FAZER LOGINDyah Ayuwangi kehilangan segalanya dalam satu malam di Stasiun Tawang. Ditinggalkan tanpa kabar oleh Willem van Deventer, ia tak hanya patah hati, tapi juga dicap sebagai pengkhianat bangsa dan dibuang oleh keluarganya karena mencintai penjajah. Sepuluh tahun kemudian, Dyah bertahan hidup dengan mengelola panti asuhan bagi rakyat kecil. Namun, Willem kembali bukan untuk meminta maaf melainkan sebagai arsitek kolonial yang ditugaskan meratakan panti tersebut demi ambisi ayahnya membangun jalan rel kereta api. Di tengah desas-desus kota yang memandang Dyah dengan jijik dan intrik politik yang licik, keduanya terjebak dalam pusaran konspirasi yang jauh lebih gelap dari sekadar patah hati. Sekarang Willem harus memilih, menyelesaikan misi ayahnya demi karier di Eropa atau mengkhianati bangsanya sendiri demi menebus dosa masa lalu pada satu-satunya wanita yang pernah ia cintai. Dapatkah cinta tumbuh di atas tanah yang dipenuhi stigma ataukah fajar di Semarang hanya akan menyaksikan reruntuhan janji untuk kedua kalinya?
Ver maisDermaga Tanjung Mas, Semarang, 1924.
Langit di atas pesisir Jawa menggantung rendah, sewarna timah yang dipanaskan. Udara lembap dan asin yang khas dari Laut Jawa seolah mampu menembus pori-pori kanvas setelan linen putih yang dikenakan Willem van Deventer. Baginya aroma ini bau yang sama yang ia hirup sepuluh tahun lalu, saat ia diseret paksa menaiki tangga kapal SS Grotius menuju Eropa dengan pergelangan tangan yang memar akibat cengkeraman ajudan ayahnya. Sekarang ia kembali sebagai seorang arsitek kiriman Gouvernement dengan mandat besar di tas kulitnya. Namun, saat kakinya menyentuh ubin dermaga yang retak, Willem menyadari bahwa pangkat dan gelar dari Delft tidak mampu melindunginya dari rasa ngeri yang merayap di tengkuknya. "Tuan van Deventer? Selamat datang kembali di tanah Hindia," sebuah suara parau memecah lamunannya. Seorang pria pribumi paruh baya dengan seragam oppasser (penjaga) yang rapi membungkuk rendah. Willem hanya mengangguk tipis. Ia menatap ke arah Kota Lama di mana kubah tembaga Gereja Blenduk terlihat mengintip di antara kabut tipis dan asap dari cerobong pabrik gula. Di sanalah, di balik labirin gedung-gedung bergaya barok dan neoklasik, jantungnya pernah tertinggal. "Ke mana tujuan pertama Anda, Tuan? Kantor Residen atau Hotel du Pavillon?" tanya sang supir yang telah mengambil alih koper-kopernya. Willem terdiam sejenak. Secara logika, ia harus melaporkan kedatangannya kepada Residen Semarang. Namun, ada dorongan yang lebih kuat dari protokol birokrasi mana pun. "Antarkan aku ke wilayah pinggiran dekat kanal timur," suara Willem berat, seolah kata-kata itu harus melewati kerikil di tenggorokannya. "Ke panti asuhan milik keluarga Adiningrat." Supir itu sempat ragu dan matanya membelalak sedikit sebelum kembali menunduk. "Tuan, wilayah itu tidak terlalu baik untuk mobil baru ini dan maaf jika saya lancang, keluarga Adiningrat sudah lama tidak lagi menghuni istana mereka di kota atas." "Aku tahu," sahut Willem pendek. "Jalan saja." Mobil Ford Model T hitam itu membelah jalanan Semarang yang mulai sibuk. Kereta kuda dan cikar sapi menepi untuk memberi jalan bagi simbol kemajuan kolonial tersebut. Willem menatap keluar jendela, melihat transisi pemandangan dari kemegahan bangunan Belanda menuju perkampungan yang lebih kumuh dan padat. Semakin dekat ia ke tujuan, semakin kuat degup jantungnya. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup untuk meruntuhkan sebuah kerajaan, namun bagi Willem, sepuluh tahun hanyalah satu napas panjang yang penuh penderitaan. Di Eropa, ia mencoba melupakan wajah itu dalam botol-botol jenever dan tumpukan kertas kalkir, namun setiap garis lengkung yang ia gambar di atas meja arsitek selalu berakhir menyerupai lengkung senyum seorang gadis yang dulu sering menunggunya di bawah pohon kamboja. Mobil itu akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah pagar besi yang sudah mulai berkarat. Di baliknya berdiri sebuah bangunan tua bergaya Indische yang cat putihnya sudah mengelupas di sana-sini dan digantikan oleh lumut hijau yang merayap. Di papan kayu yang tergantung miring di gerbang tertulis Panti Asuhan Kasih Ibu. Willem turun dari mobil. Sepatunya yang mengilat menginjak tanah becek sisa hujan semalam. Di halaman panti yang luas namun sederhana itu ada sekelompok anak-anak pribumi dengan pakaian bersahaja sedang duduk melingkar. Di tengah mereka ada seorang wanita duduk di atas kursi rotan. Wanita itu mengenakan kebaya kutubaru berwarna cokelat tua dengan kain batik motif parang yang tersampir anggun. Rambutnya disanggul rapi tanpa hiasan berlebihan hanya setangkai melati yang hampir layu terselip di sana. Ia sedang membacakan sebuah buku dan suaranya lembut namun memiliki ketegasan yang tidak bisa dibantah. Willem terpaku. Waktu seolah berhenti berputar di halaman itu. Wanita itu adalah Dyah Ayuwangi Adiningrat. Namun, Dyah yang ia lihat sekarang bukanlah putri bupati yang manja dan penuh tawa yang ia kenal dulu. Garis wajahnya sekarang lebih tegas dan ada gurat kelelahan yang disembunyikan di balik ketenangan matanya. Ada martabat yang begitu tinggi terpancar dari caranya duduk, sebuah benteng pertahanan yang ia bangun dari puing-puing kehancuran namanya sendiri. Sadar akan kehadiran orang asing, Dyah mendongak. Pandangannya melewati pagar, menembus debu jalanan, dan mengunci mata biru keabu-abuan milik Willem. Willem melihat buku di tangan Dyah sedikit gemetar dan tidak ada air mata yang tumpah seketika, yang ada hanya keheningan yang mencekam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Dyah menutup bukunya dengan perlahan. Ia berdiri dan memberikan instruksi singkat kepada anak-anak untuk masuk ke dalam rumah. Setelah halaman kosong, ia berjalan mendekat ke arah pagar. Setiap langkahnya terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Willem. "Kamu salah alamat, Tuan Belanda," suara Dyah terdengar dingin setajam sembilu. Bahasa Belandanya masih sesempurna dulu, namun tanpa kehangatan yang pernah menjadi rumah bagi Willem. "Dyah ...." suara Willem hampir tak keluar. "Ini aku. Aku kembali." Dyah berhenti tepat di balik pagar besi yang memisahkan mereka. Ia menatap Willem dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina. "Aku tidak mengenal pria bernama Willem yang memiliki nyali untuk kembali ke sini. Pria yang kukenal sudah mati sepuluh tahun lalu di Stasiun Tawang bersama dengan sisa harga diriku." "Aku punya penjelasan, Dyah. Segalanya di dalam surat-suratku, apa kamu tidak pernah menerima suratku satu pun?" "Surat?" Dyah tertawa kecil, sebuah tawa yang kering dan menyakitkan. "Simpan ceritamu untuk para pejabat di kota atas, Mynheer van Deventer. Di sini kami tidak butuh kata-kata. Kami butuh beras, obat-obatan, dan kedamaian dari gangguan orang-orang seperti kamu." Willem mencoba meraih tangan Dyah di atas pagar, namun wanita itu menarik tangannya dengan cepat, seolah-olah kulit Willem adalah bara api yang akan membakarnya. "Jangan pernah menyentuhku lagi," desis Dyah. "Kamu datang membawa bau kematian dan pengkhianatan. Apa yang kamu inginkan sekarang? Apakah melihatku hidup di antara lumpur ini belum cukup memuaskan ambisi ayahmu?" "Aku di sini untuk membantu. Panti ini, lahan ini masuk dalam rencana pengembangan jalur logistik pemerintah. Aku ditunjuk sebagai kepalanya agar aku bisa melindungimu!" Willem bicara dengan cepat, takut Dyah akan berbalik dan menghilang lagi. Mendengar itu, mata Dyah berkilat marah. "Melindungiku? Sepuluh tahun lalu, kamu mengucap janji manis bahwa kamu akan melindungiku. Hasilnya? Aku dibuang keluarga dan dianggap wanita hina oleh masyarakat, karena lari dengan seorang Belanda yang ternyata bahkan tidak muncul di stasiun." Dyah mencengkeram besi gerbang dari sisi dalam dan wajahnya hanya beberapa inci dari Willem. "Dengar, Willem van Deventer. Di mata bangsaku, aku adalah pengkhianat karena pernah mencintai seorang penjajah. Di mata keluargaku, aku adalah noda, karena aku dianggap mencoreng martabat silsilah keluarga, dan sekarang di mata hukum negaramu, aku dianggap perusak ras bangsamu karena aku seorang wanita pribumi. Kamu adalah sumber dari semua stigma itu. Bagaimana mungkin racun bisa menjadi obat?"Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu di sela-sela dinding kayu panti asuhan yang mulai melapuk, membawa aroma lumpur kanal yang menguap. Dyah duduk di tepi ranjang bambunya, sebuah kotak kaleng bekas biskuit karat berada di pangkuannya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas lusuh dan segenggam uang koin sen yang nilainya tak seberapa.Ia menghitungnya perlahan. Sekali, dua kali, seolah berharap angka-angka itu akan bertambah secara ajaib jika dihitung berulang kali. Namun, kenyataan tetaplah pahit. Uang itu nyaris tidak cukup untuk membeli beras, apalagi protein untuk sepuluh anak yatim yang sekarang menjadi tanggung jawabnya. Mata Dyah memanas, ia menatap nanar koin-koin itu.Raut wajahnya yang biasanya tegar sekarang tampak layu, dipenuhi oleh gurat kesedihan. Jika tiga hari lagi panti ini digusur, uang ini bahkan tidak cukup untuk menyewa gerobak guna mengangkut barang-barang mereka.Dyah menghela napas panjang, merapikan kebayanya y
Willem merasakan jemarinya bergetar hebat saat memori itu berputar seperti piringan hitam yang rusak. Di dalam benaknya, ia kembali ke detik-detik paling menghancurkan di atas dek kapal SS Grotius yang perlahan menjauhi Pelabuhan Tanjung Mas malam itu.Suara peluit kapal yang melengking panjang terasa memekakkan telinga, namun tak sanggup meredam gemuruh di dadanya. Ia berdiri di buritan sambil menatap garis pantai Semarang yang kian mengecil berharap dengan sisa-sisa kewarasan yang ada, bahwa sosok Dyah akan muncul di dermaga dan berteriak bahwa surat itu adalah bohong. Namun, yang tertinggal hanyalah bayangan hitam gudang-gudang pelabuhan dan lampu minyak yang meredup di kejauhan."Kenapa, Dyah? Kenapa kamu memilih gelar daripada kita?" bisik Willem saat itu, suaranya parau tertelan angin laut yang ganas.Ia mengeluarkan kertas kecil dari saku jasnya. Tulisan tangan itu, lengkungan huruf 'D' yang khas seolah mengejek setiap janji setia yang pernah mereka bisikkan di bawah naunga
Setiap gerakan Willem membangkitkan memori yang menyakitkan bagi Dyah. Ia teringat bagaimana mereka dulu sering berdiskusi tentang impian Willem membangun jembatan-jembatan megah yang menghubungkan desa-desa terpencil di Jawa agar rakyat bisa berdagang dengan mudah. Impian yang dulu terdengar begitu mulia dan sekarang terasa hambar di tengah kenyataan bahwa kemajuan yang dibawa Belanda justru seringkali berarti penggusuran bagi mereka."Pondasi timur sudah bergeser karena rembesan kanal," gumam Willem, lebih kepada dirinya sendiri. "Jika aku melaporkan bahwa tanah ini memiliki kantong air yang tidak stabil, biayanya akan terlalu mahal bagi perusahaan untuk membangun rel di sini. Mereka akan dipaksa memutar lewat lahan kosong milik pemerintah di utara.""Dan kamu pikir ayahmu akan menerima laporan itu begitu saja?" tanya Dyah yang sekarang berdiri lebih dekat tanpa sadar tertarik oleh teknis rencana Willem.Willem mendongak. Jarak mereka hanya beberapa jengkal. Ia bisa mencium arom
Udara di dalam Hotel du Pavillon terasa kaku dan berbau lilin lebah yang digosokkan ke furnitur jati. Bagi Willem, kemewahan ini terasa mencekik. Ia berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lampu-lampu minyak yang mulai menyala di sepanjang jalan Bodjong. Di tangannya, sebuah gelas berisi jenever dingin dan embunnya mulai menetes, namun ia tak berminat meminumnya.Pikiran Willem masih tertahan di pagar besi panti asuhan itu. Tatapan Dyah tadi siang bukan hanya berisi kemarahan, itu adalah tatapan seseorang yang telah selesai dengan harapan dan bagi Willem, itu jauh lebih mengerikan daripada cacian."Kamu terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu, Willem."Suara itu datang dari pintu penghubung yang terbuka. Hendrik, seorang jurnalis Belanda bertubuh tambun dengan kemeja yang selalu tampak berkerut, melangkah masuk tanpa diundang. Hendrik adalah satu-satunya teman yang tahu mengapa Willem bersikeras meminta penempatan di Semarang padahal kariernya di Batavia bisa jauh leb












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.