LOGINZhao Lian harus mengalami nasib buruk. Diperlakukan tidak adil, dikhianati suami dan sahabatnya. Saat dalam kondisi seperti itu, ia malah bertemu Gu Beichen, mantan kekasihnya, cinta pertamanya yang kembali datang ke kota ini. Seolah mendapat karma karena meninggalkan Gu Beichen, Zhao Lian harus menerima kenyataan Gu Beichen mempunyai wanita lain. Remuk hati Zhao Lian seketika. Begitu tiba di rumah, keluarga suaminya malah ingin membunuhnya. Tak disangka Zhao Lian mengalami reinkarnasi. Kali ini ia berada di zaman modern dengan nama Liana Zhao, seorang desainer ternama dan bertemu kembali dengan pria yang mirip Gu Beichen serta suaminya. Zhao Lian tidak ingin mengulang takdir hidupnya. Ia tidak ingin menderita lagi. Tapi bagaimana jika masa lalu belum benar-benar selesai… dan semua orang mengingat lebih dari yang seharusnya?
View More“HENTIKAN, LIAN’ER!! HENTIKAN KEGILAANMU INI!!”
Suara keras itu menggema di ruang kerja megah seorang pejabat tinggi ibukota. Tirai sutra berwarna gading bergoyang perlahan tertiup angin musim semi yang menyusup dari celah jendela. Aroma dupa cendana memenuhi udara, namun suasana terasa membeku.
Di tengah ruangan, Zhao Lian berdiri kaku.
Wanita dua puluh tahun itu menatap pria di hadapannya—Lu Zhenyu, suaminya selama dua tahun. Jantungnya berdegup kencang, sulit percaya pada apa yang ia dengar.
Dulu, pria itu begitu lembut. Tatapannya hangat, suaranya tenang. Tak pernah sekalipun ia membentaknya.
Namun hari ini… semuanya berbeda.
“Apa maksud Tuan?” suara Zhao Lian bergetar. “Mengapa Tuan menganggap aku gila?”
Tangannya mencengkeram ujung lengan baju, mencoba menahan gemetar.
Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia.
Beberapa minggu terakhir tubuhnya lemah, mual, dan haidnya terlambat. Dan pagi tadi, tabib istana memastikan semuanya. Ia mengandung buah cinta mereka.
“Aku… hamil, Tuan,” ucapnya penuh harap. “Kandunganku sudah berusia satu bulan. Bukankah ini yang Keluarga Lu inginkan?”
Selama ini ia dihina karena belum memberi keturunan. Kini akhirnya ia membawa kabar baik. Namun wajah Lu Zhenyu justru mengeras.
Tidak ada kebahagiaan. Hanya dingin… dan marah.
“Kau tidak mendengar perkataanku?” suaranya rendah menekan.
Zhao Lian menggeleng bingung.
Lu Zhenyu melangkah mendekat. “Katakan padaku… siapa ayah anak itu?”
Dunia Zhao Lian seakan runtuh.
“Apa maksud Tuan? Ini anak Tuan!”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
Tubuh Zhao Lian terhuyung ke samping. Telinganya berdenging. Tangannya refleks menyentuh pipinya yang memanas, bekas jari tampak jelas di kulitnya yang pucat.
“PEREMPUAN TAK TAHU MALU!” bentak Lu Zhenyu. “Siapa pria itu?!”
Zhao Lian membeku. Mengapa kebahagiaan yang ia bawa berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap?
“Apa Tuan menuduh aku berselingkuh?” lirihnya.
“Benar,” jawabnya dingin. “Siapa yang menyentuh istriku?”
Air mata Zhao Lian menggenang. Selama ini ia menjaga diri, menahan hinaan, hanya demi pernikahan ini. Namun kini… ia dituduh kotor.
“Aku tidak berselingkuh… ini anak kita,” katanya lemah.
Ekspresi Lu Zhenyu berubah. Ia mencengkeram wajah Zhao Lian dengan kasar.
“Tidak mungkin itu anakku… karena—”
Ia berhenti sejenak.
“Aku mandul.”
Seakan langit runtuh.
Tubuh Zhao Lian melemas. Tangannya gemetar, napasnya tersengal.
Ia tidak tahu. Ia benar-benar tidak tahu. Jika begitu… mengapa selama ini ia yang disalahkan?
Namun ia tak diberi waktu berpikir. Tangan Lu Zhenyu berpindah ke lehernya, mencekik kuat.
“Jawab! Anak itu milik siapa?!”
Zhao Lian meronta, napasnya tercekik.
“Tuan… lepas…” suaranya hampir hilang.
Namun cengkeraman semakin kuat.
“Katakan! Atau aku bunuh kau!”
Dunia mulai gelap. Napasnya habis.
Dan yang paling menyakitkan—
Pria yang ia cintai, tersenyum saat melihatnya sekarat.
Air mata jatuh.
“Apa dosaku…?” batinnya lirih
BRAK!
Pintu terbuka keras.
Nyonya Lu masuk dengan wajah marah, diikuti Tuan Lu. Mereka tertegun melihat kejadian itu.
“ZHENYU! APA YANG KAU LAKUKAN?!”
Lu Zhenyu segera melepaskan cekikan. Zhao Lian jatuh ke lantai dengan batuk hebat.
“Apa yang terjadi?” tanya Tuan Lu dingin.
Lu Zhenyu menjawab singkat, “Tanyakan saja padanya.”
Nyonya Lu mendekat, menarik Zhao Lian berdiri dengan kasar.
“Apa yang terjadi?”
Zhao Lian terengah, lalu berbisik, “Aku… hamil.”
Sejenak ia berharap. Berharap melihat secercah kebahagiaan di wajah mertuanya.
Namun—
PLAK!
Tamparan kembali mendarat. Tubuh Zhao Lian terhuyung. Ia menahan pipinya yang kembali terasa panas, matanya membesar penuh keterkejutan.
“Ibu… apa dosaku?” suaranya gemetar.
“Masih berani bertanya?” bentak Nyonya Lu. “Apa kau tidak tahu suamimu tidak bisa punya anak?”
“Dia mandul. Lalu anak ini milik siapa?”
Zhao Lian kembali terdiam, hancur.
“Aku rasa kau tahu hukuman wanita selingkuh di Keluarga Lu.”
“Tidak! Aku tidak berselingkuh! Ini anak Zhenyu!”
Namun sumpahnya tak berarti.
“Kami salah menerima wanita sepertimu,” ujar Nyonya Lu dingin.
Tubuh Zhao Lian gemetar.
Selama ini, ia telah melakukan segalanya.
Menjadi menantu yang patuh. Bangun sebelum fajar, mengurus seluruh rumah tangga, bahkan melakukan pekerjaan pelayan demi mendapatkan sedikit penerimaan.
Namun ternyata…
Semua itu tak pernah cukup.
“ZHENYU! Usir dia!” perintah Nyonya Lu.
Zhao Lian berlutut. “Aku tidak bersalah! Aku bersumpah!”
DUK!
Tendangan membuatnya tersungkur. Tangannya langsung melindungi perutnya.
“Mulai hari ini, kau bukan istri Zhenyu!” bentak Nyonya Lu.
Air mata Zhao Lian mengalir semakin deras.
“Aku tidak melakukan kesalahan…”
Ia menoleh ke Tuan Lu. Satu-satunya orang yang selama ini masih sedikit bersikap baik padanya. Namun harapannya kembali hancur.
“Kalau belum diusir, aku sendiri yang akan melemparnya,” kata Tuan Lu dingin.
Lu Zhenyu mendekat, menariknya kasar.
“Aku sudah memperingatkanmu,” bisiknya. “Jangan mengkhianatiku.”
“Aku tidak pernah…”
Namun ia tak peduli.
“Nona Lin akan datang. Singkirkan wanita ini,” kata Nyonya Lu.
Zhao Lian membeku.
Nona Lin…
Jadi ini alasannya?
BRAK!
Pintu terbuka, beberapa pengawal masuk.
“Bawa dia keluar!” perintah Lu Zhenyu.
Zhao Lian meronta lemah. Ia diseret keluar seperti penjahat. Lorong-lorong dilewati, para pelayan menunduk, pura-pura tidak melihat. Akhirnya mereka tiba di gerbang besar.
Ia dilempar ke tanah.
Para pengawal melepaskannya. Beberapa tampak iba, namun tetap diam.
Zhao Lian tidak bergerak. Perlahan ia mengangkat wajah. Gerbang besar di belakangnya tertutup.
Dengan itu, segalanya berakhir. Rumahnya. Pernikahannya. Hidupnya.
Tangannya menyentuh perutnya. Di sana… masih ada satu kehidupan.
“Aku akan melindungimu…” bisiknya.
Perlahan, ia berdiri. Kakinya gemetar, tapi ia tetap melangkah menuruni satu persatu tangga batu. Entah karena terlalu lelah, tubuh Zhao Lian tersungkur ke depan.
Dalam kondisi lemah, ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terguling menuruni tangga batu. Hingga akhirnya berhenti dengan keras di tanah.
Zhao Lian mengerang kesakitan, mencoba bangkit. Namun tubuhnya kembali gemetar saat melihat darah mengalir dari betisnya dan perlahan merembes.
Matanya membelalak. Wajahnya pucat pasi.
“Tidak…” suaranya bergetar. “Tidak…!”
Entah berapa lama Zhao Lian tak sadarkan diri hingga akhirnya ia membuka mata. Zhao Lian mengenali ruangan itu. Ia mengenal pemiliknya. Bibi An.
Namun, harapannya kembali hancur saat samar-samar ia mendengar sebuah percakapan.
“Kau tidak perlu khawatir,” suara Bibi An terdengar tenang. “Aku sudah menangani Zhao Lian. Kau bisa melanjutkan rencana pertunanganmu dengan Nona Lin tanpa gangguan.”
Jantung Zhao Lian berdegup kencang.
“Tadi aku juga sudah meminta pelayan memberinya ramuan penenang. Dia tidak akan bangun dalam waktu dekat.”
Zhao Lian menajamkan pendengarannya. Ia tidak mau salah duga.
“Jangan lupa janjimu, Zhenyu,” lanjut Bibi An. “Setelah aku menyingkirkan Zhao Lian, aku menunggu emas yang kau janjikan.”
Tubuhnya langsung dingin. Pikirannya kacau.
“Men… menyingkirkan?” batinnya gemetar. “Apa maksudnya… mereka ingin membunuhku?”
Udara di dalam kafe mendadak terasa sempit. Bukan karena ramai, melainkan karena kehadiran satu orang.Lu Zhenyu.Ia berdiri di sana, tegak, tenang… seolah dunia ini memang miliknya untuk diinjak.Sementara di hadapannya, Liana membeku.Wajah itu, tatapan itu, senyum itu adalah racun. Racun yang mengantarkan kematiannya. Pria itu penyebab kematiannya. Pria yang mencintainya lalu menghempaskannya ke tanah dan menorehkan luka yang dalam.“Lama menunggu?”Suara itu terdengar tenang, dalam dan dingin. Sama seperti saat terakhir yang ia ingat.Liana tersentak. Refleks, ia berdiri dari kursinya hingga kursi itu bergeser keras, menimbulkan suara nyaring yang menarik perhatian beberapa pengunjung.“Kenapa…” suaranya nyaris tak terdengar, “kenapa kamu ada di sini…?”Alis Lu Zhenyu sedikit berkerut. Ada kilatan kebingungan di matanya, namun hanya sesaat.“Kita memang punya janji, bukan?” jawabnya singkat.Janji?Liana tertegun.Otaknya bekerja cepat. Ingatan milik tubuh ini—milik Liana Zhao—per
“...liana…?”Suara itu samar.“Nona Liana, bisa mendengar saya?”Liana.Nama itu… bukan miliknya. Namun entah mengapa, menyentuh sesuatu di dalam dirinya.Kelopak matanya bergetar. Berat. Sangat berat. Namun dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia memaksa membukanya.Silau. Cahaya putih langsung menyambarnya. Refleks, ia memejamkan kembali.Napasnya tersengal. Dunia… terasa berbeda. Bukan bau tanah basah, bukan aroma dupa. Melainkan bau tajam—bersih—asing.“Dia sadar!”Suara tergesa. Langkah kaki. Suara benda-benda berdenting pelan.Perlahan, ia membuka mata lagi. Langit-langit putih. Lampu terang. Dinding polos tanpa ukiran.Zhao Lian membeku. Ini… bukan dunia yang ia kenal.Tangannya bergerak pelan. Kulitnya halus. Putih. Tidak ada bekas luka kecil yang dulu ia miliki.“Aku…” Suaranya keluar lirih.Namun, ia tertegun. Itu bukan suaranyaLebih ringan. Lebih jernih. Lebih… asing.“Nona Liana, Anda sudah sadar. Jangan bergerak dulu. Saya panggil dokter.”Seorang wanita berpakaian aneh be
“Kau masih ingat?” ucapnya pelan.Zhao Lian menunduk. Hatinya terasa diremas. Bagaimana mungkin ia lupa?Gu Beichen.Cinta pertamanya. Pria yang pernah ia janjikan masa depan. Namun juga, pria yang ia tinggalkan. Bukan karena tidak mencintai. Namun karena, ia tidak punya pilihan.“Apa yang dilakukan Nyonya Zhao di tempat seperti ini?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada lebih dingin. Tangannya terulur, menawarkan bantuan.Zhao Lian mendongak, sedikit ragu. Namun Gu Beichen tidak memberinya waktu.Dengan sedikit paksaan, pria itu menariknya bangkit. Setelah Zhao Lian berdiri, Gu Beichen melepas jubah luarnya dan menyampirkannya ke tubuh Zhao Lian.Zhao Lian hanya meliriknya gugup. “Terima kasih.”Gu Beichen tidak menjawab, malah kembali bertanya.“Kau belum menjawab pertanyaanku?”Hening.“Aku minta maaf…” suara Zhao Lian bergetar.Namun Gu Beichen langsung memotongnya.“Tidak perlu.”Dua kata itu lebih menyakitkan dari apa pun.“Apa yang sudah terjadi, sudah berlalu,” lanjutnya datar.
“Mereka ingin… membunuhku?”Napas Zhao Lian tersengal, tak lagi beraturan. Dadanya naik turun cepat, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menghilang. Ia ingin bangkit, ingin berteriak, ingin menghancurkan semua yang baru saja ia dengar… namun ketakutan mencengkeramnya lebih kuat daripada keinginannya untuk melawan.Langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar. Refleks, Zhao Lian memejamkan mata dan kembali berbaring kaku, berpura-pura masih terlelap.Tirai kamar tersibak perlahan.Ia bisa merasakan tatapan seseorang menelusuri wajahnya—dingin, penuh maksud tersembunyi.“Syukurlah… masih tidur,” gumam Bibi An.Nada suaranya lembut, namun kini terdengar seperti bisikan iblis.“Mungkin aku harus menambah dosis ramuan… agar dia tidur selamanya.”Tawa kecil menyusul. Pelan, namun cukup untuk menghancurkan sisa kepercayaan Zhao Lian.Zhao Lian menahan napasnya. Hatinya terasa dicabik. Orang yang selama ini ia percaya, ternyata sama saja. Pengkhianatan… datang dari segala arah.Tak lama kemud


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews