MasukPleasee yaa kalian jangan jambak-jambakann gegara Michelle yaaaa
Makan malam yang terhidang telah dinikmati oleh Michelle dan Leah. Pelayan yang bertugas telah membersihkan meja makan beserta piring-piring kotor, kemudian berpamitan pulang kepada Michelle.Michelle memutuskan menemui Leah yang telah berada di kamar tidur.Belum sempurna pintu kamar terbuka, dia mendengar Leah sedang berbicara.Putri cantiknya itu pasti sedang berbicara dengan Roland melalui sambungan telepon.Dugaan itu benar sepenuhnya.Leah sedang antusias mengadukan apa saja yang dilakukan sepanjang hari kepada Roland. Gadis kecil itu sampai tidak menyadari Michelle telah duduk di tepian ranjang di mana dia berbaring sejak tadi.“Mommy telah datang.”Leah dengan polos mengadu lewat sambungan telepon. Dia segera bangkit dan duduk berhadapan dengan Michelle.“Daddy mau berbicara dengan Mommy?” lanjutnya bertanya kepada Roland.Handphone yang menempel di sisi kiri telinga telah diberikan kepada Michelle. Tak perlu dijelaskan pun Michelle mengetahui Roland tak menolak tawaran dari L
~ Penthouse Roland, Los Angeles ~Beberapa hari berlalu setelah Roland kembali ke New York. Michelle masih belum bisa melupakan sederet kenangan manis dan erotis yang mereka ciptakan sejak hari itu.Tak ada halangan sedikit pun yang merusak gairah mereka. Keduanya saling melapaskan kerinduan pada sensasi yang sudah lama tidak dirasakan.Hasrat duniawi yang bertahun-tahun terpendam telah terpuaskan secara menggebu-gebu. Seperti seekor binatang buas yang kelaparan, Roland memuaskan diri sepuasnya.Tidak! Tidak ada kepuasan bagi diri Roland pada kenikmatan tubuh Michelle.Pria itu selalu melahap Michelle setiap kali memiliki waktu berdua. Bahkan beberapa jam sebelum keberangkatannya ke New York, Roland Kembali mengguncang Michelle yang pasrah tak memberontak.Semua itu karena gejolak gairah yang terpendam selama bertahun-tahun telah menemukan titik pelepasan sempurna.Wajah Michelle diselimuti semburat rona merah setiap kali isi kepalanya terpenuhi bayangan-bayangan vulgar itu.Tidak pe
Michelle terdiam dengan tatapan linglung yang kosong. Dia sulit mencerna sempurna beberapa saat pasca tenggelam dalam kenikmatan erotis yang Roland antarkan lewat lumatan bibir.Setelah mengembuskan napas panas lewat celah bibir yang agak ranum, barulah Michelle memahami kabar yang Roland sampaikan.“K-kau ... kau akan kembali ke New York?” Michelle terbata memastikan ulang dalam kesadaran tidak memercayai.Dehemen ringan Roland terdengar menanggapi, namun kemudian lenyap oleh bibirnya yang menyapu singkat bibir Michelle.“Ada beberapa pekerjaan penting yang tidak bisa diwakilkan. Aku harus turun tangan langsung untuk menyelesaikan dan memastikan semua berjalan sesuai dengan harapanku.”Hati Michelle seketika tersadar pada sosok Roland yang bukan dari kalangan biasa seperti dirinya.Sudah lebih dari seminggu Roland merawat, menemani dan tak jauh dari sisi Michelle. Selama itu pula Michelle terbuai dalam kedamaian dan kenyaman yang Roland ciptakan. Sampai Michelle lupa bahwa Roland tak
“Dasar mesum!”Michelle membalas kejam lewat gigitan kecil yang menyakitkan di telinga Roland. Wanita itu tak terpengaruh oleh Roland yang mengerang kesakitan. Sebaliknya, Michelle merasa puas melihat Roland yang meringis sembari menggosok-gosok telinganya yang habis digigit.“Aku sedang serius berbicara, Roland!” Michelle memprotes sampai matanya menyorot tajam. “Apa kau tidak bisa serius sedikit?” lanjutnya menghardik ketus.“Apa aku terlihat tidak serius?” Roland balik memprotes dengan tangan masih menggosok-gosok telinganya yang sakit. “Selama kau mengenalku, apa aku pernah tidak serius?”Michelle terdiam karena perkataan Roland tidak bisa dibantah. Memang benar, sepanjang Michelle mengenal pria itu tak pernah sekalipun ketidakseriusan terjadi. Michelle bahkan mengingat jelas Roland yang selalu konsisten pada ucapannya. Bahkan sekalipun Michelle menganggap hal itu tidak masuk akal, Roland tidak pernah bercanda dalam hidupnya.“A-aku sedang ingin berbicara serius denganmu!” Michell
Michelle mulai menjalani rutinitas pagi setelah merasakan kondisi tubuh semakin membaik. Sejak kemarin dia sudah mulai menyiapkan sarapan pagi dan membantu Leah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.Padahal Roland sudah bersikeras melarang dan menasihati Michelle agar lebih banyak beristirahat. Tetapi, wanita itu juga bersikeras tak bisa berdiam diri karena sudah terbiasa melakukan aktivitas seperti itu.Aktivitas paginya hanya sekadar itu. Michelle sudah resmi mengundurkan diri dari firma hukum David. Barang-barang miliknya pun sudah diantar oleh pihak firma sesuai alamat tempat tinggalnya.Pagi itu di ruangan santai yang bersebelahan dengan balkon, Michelle terlihat fokus pada sebuah buku yang dipegang.Dia sampai tidak menyadari kedatangan Roland yang baru saja kembali setelah mengantar Leah ke sekolah. Sampai-sampai Michelle tidak tahu Roland telah duduk di sebelahnya.“Apa yang sedang kau pikirkan?”Michelle tersentak kaget oleh Roland yang datang tiba-tiba. Wanita itu berings
“Ah ... untuk makan malam nanti Leah mau menu apa?”Michelle memalingkan pandangan setelah sengaja mengalihkan pembicaraan. Wanita itu pun beranjak dari duduk di tepian ranjang yang tak lama kemudian mengeluarkan handphone dari saku depan celana.“Sepertinya akan menyenangkan jika kita makan malam di luar.” Sembari memainkan handphone, Michelle sibuk berbicara sendiri tanpa peduli bagaimana Roland beserta Leah menatapnya. “Di sekitar sini banyak restoran, ‘kan? Sepertinya menu daging dan salad sayur akan terasa nikmat,” lanjutnya masih asyik sendiri.“Mom,” Leah menginterupsi datar.“Ya?” Michelle menyahut, kemudian menatap Leah yang menyorotnya tajam penuh rasa curiga. “Leah mau menu makan malam apa?” tanya Michelle yang sengaja menyembunyikan perasaan.“Mommy masih bisa memikirkan makanan ketika aku bertanya?” seperti biasa Leah mengkritik tajam ketika keinginannya belum terpenuhi.“Dokter mengatakan pada Mommy untuk banyak makan dan beristirahat. Mommy tidak salah jika lebih memiki
Tubuh kecil Michelle begitu pas di pelukan Roland. Sehingga ketika Roland membalikkan posisi, Michelle tak terlihat lagi oleh David yang terdiam dan penasaran.Desahan berat Roland perlahan mengalir ke wajah Michelle yang merona merah dan menatapnya marah. Dia tak berkedip menatap Michelle yang teren
Sambungan telepon itu terputus bersamaan dengan pintu yang terbuka. Mata Leah yang menoleh ke arah pintu telah mendapati Michelle bersama Celine.“Kau sudah selesai melalukan yang Mommy katakan?” tanya Michelle sembari berjalan menghampiri.“Sudah, Mom,” ucap Leah menurunkan handphone yang menempel di
Kehangatan malam itu melebur setelah Roland beranjak pergi. Tidak ada kalimat permintaan maaf atau apa pun yang terdengar selain alasan Roland memilih tidur di mobil.Michelle menyambut baik keputusan Roland. Dia bersyukur diberi ruang lebih untuk menata perasaan dari sentuhan yang mendebarkan, yang
Demi apa pun, Michelle tak bisa bereaksi lebih selain mendengkus kesal sampai mulutnya menganga kecil. Padahal dulu jangankan menggigit bekas gigitan orang lain, jika alat makannya tidak disterilkan dengan benar Roland tidak akan mau menggunakannya. Tapi detik itu Roland dengan santai kembali menggi







