Raymond yang duduk berjarak darinya. Dame Charina dan Tuan Muda Isaac berdiri di depan para tamu undangannya. Lalu sebuah pidato pendek tentang betapa bersyukurnya mereka akan hari ini pun menciptakan gemuruh tepuk tangan penuh antusias dari para tamu. Esther tersenyum senang, akhirnya mereka bisa berkumpul bersama dan mengadakan acara kecil di musim sosial, musim di mana semua bangsawan di seluruh penjuru negeri kembali ke Ibukota untuk berpartisipasi. Setelah pidato pendek itu, Isaac memegang tangan Charina. Senyumnya terlihat tulus, ia mengangkat tangannya da

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 083 : Perdebatan Kecil

    Raymond sempat terkejut saat melihat Lucien berada dua meter di depannya. Ia mendengus malas, memalingkan wajah, terlihat begitu enggan berurusan dengannya. Lucien sendiri memasang ekspresi wajah serupa. Ia menatap Isaac yang sebelumnya jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak mengundang Raymond. Matanya melotot, seolah mengatakan, "Apa ini? Bukankah katamu dia tidak datang?" Isaac memasang ekspresi wajah bingung sambil tertunduk. "Saya yakin tidak mengundang beliau …, tapi tunangan saya mengundang ibunya." Lucien menepuk dahinya pelan. Tidak berkata apa-apa lagi. Tapi ia jelas tahu bahwa maksud dari memberitahu bahwa ibu Raymond diundang adalah untuk menegaskan bahwa pria itu bisa berada di sini selama ibunya mengajaknya. Lagipula, Duchess Luthadel adalah salah satu orang terpandang yang bahkan sangat dihormati oleh Yang Mulia Permaisuri. Lucien mendengus kencang, Ia mengalihkan pandangan untuk memperbaiki suasana hatinya yang hampir kacau. Ia melambaikan tangan pada Esther sambi

  • Transmigrasi: Menjadi Permaisuri Terbuang   Bab 082 : Bukan Karena Cemburu

    Orang itu adalah Raymond. Melambaikan tangan dengan santai sambil tersenyum lebar. Esther menelan ludah, sungguh mengejutkan melihat Raymond yang baru beberapa hari lalu megirim surat bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju Ibukota, tiba-tiba telah berada di lokasi yang sama dengannya. "I-Ibu?!"Esther terkesiap, lamunannya buyar, ia menatap Raymond yang nyaris berteriak sambil memegangi telinganya dengan ekspresi kesakitan. Duchess Luthadel menarik telinganya dengan wajah ketus. "Di mana sopan santunmu, Bocah?!" Esther tersenyum kikuk. Raymond meringis sambil mengusap telinganya yang merah. Lalu ia menatap Esther yang berdiri mematung tak jauh di depannya, ia menyeringai lebar, lalu melakukan bow dan menyapa lebih baik. Entah situasi canggung macam apa ini. Raymond benar-benar merusak suasana tenang yang sedang coba ia bangun. "Mohon maafkan kekonyolan putra saya, Yang Mulia …." Duchess Luthadel membungkuk dengan penuh sesal. "Eh? Kurasa itu bukan masalah besar." Esther mengeli

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status