Mag-log inOlivia terjebak dalam tubuh Esther Belliana Ravenshire, permaisuri antagonis dalam novelnya sendiri yang belum selesai. Berniat menjadi penonton pasif untuk melihat bagaimana William si tokoh utama berakhir bahagia dengan Claire sang Saintess yang menjadi cinta pertamanya, Olivia justru membuat satu kesalahan fatal, yaitu membawa kepribadiannya yang tulus dan lembut ke dalam watak Esther yang angkuh dan keras. Ketulusan dan kecerdasannya justru meluluhkan kebencian orang-orang dan membuat William jatuh cinta padanya, bukan pada Claire. Tanpa sadar telah menghancurkan naskahnya sendiri, Esther dihadapkan pada dua pilihan besar. Menerima cinta itu, atau terus mempertahankan kisah yang hampir hancur ini. Pada akhirnya, siapa yang berhak menggenggam akhir bahagia?
view more'Kalau begitu mati saja. Supaya kami bisa mengambil asuransi jiwamu.'
Olivia membuka matanya dengan tatapan kosong. "Mimpi …, hal yang kualami beberapa hari yang lalu itu kini menjadi mimpi buruk." Olivia menatap laptopnya yang menyala dengan mata lelah. Suara napasnya bahkan terdengar sangat menyesakkan. Ia membaringkan tubuh perlahan. "Haah …," Olivia memandang langit-langit ruangan tempatnya dirawat. Sambil bertanya-tanya, apakah ia sudah tidak tahan lagi? Kanker darah yang menggerogoti tubuhnya sejak usia kanak-kanak, ia mampu bertahan hingga menginjak usia dua puluh enam tahun. Untuk mengisi waktu membosankan karena sulit mendapatkan pekerjaan yang mampu diterima tubuhnya, Olivia mulai menulis novel. Satu-satunya karya yang berhasil ia tulis hingga saat ini adalah Love in Disguise. Namun, hal yang ia lakukan dengan dasar rasa cinta terhadap sastra itu tak ada harganya di mata keluarganya. Olivia sudah sakit sejak masa kanak-kanak, ia menulis sejak remaja, penghasilnya tak seberapa, tapi itu cukup untuk membiayai kesehatannya sendiri. Uang sekecil itu masih ingin diminta oleh orang tuanya yang bahkan hanya menghubunginya demi uang. "Apa kau tidak bisa memilih pekerjaan yang lebih layak? Menulis seperti ini tidak ada gunanya kalau uangnya cepat sekali habis, Bodoh! Adikmu yang hanya tukang bersih-bersih saja menghasilkan uang yang lebih banyak dari ini!" itulah ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut ibu kandungnya beberapa tahun lalu. "Tubuh lemahmu itu merepotkan. Bukannya mencari pekerjaan dengan upah yang lebih banyak, kau justru memilih jalan orang miskin itu!" Ayahnya pun memihak ibunya. Olivia tidak menghiraukan semua perkataan buruk itu dan terus menulis demi dirinya. Ia menyadari bahwa sejak dilahirkan, hidup ini sepenuhnya miliknya dan hanya untuknya. "Orang tua yang tidak peduli setelah mengetahui kalau tubuh kecil ini mengidap penyakit mematikan …, apakah aku tidak layak lagi menjadi darah daging mereka? Tidakkah aku pantas lagi mendapat kasih sayang yang normal hanya karena tubuhku menjadi lemah?" Olivia meninggalkan rumah dengan pikiran yang terus memperumit keadaannya. Dan mendekam di rumah sempit dengan naskah-naskahnya. Kondisinya memburuk, dan ia hanya memiliki dirinya sendiri. Keluarganya sempat dihubungi setelah ia masuk rumah sakit untuk waktu yang lama. Tapi kalimat yang mereka ucapkan pertama kali justru …, "Mati saja kalau begitu, supaya kami bisa mengambil asuransi jiwamu." Itu adalah hal yang terjadi dua hari yang lalu. Mimpi buruk Olivia hingga hari ini. "Aku tidak tahan lagi …," Olivia bergumam pelan, menutup wajahnya dengan satu lengan, air mata mengalir dalam senyap. Tubuhnya sudah menjadi kurus dan sangat lemah. Ini adalah bukti bahwa ia sudah berusaha menjalani hidup semampunya, tak peduli seberapa besar kesulitannya. Tapi tubuhnya yang rentan itu memang memiliki batas waktu yang lebih pendek dari rencana hidupnya yang panjang. Ia menatap laptopnya yang menyala. "Masih jauh dari kata selesai." Seorang dokter datang setelah Olivia susah payah menekan tombol. Ia segera mendapatkan penanganan khusus. Tapi itu hanya usaha yang sia-sia. Olivia menutup matanya. "Aku tidak bisa bertahan lagi …." * * * "Jangan menulis lagi, sialan!" "Dasar pelayan tidak berguna, pergi ambil yang baru!" "Tubuhmu lemah dan kau bodoh, mati saja sana!" 'Sakit …, telingaku berdengung kencang, suara-suara asing terus terdengar dan bercampur menjadi satu.' Olivia mengerang dalam tidurnya. "Maafkan saya, Yang Mulia Permaisuri!" "Berikan uangmu padaku, Olivia!" "Kau sungguh bukan ibu yang baik untuk Kekaisaran ini." "Pergi kau, dasar anak bodoh tidak berguna!" Matanya kembali terbuka lebar, napasnya menderu, keringat mengucur deras, seolah baru tersadar dari tidur panjang dengan mimpi buruk. Ia berusaha menenangkan diri. Dan entah kenapa ia merasa ada energi yang meluap-luap di dalam tubuhnya. Ia merasa tak perlu berusaha keras untuk mengangkat satu tangan. Tatapannya terkunci pada langit-langit ruangan yang didominasi warna putih dan emas, meski remang dan sulit untuk melihat dengan jelas. Ia beringsut duduk dengan cepat, napasnya menderu, hawa dingin terasa menusuk. Ia menolehkan kepala ke sisi kiri, dari jendela kaca besar, terlihat jelas bahwa di luar sana sedang terjadi badai salju. Suara detik pelan sebuah jam membuat fokusnya teralihkan. Jam itu cukup antik, menunjukkan pukul tujuh. Dan itu membuat Olivia sadar bahwa tempat ini menjadi sangat berbeda dengan rumah sakit tempatnya mengembuskan napas terakhir. Seketika, ia bergumam, "Apakah surga memang seperti ini?" Suara pelannya membangunkan seseorang yang sejak tadi berbaring di sampingnya. "Rupanya kau sudah bangun, Permaisuri." Olivia nyaris melompat dari ranjangnya. Ia melotot, menatap pria yang memakai piyama sederhana berwarna putih itu dengan begitu terkejut. Bahkan posisi pria itu saat berbaring santai di ranjang yang sama dengannya pun membuatnya hampir menjerit ketakutan. "Apa ini?" Olivia refleks bertanya-tanya. Pria itu beringsut duduk, menyisir rambut pirang yang berkilauan itu dengan jemarinya. "Berapa banyak botol wine yang kau habiskan semalam?" ia bertanya dengan nada sarkas. 'Ma-mabuk? Aku bahkan tidak pernah menyentuh botol alkohol sepanjang hidupku yang kasihan itu ….' Olivia hanya menjawab dalam hati. Suara ketukan di pintu membuat Olivia tidak segera menjawab. "Selamat pagi, Yang Mulia. Saya sudah datang." Olivia terdiam. Dan mulai sadar bahwa ini sama sekali bukan surga maupun alam bawah sadarnya. Ini adalah dunia yang nyata. Dunia yang baru saja ia tempati setelah kematian pertamanya. Pria itu memiringkan kepala dengan alis yang menukik tajam, tatapannya penuh kejengkelan karena Olivia tidak menjawab pertanyaannya. "Kalau begitu cepat bangun." Dia berdiri lebih dulu. Tubuh tinggi gagah itu semakin terlihat mengesankan setelah ia beranjak dari tempat tidurnya. Lalu ia menyahuti suara wanita di luar pintu. "Pergilah ke ruang kerjaku lebih dulu." Lagi-lagi Olivia merasa familier dengan sesuatu. Wajah, suara, bentuk tubuh, warna rambut, dan gerak-gerik pria itu benar-benar familier. Bahkan kamar ini …. Olivia segera turun dari ranjang. Ia sampai terjatuh saking terkejutnya menyadari bahwa tubuhnya sangat ringan. Ia tidak perlu mengeluarkan tenaga berlebih untuk sekadar berjalan kaki. "Astaga …." Esther menatap kakinya sendiri, lalu perlahan berdiri dan berjalan dengan pelan. "Ini mengagumkan. Sudah berhari-hari aku tidak menginjakkan kaki di lantai." Ia terhenti saat menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut hitam legam yang panjang bergelombang. Tubuh kurus, kulit putih dan wajahnya yang tirus namun memiliki kesan cantik yang unik ini …. "Esther Belliana Ravenshire?" Esther membulatkan matanya. "Maka pria itu adalah …, William Ravenshire." "Lalu, mungkin wanita yang pagi-pagi mengetuk pintu kamar kami …, adalah Saintess Claire." Wajahnya menjadi penuh semangat setelah mengucapkan nama itu. "Siapa sangka …, aku malah merasuki salah satu karakter utama dalam novelku yang tidak akan pernah selesai itu." Ia menatap kedua telapak tangannya. Tubuh indah yang disia-siakan suami mengagumkan seperti William …. Tidak, tidak, ini adalah sosok karakter pendukung yang menyebalkan di novel yang ditulisnya. Namun novel itu masih jauh dari kata selesai. "Bagaimana ini akan berakhir, ya?" Olivia bergumam di depan cermin dengan wajah cantik itu. Ini terasa mengganjal, namun lebih nyaman dan leluasa untuk bergerak. Olivia bisa saja mengabaikannya. Tapi Esther adalah bagian penting dari novel ini. "Tanpa Esther, William tidak akan bertemu dengan wanita yang dicintainya, Claire." Olivia menatap pantulan dirinya di cermin. "Untuk sekarang, aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun tentang isi novel ini. Selama Claire bersama William, selama William akan mencintai Claire seperti di dalam novel, aku tidak perlu ikut campur lebih dalam lagi." "Dengan begitu, alurnya akan berjalan sesuai plot yang tertulis, dan pada akhirnya akan menemui ending yang paling sesuai untuk cerita ini." Itulah yang ia yakini. Selama ia membiarkan Claire menyembuhkan William, selama novel ini berjalan sesuai arah takdir yang ia tulis, maka semuanya akan mengalir dengan lancar. Namun, ia melupakan satu hal. Plot akan berkembang ke arah yang berbeda kalau terdapat perubahan pada karakteristik salah satu tokoh.Cahaya keemasan matahari pagi di awal musim gugur menerobos masuk lewat celah tirai yang tersingkap tipis, menyapu lembut kamar tidur Istana Permaisuri yang tenang."Selamat pagi …."Esther menggeser tangannya dan menaikkan sebelah alis. Sepasang netra indahnya menatap William yang baru saja membuka mata secara bertahap, ia tersenyum lebar dengan wajah bodoh bangun tidurnya. "Kenapa sudah bangun?" Esther bertanya sambil menyipitkan mata, menatap penuh interogasi. "Ini sudahwaktunya bangun, kan?" William melingkarkan lengannya di pinggang Esther dengan manja. "Tapi kehangatan ini sulit sekali ditinggalkan. Aku tidak ingin pergi dari sini ….""Tidur jam berapa semalam?" tanya Esther. "Entahlah, sepertinya tidak terlalu lama, tapi aku terbangun dalam kondisi baik, segar, dan siap melakukan aktivitas."Esther terkekeh. "Jangan dilebih-lebihkan. Bilang segar pun, agak siang sedikit kau sudah mengeluh kelelahan, kan?" William terdiam sebentar, ia kemudian menenggelamkan wajahnya di cer
Esther berdiri di depan istananya, melambaikan tangan dengan senyum lebar saat kereta kuda Marianne menjauh perlahan dari lingkungan Istana. Emma berdiri di samping Esther dengan senyum yang tak kalah lebar. "Seharian ini Yang Mulia sudah lelah, kan? Mari kita masuk, mandi dan makan malam, Yang Mulia."Esther tertawa. "Kapan lagi aku punya kesempatan untuk mengambil banyak waktu berbasa-basi seperti ini, Emma."Ia berjalan masuk dan mengikuti perkataan Emma dengan baik. "Kira-kira, William akan kembali pukul berapa, ya?" "Tadi Sir Theron bilang, saat dia datang ke sini Baginda sedang mengobrol dengan Duke Luthadel. Sepertinya mereka mengambil beberapa waktu bekerja bersama." ***Esther mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang setelah selesai mandi dan makan, ia mengenakan kain selendang tebal untuk menutupi menyelimuti tubuhnya. Ia bersandar pada tumpukan bantal, lalu bunyi ketukan pintu terdengar, ia segera menegakkan tubuhnya lagi dengan senyum lebar penuh semangat. Pintu pun ter
Pada petang hari seusai pesta teh kecil itu, Esther mengajak Marianne ke dalam Istana segera setelah semua tamu membubarkan diri. "Sepertinya kau sangat merindukan waktu mengobrol bersamaku, ya …." Marianne berjalan mengikutinya sambil meledek. "Ini benar-benar karena kita tidak berkabar dalam jangka waktu yang lama." Esther menyeretnya ke kamarnya. "Aku sempat pulang ke rumah sebelum ke sini. Aku juga sempat mengobrol dengan Ayah meski sangat sebentar." Marianne duduk di sofa dengan senyum lebar. "Hei, kami berdua sama-sama tidak menyangka akan ada hari di mana kamu memiliki bayi." Esther tersipu sambil menyelipkan rambut ke belakang daun telinga. "Kurasa aku belum memberitahu Ayah secara langsung …." "Tidak perlu, memang sudah tahu, kok. Kalau ada waktu, beliau mungkin akan datang sesekali untuk menjengukmu." Esther tersenyum mengangguk. "Omong-omong, Marianne …." Ia berkata dengan suara lebih pelan. "Hm? Ya?" Marianne menatapnya dengan lembut. "Kau …, apakah baik-ba
"Baginda." Pintu diketuk dua kali, Raymond tampak melongokkan kepala dengan senyum lebar. William yang sedang menyesap teh melirik sejenak ke arah pintu. Ia meletakkan gelasnya dengan tenang. "Datang juga tamu dari jauhku."Raymond menyipitkan mata. "Apakah saya pernah benar-benar dinanti-nanti kehadirannya?" "Lumayan. Kalau kau sudah datang, itu artinya Esther juga sedang bahagia.""Bagaimana bisa begitu? Baginda, Anda tidak mengira saya masih menyukai Yang Mulia Permaisuri, kan?""Tentu saja tidak. Bahkan aku tidak peduli kau masih suka atau tidak, yang terpenting itu adalah hati Esther sepenuhnya dipenuhi olehku." William memasang wajah datar. Raymond menaikkan sebelah alis dengan tatapan remeh. "Itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan saya.""Itu karena kedatanganmu berarti kedatangan Marianne juga. Kehadiran siapa lagi yang bisa membuat Esther-ku tersenyum lebar selain keluarganya, kan?" Raymond tersenyum tipis. "Bagaimana pula Anda tahu kalau saya datang dengan Lady Marian






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore