Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!

Jangan Sentuh Milik Raja Sekolah!

last updateLast Updated : 2026-05-26
By:  Ratu AsUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
18views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Bagi Azalea, bertahan di sekolah elit ini adalah satu-satunya tiket untuk mengubah nasib keluarganya. Namun, satu kecelakaan kecil membuat seragam mahal Zayn—sang Raja Sekolah—ternoda. Ganti rugi puluhan juta jelas mustahil bagi gadis pengantar jahitan sepertinya. ​Zayn memberinya satu syarat, menjadi babu pribadi atau kehilangan beasiswanya. ​Azalea harus bersedia diperintah, tapi dia tidak menyadari satu hal, di mata Zayn, menjadi pelayan berarti menjadi properti pribadinya. Kini, Azalea harus bertahan bukan hanya dari tuntutan ekonomi, tapi juga dari obsesi gelap sang Raja yang mulai menandainya.

View More

Chapter 1

Bab 1 Jadi Babu Raja Sekolah

"Tuan muda, bagaimana caramu akan menghukum gadis beasiswa miskin ini?"

Suara itu membuat jantung Azalea serasa mau copot. Meski siswa itu bicara dengan nada rendah, ucapannya sarat cibiran untuk memojokkan Azalea.

Takut-takut Azalea mendongakan wajahnya, menatap sosok anak lelaki yang kini berdiri menjulang di hadapannya. Tatapan pemuda itu tajam dengan ekspresi yang dingin dan penuh intimidasi.

Namanya Zayn. Anak pemilik sekolah yang paling disegani. Dia tampan, berdarah biru, idola sekolah!

"Ma--maaf, aku pasti akan tanggung jawab. Lepas saja bajumu, aku akan mencucinya," ucap Azalea terbata.

Azalea baru seminggu menjadi murid pindahan di sekolah elit ini. Belum banyak yang ia tahu, tapi setidaknya, ia tahu tentang Zayn sebagai siswa paling ditakuti di sekolah.

Seragam Zayn ternoda dengan warna merah mencolok dari cat air murahan yang Azalea bawa. Gadis itu tidak sengaja menabraknya saat berjalan di koridor kelas sambil membawa seabrek perlengkapan melukis.

"Kamu mau cuci bajuku pakai deterjen murahan?" sahut Zayn, kali ini dengan senyum miring. "Tidak usah. Aku punya alergi dengan produk orang miskin."

Tawa anak-anak lain menggema di sepanjang koridor. Konflik antara murid beasiswa dengan anak pemilik sekolah menjadi tontonan menarik.

Zayn menatap Azalea yang kini membulatkan bibirnya tanpa bisa berkata sedikit pun. Gadis itu mungkin syok dengan ucapan setinggi langit Zayn.

"Namamu Lea?" Zayn membungkukan badannya dan mendekatkan wajah untuk bisa melihat ekspresi tertekan gadis yang lebih pendek itu dengan lebih jelas.

Azalea mengangguk patah-patah. "Kalau tidak mau kucucikan, apa kamu ingin aku ganti dengan yang baru? Aku akan membelinya sesuai ukuranmu."

Meski miskin, Azalea bukan pribadi yang lembek dan tidak bertanggung jawab. Sejak kecil, ia selalu diajari attitude yang cukup baik. Jadi tidak masalah jika nanti harus menabung ekstra untuk bisa ganti rugi.

Tawaran Azalea membuat para siswa kembali tertawa.

"Lea, Lea," kekeh Ezra--teman Zayn yang sejak tadi menyimak, sekarang berdiri di samping Azalea.

"Kamu tahu tidak berapa harga seragam milik Zayn? Kira-kira dua puluh atau tiga puluh juta?"

"Apa?" Azalea seolah salah dengar. Gadis itu melotot kaget.

Kalau harganya puluhan juta, pantas saja tidak mau sembarangan orang mencucinya!

"Hey, udik! Kamu kaget banget. Wajar harga segitu, Zayn kan seorang tuan muda dari keluarga konglomerat," imbuh siswa lain, ikut memprovokasi dan membuat suasana makin panas.

Azalea menelan ludahnya, menatap Zayn dengan nyali mulai menciut. Padahal selama seminggu ini, Azalea sudah berusaha keras untuk tidak membuat masalah di sekolah ini. Hidup tenang dengan menjadi siswa yang tidak mencolok. Tapi sial memang tidak bisa ditawar.

"Z--Zayn ... Aku tahu aku salah, aku tidak akan lepas tanggung jawab. Kamu bisa meminta pertanggungjawaban lain. Aku akan mengusahakannya."

Hah!

Zayn menyentak napasnya, ia lalu mengusap noda di seragamnya dengan gerakan pelan namun menekan.

"Aku tahu kemampuan siswa miskin seperti kamu, ganti rugi juga tidak mungkin. Tapi kamu bisa bertanggung jawab dengan cara menyenangkanku, bagaimana?"

Hinaan Zayn memang terdengar kasar, namun Azalea tidak kaget akan itu, karena hampir satu sekolah ini memang menyebutnya sebagai anak miskin. Siapa lagi yang masuk dari jalur beasiswa di sekolah elit ini? Namanya dikenal hampir semua murid.

"Boleh, jadi apa yang harus aku lakukan?" Azalea tersenyum, sedikit lega.

Zayn menanggapi respon cekatan itu dengan senyum mengejek.

"Aku butuh babu selama seminggu. Kalau kamu tidak keberatan melakukan itu, aku akan coba pertimbangkan untuk membiarkanmu tetap berada di sekolah ini," kata Zayn lugas sambil jemarinya menekan kening Azalea, meninggalkan noda merah dari cat air.

"Ba--bu?" gumam Azalea mengusap keningnya yang terasa lengket.

"Iya! Babu, sama dengan pelayan, pembantu, jongos!" sela para siswa di belakang Zayn itu dengan tawa menyebalkan.

Sedangkan Zayn mulai berbalik dan melangkah, meninggalkan keramaian yang berkerubung di sekitar mereka.

Ezra ikut menyusul, namun sebelum itu dia tersenyum pada Azalea. "Sampai bertemu lagi … di luar sekolah, kalau-kalau Zayn meminta orang tuanya untuk mencabut beasiswamu!"

"A--pa? Tapi, tapi--" Azalea tidak bisa lagi protes, pemuda paling berkuasa di sekolah itu sudah jauh dan tidak mungkin mau bernegosiasi lagi.

Azalea menghela napas, hanya dia yang terlihat penuh beban, berbeda dengan anak-anak lain yang tersenyum sinis ke arahnya. Sebagian justru merasa puas.

"Lea, oh, Lea, aku yakin enggak sampai seminggu deh, paling lama tiga hari kamu ikut Zayn, pasti udah mohon-mohon minta keluar dari sekolah ini sendiri," cibir Yiyi.

"Betul, kamu bisa pergi tanpa cacat dari Zayn saja udah termasuk keajaiban!" timpal yang lain membuat Azalea menelan ludah gugup.

Hingga di jam pelajaran selesai, Azalea langsung pulang. Siang itu, ia sudah berjanji membantu ibunya mengantar jahitan ke klien.

"Saya pasti akan bayar, Bu, tolong jangan bawa mesin jahitnya." Suara memohon ibunya menghentikan langkah Azalea yang kini berada di jalan masuk kontrakan.

Ia lihat ibunya yang sedang memohon pada pemilik kontrakan, bahkan bersimpuh dengan duduk di teras.

"Kalau tidak ada mesin jahit, bagaimana saya bisa kerja dan cari uang? Lea juga baru masuk sekolah baru, saya harus bekerja agar dia tetap bisa mengenyam pendidikan. Saya mohon--"

Tangan Azalea terkepal. Ada yang terasa nyeri di dadanya, matanya memanas karena air mata yang berdesakan ingin keluar.

Pemilik kontrakan menghela napas kesal. "Saya kasih kamu waktu seminggu, uang kontrakan bulan ini dan bulan kemarin harus kamu lunasi!"

Dina, ibu Azalea, mendongak penuh rasa syukur, setidaknya masih punya waktu untuk berusaha.

"Baik, Bu! Saya pasti akan membayarnya."

Harapan ibunya begitu besar. Azalea jadi merasa bersalah, keperluan sekolah yang mahal itu pasti yang membuat ibunya sampai menunggak uang kontrakan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status