LOGIN"Kamu harus paham, peraturan pertama adalah melayani siapa yang harusnya kamu layani." Bagi Azalea, bertahan di sekolah elit ini adalah satu-satunya tiket untuk mengubah nasib keluarganya. Namun, satu kecelakaan kecil membuat seragam mahal Zayn—sang Raja Sekolah—ternoda. Ganti rugi puluhan juta jelas mustahil bagi gadis pengantar jahitan sepertinya.Zayn memberinya satu syarat, menjadi babu pribadi atau kehilangan beasiswanya. Azalea harus bersedia diperintah, tapi dia tidak menyadari satu hal. Di mata Zayn, menjadi pelayan berarti menjadi properti pribadinya. Dan Zayn tidak sudi properti pribadinya disentuh orang lain!
View More"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?"
Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea. Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Tatapan pemuda itu tajam dengan ekspresi yang dingin dan penuh intimidasi. Namanya Zayn. Anak pemilik sekolah yang paling disegani. Dia tampan, berdarah biru, idola sekolah! "Ma--maaf, aku pasti akan tanggung jawab. Lepas saja bajumu, aku akan mencucinya," ucap Azalea terbata. Azalea baru seminggu menjadi murid pindahan di sekolah elit ini. Belum banyak yang ia tahu, tapi setidaknya, ia tahu tentang Zayn sebagai siswa paling ditakuti di sekolah. Seragam Zayn ternoda dengan warna merah mencolok dari cat air murahan yang Azalea bawa. Gadis itu tidak sengaja menabraknya saat berjalan di koridor kelas sambil membawa seabrek perlengkapan melukis. "Kamu mau cuci bajuku pakai deterjen murahan?" sahut Zayn, kali ini dengan senyum miring. "Tidak usah. Aku punya alergi dengan produk orang miskin." Tawa anak-anak lain menggema di sepanjang koridor. Konflik antara murid beasiswa dengan anak pemilik sekolah menjadi tontonan menarik. Zayn menatap Azalea yang kini membulatkan bibirnya tanpa bisa berkata sedikit pun. Gadis itu mungkin syok dengan ucapan setinggi langit Zayn. "Namamu Lea?" Zayn membungkukan badannya dan mendekatkan wajah untuk bisa melihat ekspresi tertekan gadis yang lebih pendek itu dengan lebih jelas. Azalea mengangguk patah-patah. "Kalau tidak mau kucucikan, apa kamu ingin aku ganti dengan yang baru? Aku akan membelinya sesuai ukuranmu." Meski miskin, Azalea bukan pribadi yang lembek dan tidak bertanggung jawab. Sejak kecil, ia selalu diajari attitude yang cukup baik. Jadi tidak masalah jika nanti harus menabung ekstra untuk bisa ganti rugi. Tawaran Azalea membuat para siswa kembali tertawa. "Lea, Lea," kekeh Ezra--teman Zayn yang sejak tadi menyimak, sekarang berdiri di samping Azalea. "Kamu tahu tidak berapa harga seragam milik Zayn? Kira-kira dua puluh atau tiga puluh juta?" "Apa?" Azalea seolah salah dengar. Gadis itu melotot kaget. Kalau harganya puluhan juta, pantas saja tidak mau sembarangan orang mencucinya! "Hey, udik! Kamu kaget banget. Wajar harga segitu, Zayn kan seorang tuan muda dari keluarga konglomerat," imbuh siswa lain, ikut memprovokasi dan membuat suasana makin panas. Azalea menelan ludahnya, menatap Zayn dengan nyali mulai menciut. Padahal selama seminggu ini, Azalea sudah berusaha keras untuk tidak membuat masalah di sekolah ini. Hidup tenang dengan menjadi siswa yang tidak mencolok. Tapi sial memang tidak bisa ditawar. "Z--Zayn ... Aku tahu aku salah, aku tidak akan lepas tanggung jawab. Kamu bisa meminta pertanggungjawaban lain. Aku akan mengusahakannya." Hah! Zayn menyentak napasnya, ia lalu mengusap noda di seragamnya dengan gerakan pelan namun menekan. "Aku tahu kemampuan siswa miskin seperti kamu, ganti rugi juga tidak mungkin. Tapi kamu bisa bertanggung jawab dengan cara menyenangkanku, bagaimana?" Hinaan Zayn memang terdengar kasar, namun Azalea tidak kaget akan itu, karena hampir satu sekolah ini memang menyebutnya sebagai anak miskin. Siapa lagi yang masuk dari jalur beasiswa di sekolah elit ini? Namanya dikenal hampir semua murid. "Boleh, jadi apa yang harus aku lakukan?" Azalea tersenyum, sedikit lega. Zayn menanggapi respon cekatan itu dengan senyum mengejek. "Aku butuh babu selama seminggu. Kalau kamu tidak keberatan melakukan itu, aku akan coba pertimbangkan untuk membiarkanmu tetap berada di sekolah ini," kata Zayn lugas sambil jemarinya menekan kening Azalea, meninggalkan noda merah dari cat air. "Ba--bu?" gumam Azalea mengusap keningnya yang terasa lengket. "Iya! Babu, sama dengan pelayan, pembantu, jongos!" sela para siswa di belakang Zayn itu dengan tawa menyebalkan. Sedangkan Zayn mulai berbalik dan melangkah, meninggalkan keramaian yang berkerubung di sekitar mereka. Ezra ikut menyusul, namun sebelum itu dia tersenyum pada Azalea. "Sampai bertemu lagi … di luar sekolah, kalau-kalau Zayn meminta orang tuanya untuk mencabut beasiswamu!" "A--pa? Tapi, tapi--" Azalea tidak bisa lagi protes, pemuda paling berkuasa di sekolah itu sudah jauh dan tidak mungkin mau bernegosiasi lagi. Azalea menghela napas, hanya dia yang terlihat penuh beban, berbeda dengan anak-anak lain yang tersenyum sinis ke arahnya. Sebagian justru merasa puas. "Lea, oh, Lea, aku yakin enggak sampai seminggu deh, paling lama tiga hari kamu ikut Zayn, pasti udah mohon-mohon minta keluar dari sekolah ini sendiri," cibir Yiyi. "Betul, kamu bisa pergi tanpa cacat dari Zayn saja udah termasuk keajaiban!" timpal yang lain membuat Azalea menelan ludah gugup. Hingga di jam pelajaran selesai, Azalea langsung pulang. Siang itu, ia sudah berjanji membantu ibunya mengantar jahitan ke klien. "Saya pasti akan bayar, Bu, tolong jangan bawa mesin jahitnya." Suara memohon ibunya menghentikan langkah Azalea yang kini berada di jalan masuk kontrakan. Ia lihat ibunya yang sedang memohon pada pemilik kontrakan, bahkan bersimpuh dengan duduk di teras. "Kalau tidak ada mesin jahit, bagaimana saya bisa kerja dan cari uang? Lea juga baru masuk sekolah baru, saya harus bekerja agar dia tetap bisa mengenyam pendidikan. Saya mohon--" Tangan Azalea terkepal. Ada yang terasa nyeri di dadanya, matanya memanas karena air mata yang berdesakan ingin keluar. Pemilik kontrakan menghela napas kesal. "Saya kasih kamu waktu seminggu, uang kontrakan bulan ini dan bulan kemarin harus kamu lunasi!" Dina, ibu Azalea, mendongak penuh rasa syukur, setidaknya masih punya waktu untuk berusaha. "Baik, Bu! Saya pasti akan membayarnya." Harapan ibunya begitu besar. Azalea jadi merasa bersalah, keperluan sekolah yang mahal itu pasti yang membuat ibunya sampai menunggak uang kontrakan."Mmm itu, Zayn, sebenarnya--" Azalea ragu hendak mengatakan semuanya, apalagi posisi mereka masih berada di tengah koridor. Ceritanya cukup panjang, Azalea pun meminta Zayn untuk mencari tempat yang lebih nyaman. Di taman rumah sakit, Azalea mulai menceritakan duduk permasalahannya lalu satu per satu yang berkaitan dengan pertanyaan Zayn ia jawab. Zayn mendengarkan dengan duduk tenang, ekspresinya tidak banyak berubah. Padahal Azalea kira Zayn akan kaget tak menyangka jika Azalea bilang omnya memiliki simpanan. "Zayn, kamu percaya padaku kan? Aku tidak bicara omong kosong.""Kamu punya buktinya?" tanya Zayn serius. Azalea lalu menyodorkan ponselnya, ia menunjuk foto-foto dan bukti yang sudah dikumpulkannya. "Lea," Zayn menatap gadis itu dengan serius. "Masalah sebesar ini harusnya kamu katakan padaku--"Dari respon Zayn, tampaknya pemuda itu kecewa. "Masalah ibumu itu, apa kamu pikir aku tidak bisa menyelesaikannya?"Azalea menggeleng cepat. "Tidak Zayn, aku hanya tidak ingin me
"Na-Naura, ti-tidak! Kami tidak bermaksud begitu!" elak ketiga siswi itu. Keributan mereka menarik perhatian yang lain, termasuk Azalea yang kini menoleh dan mendengar namanya disebut-sebut. "Zayn, sepertinya ada yang bertengkar!" Azalea menggoncang pundak Zayn. "Zayn, itu Naura--"Zayn menegapkan duduknya dan menaruh buku di meja. Ia lalu melihat ke arah pintu, ada Naura dan siswi lain yang tampak sedang adu jambak. "Zayn, ayo lihat! Kamu harus melerainya!" Azalea hendak menarik tangan Zayn. Namun pemuda itu justru menarik tangannya dan memaksa duduk. "Apa kamu punya energi lebih untuk meladeni mereka? Lebih baik kamu simpan untuk nanti, kamu harus lembur." Zayn memerintah untuk Azalea fokus pada tugas yang sedang digarapnya. Sementara Zayn beberapa saat hanya memperhatikan, kemudian ia bangkit dan menghampiri keributan. Di saat Zayn berdiri tak jauh, Naura yang tadi berkelahi terpelanting, ia hampir jatuh namun menabrak Zayn. "Zayn?" Tahu jika Zayn yang menangkapnya, Naura se
Uhuuuk! Azalea sampai tersedak ludahnya sendiri. Apa tadi? My little baby duck? Apa dia gila! "Itu manis mana, Lea? Ayo, jawab!" Buru-buru Azalea menyeruput minumannya. Meski ucapan Zayn aneh dan terdengar gila, namun Azalea bukan seseorang yang bisa menolaknya mentah-mentah. "Mmm, tapi kenapa little baby duck Zayn? Maksudmu anak bebek?" tanya Azalea dengan wajah bodohnya. Sandy belum berkomentar apapun, yang jelas ekspresi wajahnya makin ditekuk-tekuk. "Ya. Kamu--" Zayn dengan harinya menyingkirkan anak rambut Azalea yang menutupi wajah. "Seperti anak bebek yang selalu mengikutiku ke mana pun, cerewet, tapi penurut. Yah, kurang lebih seperti itu--" Azalea memaksakan tawanya, itu sama sekali tidak lucu! Tapi karena Zayn yang bicara jadi Azalea tidak mungkin menegurnya. "Apa-apaan seperti itu! Lea bahkan bukan kekasihmu, kenapa kamu memanggilnya dengan sebutan yang menggelikan!" protes Sandy lagi, tentu saja kali ini mendapat tatapan dan raut serius Zayn. "Salah lagi?" Zayn me
Diam-diam Alya mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya, jika ia perhatikan sebenarnya hubungan mereka tidak begitu hangat. Baik Ayah dan ibunya sama-sama gila kerja, bedanya ibunya jarang lembur tapi kalau berangkat ke butik selalu awal. Alya menghela napas, fakta jika ia hanya anak pungut ditambah keluarga yang kurang harmonis membuatnya merasa tidak nyaman, tapi ia harus bertahan. Tidak ada yang boleh tahu tentang status aslinya, bagaimana pun selama ini ia hidup seperti seorang putri. Alya sadar akan itu, kemudahan baik di sekolah dan hidupnya semua ia dapat karena memiliki status sebagai anak konglomerat, maka dari itu ia bahkan tidak punya niat sedikit pun mencari keluarga kandungnya. Apalagi soal perjodohan dengan Haikal, Alya harus mempertahankan itu. Tidak peduli Haikal menerimanya karena terpaksa atau tak punya pilihan lain, yang jelas Alya harus mengikatnya. Jika suatu hari semua terbongkar, ia harap di saat itu Alya sudah mandiri, punya suami dari keluarga tajir se
Zayn mengangguk dan sesekali mendesis lagi seolah sedang menahan sakit. Kening Ezra berkerut, matanya menyipit mengamati wajah Zayn yang aneh. Sejak tadi Zayn baik-baik saja, tapi setelah berada di dekat Azalea justru memasang wajah pesakitan.Ia berpikir, Azalea benar-benar pembawa sial, bahkan h
Bugh! Suara hantaman terdengar keras, Azalea merunduk dan memejam. Namun hingga suara itu berlalu, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Ia justru merasakan dekapan yang hangat dan erat. Azalea membuka matanya, ia tidak melihat apa pun kecuali dada bidang Zayn yang menghimpitnya. "Za--Zayn..." A
Azalea segera mengatupkan bibirnya. Ia tahu ekspresi dingin itu--peringatan kalau cowok menyebalkan itu tidak ingin mendengar omong kosong. Azalea kembali membonceng, tapi kali ini tidak mau merangkulkan tangan seperti sebelumnya. Ia lebih memilih memegangi tas Zayn di belakang. Gadis itu berpega
Tanpa meminta izin, Zayn langsung mengambil kuas di tangan Azalea, lalu menggunakannya untuk mencorat-coret hasil lukisan Azalea. "Zayn, kamu--" Azalea berdiri, ia hendak merebut kuas di tangan Zayn, namun pemuda itu lebih dulu mematahkannya. Krak! Suara patahan itu mungkin lirih, namun di telin












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore