Mag-log inDikhianati suami, keluarga, dan sahabatnya sendiri, Zhao Lian meninggal dengan penuh penyesalan. Namun takdir memberinya kesempatan kedua sebagai Liana Zhao, desainer ternama yang hidup glamor dan sukses. Bertekad melupakan masa lalu, Liana justru kembali bertemu orang-orang yang pernah menghancurkannya. Lebih buruk lagi, mereka kini berlomba merebut hatinya. Saat kehidupan keduanya perlahan berubah rumit, Liana menyadari masa lalu belum benar-benar selesai, terutama ketika semua orang tampaknya mengingat lebih dari yang seharusnya.
view more"Tuan, ada yang ingin bertemu Anda," ucap salah satu pengawal Tuan Julian. Pria tua itu mengangguk. "Suruh masuk!". Tak lama pria berpenampilan rapi itu masuk bersama Andrew Wu. Kali ini Andrew datang seorang diri tanpa Cecilia. "Maaf, mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan." Tuan Julian hanya tersenyum sembari menyilakan Andrew duduk. "Maksud kedatangan saya untuk menjelaskan kesalahpahaman tadi siang. Soal Cecilia." Tuan Julian yang awalnya berwajah tegang. Berangsur-angsur wajahnya melunak. "Putri saya, Cecilia sangat mengidolakan Liana. Apalagi wajah Liana mirip dengan almarhum ibunya. Jadi, saya mohon maaf jika karena itu putri saya lancang memanggilnya 'Mama'." Alis Tuan Julian mengernyit. "Jadi murni karena itu?" Andrew menganggukkan kepala den
Selang beberapa saat kemudian ... Liana duduk berhadapan dengan Tuan Julian di sisi lain dalam resto tersebut. Sedangkan Ryan, Xander, Andrew dan juga Cecilia berada di meja yang lain. Ketiga wajah pria dewasa itu tampak tegang. Hanya kehadiran Cecilia yang mencairkan suasana. “Om Ryan gak suka es krimnya?” tanya Cecilia. Ryan hanya tersenyum masam sambil menggelengkan kepala. “Kalau begitu, aku makan, ya?” Ryan mengangguk kesal seraya menatap Andrew dengan tajam. Xander yang biasa ceria dan suka dengan anak kecil jadi pendiam kali ini. Andrew menyadari perubahan sikap dua pria itu. Perlahan ia membisikkan sesuatu di telinga Cecilia. Tak lama kemudian, Cecilia beranjak pergi. “Jadi Anda juga suka pada Liana?” tanya Ryan to the point begitu Cecilia pergi. Andrew menghela napas panjang sambil memandang Ryan dan Xander bergantian. “Bilang saja k
“Li ... Liana Zhao, desainer itu cucu Anda?” ulang Ryan terbata. Tuan Julian hanya diam, tapi netra kelabunya malah menatap tajam Ryan. Memindai dari ujung rambut sampai ujung kaki, sama seperti yang dilakukannya pada Xander tadi pagi. Ryan terdiam. Beberapa kali tampak menelan saliva. Sesekali ia mengubah posisi duduknya. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman. “Maaf, Tuan. Ini salah paham. Saya sama sekali tidak ---“ “Jadi menurutmu cucuku tidak cocok menjadi menantu di keluarga Lu dan bisa mudah dipermainkan, begitu?” Ryan tercenung. Wajahnya menatap linglung. Baru kali ini ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa saat berhadapan dengan orang. “Bukan begitu, maksud saya.” Ryan terdiam sejenak. Kepalanya menunduk, napasnya diatur dengan perlahan. Lalu tanpa mengangkat kepala, ia berkata, “Saya suka cucu Anda. Hanya saja ... dia yang selalu menolak saya.”
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa sangat aneh. Liana duduk di kursi depan sambil sesekali melirik ke kaca spion.Di sana, Xander duduk tegak berhadapan dengan Tuan Julian. Biasanya pria itu tidak bisa diam lebih dari lima menit.Namun sekarang?Xander bahkan duduk lebih rapi daripada saat menghadiri pemotretan."Kamu kenapa?" bisik Liana.Xander langsung menjawab."Gugup."Liana hampir tertawa. Ternyata pria ini juga bisa merasa takut.Sementara itu, Tuan Julian hanya memejamkan mata sepanjang perjalanan. Entah sedang beristirahat atau sedang memikirkan sesuatu.Tak lama kemudian mobil memasuki area hotel bintang lima tempat Tuan Julian menginap. Begitu turun dari mobil, Xander langsung menghela napas lega."Syukurlah."Liana meliriknya."Kenapa?""Aku masih hidup."Liana memutar bola mata. Namun belum sempat mereka masuk ke lobi, suara Tuan
Liana sempat salah paham ketika Adrian mengajaknya ke kamar. Namun begitu pintu terbuka, ia langsung terdiam. Ruangan itu ternyata bukan kamar tidur yang mewah seperti yang ia bayangkan, melainkan sebuah ruang kerja pribadi. Rak buku memenuhi salah satu sisi dinding. Beberapa
Beberapa menit berlalu. Liana akhirnya keluar dari kamar dengan wajah yang sudah ia usahakan setenang mungkin. Namun, sisa-sisa kegugupan masih terlihat jelas dari caranya menghindari tatapan Adrian. “Aku… sudah lebih baik,” ucapnya pelan. Adrian me
Liana menelan ludah. Otaknya berpacu cepat mencari alasan. “Eh… tentu saja boleh,” jawabnya akhirnya, meski senyumnya terlihat kaku. Di dalam kamar tamu, Xander yang mendengar itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Rahangnya mengeras. “Seharian?
"JANGAN!!!" seru Liana. Ia langsung menarik tangan Xander dan menjauhkannya dari handle pintu. "Kamu jangan gila, Xander. Jangan sampai Adrian tahu kamu di sini." Xander tersenyum. Alisnya terangkat satu, bersedekap dengan tatapan menyelidik. "Kenap












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu